Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di sana ada kursi kayu yang mengarah ke jalan raya.
Kursi itu ada di depan apotek, di bawah pohon mangga yang rindang. Kursi kayu panjang yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, menghadap langsung ke jalan. Dari kursi itu orang bisa melihat motor dan mobil lewat, melihat anak sekolah pulang, melihat langit pagi yang pelan-pelan berubah warnanya.
Arhan mendorong pelan kursi roda Anya menuju apotek itu. Jalanan sedikit menanjak, jadi ia harus mendorong dengan tenaga lebih. Anya masih tertidur di kursi rodanya. Kepalanya miring ke samping, satu batang lily putih masih ada di genggamannya yang tidak terlalu erat. 30 bunga masih ada di pangkuannya, agak berantakan karena guncangan jalan, dua bungkus bubur tanpa kacang masih tergantung di pegangan kursi roda.
"An, kita sampai apotek ya," bisik Arhan pelan, meski ia tahu Anya tidak mendengar.
Anya tidak bangun. Napasnya pelan dan teratur, dadanya naik turun dengan lembut.
Apotek itu cukup besar. Pintu kacanya terbuka lebar, lorong di dalamnya lapang.
Arhan mendorong kursi roda Anya masuk bersama-sama. Lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan.
Di dalam, apotek sepi dan dingin karena pendingin ruangan menyala. Hanya ada satu pelayan perempuan paruh baya yang duduk di belakang meja kasir sambil merapikan kotak-kotak obat. Aroma alkohol dan kertas obat tipis-tipis tercium.
Pelayan itu mendongak dan tersenyum melihat mereka.
"Selamat siang, mau cari obat apa?" tanya pelayan itu ramah, suaranya ia pelankan setelah melihat Anya yang tertidur di kursi roda dengan bunga di pangkuannya.
Arhan mengeluarkan secarik kertas resep dari saku celananya. Kertas resep yang sudah agak lecek karena ia genggam sejak pagi.
"Ini, Mbak. Mau tebus resep ini," kata Arhan sambil menyerahkan kertas itu.
Pelayan itu menerima resep dan membacanya dengan teliti, lalu berdiri dan mengambil beberapa kotak obat dari rak di belakangnya. Obatnya ada tiga jenis, dalam kotak kecil-kecil dengan warna berbeda.
Setelah mengambil obat, pelayan itu menjelaskan dengan suara yang jelas namun tetap pelan.
"Ini obatnya diminum tiga kali sehari setelah makan ya, Pak. Yang ini satu kali sebelum tidur. Yang vitamin ini pagi saja. Jangan sampai terlewat," jelas pelayan itu.
"Yang ini harus habis ya, Pak. Kalau ada mual atau pusing, langsung konsultasikan ke dokter," tambahnya sambil menatap Arhan.
Arhan mengangguk dan mendengarkan dengan serius.
"Iya, Mbak. Terima kasih," kata Arhan.
Setelah membeli obat, Arhan memasukkan kotak-kotak obat itu dengan hati-hati ke dalam tas kain yang sama dengan tempat bubur, agar tidak basah dan tidak tertukar. Ia merapikan selimut tipis yang menutupi kaki Anya, memastikan 30 bunga di pangkuan Anya tidak jatuh.
"Terima kasih ya, Mbak," kata Arhan.
"Sama-sama, Pak, Bu. Semoga lekas sembuh," jawab pelayan itu tulus sambil melambaikan tangan.
Arhan mendorong kursi roda Anya keluar dari apotek. Lonceng kecil di atas pintu kembali berdenting. Udara luar yang lembab langsung menyambut mereka. Kursi kayu panjang di bawah pohon mangga di depan apotek masih kosong dan kering.
Mereka berjalan pelan-pelan menuju rumah. Jalanan yang tadi menanjak kini menjadi turunan halus. Langit yang tadi biru cerah perlahan berubah menjadi abu-abu pucat. Angin mulai bertiup lebih kencang, menggoyangkan daun mangga.
Arhan mendorong dengan langkah yang teratur. Anya masih tertidur pulas di kursi rodanya, kepalanya sesekali bergoyang pelan mengikuti guncangan jalan.
Di tengah jalan, tiba-tiba hujan turun cukup lebat.
Hujan turun deras, membasahi daun mangga, atap-atap rumah, dan jalan aspal yang mulai mengkilap. Suaranya keras memenuhi jalan yang sepi. Dalam hitungan detik, langit yang abu-abu itu tumpah begitu saja.
Arhan terkejut. Ia mempercepat langkahnya, menarik tudung mantel tipis Anya untuk menutupi kepalanya.
"An, hujan," kata Arhan sambil menunduk melindungi bunga-bunga di pangkuan Anya.
Air hujan itu jatuh di wajah Anya. Dinginnya membangunkan Anya dari tidurnya.
Anya terbangun.
Matanya berkedip pelan, silau karena air hujan. Ia melihat langit abu-abu yang menumpahkan air, melihat daun mangga yang basah kuyup, lalu melihat Arhan yang sudah basah di depannya, mendorong kursi rodanya di tengah hujan lebat.
"Han?" panggil Anya dengan suara serak, baru bangun tidur, sedikit bingung.
"Iya, An. Kamu bangun. Hujan lebat, An," kata Arhan sambil mengelap pipi Anya yang basah dengan telapak tangannya yang hangat meski tangannya sendiri juga basah.
Anya melihat sekeliling. Ia baru sadar mereka sudah di tengah jalan pulang, bukan lagi di apotek. 30 bunga di pangkuannya basah kuyup, kelopaknya menempel satu sama lain. Lily putih di tangannya juga basah, tapi masih ia genggam erat.
"Maaf ya, Han. Aku tertidur terus. Padahal kita mau ke apotek," kata Anya dengan suara pelan, ada rasa bersalah di wajahnya yang masih mengantuk.
Arhan menggeleng cepat sambil tetap mendorong kursi roda di tengah hujan.
"Tidak apa-apa, An. Obatnya sudah aku beli tadi di apotek. Masalahnya, sekarang kita kehujanan sayang," kata Arhan.
"Gak apa-apa Han. Yang penting kehujanan sama kamu," Anya menyipitkan mata karena terkena air hujan sambil menatap Arhan.
Arhan pun tersenyum..
Hujan yang cukup lebat itu terus mengguyur mereka. Rambut Arhan sudah basah kuyup, air menetes dari ujung hidungnya dan dagunya. Mantel Anya juga basah, tapi ia tidak menggigil.
Justru Anya tertawa.
Tawa kecil yang jarang terdengar beberapa minggu ini, tawa yang pecah di tengah hujan lebat. Tawa yang pelan tapi tulus.
"Basah semua, Han," kata Anya sambil mengangkat wajahnya, membiarkan hujan itu jatuh di wajahnya yang pucat.
Arhan yang mendengar tawa itu ikut tertawa. Awalnya kecil, lalu lebih keras.
"Basah, An," kata Arhan sambil mendorong kursi roda itu lebih cepat, seperti anak kecil yang bermain hujan-hujanan.
Mereka pulang kehujanan di tengah jalan yang sepi. Orang-orang terlihat sibuk berteduh di pinggiran, hanya mereka berdua yang masih berjalan di tengah hujan lebat.
Anya memegang erat 30 bunga di pangkuannya yang basah agar tidak terbang, lily putihnya ia angkat sedikit ke atas seolah sengaja membasahinya.
"Biar seger bunganya pas sampai rumah," ujarnya kepada Arhan.
"Hati-hati An. Nanti bunganya jatuh berhamburan," Jawab Arhan sambil tersenyum.
Mereka terlihat riang. Seolah Anya tidak sakit. Seolah tidak ada hitungan 30 hari, tidak ada ruang konsultasi yang dingin, tidak ada obat yang harus diminum tiga kali sehari.
Hanya ada mereka. Mereka berdua di tengah hujan yang lebat, basah kuyup, tertawa bersama, mendorong kursi roda yang berdecit pelan di atas aspal yang basah.
Tas kain di pegangan kursi roda sudah basah ujungnya, tapi tetap mereka jaga erat sampai rumah. Hujan terus turun di belakang mereka, mengiringi langkah pulang mereka yang riang.