NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. AKSI GENGSI

Sore itu, suasana ruang tengah vila terasa jauh lebih lengang dan sunyi dari biasanya. Rahsya duduk menyandar di atas sofa kulitnya yang empuk, sepasang matanya menatap kosong ke arah layar televisi besar yang bahkan tidak ia nyalakan sejak tadi.

Pikirannya benar-benar sedang tidak berada di ruangan itu; ia terjebak dalam memori kecelakaan di dapur tadi siang. Tekstur kelembutan bibir, aroma wangi melati, dan guncangan jantung yang belum juga reda membuat sang dokter muda kehilangan fokus logisnya.

"Ini Den, cobain. Singkong goreng buatan saya," suara Pak Mamat memecah keheningan ruang tengah yang menekan.

Ia menyodorkan sepiring singkong goreng yang masih mengepulkan asap panas, hasil olahan kreatif dari pemberian Pak Udin yang melimpah semalam.

Kali ini, Pak Mamat sedikit berkreasi dengan menambahkan taburan parutan keju gurih di atasnya. Rahsya menolehkan kepalanya dengan lambat, seolah-olah jiwanya baru saja ditarik paksa dari dimensi lain. Ia menyambar sepotong singkong goreng dan mulai mengunyahnya pelan di dalam mulut.

Lidahnya mengecap rasa gurih mentega dan keju, namun otaknya justru sibuk memutar ulang memori saat tubuh tegapnya menimpa Amel di lantai.

Sebagai seorang pria yang belum pernah pacaran seumur hidupnya—apalagi melakukan kontak fisik sedalam itu dengan lawan jenis—hormon di dalam tubuh Rahsya seakan-akan sedang melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran yang merusak konsentrasinya.

"Gimana, enak kan, Den?" tanya Pak Mamat antusias, memperhatikan wajah majikannya yang tampak berpikir sangat serius.

Rahsya tidak bergeming. Ia terus mengunyah singkong itu, namun tatapan matanya lurus ke depan, menembus piring singkong di tangan Pak Mamat. Bayangan wajah Amel yang memerah padam dan sentakan kemarahannya sebelum pergi tadi siang terus saja datang menghantui. Ada rasa bersalah yang mulai menggerogoti dinding gengsinya yang kokoh.

"Den, gimana rasanya?"

Pak Mamat kembali mengulang pertanyaannya karena tidak kunjung mendapatkan jawaban atau penilaian dari sang dokter kota.

Rahsya tersentak kecil dari lamunannya. Ia refleks mengangguk mantap tanpa benar-benar mencerna apa pertanyaan Pak Mamat barusan.

"Iya enak, saya mau lagi," ucapnya datar, padahal tangannya sendiri masih memegang potongan singkong yang belum habis ia makan.

Pak Mamat tersenyum semringah melihat respons positif dari sang majikan. Dengan penuh semangat, ia kembali menyodorkan piring berisi singkong keju itu tepat di depan wajah Rahsya hingga nyaris mengenai ujung hidung mancungnya.

"Ini, Den, ambil lagi yang banyak!"

Rahsya terjengit mundur ke belakang. Bahunya mendadak menegang kaku karena kaget.

"Kedekatan, Pak! Ini di tangan saya masih ada, belum habis saya makan," protesnya ketus untuk menutupi rasa malu karena tertangkap basah sedang melamunkan hal lain.

Ia berdeham keras, mencoba memperbaiki posisi duduknya di atas sofa agar tampak lebih berwibawa, meski kedua daun telinganya saat ini masih berwarna kemerahan.

"Oh, maaf Den. Tadi Aden bilang enak terus mau lagi, jadi langsung saya sodorkan lagi piringnya ke depan muka Aden," ucap Pak Mamat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit kebingungan dengan reaksi sensitif majikannya.

Rahsya tertegun di tempatnya duduk. Kunyahan di dalam mulutnya mendadak berhenti total. Jantungnya terasa mencelos ke bawah.

'Sialan,' maki Rahsya di dalam hati.

Maksud dari kata "mau lagi" yang tanpa sadar meluncur dari bibirnya tadi sama sekali bukan merujuk pada potongan singkong goreng bertabur keju gurih di depan mukanya ini. Bayangan liarnya justru melayang bebas pada sensasi lembut dan hangat yang sempat menyentuh bibirnya di lantai dapur tadi siang.

Rahsya merutuki kebodohan dirinya sendiri. 'Apa-apaan kamu, Rahsya? Sejak kapan otak kamu jadi semesum ini?'

Rahsya yang selama ini dikenal luas di rumah sakit sebagai dokter perfeksionis, kaku, dan paling anti pada dunia percintaan, kini mendadak merasa seperti seorang remaja puber yang seluruh isi otaknya dipenuhi oleh ledakan hormon. Padahal, ia yakin betul prinsip hidupnya adalah menjadi seorang pria terhormat yang rasional, bukan pria bejat yang mendadak ketagihan efek kecelakaan air tumpah.

"Ya sudah, sini Pak piring singkongnya. Biar saya habiskan semuanya!" seru Rahsya cepat.

Suaranya sedikit meninggi demi menutupi rasa malu membara yang membakar kedua pipinya saat ini.

Dengan gerakan rakus yang sangat tidak biasa bagi seorang dokter elegan, ia menyambar potongan singkong goreng itu satu per satu ke dalam mulutnya. Ia menjejalkan makanan itu hingga kedua pipinya menggembung besar, melahapnya seolah-olah singkong keju itu adalah musuh bebuyutan yang harus segera ia musnahkan dari muka bumi.

Pak Mamat sampai melongo ngeri melihat Rahsya yang biasanya selalu makan dengan tata krama yang sangat anggun, kini mendadak bertingkah seperti orang yang kelaparan karena tidak makan selama tiga hari berturut-turut.

"Pelan-pelan, Den... nanti bisa tersedak," gumam Pak Mamat ngeri melihat keganasan majikannya.

Rahsya tidak memedulikan nasihat itu. Ia terus mengunyah dengan gerakan beringas, berusaha keras menenggelamkan rasa hausnya akan "kejadian dapur" itu dengan tumpukan karbohidrat.

Namun, semakin keras ia mencoba untuk melupakan, semakin jelas pula bayangan wajah Amel yang marah sekaligus malu tadi siang menghantui ruang benaknya.

****

Selepas berkumandangnya azan Magrib, suasana Desa Ci Sepi terasa jauh lebih sunyi, pekat, dan menekan dari hari-hari biasanya. Pak Mamat mengajak Rahsya untuk turut menghadiri acara tahlilan malam pertama di rumah Pak Trisna, ayah dari almarhum Rehan yang ditemukan tewas mengenaskan di tepi telaga.

Mereka berjalan kaki beriringan menyusuri jalanan tanah desa yang hanya diterangi oleh lampu teras rumah warga yang temaram. Jarak sekitar 400 meter menuju rumah duka terasa cukup jauh dan melelahkan bagi Rahsya, yang isi pikirannya masih berkecamuk tidak keruan.

Sesampainya mereka di pekarangan rumah duka, aroma wangi kemenyan dan bunga kamboja yang pekat langsung menyeruak menusuk indra penciuman, bercampur dengan suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang bergema rendah dan berat dari dalam rumah.

Di dalam ruang tamu yang beralaskan tikar pandan anyaman, warga desa sudah berkumpul ramai, duduk bersila membentuk barisan-barisan yang sangat rapat.

Rahsya mengambil posisi duduk di sudut ruangan dekat pintu samping, mencoba untuk membaur dengan tenang bersama warga lain. Namun, ketenangannya tidak bisa bertahan lama saat ia menyadari ada sepasang mata yang sejak tadi menatap ke arahnya dengan sangat tajam dari seberang ruangan.

Regan. Kakak kandung almarhum Rehan itu duduk bersila dengan kondisi wajah yang tampak kuyu, namun tatapan matanya dipenuhi oleh kobaran rasa dendam yang membara. Ia mengenali Rahsya dengan sangat jelas—pria kota berpakaian rapi yang tempo hari di hutan jati memelintir pergelangan tangannya dan membuat tulang keringnya masih terasa berdenyut nyeri hingga detik ini.

Regan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di atas lutut. Rahangnya tampak mengeras menahan amarah setiap kali sepasang matanya beradu pandang dengan mata dr. Rahsya.

Rahsya menyadari sepenuhnya tatapan penuh permusuhan dan ancaman itu. Ia bisa merasakan aura kebencian yang memancar kuat dari tubuh Regan. Namun, sebagai seorang dokter yang terlatih untuk tetap tenang di bawah tekanan situasi darurat, Rahsya memilih untuk tidak membalas provokasi tatapan tersebut. Ia hanya memperbaiki posisi duduk bersilanya, sedikit menegakkan punggung tegapnya, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada buku Surah Yasin yang ia pegang di tangan.

Suara bariton Rahsya yang berat turut menyatu dengan lantunan jemaah tahlilan lainnya, mencoba mencari kedamaian di tengah situasi desa yang kian janggal dan mencekam ini.

Meskipun ia fokus pada lantunan doa, insting waspada bawah tanahnya tetap aktif mendeteksi sekitar. Ia tahu betul, di balik kabut duka yang menyelimuti rumah ini, ada amarah Regan yang sewaktu-waktu bisa meledak menjadi aksi kekerasan baru, apalagi pria itu baru saja kehilangan adik kandungnya dengan cara dimutilasi makhluk halus secara tragis di tepi telaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!