Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Matahari pagi di Kota Bimantara bersinar terik, memantulkan silau di atas hamparan genting-genting rumah warga di kawasan Jalan Melati. Di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu, udara terasa agak pengap meskipun kipas angin plastik di sudut meja sedang berputar dengan kecepatan penuh, mengeluarkan bunyi derit halus yang berirama konstan.
Keira duduk di tepi kasur sambil melipat beberapa helai pakaian bersih yang baru saja ia angkat dari jemuran.
Gerakannya tenang, namun pikirannya tampak melayang entah ke mana. Sejak malam ketika ia tidak sengaja melihat notifikasi pesan dari seorang perempuan bernama Nadia di ponsel Davin, ada sesuatu di dalam kepalanya yang terus berputar pelan.
Bukan kecemburuan yang meledak-ledak. Keira tidak menuduh Davin berselingkuh, juga tidak merasa curiga bahwa kekasihnya itu berniat buruk. Davin sudah menjelaskan semuanya dengan masuk akal bahwa Nadia adalah rekan kerja di kantor yang kerap mengurus dokumen. Penjelasan itu rasional dan sangat pas dengan realitas dunia kerja kantoran.
Namun, yang membuat pikiran Keira terusik bukan isi pesannya, melainkan fakta kecil yang baru ia sadari: selama berbulan-bulan ia hidup bergantung pada Davin di kamar kos ini, lelaki itu hampir tidak pernah menceritakan detail kesehariannya di kantor atau siapa saja orang yang bekerja bersamanya. Dunia luar milik Davin tetap menjadi wilayah privat yang tertutup rapat dari Keira, sementara dunia Keira sendiri telah menyusut hingga hanya sebatas dinding-dinding kamar kos dan gang sempit di luar sana.
Wajar saja kalau dia tidak cerita, batin Keira pelan, melipat sebuah kaos oblong milik Davin dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam lemari plastik mini berpintu tiga. Ia segera menggelengkan kepalanya, berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang dianggapnya tidak penting itu. Davin kan sibuk bekerja, buat apa juga dia cerita soal urusan kantor yang bikin pusing ke aku?
Meski ia mencoba merasionalisasi ketidak nyamanan itu, sisa-sisa rasa ingin tahu yang kecil kadangkala tetap meninggalkan jejak di sudut hatinya.
Menjelang pukul dua siang, sebuah ketukan familiar terdengar di pintu kayu kamar kosnya. Ketukan tiga kali dengan ritme tegas yang langsung membuat dada Keira berdegup ringan. Ia bergegas bangkit, merapikan letak kerudungnya di depan cermin, lalu membuka pintu.
Davin berdiri di ambang pintu. Lelaki itu mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang yang digulung sebatas siku, memperlihatkan jam tangan berantai logam mengkilap. Di tangan kanannya, ia membawa sekotak martabak manis kesukaan Keira dan dua botol teh dingin.
"Udah siang, kok pintunya lama dibukanya? Lagi sibuk apa sih, Sayang?" sapa Davin lembut, langsung melangkah masuk dan mendaratkan satu kecupan singkat di kening Keira sebelum meletakkan makanannya di atas meja plastik.
"Enggak sibuk kok, Vin. Baru selesai lipat baju aja," jawab Keira tersenyum, menutup kembali pintu kayu dan menguncinya rapat-rapat seperti biasa. Ia mengambil tas kerja Davin dan meletakkannya di sudut ruangan.
"Kamu kok tumben jam segini udah mampir ke kos? Katanya hari ini ada meeting siang dengan klien penting di luar kantor?"
Davin mendudukkan dirinya di tepi kasur, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Meeting-nya selesai lebih cepat karena pihak klien datang terlambat, jadi aku putusin mampir sebentar ke sini buat makan siang bareng kamu sebelum balik lagi ke kantor."
Mendengar perhatian itu, senyuman Keira merekah. Rasa curiga atau pikiran-pikiran ganjil yang sempat singgah di kepalanya tadi pagi seketika menguap, tersapu oleh kehangatan sikap Davin yang menyempatkan diri untuk mampir. Di sela-sela waktu kerjanya yang padat, Davin masih datang memastikan Keira tidak makan sendirian.
Mereka duduk bersila di atas lantai karpet, menikmati martabak manis dan obrolan ringan seputar hal-hal remeh di sekitar lingkungan kos. Davin menceritakan tentang tukang galon di dekat kantornya yang sering protes karena harga isi ulang naik, membuat Keira tertawa kecil mendengarnya.
Namun, di tengah suasana itu, sebuah kejadian kecil kembali mengusik ketenangan Keira bukan karena ada niat buruk, sekadar sebuah momen tak sengaja yang mencuri perhatiannya.
Di tengah obrolan, ponsel Davin yang diletakkan di atas meja plastik berdering nyaring. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan sebuah panggilan masuk. Nama yang tertera di layar membuat Keira tanpa sadar melirik sekilas: Nadia Finance.
Davin, yang sedang memegang sepotong martabak, menghentikan gerakannya. Ia melirik layar ponselnya, lalu menatap Keira sekilas sebelum mengangkat panggilan tersebut dengan tangan kiri.
"Halo... ya, Nad? Ada apa?" suara Davin terdengar jelas di dalam ruangan yang sunyi itu, bernada datar dan profesional.
Keira pura-pura tidak memerhatikan, ia kembali fokus menatap gelas teh di hadapannya, tetapi pendengarannya tanpa sengaja menangkap potongan kalimat dari seberang sambungan telepon.
“...Pak Davin, maaf mengganggu. Soalnya revisi anggaran cabang Bandung yang kemarin diminta Pak Aris ada yang kurang tanda tangan. Kalau bapak sempat sebelum balik ke kantor, bisa tolong cek sebentar di meja saya?”
Suara perempuan berpenuturan tegas itu berhenti sejenak menunggu jawaban.
Davin menghela napas pendek, memperlihatkan ekspresi jenuh seorang atasan yang menghadapi bawahan yang teliti.
"Iya, nanti saya mampir sebelum jam tiga. Taruh saja berkasnya di meja, nanti saya cek."
"Baik, Pak. Terima kasih," jawab suara di seberang sebelum sambungan diputus.
Davin meletakkan kembali ponselnya ke atas meja plastik. Ia menggelengkan kepala pelan sambil menatap Keira.
"Tuh kan, urusan tanda tangan laporan cabang Bandung aja diributin sampai nelpon. Staf keuangan emang kadang terlalu kaku."
Keira tersenyum simpul, berusaha menunjukkan pengertian sepenuhnya.
"Namanya juga urusan laporan, Vin. Kalau ada yang kurang kan emang bisa jadi masalah buat kantor."
"Iya sih, benar," balas Davin sambil merengkuh bahu Keira dan menariknya mendekat.
"Makanya aku bersyukur punya kamu di sini, Kei. Tenang dan selalu ngertiin."
Pujian itu kembali bekerja seperti penenang. Keira menyandarkan kepalanya di bahu Davin, menikmati kehangatan rengkuhan tersebut. Di dalam hatinya, ia merasa bangga karena dirinya bisa menjadi tempat beristirahat yang nyaman bagi Davin setelah seharian menghadapi berbagai masalah di kantor.
Namun, di balik rasa tenang itu, ada satu detail kecil yang tertinggal di kepalanya seperti duri kecil: cabang Bandung.
Nama kota itu kembali disebut.
Sebelumnya, Davin sempat menyinggung soal posisi manajer operasional cabang baru di Bandung yang menawarkan gaji lebih besar dan rencana kepindahan mereka di masa depan. Dan sekarang, urusan laporan keuangan yang diurus oleh Nadia ternyata juga menyangkut cabang Bandung.
Keira tidak tahu mengapa, tetapi penyebutan kota itu mendatangkan sensasi dingin yang samar di ujung jemarinya. Ada jarak yang terbentang di antara kata 'Bandung' dan kehidupannya saat ini di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di Jalan Melati. Sebuah kota asing yang besar, tempat di mana ia tidak memiliki siapa-siapa, dan di mana dunianya mungkin akan benar-benar menyusut hingga hanya tinggal bayangan Davin seorang.
Sore harinya, tepat pukul tiga kurang sepuluh menit, Davin pamit untuk kembali ke kantor guna membereskan urusan laporan yang tertinggal tadi.
"Aku balik ke kantor dulu ya, Sayang. Nanti malam kalau sempat aku mampir lagi," pamit Davin singkat sambil mencium kening Keira di ambang pintu kos.
"Iya, Vin. Hati-hati di jalan ya," pesan Keira tulus, melambaikan tangan saat motor matic Davin melaju meninggalkan halaman kos.
Setelah kepergian Davin, suasana di dalam kamar kembali senyap. Keira menutup pintu kayu, menguncinya rapat-rapat, lalu duduk kembali di tepi kasur. Ia menatap ke arah meja plastik tempat ponsel Davin tadi sempat berdenging.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Davin, Keira merasa ada sebuah tirai tipis yang mulai terbuka di hadapannya sebuah tirai yang memperlihatkan bahwa di luar kamar kos ini, ada kehidupan lain milik Davin yang sama sekali tidak ia kenal, di mana nama-nama seperti Nadia dan tempat-tempat seperti Bandung menjadi bagian dari hari-hari lelaki itu.
Keira menarik napas dalam-dalam, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis, mencoba menepis segala pikiran ganjil yang mulai merayap di kepalanya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah bentuk paranoia konyol. Davin mencintainya, dan itu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak perlu ia ragukan.