Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8— Perjodohan
Keheningan menyelimuti ruang jamuan tamu. Uap sup pangsit mengambang di udara. Sang kepala keluarga menghela napasnya berat, memanggil salah seorang pelayan yang tiba-tiba membawa sebuah gulungan.
"Hari ini, pihak Pei Yu mengirim lamaran. Mengingat kedekatan kalian bertiga, Ayah pikir jika Xuer ikut masuk ke kediaman besar Pei, ia akan menjadi temanmu."
Semua terdiam. Tatapan Chanqing lurus ke arah Yueli sebelum beralih pada Xuer yang terpaku. "Ayah... ta... tapi?"
"Xuer, Pei Yu adalah cendekiawan yang akan naik jabatan. Ia lulus ujian kekaisaran dengan nilai tertinggi. Ayah harap ini pun akan menjadi sesuatu yang membanggakan."
"Tapi..." Xuer mencoba menolak, tetapi sang ayah justru melirik ke arah Chanqing.
"Tolong nasihati dia, Tuan Pei. Saudara sepupumu jelas juga orang dengan masa depan yang baik. Kalian akan tinggal di dalam kediaman besar Pei bersama."
Pei Chanqing tampak meneguk ludahnya dengan keluh, bibirnya terkunci rapat. Wajahnya yang berusaha tenang kian gelisah, matanya berputar beberapa kali mencari jawaban.
"Adik, menikah dengan Pei Yu sebagai istri utama. Dia adalah cendekiawan cerdas dengan masa depan terjamin," Yueli menengahi lebih dulu, tak membiarkan kesempatan ini lepas begitu saja karena Xuer terlalu baik jika dijadikan selir oleh Pei Chanqing.
"Kita juga akan tinggal dalam satu kediaman, itu justru menarik..." Yueli melirik ke arah Chanqing. "Bukankah begitu, Pei Ge?"
Pei Chanqing terdiam kaku, lidahnya kelu, tatapannya terkunci pada Shen Yueli, sementara ingatannya berputar pada sumpahnya. Sebagai seorang ksatria, ia tak boleh mengingkari sumpahnya.
"Benar, Xuer," akhirnya ia menimpali, memberi senyum kepuasan pada Shen Yueli.
Malam semakin larut ketika jamuan makan malam selesai. Satu per satu pelayan membereskan meja. Keputusan pernikahan antara Pei Yu dan Xuer telah ditetapkan, tepat dua minggu dari sekarang, bersamaan dengan tanggal pernikahan Pei Chanqing dan Shen Yueli.
Xuer bergegas pergi begitu jamuan selesai. Tatapan tajam Yueli seketika menghentikan langkah Chanqing yang tadinya hendak mengejar dan menenangkan gadis itu, sementara Shen Hayu justru mencebikkan bibirnya kesal.
"Jika kedua kakakku menikah, lalu aku dengan siapa, Ayah?" protes Hayu lembut. Gadis itu memang selalu tahu cara bermanja-manja di sisi sang ayah.
"Ayah pasti akan mencarikan suami yang pantas untukmu," jawab Jenderal Shen tenang.
"Bagaimana jika aku menjadi istri pendamping *Pei Gege* saja?"
Sontak seluruh orang yang tersisa di ruangan itu menoleh tajam ke arahnya. Pei Chanqing langsung mengerutkan dahinya dalam-dalam, Yueli membelalakkan mata tak percaya atas kenekatan gadis tersebut, dan Jenderal Shen seketika menggelengkan kepala keras-keras.
Sebelum sang kepala keluarga sempat meluapkan amarahnya, Yueli sudah lebih dulu mendengus dingin. "Hayu'er, kau harusnya bersyukur Kakakmu ini sedang berbaik hati dan tidak langsung merobek mulutmu sekarang."
Hayu mendengarnya tampak kesal. Tanpa sepatah kata pamit, suara derit kursinya menggema di lantai kayu saat ia bangkit dan meninggalkan ruangan begitu saja. Tak berselang lama, Yueli segera berdiri dari tempat duduknya, membungkuk memberi salam singkat kepada sang ayah, lalu berpamitan untuk beristirahat. Sementara itu, Pei Chanqing masih tertahan di ruang tamu, melanjutkan obrolan ringan yang kaku dengan sang jenderal.
"Nona... jika Nona Xuer nantinya ikut masuk ke kediaman keluarga Pei..." Bai Ting tampak ragu-ragu di tengah langkah mereka menyusuri koridor yang sepi.
"Ada apa, Bai Ting?" tanya Yueli tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan setapak di depan.
"Kalian berdua terlalu akrab. Terkadang, kedekatan yang berlebihan antar-saudara di satu atap pria yang sama bukanlah hal yang baik," bisik pelayan setianya penuh kekhawatiran.
Shen Yueli justru tertawa kecil pelan. "Aku akan mencari cara lain untuk mengatasinya. Hari ini aku sudah terlalu lelah, Bai Ting. Bisakah kau memijat kakiku?"
"Tentu, Nona."
Begitu tiba di dalam kamar, Yueli segera merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang berukir, membiarkan Bai Ting dengan cekatan mulai memijat betis dan kakinya yang pegal. Sementara fisiknya beristirahat, otak Alya di dalam raga tersebut bekerja jauh lebih keras. Lembaran-lembaran memori masa lalu dan pengetahuan sejarah yang pernah ia baca di dunia asalnya kembali terbuka bagaikan gulungan naskah.
Shen Yueli di dalam cerita aslinya bukanlah wanita lemah yang hanya bisa menangis pasrah menerima sepuluh selir suaminya. Sebelum raga ini diambil alih oleh Alya, ia adalah seorang pengelola kedai makanan dibawah keluarga Pei. Kedai makan di pasar Shue itu terkenal di mana-mana, membuat namanya melambung tinggi dan mendatangkan kekayaan melimpah. Namun, akibat intrik politik, kudeta, serta fitnah perselingkuhan yang keji, namanya ternoda hebat. Ia diceraikan secara tidak hormat, sementara seluruh toko dan aset bisnisnya dirampas paksa oleh keluarga besar Pei.
Sebaliknya, dalam alur asli yang diingat Alya, Xuer seharusnya tidak pernah menikah dengan Pei Yu—atau bahkan tidak menikah sama sekali, melainkan berakhir sebagai bayangan tragis di istana.
Mata Yueli langsung terbuka lebar dalam gelap. Sisa-sisa rasa lelahnya seketika menguap, digantikan oleh kesadaran yang menampar telak.
Ada perubahan arah takdir yang sangat besar sedang terjadi. Kehadirannya di sini bukan sekadar menumpang hidup, melainkan telah membelokkan seluruh garis nasib yang seharusnya tertulis.
Suara teriakan menggema di luar, "Kebakaran! Kebakaran!"
Shen Yueli dan Bai Ting saling pandang. Suara itu terdengar dekat dengan kediaman mereka, sementara asap merembes begitu cepat. Mereka terbatuk-batuk. Ruangan yang sepenuhnya terbuat dari kayu itu kini pada bagian sisi kiri depannya mulai dilalap api. Mata mereka membelalak.
Yueli mencoba melangkah, tetapi tubuh aslinya begitu lemah. Asap tebal membuat matanya pedih dan penglihatannya menggelap. Saat ia hampir terjatuh, derap langkah berat mendekat dengan tergesa-gesa menembus kobaran api kecil di ambang pintu.
Tapi api merambat begitu cepat. Deraknya diikuti embusan angin musim yang kencang di malam hari. Bai Ting berhasil keluar, sementara mata Shen Yueli yang pedih karena asap menghentikan langkahnya. Matanya berair dan dadanya sesak. Api memang belum membakar sepenuhnya, tetapi raga ini telanjur melemah.
Uhuk... uhuk... Dada kian sesak.
"Nona, kita harus keluar."
"Ayo, Bai Ting."
Bai Ting yang sudah berhasil menerobos pintu depan berteriak panik, "Nona! Cepat keluar!"
Teriakan di luar kian berdengung di telinganya, namun langkah tegap dan tergesa berlari mendekatinya.
"Yueli'er!" panggil Chanqing padanya.
Kesadaran Yueli perlahan terkikis, melebur bersama pekatnya asap yang menyesakkan dada. Di ambang pingsan, ia merasakan rengkuhan tangan yang kuat menyergap tubuhnya. Pei Chanqing menyambar dan mendekapnya erat-erat, membiarkan kening pria itu menempel lekat pada pelipisnya. Di antara deru api yang membakar kayu dan suara kepanikan di luar, deru napas hangat sang jenderal berpadu dengan detak jantungnya yang bergemuruh cepat di telinga Yueli.
"Tetaplah selamat, Yueli'er," bisik suara itu penuh cemas, mengantar kesadarannya jatuh ke dalam kegelapan.
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu