NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlambat Untuk Kembali

Pesan dari Arka kini datang hampir setiap hari. Dulu Laras akan menunggu pesan seperti itu dengan jantung berdebar-debar sejak pagi hingga malam.

Tapi sekarang, setiap kali nama pengirim itu muncul di layar ponselnya, Laras hanya melirik sekilas lalu membiarkannya terbaca atau bahkan menundanya sampai dia punya waktu luang.

Tidak ada lagi rasa berdebar, tidak ada lagi keinginan untuk segera membalas secepat kilat. Dia tetap sopan, tetap menjawab, tapi jawabannya selalu singkat, padat, dan tidak pernah membuka percakapan baru.

Suatu sore saat dia sedang duduk di teras rumah bersama Sandi, ponselnya berdering berulang kali. Sandi melirik sekilas lalu tersenyum tenang. "Kalau lu mau balas sekarang tidak apa apa. Gue tidak keberatan kok."

Laras menggeleng pelan lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Nanti saja. Itu hanya pesan dari Arka. Gue tidak mau mengabaikan lu yang ada di depan mata gue hanya untuk membaca pesan dari seseorang yang jauh di sana."

Sandi menatapnya lembut, tapi Laras bisa melihat ada rasa lega yang mendalam di matanya. "Lu tidak perlu merasa bersalah Laras. Gue percaya sama lu. Tapi lu juga harus jujur kepada diri lu sendiri. Kalau pesan-pesan itu mulai mengganggu ketenangan lu, lu berhak untuk bilang begitu kepadanya."

Kata-kata itu membuat Laras berpikir. Beberapa hari terakhir Arka memang semakin sering mengirim pesan. Dia bercerita tentang hari-harinya yang sepi, tentang betapa dia merindukan suasana kota ini, dan betapa setiap hal yang dia lihat di sana selalu mengingatkannya pada Laras.

Kadang dia juga bertanya hal-hal yang sudah berlebihan. Kenapa balasan Laras selalu lambat? Apakah dia sedang sibuk dengan seseorang yang lain? Apakah dia sudah melupakan masa-masa indah mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu mulai terasa seperti beban, bukan seperti sapaan teman lama. Laras akhirnya duduk dan menulis satu pesan balasan yang panjang dan jujur.

"Halo Arka. Gue senang lu sering berkirim kabar. Tapi jujur saja, pesan-pesan lu belakangan ini mulai membuat gue merasa tertekan. Gue menghargai persahabatan kita, dan gue akan selalu ingat kebaikan yang pernah lu berikan kepada gue. Tapi hidup gue terus berjalan di sini. Gue punya kehidupan baru, rutinitas baru, dan orang-orang baru yang saat ini menjadi prioritas gue. Lu adalah bagian dari masa lalu gue yang berharga, tapi tolong jangan minta gue memberikan perhatian yang sama seperti dulu. Gue tidak bisa memberikan itu lagi. Semoga lu mengerti."

Dia membaca pesan itu sekali lagi sebelum menekan tombol kirim. Hatinya sedikit berat, tapi dia tahu ini hal yang benar untuk dilakukan. Dia tidak ingin menyakiti Arka, tapi dia juga tidak ingin membohongi dirinya sendiri.

Balasan datang tidak lama kemudian. Arka meminta maaf, mengakui bahwa dia mungkin terlalu berlebihan karena merasa kesepian. Dia berjanji akan lebih menjaga jarak dan tidak terlalu sering mengirim pesan lagi.

Laras membaca pesan itu dan hanya tersenyum lega. Dia tidak membalasnya. Dia merasa cukup. Dia sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikan, dan sekarang dia bisa kembali menikmati sore yang indah bersama orang yang benar-benar ada di sisinya.

Saat dia meletakkan ponselnya di meja kayu kecil di samping kursi teras, Sandi menatapnya dengan senyum bangga. "Lu sudah melakukan hal yang benar, Laras. Kejujuran itu memang menyakitkan di awal, tapi itu jauh lebih baik daripada memberi harapan palsu kepada siapa pun."

Laras menyandarkan kepalanya di bahu Sandi, menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan, warna yang dulu selalu mengingatkannya pada Arka.

Tapi hari ini, senja itu terasa miliknya sendiri. Dia tidak lagi membagi perasaannya dengan kenangan masa lalu. Dia sepenuhnya hadir di sini, di saat ini, bersama orang yang dia pilih dengan sadar dan utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!