Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnahan Tania
"Aaaaaa...
"Kak Taniaa!!
Marwa berteriak memanggil nama kakak sepupunya itu. Tania terjatuh dari tangga, Tubuhnya terguling kebawah.
"Taniaaaaa!!
Raski langsung membuang buketnya dan berlari kearah Tania yang jatuh berguling ditangga. Selain pria itu, Haris dan Dartik juga mendekati sang putri yang jatuh terkapar disana.
"Tania..."
Kepala Tania berdarah, Wanita itu menatap Haris dengan tatapan sayu. Setelahnya, Tania menatap Marwa yang masih berdiri diatas tangga sana. Melihat tatapan Tania terhadap Marwa, Semua orang juga ikut menatap gadis yang baru saja merayakan keberhasilannya dalam meraih sarjana pendidikan yang dia lalukan selama empat tahun itu.
"Marwa! Apa yang kau lakukan hah!! " Haris berteriak. Melihat sang putri jatuh terluka orangtua mana yang tidak panik.
"Marwa? Kenapa kamu tega melakukan semua itu pada kakakmu?" Dartik menangis, Sementara Marwa hanya diam saja diatas sana. Tatapannya datar. Tidak ada raut wajah khawatir atau iba sedikit pun.
"Marwa, Kenapa kamu hanya diam saja..
Raski juga ikut mengalihkan perhatiannya terhadap Marwa yang masih diam itu. Tak ada reaksi apapun.
"Raski...
"Tania, Kamu masih sadar kan?" Raski memangku kepala wanita itu dipahanya seraya menepuk pipi wanita itu.
"Ras..ki..." Ucapan lirih Tania masih dapat didengar oleh Raski. Tania menatap Marwa lagi, Raski ikut menatap gadis itu dengan gurat emosi yang tertahan.
"Apa Tania, Ada yang ingin kamu sampaikan?" Tania menunjuk Marwa, Sayangnya Marwa tetap hanya diam saja dengan tatapan datar dan dinginnya.
"Wa..
"Raski.. Sakit.." Tania meringis lirih sebelum wanita itu tidak sadarkan diri. Melihat sang putri tidak sadarkan diri, Dartik langsung berdiri.
"Eh anak pincang! Kamu sengaja kan dorong Tania dari tangga?" Marwa tetap diam. Bibinya langsung melontarkan tuduhan yang tidak sama sekali ia lakukan.
Memangnya apa yang dia lalukan? Dia hanya diam saja disini dan tidak melakukan apapun. Kapan dia mendorong Tania sementara kedua tangan Marwa memegang buket yang cukup besar.
"Sekarang kamu turun, Tanggung jawab kamu.." Haris hendak naik keatas lalu menyeret gadis itu namun Raski melarangnya.
"Udah! Kita bawa Tania kerumah sakit sekarang..." Raski langsung membawa Tania keluar dari rumah tersebut. Raski dengan panik membawa masuk Tania yang tengah tak sadarkan diri itu kedalam mobil. Paman dan bibinya pun sama-sama ikut masuk mobil.
Seperginya mereka, Marwa turun dari tangga dengan sangat hati-hati. Tatapan gadis itu menajam, Tak ada air mata yang mengalir meski tadi Tania menunjuk ke arah dirinya.
Namun senyum Tania sebelum dirinya terjatuh kebawah membuat Marwa punya keyakinan kau ada niat yang buruk dari kakak sepupunya itu.
...****************...
Marwa duduk dikursi tunggu seorang diri. Masih dengan pakaian toga nya, Gadis itu mengepalkan kedua tangannya.
Ia ikut menyusul kerumah sakit ini dengan bantuan salah satu tetangganya. Dan disilihan saat ini Marwa berada,Didepan ruangan Tania ditangani oleh dokter.
Tak jauh dari tempatnya ia duduk. Paman dan Bibinya serta pria yang masih menjadi tunangannya itu mondar mandir didepan ruangan Tania berada saat ini dengan gelisah.
Terlihat dari raut wajah panik dan khawatir Raski. Marwa sudah dapat membuktikan kalau cinta Raski terhadap Tania begitu besar sekali.
Gadis itu terdiam, Marwa ingat apa yang telah terjadi tadi. Entah jatuh sendiri, Sengaja menjatuhkan diri sendiri Marwa tidak tahu sama sekali. Yang jelas Marwa tidak mendorong kakak sepupunya itu hingga jatuh kebawah.
Marwa menoleh, Bersamaan dengan itu Raski ikut menatapnya. Marwa terlihat tidak merasa bersalah sama sekali. Karena memang tidak bersalah. Untuk apa merasa bersalah atas kesalahan yang tidak ia lalukan.
Tatapan lembut yang biasa untuknya itu kini menjadi tatapan tajam dan menyalang. Marwa menghela nafas panjang, Ingat! Raski itu mencintai Tania bukan dirinya.
"Dokter kok belum keluar juga sih? Semoga saja Tania baik-baik saja.." Dartik sungguh sangat khawatir. Melihat putrinya jatuh berdarah seperti itu jelas ia khawatir. Wanita itu mendekati sang ponakan yang kini duduk itu.
"Gara-gara kamu ya! Gara-gara kamu Tania terluka.. Kamu itu iri kan? Iri sama Tania yang punya segalanya.. Makanya kamu dorong dia dari tangga sampai celaka begitu.." Marwa berdiri, Untuk kali ini Marwa tidak akan diam. Sejak tadi dia memang diam, Tapi dia tidak akan diam lagi kalah dituduh seperti ini.
"Aku? Iri? Sama kak Tania? " Marwa menggelengkan kepalanya.
"Enggak! Aku gak iri Bi.. Kalau Bibi bilang aku iri dengan kak Tania itu salah besar.. Memangnya apa yang membuat aku iri sama kak Tania? Bibi bilang kak Tania punya segalanya? Coba sebutkan, Memangnya dia punya apa? " Marwa tak mau diam lagi. Yang cacat adalah kakinya, Bukan mulutnya.
Melihat perlawanan Marwa, Dartik diam. Benarkan, Memangnya apa yang Tania punya sehingga membuat Marwa merasa iri.
Rumah?
Tidak, Rumah itu milik Marwa bukan milik Tania. Bukan Marwa yang menumpang, Tapi mereka lah yang menumpang.
"Dan kalian jangan asal tuduh.. Yang kalian lihat itu ketika Kak Tania sudah jatuh dari tangga sementara aku masih berada diatas. Kalian hanya melihat itu saja tanpa tahu kejadiannya...
"Kalau bukan kau siapa lagi pelakunya? " Haris ikut mendekat. Dia menatap nyalang keponakannnya itu.
"Jelas-jelas kau ada diatas sedangkan Tania terjatuh.. Kau pasti sengaja kan mendorong Tania dari tangga karena kau sangat membenci Tania..
"Bukan aku yang membenci Kak Tania Paman!.. Tapi kak Tania yang benci aku.. Dan satu lagi, Aku tidak mendorong Kak Tania.." Dengan tegas dan tanpa air mata Marwa mengatakan kalau dia bukan pelakunya.
"Sudah-sudah.. Kita tunggu Tania sadar dulu. Nanti kita tanyakan, Siapa yang benar.. Apakah Tania jatuh sendiri atau memang sengaja didorong. " Ucap Raski menimpali ucapan Haris dan Dartik.
"Iya, Apa yang dikatakan oleh Raski benar.. Kita tunggu Tania sadar dulu. Supaya kita tahu, Siapa yang benar dan siapa yang salah.." Marwa tersenyum getir. Ia tidak mengatakan apapun tentang pendapat itu.
"Okey, Tunggu saja Kak Tania sadar.. Tanpa ditanya pun aku sudah tahu apa jawabannya nanti. " Ucap Marwa yang sangat yakin atas jawaban Tania setelah wanita itu sadar. Dan mau seperti apa jawabannya, Jangan berharap apapun. Marwa diantara tiga orang yang ada disini tidak akan ada yang membelanya bahkan satu pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ceklek..
Seorang pria ber jas putih keluar dari ruangan Tania ditangani tadi. Dartik dan Haris mendekati sang dokter begitupun dengan Raski.
"Bagaimana kondisi anak saya dok? Dia baik-baik saja kan?
"Kalian tidak perlu khawatir.. Luka dikepalanya tidak terlalu parah kok.. Pasien hanya mengalami luka ringan dikepala.. Namun pasien mengalami cedera ringan dikakinya, Beberapa hari juga pasti akan sembuh.. " Jelas dokter membuat semua yang ada disana bernafas lega.
"Ohya, Pasien sudah sadarkan diri, Kalian bisa masuk melihatnya.." Semua yang ada disana masuk tak terkecuali Marwa yang ikut menyusul.
Gadis itu hanya diam saja. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir Marwa. Biarkan saja apa yang ingin keluarga bahagia itu lakukan, Terserah Marwa tidak ingin ikut campur.
Hingga pada akhirnya, Haris mulai melontarkan sebuah pertanyaan pada putrinya itu tentang bagaimana bisa Tania jatuh dari atas tangga.
"Iya.. Katakan sayang, Kamu jatuh sendiri atau di dorong?" Tanya Dartik, Tania langsung mengangkat tangannya.
Tania menunjuk Marwa, Semua orang yang ada disana termasuk Raski ikut melihat kearah yang di tunjuk kekasihnya itu.
"Iya.. Marwa yang dorong aku..
Deg!
Seketika Marwa menatap Tania dengan tak percaya. Jangan tanyakan lagi apa jawabannya, Karena Marwa sudah tahu.
PLAAAK!!
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,