"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rambut Baru Elsa 20.
Suara gunting yang beradu dengan helai-helai rambut terdengar seperti melodi perpisahan di telinga Elsa.
Di depan cermin besar salon yang agak sepi, rambut hitam panjang yang selama tiga tahun ini dia rawat hanya karena Firdaus pernah bilang menyukai cewek berambut panjang— kini rambut itu berjatuhan ke lantai.
Satu demi satu, helai itu gugur, membawa pergi sisa-sisa harga dirinya yang sempat tercecer di lantai perpustakaan sekolah.
"Potong se-bahu aja, Mbak. Buang semua bagian yang rusak," ujar Elsa. Suaranya tenang, namun ada nada final yang tidak bisa diganggu gugat.
Kapster salon itu tersenyum maklum. "Mau buang sial ya, Neng?"
Elsa hanya tersenyum tipis. 'Bukan buang sial' batinnya. 'Tapi membuang rantai yang mengikat gue pada orang yang gak pernah menganggap gue ada.'
Dua puluh menit kemudian, bayangan di cermin menampilkan sosok yang benar-benar baru. Potongan textured bob se-bahu dengan poni tipis yang membingkai wajahnya membuat Elsa tampak jauh lebih segar, tegas, dan... hidup.
Tidak ada lagi Elsa yang ceria, yang matanya selalu berbinar setiap kali berpapasan dengan Daus, atau Elsa yang selalu menunduk setiap saat ketulusan nya tidak dihargai oleh Ketua OSIS SMA Nusantara.
Ketika Elsa melangkah keluar dari salon, hujan telah mereda, meninggalkan aroma tanah basah dan udara sore yang menusuk tulang.
Di atas motor Ninja hitamnya yang bersandar di dekat trotoar, Aris sedang mengisap lolipop rasa ceri, matanya sibuk menatap layar ponsel.
Cowok itu masih mengenakan jaket levis yang bagian bahunya agak lembap.
"Ris," panggil Elsa pelan. Aris mendongak.
Detik itu juga, gerakan tangannya yang hendak memasukkan ponsel ke saku celana langsung terkunci.
Sepasang mata cokelat gelap milik berandal sekolah itu melebar. Dia menurunkan lolipop dari mulutnya, menatap Elsa tanpa berkedip dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Elsa mendadak salah tingkah. Dia merapikan ujung rambut barunya yang tertiup angin sore. "Jelek, ya? Aneh banget, kan?"
Aris tidak langsung menjawab. Dia turun dari motor, melangkah mendekati Elsa dengan ritme yang tenang namun mengintimidasi.
Jarak di antara mereka terkikis. Aris berhenti tepat satu langkah di depan Elsa.
Tangannya terangkat, jemari kasarnya yang dipenuhi kapalan akibat sering memegang stang motor kini menyentuh lembut ujung rambut baru Elsa, lalu menyelipkannya ke belakang telinga cewek itu.
Sentuhan itu singkat, tapi sanggup memicu sengatan listrik yang membuat bulu kuduk Elsa meremang.
"Siapa yang bilang jelek?" bisik Aris, suaranya berat dan serak, tipikal cowok yang jarang bicara tapi mematikan sekalinya bersuara. "Lo kelihatan... jauh lebih mahal. Si Ketua OSIS brengsek itu bakal nangis darah kalau lihat lo kayak gini."
Wajah Elsa merona merah. Kata-kata Aris selalu blak-blakan, tanpa saringan, tapi entah kenapa terasa ratusan kali lebih jujur daripada untaian kalimat formal yang biasa diucapkan Firdaus dalam rapat-rapat organisasi.
"Mulai besok, lo gak boleh bersembunyi lagi di perpus," lanjut Aris, seringai tipis terukir di wajah tampannya yang tegas. "Gue mau semua orang di sekolah tahu, kalau Elsa yang baru... udah gak bisa digapai sama standar recehan mereka."
**
Keesokan harinya di SMA Nusantara, atmosfer koridor kelas XII mendadak berubah tegang.
Firdaus berjalan dengan langkah tegap seperti biasa, map jepit di tangan kiri dan pulpen mahal terselip di kantong seragamnya yang rapi tanpa cela.
Namun, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. Firdaus tidak bisa tidur semalaman.
Setiap kali dia memejamkan mata, aroma parfum stroberi murah Elsa dan tatapan dingin cewek itu di perpustakaan terus menghantuinya.
Dadanya masih terasa sesak, seolah ada bongkahan es yang menyumbat saluran pernapasannya.
"Eh, lihat deh! Itu Elsa, kan?!"
"Demi apa? Gila, pangling banget! Cantik parah!"
Bisikan-bisikan riuh dari arah tangga membuat langkah Firdaus terhenti.
Instingnya memaksa kepalanya untuk menoleh. Dan di sana, di ujung koridor yang ramai, Elsa sedang berjalan.
Jantung Firdaus rasanya seperti dihantam palu tak kasat mata.
Rambut panjang yang selalu dikuncir kuda asal-asalan itu sudah hilang.
Berganti dengan potongan rambut pendek yang bergerak dinamis mengikuti langkah kakinya.
Elsa mengenakan seragamnya dengan lebih rapi, auranya memancarkan kepercayaan diri yang belum pernah Firdaus lihat selama tiga tahun belakangan.
"Elsa..." gumam Firdaus lirih, hampir tak terdengar. Langkah kakinya bergerak maju tanpa sadar, didorong oleh rasa rindu dan penyesalan yang mendesak di ulu hati.
Dia ingin memanggil nama itu, ingin menggenggam tangan itu, ingin meminta maaf atas segala sikap sinisnya selama ini.
Namun, sebelum Firdaus sempat mendekat, sebuah bayangan tinggi besar memotong jalurnya.
Aris. Cowok dari kelas XII-B, —kelas yang bertetangga langsung dengan kelas Elsa dan Daus—muncul dari sudut koridor.
Seragamnya sengaja dikeluarkan, dua kancing teratasnya terbuka memperlihatkan kaos hitam di dalamnya.
Sangat berandal, sangat kontras dengan Firdaus yang perfeksionis.
Aris berjalan santai di samping Elsa, lalu dengan gerakan yang sangat natural dan posesif, dia merangkul pundak Elsa, menarik cewek itu agar berjalan lebih dekat di sisinya.
Elsa terkejut, tapi dia tidak menolak. Dia justru mendongak, menatap Aris lalu tertawa lepas. Senyuman lebar sebulan sabit yang dulu selalu didedikasikan untuk Firdaus, kini sepenuhnya menjadi milik cowok lain.
Firdaus terpaku di tempatnya berdiri. Tangannya yang memegang map jepit bergetar hebat hingga buku-buku jarinya memutih.
Udara di sekitarnya mendadak hilang. Rasanya lebih menyakitkan daripada ditampar di depan umum.
Melihat cewek yang dulu mengemis perhatiannya, kini tersenyum bahagia dalam dekapan cowok yang paling dia benci di sekolah ini.
Saat mereka melewati Firdaus, Aris sengaja menghentikan langkahnya sebentar.
Dia melirik Firdaus dari sudut matanya yang tajam, penuh kemenangan dan intimidasi yang mutlak. Aris tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun seringai meremehkan di bibirnya seolah menegaskan satu hal: Dia punya gue sekarang, dan lo gak bakal pernah bisa dapetin dia lagi.
Sementara Elsa, dia bahkan tidak melirik Firdaus sama sekali.
Matanya lurus ke depan, melewati Firdaus seolah cowok itu hanyalah embusan angin lalu yang tidak penting.
'Gue benar-benar udah dibuang' batin Firdaus, runtuh sedalam-dalamnya di tengah ramainya koridor sekolah.
Benteng egonya kini bukan sekadar retak, melainkan telah hancur menjadi debu yang diinjak-injak oleh kenyataan.
Siang harinya saat jam istirahat, Aris semakin gencar melancarkan aksinya.
Dia tidak lagi peduli pada sekat antar kelas.
Cowok itu sengaja nongkrong di depan jendela kelas Elsa, duduk di atas pembatas koridor sambil memutar-mutar kunci motornya.
Setiap kali ada cowok kelas lain yang mencoba mendekati meja Elsa untuk meminta nomor WhatsApp atau sekadar menyapa rambut barunya, Aris akan memberikan tatapan tajam yang sanggup membuat nyali mereka ciut dan putar balik dalam hitungan detik.
Elsa yang sedang menulis catatan di mejanya akhirnya menyerah.
Dia berjalan menuju jendela, menatap Aris yang sedang menaikkan satu alisnya.
"Ris, lo gak ke kantin? Ngapain sih berdiri di sini terus dari tadi? Kelas lo kan di sebelah," tanya Elsa, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang mulai tidak karuan.
Aris memajukan badannya, bersandar pada bingkai jendela kelas Elsa sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Kantin gak menarik," sahut Aris santai, matanya menatap intens bibir Elsa yang kini memakai lip tint stroberi tipis. "Lebih menarik jagain aset gue di sini. Takut diambil maling yang hobi menyesal belakangan."
Elsa menggigit bibir bawahnya, menahan senyum sekaligus debaran yang kian menggila. "Gue bukan aset lo, ya!"
"Belum," koreksi Aris dengan nada rendah yang penuh keyakinan. Dia mengulurkan tangan, mencolek hidung Elsa gemas. "Tapi sebentar lagi bakal iya. Siap-siap aja, Sa. Gue gak main-main sama omongan gue kemarin."
Di ujung koridor, di balik pilar beton dekat ruang guru, Firdaus berdiri membeku memandangi interaksi nyata dan intim itu.
Dadanya berdenyut perih, luka baru kembali tertoreh di atas penyesalan yang belum kering.
Dia tahu, dia telah kehilangan haknya secara permanen. Dan bagian paling tragis dari semua ini adalah, dia baru menyadari arti kehadiran Elsa justru ketika cewek itu sudah menjadi pusat semesta bagi cowok lain.
......................
...****************...
Tbc,