NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8 — Tetangga Baru Bernama Nindya

Raka sama sekali tidak tahu siapa LangitSenja, dan dua hari pencarian sederhana tidak memberinya jawaban.

Profil itu tetap kosong. Pesan keduanya tidak dibalas. Estimasi gift masih tertahan dalam masa penyelesaian platform, sehingga Raka tidak memasukkannya ke uang operasional.

Ia memilih mengerjakan hal yang bisa dikendalikan.

Sampel relief kawung telah dikirim tepat sebelum tenggat ke manajer merek di Graha Utama. Tiga calon klien dari siaran perdana sudah ia balas dengan formulir ukuran, bahan dinding, lokasi, dan rentang anggaran. Hanya pemilik kafe yang memberi jawaban lengkap dan meminta jadwal survei.

Studio Nusa Karya belum menghasilkan keuntungan.

Namun jalurnya mulai terbentuk.

Pagi itu, Raka sedang memotret potongan giok di depan kontrakan ketika sebuah ojek online berhenti dua rumah dari tempatnya. Penumpangnya turun dengan ransel hitam dan satu koper berukuran sedang.

Perempuan itu mengenakan blus katun krem tanpa merek mencolok, celana hitam biasa, dan sepatu datar. Rambutnya diikat sederhana. Penampilannya cocok dengan pegawai kantor yang baru menerima gaji pertengahan bulan.

Hanya caranya berdiri yang tidak cocok.

Punggungnya terlalu tegak. Tatapannya menyapu gang, pintu, kendaraan, dan orang-orang dalam sekali lihat, seperti seseorang yang terbiasa memasuki ruang rapat lalu mengetahui siapa yang memegang kuasa.

Mata mereka bertemu.

Perempuan itu membeku setengah detik, kemudian tersenyum.

"Permisi, Mas. Kontrakan Bu Yati yang nomor tujuh di mana?"

Raka menunjuk pintu bercat biru di seberang warung. "Dua rumah dari sini. Bu Yati biasanya di depan."

"Terima kasih, Mas Raka."

Alis Raka bergerak. "Kita pernah bertemu?"

"Saya menonton live Studio Nusa Karya. Wajah Mas ada di profil." Jawabannya datang terlalu cepat, seolah telah dilatih. "Saya Nindya. Mulai hari ini tinggal di sini."

Ia mengulurkan tangan. Raka menyambut singkat.

Telapak Nindya halus, tetapi genggamannya tegas. Bukan tangan orang yang ragu pada dirinya sendiri.

"Selamat datang, Mbak Nindya."

"Panggil Nindya saja."

"Kita baru bertemu. Mbak lebih aman."

Ada kilatan geli di matanya. "Baik, Mas Raka."

Seorang pria berjaket pengiriman menurunkan dua kardus dari mobil bak kecil di ujung gang. Nindya memeriksa labelnya, lalu mengangguk. Barang-barang itu sengaja dipilih agar tampak biasa: kipas meja, rak lipat, alat masak murah, dan kasur gulung.

Di dalam tas Nindya, ponsel kedua bergetar.

Semua barang aman. Pakaian kantor biasa ada di kardus kedua. Mobil dan pengawal menunggu dua blok dari sana.

Nindya menekan layar tanpa mengeluarkan ponsel. Tak seorang pun di gang itu perlu tahu bahwa satu kontrakan kosong telah disewa melalui tiga perantara hanya dalam dua puluh empat jam, atau bahwa perempuan yang turun dari ojek tadi sebenarnya memiliki lift privat menuju ruang direksi.

Raka juga tidak perlu tahu.

Belum.

Siang harinya, hujan singkat mengguyur gang. Listrik di deretan kontrakan padam, mematikan ring light saat Raka sedang merekam tahap awal pemotongan giok. Ia menunggu di warung Bu Nani sambil memeriksa ulang garis potong.

"Mas Raka, tetangga barunya duduk sini saja," kata Bu Nani. "Meja lain bocor."

Nindya berdiri membawa semangkuk soto dan teh hangat. "Kalau tidak mengganggu."

"Silakan."

Ia duduk di seberang Raka. Matanya langsung jatuh pada foto giok di layar ponsel.

"Garisnya menjauhi retak," katanya. "Mas mau mempertahankan serat hijau di tengah?"

Raka mengangkat mata. "Mbak Nindya paham batu?"

Sendok di tangan Nindya berhenti. "Sedikit. Ayah saya suka kerajinan."

"Kebanyakan orang cuma melihat warnanya."

"Warna bisa menarik pembeli. Serat menentukan apakah karya bertahan."

Jawaban itu terlalu tepat untuk penonton biasa.

Raka meletakkan ponsel. "Anda bekerja di bidang apa?"

Nindya hampir tersedak oleh perubahan formal tersebut. "Administrasi proyek. Kadang melihat material bangunan dan dekorasi. Bukan ahli."

"Proyek apa?"

"Perumahan. Saya staf kontrak."

Secara teknis, setiap kata itu dapat dibela. Ia memang menangani administrasi proyek perumahan. Hanya saja, tanda tangannya menentukan apakah proyek bernilai triliunan berjalan atau berhenti.

Bu Nani datang membawa tagihan. Nindya membuka dompet tanpa berpikir dan menarik kartu logam hitam.

Gerakannya begitu alami hingga ujung kartu sudah terlihat sebelum ia sadar warung itu hanya menerima uang tunai atau QR sederhana.

Nindya segera memasukkan kartu tersebut, lalu mengeluarkan selembar seratus ribu rupiah. "Maaf, kebiasaan mengambil kartu kantor."

"Kartu kantor bagus sekali," kata Raka.

"Casing-nya saja."

Ia menyerahkan uang kepada Bu Nani dan berkata, "Kembaliannya tidak—"

Nindya terdiam. Pegawai kontrak yang tinggal di kontrakan murah tidak lazim meninggalkan delapan puluh ribu rupiah untuk semangkuk soto.

"Tidak usah dipisah," sambungnya cepat. "Saya mau tambah empat bungkus untuk pekerja yang mengantar barang."

Bu Nani tersenyum lebar dan pergi menyiapkan pesanan.

Raka memandang Nindya beberapa detik lebih lama.

"Ada yang aneh?" tanyanya.

"Tidak. Mbak Nindya cepat menolong empat orang yang bahkan sudah pergi."

Untuk pertama kalinya, tawa kecil keluar dari bibir perempuan itu. Bukan tawa direktur di depan pemegang saham, melainkan tawa seseorang yang baru lolos dari lubang yang ia gali sendiri.

"Saya memang gampang panik," katanya.

"Saya tidak melihat itu."

"Mas Raka selalu seteliti ini kepada tetangga baru?"

"Belakangan saya belajar untuk tidak langsung percaya pada orang yang datang membawa perhatian atau uang."

Wajah Nindya menjadi lebih tenang. "Karena keluarga mantan istri?"

"Live saya rupanya cukup terkenal."

"Hanya potongan dari Graha Utama."

Raka mengusap ujung pensil pada kertas. "Mereka tidak salah karena kaya. Saya juga tidak membenci perempuan kaya. Saya hanya tidak mau lagi berada dekat orang yang mengira uang memberi hak untuk membeli keputusan, harga diri, atau hidup orang lain. Bantuan yang berubah menjadi kendali bukan bantuan."

Setiap kata menekan tempat yang tepat di dada Nindya.

Ia teringat akun LangitSenja, gift puluhan ribu koin, kontrakan yang disewa melalui perantara, mobil yang menunggu dua blok dari sana, dan perusahaan raksasa yang namanya sengaja ia sembunyikan.

"Kalau seseorang cuma ingin menghargai pekerjaan Mas?" tanyanya hati-hati.

"Saya terima bayaran yang jelas untuk kerja yang jelas. Kalau terlalu besar tanpa alasan, saya akan bertanya apa yang sebenarnya dia inginkan."

"Mungkin dia tidak menginginkan apa-apa."

"Orang yang tidak menginginkan apa-apa biasanya tidak perlu bersembunyi."

Nindya menunduk pada sotonya. Untuk sesaat ia ingin mengatakan semuanya. Bahwa ia pernah menjadi gadis ketakutan yang ditolong Raka. Bahwa ia mencari wajahnya selama lima belas tahun. Bahwa uang yang begitu kecil baginya mungkin dapat memberi Raka waktu bernapas.

Namun bila ia membuka identitas sekarang, Raka mungkin melihat semua kedekatan ini sebagai transaksi.

"Mas benar," katanya akhirnya. "Kepercayaan memang tidak bisa dibeli."

Hujan berhenti. Listrik menyala dan kipas warung kembali berputar.

Raka mengangkat buku sketsa. "Saya harus lanjut bekerja."

"Boleh saya melihat prosesnya nanti? Bukan saat live. Saya ingin tahu apakah bentuk daun itu benar-benar bisa keluar dari batu retak."

"Kalau Mbak tidak keberatan duduk di kamar panas dengan suara bengkel."

"Saya tetangga biasa. Harus terbiasa."

Mereka berjalan keluar dari warung. Di depan kontrakannya, Nindya menerima telepon dari asistennya. Tanpa sadar, posturnya berubah. Bahunya tegak, suaranya turun setengah nada.

"Tahan pencairan tahap kedua. Minta audit dokumen tanah dan jangan biarkan direksi menandatangani apa pun sebelum saya—"

Ia melihat Raka sedang menoleh.

"Sebelum saya kirim laporan kepada atasan," sambungnya cepat. "Ya. Itu saja."

Nindya menutup telepon dan tersenyum terlalu manis. "Staf kontrak. Banyak disuruh."

Raka memandangnya, lalu memandang kartu logam hitam yang ujungnya masih terlihat di dompet.

"Tentu," katanya.

Ia masuk ke kontrakan sambil membawa giok. Nindya tetap berdiri di tengah gang, menyadari satu hal yang jauh lebih berbahaya daripada menghadapi rapat pemegang saham.

Raka telah melihat celah pertama dalam penyamarannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!