Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SEPULUH
## Bab 10: Wajah Asing di Rumah Sakit
Sabtu pagi itu, aku memutuskan untuk memenuhi janji lama pada diri sendiri—memeriksakan kondisi kesehatan reproduksi ke dokter kandungan, sesuatu yang sudah lama kutunda karena kesibukan kerja. Bayu sebenarnya menawarkan diri untuk menemani, tapi mengingat jadwalnya yang katanya harus survei proyek pagi itu, aku memilih untuk pergi sendiri saja, tidak ingin merepotkannya.
Rumah sakit yang kupilih cukup besar, salah satu yang direkomendasikan rekan kerja karena memiliki dokter kandungan yang cukup terkenal di kota ini. Aku mengambil nomor antrean, lalu duduk di ruang tunggu yang cukup ramai pagi itu—didominasi oleh ibu-ibu hamil dan beberapa pasangan muda yang tampak baru menikah.
Sambil menunggu giliran, aku sesekali memperhatikan sekeliling, mengamati orang-orang yang juga sedang menunggu dengan berbagai ekspresi—ada yang tampak cemas, ada yang tampak bahagia sambil mengelus perut yang sudah membuncit, dan ada pula seorang perempuan muda di sudut ruangan yang duduk sendirian sambil menggendong bayi yang tampak rewel.
Perempuan itu terlihat kelelahan, sesekali mengayun-ayunkan bayinya pelan sambil bersenandung kecil, mencoba menenangkan tangisan yang mulai pecah. Aku tersenyum tipis melihatnya, teringat betapa beratnya menjadi seorang ibu muda, sesuatu yang, entah kapan, semoga bisa segera kurasakan sendiri.
Tanpa sengaja, mata kami bertemu sesaat. Perempuan itu tersenyum kecil, senyum sopan khas orang asing yang kebetulan berbagi ruang tunggu yang sama, sebelum akhirnya kembali fokus menenangkan bayinya.
Aku tidak tahu, perempuan itu adalah Wulan. Dan bayi yang sedang ia gendong, yang rewel karena baru saja mendapat suntikan imunisasi di poli anak lantai bawah, adalah Raka—anak kandung suamiku sendiri.
---
"Ibu Ayu, silakan masuk," panggil seorang perawat, memutus lamunanku.
Aku bangkit, berjalan menuju ruang periksa, sama sekali tidak menyadari betapa dekatnya aku baru saja berada dengan kebenaran yang selama ini disembunyikan rapat-rapat dariku. Pemeriksaan berjalan cukup lancar—dokter menjelaskan beberapa hal terkait program kehamilan yang bisa kami coba, menyarankan beberapa pemeriksaan lanjutan yang sebaiknya dilakukan bersama suami.
"Sebaiknya suami Ibu juga diperiksa, untuk memastikan kondisi kesuburannya juga baik," jelas dokter, sambil mencatat sesuatu di lembar rekam medis.
"Baik, Dok. Nanti saya coba ajak suami saya untuk periksa juga," jawabku, mencatat jadwal kontrol berikutnya yang diberikan oleh perawat.
Setelah selesai, aku keluar dari ruang periksa, melewati ruang tunggu yang sama, di mana perempuan dengan bayinya tadi sudah tidak terlihat lagi—mungkin sudah selesai urusannya dan pulang lebih dulu. Aku tidak lagi memikirkannya, melanjutkan langkah menuju kasir untuk menyelesaikan administrasi sebelum akhirnya pulang.
---
Sesampainya di rumah, aku menceritakan hasil pemeriksaan pada Bayu yang kebetulan sudah pulang lebih dulu dari jadwal surveinya.
"Gimana hasilnya, Yu?" tanya Bayu, tampak penasaran sekaligus sedikit gugup.
"Kata dokter, sebaiknya kamu juga periksa, Mas. Buat mastiin semuanya baik-baik aja dari sisi kamu juga," jawabku, sambil meletakkan tas dan duduk di sofa ruang tamu.
Bayu terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit kubaca—campuran antara gugup dan sesuatu yang lain, yang waktu itu kuartikan hanya sebagai kekhawatiran wajar seorang suami yang belum siap menghadapi pemeriksaan medis semacam itu.
"Kenapa, Mas? Takut ya diperiksa?" godaku, mencoba mencairkan suasana.
"Bukan gitu," Bayu tersenyum kecil, meski terlihat dipaksakan. "Cuma... nanti aja deh, kalau udah agak longgar jadwalnya."
"Ya udah, nggak usah buru-buru. Tapi jangan ditunda-tunda terus ya, Mas," jawabku, tidak menaruh curiga lebih jauh, menganggap responsnya hanya bentuk kecanggungan biasa.
Sebenarnya, penolakan halus Bayu untuk diperiksa bukan semata soal rasa canggung terhadap prosedur medis, melainkan ketakutan yang jauh lebih besar—ketakutan bahwa pemeriksaan itu bisa saja membuka fakta yang selama ini ia sembunyikan, mengingat ia sendiri sudah tahu betul kondisi kesuburannya baik-baik saja, terbukti dari kehadiran Raka yang lahir delapan bulan lalu dari rahim perempuan lain.
---
Malam harinya, setelah makan malam, aku iseng membuka galeri foto di ponselku, mengunggah beberapa foto lama ke media sosial sebagai kenang-kenangan pernikahan kami yang sudah memasuki tahun kelima bulan depan. Bayu duduk di sampingku, ikut melihat-lihat foto lama sambil sesekali tertawa mengenang momen-momen konyol di masa awal pernikahan kami.
"Ih, foto ini lucu banget, Mas. Ingat nggak ini pas honeymoon kita ke Bali?" tanyaku, menunjukkan salah satu foto lama di layar ponsel.
"Iya, inget banget. Itu momen paling berkesan sih buat aku," jawab Bayu, tersenyum tulus—senyum yang, untuk sesaat, membuatku benar-benar yakin bahwa apa pun yang terjadi di luar sana, cinta kami berdua tetap menjadi sesuatu yang nyata dan berharga.
Aku tidak tahu, di saat yang sama, di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota, Wulan sedang berusaha menidurkan Raka yang masih rewel setelah imunisasi tadi pagi, sambil sesekali mengecek ponselnya, berharap pesan dari Bayu yang menanyakan kabar anaknya—pesan yang tidak pernah datang malam itu, karena Bayu terlalu sibuk menikmati waktu hangat bersama istri sahnya, tenggelam dalam kenangan foto-foto lama yang penuh kebahagiaan tanpa sedikit pun bayang-bayang kehidupan lain yang berjalan sejajar dengannya.
Malam itu berakhir dengan tenang bagiku, penuh syukur atas kehangatan kecil yang masih bisa kurasakan bersama Bayu. Aku sama sekali tidak menyadari, bahwa beberapa jam sebelumnya, aku sempat berbagi ruang tunggu yang sama dengan perempuan yang selama dua tahun terakhir diam-diam menjadi bagian dari kehidupan suamiku—sebuah pertemuan singkat yang, jika saja waktu itu aku tahu kebenarannya, mungkin akan menjadi titik awal dari segalanya, jauh lebih cepat dari yang seharusnya terjadi.
---
*Bersambung ke Bab 11*