Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Papan Tulis Pintar dan Mode Senggol Bacok Nyonya Hapsburg
Hari ketiga masa hukuman Dea sebagai 'pasukan kuning' Laboratorium Komputer SMAN 7 Bogor berjalan membosankan. Bau karbol rasa pinus memenuhi ruangan saat Dea mendorong kain pel dengan malas-malasan. Di kepalanya, ia sedang merancang ulang kode algoritma firewall Pentagon, namun di dunia nyata, ia sedang berperang melawan noda sirup lengket di bawah meja nomor dua belas.
Tiba-tiba, pintu lab terbuka kasar. Sekelompok siswi berseragam ketat masuk dengan tawa cekikikan yang melengking. Pemimpinnya adalah Clarissa, anak perempuan dari Ketua Komite Sekolah yang terkenal dengan gaya berjalannya yang seolah-olah lantai sekolah adalah catwalk Milan.
"Ew, bau banget sih ruangan ini. Bau orang miskin campur karbol," ucap Clarissa sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan yang dihiasi nail art bling-bling. Matanya menatap jijik ke arah Dea yang sedang memegang gagang pel. "Heh, anak baru. Minggir, kita mau numpang selfie di depan Smartboard baru sekolah. Cahayanya bagus nih dari jendela."
Dea menghela napas pelan, menekan keinginan untuk meretas akun media sosial Clarissa dan mengganti password-nya menjadi 'AkuSukaNgompol'. Gadis jenius itu memilih menyingkir dan menyandarkan gagang pelnya di dekat meja guru.
Clarissa dan gengnya mulai berpose genit di depan layar interaktif raksasa berukuran 85 inci yang baru saja dibeli sekolah. Itu adalah fasilitas termahal di sekolah, seharga hampir seratus juta rupiah. Saat Clarissa melangkah mundur untuk mendapatkan angle yang pas, sepatu hak pantofelnya yang tidak sesuai aturan sekolah itu tersandung kabel power Smartboard yang menjuntai.
GUBRAK! KRAAAANG!
Layar raksasa itu oleng, membentur sudut meja besi, lalu jatuh menghantam lantai dengan suara yang sangat menyayat hati. Kacanya retak seribu. Layarnya berkedip-kedip hijau sebelum akhirnya mati total.
Hening sejenak. Anggota geng Clarissa menutup mulut mereka dengan tangan, pucat pasi.
Clarissa menelan ludah, matanya melotot panik menatap layar seharga ratusan juta yang kini hancur berkeping-keping. Namun, saat tatapannya jatuh pada Dea yang sedang berdiri santai di pojok ruangan, sebuah senyum licik mengembang di wajahnya.
"Kamu..." tunjuk Clarissa pada Dea dengan suara melengking. "Kamu naruh kabel sembarangan! Kamu yang bikin Smartboard ini jatuh! Aku bakal laporin kamu ke Kepsek dan ke Mamiku!"
Dea memiringkan kepalanya, wajahnya sedatar papan cucian. "CCTV di sudut sana merekam semuanya, Clarissa."
Clarissa mendengus meremehkan. "CCTV itu udah rusak dari bulan lalu, dasar udik! Lihat aja, kamu pasti dikeluarin dari sekolah!"
Empat puluh menit kemudian, di Pasar Anyar Bogor.
Tania sedang asyik menawar harga ikan lele. Xander, Sang Penguasa Bayangan yang ditakuti kartel mafia Eropa, berdiri tegap di belakang istrinya sambil memegang dua kantong plastik besar berisi sayur kangkung, tempe, dan kelapa parut. Kacamata hitamnya membuat para pedagang pasar salah tingkah, mengira ia adalah aktor Hollywood yang sedang syuting reality show.
Tiba-tiba ponsel Tania berdering. Nada dering dangdut koplo memecah suasana pasar. Tania mengangkatnya, alisnya berkerut, lalu seketika matanya membelalak.
"Apa?! Anak saya dituduh memecahkan barang?! Bapak jangan macam-macam ya, Pak Budi, saya ke sana sekarang!" Tania mematikan telepon dengan kasar, lalu menoleh ke arah Xander. "Mas, taruh lelenya di mobil Dirga. Kita ke sekolah Dea sekarang. Ada ibu-ibu ganjen yang mau bullying anak kita."
Mata Xander menyipit dari balik kacamata hitamnya. "Bullying? Dirga! Siapkan sniper rifle di atap gedung seberang sekolah. Aku akan memanggil helikopter ekstraksi—"
"Mas," potong Tania tajam. "Nggak usah lebay. Biar aku yang urus. Ini urusan emak-emak, bukan urusan Interpol."
Setibanya di ruang Kepala Sekolah, suasana sudah memanas. Dea duduk diam di sudut sofa, pura-pura menunduk sedih padahal ia sedang asyik bermain Minesweeper di smartwatch-nya. Di seberangnya, duduk Bu Sisca—ibu Clarissa—yang memakai perhiasan emas berlebihan hingga lengannya terlihat seperti etalase toko emas berjalan. Tas tangannya yang bermerek dipangku dengan gaya angkuh.
"Saya tidak mau tahu, Pak Kepsek!" suara Bu Sisca melengking memekakkan telinga. "Anak pungut ini harus ganti rugi seratus juta rupiah sekarang juga, atau dia saya pastikan DO dari sekolah ini! Anak saya Clarissa sampai trauma melihat kejadian brutal itu!"
Pintu ruangan tiba-tiba menjeblak terbuka.
Tania melangkah masuk dengan aura yang jauh lebih menakutkan daripada Kaelen Sang Eksekutor Olympus. Ia masih memakai daster batiknya yang ditutupi jaket cardigan, namun tatapan matanya tajam layaknya silet berkarat. Xander berdiri diam di ambang pintu, bersedekap dada, mengawasi bak penjaga pintu neraka.
"Siapa yang berani memanggil anak saya 'anak pungut'?" desis Tania, berjalan mendekati sofa.
Bu Sisca tersentak sebentar melihat Xander yang berbadan raksasa di pintu, namun ego kekayaannya membuatnya kembali angkuh. Ia menatap Tania dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan.
"Oh, jadi Anda ibunya?" Bu Sisca mengibas-ngibaskan kipas lipatnya. "Pantas saja anaknya bar-bar. Bu, ini sekolah elit. Kalau tidak punya uang buat ganti rugi Smartboard seratus juta, mending bawa anak Ibu keluar dari sini. Jangan sampai saya telepon suami saya, dia itu supplier elektronik terbesar di Bogor!"
Tania tidak langsung membalas. Ia duduk di sebelah Dea, mengelus punggung putrinya dengan lembut. "Kamu nggak apa-apa, Nak? Nggak ada yang luka?"
Dea menggeleng pelan. "Enggak, Bu. Cuma telinga Dea agak berdengung denger suara Tante itu. Lebih berisik dari alarm reaktor Olympus."
Tania tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Bu Sisca dan Kepala Sekolah.
"Pak Kepsek," ucap Tania tenang namun mematikan. "Sebelum kita bahas soal ganti rugi, apa Bapak punya bukti kalau anak saya yang merusak barang itu?"
"I-itu... Clarissa dan tiga temannya bersaksi melihat Dea yang menyenggolnya, Bu Tania," jawab Kepala Sekolah gugup. "Dan kebetulan CCTV di lab sedang rusak..."
"Oh, CCTV rusak? Yakin?" Tania menyeringai. Ia menepuk paha Dea perlahan. "Dea, tunjukkan pada mereka."
Dea mengangkat wajahnya, menyentuh layar smartwatch-nya beberapa kali. "Waktu saya benerin server sekolah tiga hari yang lalu, saya sekalian nulis ulang script keamanan CCTV-nya pakai arsitektur enkripsi kuantum tingkat menengah dan nyambungin power-nya ke panel surya darurat. CCTV lab komputer itu merekam dengan kualitas 4K, 60 frame-per-second, lengkap dengan audio."
Dea menekan satu tombol terakhir. Ponsel Kepala Sekolah yang tergeletak di meja tiba-tiba menyala sendiri, lalu memproyeksikan video ke layar televisi di dinding ruangan secara nirkabel.
Di layar raksasa itu, terpampang jelas adegan Clarissa dan gengnya yang masuk, menghina Dea, lalu tersandung kabel Smartboard karena asyik selfie. Audio keluhan Clarissa tentang 'bau orang miskin' terdengar sangat jernih.
Wajah Bu Sisca seketika berubah warna dari merah muda menjadi pucat pasi layaknya mayat. Clarissa yang berdiri di belakang ibunya langsung menutupi wajahnya yang memerah menahan malu. Kepala Sekolah dan Pak Budi hanya bisa melongo menatap layar.
Tania menyandarkan punggungnya di sofa, melipat kakinya dengan elegan layaknya seorang ratu mafioso.
"Nah," ucap Tania dengan nada keibuan yang disiram bisa ular. "Sudah jelas, kan? Anak Anda yang rabun tidak bisa lihat kabel, anak saya yang disalahkan. Tapi tunggu dulu, saya belum selesai."
Tania mengambil ponsel dari sakunya, membuka sebuah catatan. "Dea tadi sempat meretas—maksud saya, 'mengecek' nomor seri di belakang Smartboard yang rusak itu. Setelah dicocokkan dengan manifes pabrik, ternyata itu bukan merek asli. Itu barang Black Market rakitan lokal yang harganya di pasaran paling mahal cuma lima belas juta rupiah. Bukan seratus juta."
Kepala Sekolah terbatuk hebat, sementara keringat sebesar biji jagung menetes di dahinya.
Tania menatap Bu Sisca yang kini gemetar. "Sebagai Ketua Komite Sekolah yang mencairkan dana anggaran seratus juta untuk barang lima belas juta... kira-kira kalau selisih delapan puluh limanya saya laporkan ke kejaksaan atau saya viralkan di grup Facebook Emak-Emak Bogor, suami Anda yang 'supplier elektronik' itu bisa kena masalah hukum nggak, ya?"
Skakmat.
Tidak ada ledakan peluru atau ayunan kerambit, namun daya hancur kata-kata Tania barusan setara dengan bom nuklir bagi reputasi sosial Bu Sisca. Wanita sombong itu kini menunduk dalam-dalam, kipas di tangannya bergetar.
"S-saya... saya rasa ini cuma s-salah paham..." Bu Sisca tergagap, suaranya kini mencicit seperti tikus terjepit pintu. "Clarissa, m-minta maaf sama Dea."
"Minta maaf aja nggak cukup, Jeng," potong Tania santai, meminjam panggilan khas Bu Sisca. "Kalian sudah memfitnah anak saya. Saya menuntut ganti rugi imateriil."
"I-ibu mau berapa? Lima juta? Sepuluh juta?" tawar Bu Sisca panik.
"Saya nggak butuh uang Anda," Tania tersenyum manis. "Sebagai bentuk penyesalan, saya minta Komite Sekolah membelikan dua puluh unit komputer berspesifikasi gaming tingkat dewa untuk lab sekolah ini. Asli, bergaransi resmi, dan bonnya diserahkan langsung ke Pak Budi. Dea butuh komputer yang layak untuk 'membersihkan' server sekolah. Setuju?"
Bu Sisca mengangguk cepat bak burung pelatuk. "S-setuju, Bu. Besok komputernya saya kirim."
"Bagus," Tania bangkit berdiri, merapikan dasternya. Ia menggandeng tangan Dea. "Ayo pulang, Nak. Tugasku di sini sudah selesai. Pak Kepsek, tolong pastikan komputernya benar-benar datang ya. Kalau tidak, bapak-bapak bule bertato di depan pintu itu yang akan datang menagih."
Xander, yang sejak tadi diam, tiba-tiba melepaskan kacamata hitamnya dan memberikan senyuman mafianya yang paling mengerikan ke arah Kepala Sekolah, lengkap dengan isyarat tangan memotong leher. Kepala Sekolah nyaris pingsan di tempat.
Begitu mereka bertiga keluar dari area sekolah dan masuk ke dalam mobil, Xander menatap istrinya dengan pandangan penuh kekaguman yang luar biasa.
"Sayang," puji Xander tulus, "negosiasimu tadi sangat... brutal. Tanpa meneteskan setetes darah pun, kau membuat musuh berlutut, menyerahkan hartanya, dan menghancurkan mentalnya berkeping-keping. Kau benar-benar terlahir untuk menjadi Dominus Umbrae yang sesungguhnya."
Tania tertawa lepas, menepuk lengan suaminya. "Ah, Mas Xander berlebihan. Itu tadi cuma trik tawar-menawar standar emak-emak kalau lagi beli panci di pasar. Pokoknya pantang pulang sebelum menang!"
Dea yang duduk di kursi belakang ikut tertawa sambil membuka kotak bekalnya. Ia memandang punggung ibunya dengan rasa bangga. Pasukan elit Elysium mungkin bisa dihancurkan dengan senjata, tapi untuk urusan keadilan di dunia emak-emak, tidak ada yang bisa mengalahkan insting tajam dan mulut pedas Nyonya Tania Hapsburg.
"Dirga, jalan!" perintah Tania ceria. "Mas Xander, sampai rumah tolong lelenya langsung dibersihkan, ya! Jangan lupa kumisnya dipotong!"
"Siap, Nyonya Besar," sahut Xander, sang mantan raja dunia bawah, yang kini sepenuhnya takluk di bawah kekuasaan mutlak istrinya.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor