Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: BANG TUA JADI KORBAN PENIPUAN TELEPON
Sabtu siang, Bang Tua sedang santai di kos, rebahan sambil sesekali membaca ulang draft bab disertasinya yang sudah dicoret coret merah oleh promotornya, tinta merah yang hampir memenuhi setiap margin halaman sampai sampai dia sempat bercanda dalam hati bahwa naskahnya lebih mirip lukisan abstrak dibanding karya ilmiah. Hari itu memang sengaja dia jadwalkan untuk istirahat total, tidak ada kelas, tidak ada bimbingan, hanya dia, kasur tipisnya, dan tumpukan kertas yang belum juga selesai dia revisi sejak dua minggu lalu.
Ponselnya berdering, nomor tidak dikenal, diawali kode area yang asing, bukan kode area Medan seperti biasanya. Biasanya dia malas mengangkat nomor asing seperti itu, cukup sering dia dapat telepon semacam itu dan langsung dia abaikan begitu saja, tapi entah kenapa siang itu dia iseng menjawabnya, mungkin karena bosan berkutat dengan tinta merah promotornya, mungkin karena penasaran, atau mungkin karena dia butuh alasan untuk berhenti sejenak dari pekerjaan yang terasa tidak ada habisnya itu.
"Halo, selamat siang, benar dengan Bapak Sahat Tua?" suara di seberang terdengar ramah, terlatih, dengan nada yang dibuat seyakin mungkin, seperti orang yang sudah menghafal skripnya di luar kepala, lengkap dengan jeda jeda kecil yang terasa terlalu rapi untuk sekadar obrolan spontan.
"Iya, benar," jawab Bang Tua datar, meski di dalam hati alarm kecil sudah mulai berbunyi. Nada suara penelepon itu terlalu manis untuk terdengar tulus, mengingatkannya pada gaya bicara sales asuransi yang pernah beberapa kali menghubunginya dulu, penuh keramahan yang terasa dipaksakan.
"Begini Pak, kami dari pihak bank, ingin menginformasikan bahwa kartu debit Bapak terindikasi digunakan untuk transaksi mencurigakan di luar kota. Untuk verifikasi dan mengamankan saldo Bapak, mohon kerja samanya menyebutkan enam digit kode yang akan kami kirimkan lewat SMS sebentar lagi."
Bang Tua yang biasanya tampil kalem dan datar di depan umum, tiba tiba merasakan sesuatu yang jarang muncul, gairah usilnya yang selama ini dia kubur dalam dalam, semacam energi lama yang tiba tiba menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Alih alih langsung curiga terang terangan atau menutup telepon seperti kebanyakan orang yang lebih waspada, dia justru memutuskan untuk bermain main sedikit dengan si penipu, merasa ini kesempatan langka untuk melepaskan sisi dirinya yang selama ini jarang sekali dia perlihatkan ke siapa pun.
"Oh, transaksi mencurigakan ya, Pak? Aduh, di kota mana itu? Saya kan jarang jarang jajan, Pak, boro boro sampai ke luar kota," katanya dengan nada polos yang dibuat buat, sengaja memancing, bahkan sempat menahan tawa kecil di ujung kalimatnya.
Si penelepon terdengar sedikit kaget, mungkin tidak terbiasa dengan respons seperti itu, biasanya korban korbannya langsung panik dan menurut, tapi cepat menguasai diri lagi, suaranya sedikit terburu buru menyesuaikan. "Iya Pak, makanya ini kami curigai, mungkin ada pihak yang tidak bertanggung jawab. Kodenya sudah masuk belum, Pak, ke SMS Bapak?"
"Bentar ya, Pak, saya cek dulu. Oh iya ini masuk kodenya, tapi... loh kok saya jadi ragu ya, Pak. Bapak ini dari bank mana tadi? Soalnya saya nggak punya rekening di bank itu," balas Bang Tua sambil menahan tawa, sengaja memancing lebih jauh, menikmati momen langka di mana dia bisa jadi dirinya yang sebenarnya, cerewet dan usil, tanpa perlu jaga image di depan siapa pun, tanpa perlu khawatir ada mahasiswa atau kolega yang melihat.
Suara di seberang mulai terdengar gugup, jeda antar kalimatnya jadi lebih panjang dari sebelumnya. "Eh, itu, maksud saya bank yang biasa Bapak pakai lah, Pak. Yang penting kodenya disebutkan dulu supaya kami bisa amankan..."
"Oh gitu. Tapi Pak, kalau memang dari bank resmi, kenapa nomornya nomor pribadi gini ya? Terus kok Bapak nggak tau saya pakai bank apa? Ini kayaknya Bapak nebak nebak aja deh," Bang Tua makin bersemangat, suaranya tetap tenang tapi penuh sindiran halus, seperti kucing yang sedang mempermainkan tikus sebelum akhirnya melepaskannya, bahkan sempat dia bayangkan ekspresi panik di wajah si penipu di ujung sana, sesuatu yang membuatnya diam diam merasa geli sendiri.
Setelah beberapa menit permainan kucing dan tikus itu, dengan si penipu semakin panik dan mulai berbicara ngawur karena kehabisan skrip, sesekali mengulang kalimat yang sama dengan nada yang makin tidak meyakinkan, Bang Tua akhirnya merasa cukup puas dengan hiburan kecilnya. Tapi lama lama, rasa geli itu berubah jadi kesal juga, terutama saat si penipu, yang mulai putus asa, berubah nada jadi memaksa dan sedikit mengancam, seolah taktik ramah tadi sudah tidak lagi berguna dan dia beralih ke cara yang lebih kasar.
"Pak, ini serius lho, kalau Bapak nggak kasih kodenya sekarang, rekening Bapak bisa diblokir permanen, dan itu tanggung jawab Bapak sendiri," ancam si penelepon, nadanya berubah tegas, mencoba menakut nakuti, suaranya kini jauh berbeda dari nada ramah di awal percakapan.
Kesabaran usil Bang Tua akhirnya habis juga. Dia menghela napas, nada suaranya berubah lebih datar dan dingin, kembali ke versi Bang Tua yang biasa dikenal orang orang di sekitarnya. "Pak, saya dosen matematika, bukan anak SD yang gampang ditakut takuti soal blokir memblokir. Udahlah, Pak, capek juga saya ladenin. Semoga aja nomor Bapak ini cepat kena masalah sendiri, biar nggak bisa nipu nipu orang lain lagi."
Dia langsung menutup telepon setelah mengucapkan itu, tanpa menunggu balasan apa pun dari seberang sana, jarinya menekan tombol merah dengan mantap. Kalimat terakhirnya keluar begitu saja, spontan, campuran antara kesal dan lega karena akhirnya bisa mengakhiri permainan itu. Bang Tua sendiri tidak terlalu memikirkan lagi kata katanya barusan, dia hanya merebahkan diri lagi ke kasur, tersenyum puas mengingat betapa paniknya suara si penipu tadi, membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya kalau seandainya bisa dilihat langsung, sebelum akhirnya kembali sibuk dengan draft disertasinya yang masih berantakan, meski sesekali dia masih terkekeh sendiri mengingat momen tadi.
Sore harinya, dia sempat bercerita sekilas ke dirinya sendiri lewat pesan singkat di grup keluarga, hanya menuliskan "tadi ditelepon penipu, lumayan buat hiburan siang", tanpa detail lebih jauh, semacam catatan ringan yang bahkan tidak dia maksudkan untuk ditanggapi serius oleh siapa pun, dan memang tidak ada yang menanggapinya lebih dari sekadar emoji tertawa dari adiknya.
Menjelang malam, setelah menyelesaikan beberapa halaman revisi disertasinya, dia sempat keluar sebentar untuk membeli makan malam di warung dekat kosnya, masih sesekali terkekeh sendiri mengingat percakapan telepon siang tadi, membayangkan ulang bagian bagian paling lucu dari permainan kucing dan tikus yang dia lakukan. Penjual nasi goreng langganannya sempat menanyakan kenapa dia terlihat lebih ceria dari biasanya, dan Bang Tua hanya menjawab singkat sambil tersenyum, "lumayan Pak, tadi ada hiburan gratis siang tadi", tanpa menjelaskan lebih jauh apa maksudnya, membuat penjual nasi goreng itu hanya mengangguk bingung sambil melanjutkan mengaduk wajannya.
Malam itu dia tidur lebih nyenyak dari biasanya, pikirannya masih dipenuhi kepuasan kecil karena berhasil mempermainkan si penipu, sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum menutup telepon tadi akan segera membawa konsekuensi yang jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangkan.