NovelToon NovelToon
The Yakuza’S Cold Princess

The Yakuza’S Cold Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: KimiHaruka

Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir Shisui...

​Di antara tiga bersaudara Uchiha, Shisui Uchiha adalah sosok yang paling jauh dari kesan kaku. Jika Itachi selalu berbalut setelan jas tailor-made seharga ratusan juta yen dan Sasuke identik dengan jaket kulit Saint Laurent yang angkuh, maka Shisui adalah pangeran kasual yang santai. Pria berusia 30 tahun itu lebih suka mengenakan oversized hoodie, jaket bomber santai, atau kemeja flanel yang digulung asal hingga menyingkap tato di lengannya.

​Shisui tidak betah duduk di balik meja kantor formal berjam-jam. Tempat favoritnya untuk melepaskan penat setelah mengurus operasional Uchiha Group adalah kedai-kedai izakaya lentera merah yang riuh di gang-gang sepi Shibuya, atau warung makan kaki lima di mana dia bisa duduk di atas kursi plastik, memesan yakitori bakar, dan mengobrol ramah dengan warga lokal.

​Koleksi pribadi Shisui pun mencerminkan gaya hidupnya yang dinamis dan berjiwa bebas. Shisui adalah seorang kolektor kendaraan sejati. Di kediaman utama Uchiha, terparkir tujuh mobil sport miliknya—mulai dari Koenigsegg One:1 (Perak), Koenigsegg CC850 (Perak), Chevrolet Corvette C8 (Hitam), Ferrari SF90 Spider (Hitam), Lamborghini Veneno (Dark Gold), Lamborghini Huracan Evo Spyder (Putih), Porsche Taycan 4S Cross Turismo (Hitam Metalik). Sementara di garasi penthouse apartemen mewahnya di kawasan elit Shibuya, terdapat Ferrari Purosangue (Silver), Dior x Vespa Bespoke 946 Scooter, Vespa Sprint x Justin Bieber yang senantiasa menemani saat kemanapun.

​Tak hanya itu, sudut garasi apartemennya dipenuhi oleh koleksi sepeda fixed kelas atas yang sering ia pakai menyusuri jalanan Tokyo saat fajar.

​Namun, di balik senyuman hangat, kekayaan melimpah, dan predikat ultimate green flag yang disandangnya, Shisui menyimpan sebuah kehampaan yang teramat dingin di dasar jiwanya.

​Shisui adalah pria yang dikutuk oleh takdirnya sendiri.

​Sore itu, suasana di penthouse mewah milik Shisui terasa begitu sunyi. Pria berambut gelap acak-acakan itu duduk di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponselnya yang redup.

​Sebuah pesan singkat baru saja masuk dari seorang wanita muda—seorang staf pengajar berwajah manis yang menjaga di yayasan panti asuhan miliknya. Wanita yang dalam beberapa bulan terakhir mencoba didekati oleh Shisui dengan penuh kesopanan dan kasih sayang.

​"Maafkan aku, Shisui... Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih jauh. Ada perasaan asing yang membuatku merasa tidak tenang setiap kali kita semakin dekat. Maafkan aku..."

​Shisui menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah lalu menyunggingkan senyuman getir.

​Ini bukan pertama kalinya. Ini adalah kali kelima dalam dua tahun terakhir sebuah hubungan asmara yang dicobanya berakhir dengan pola yang persis sama. Setiap wanita yang dekat dengannya selalu tiba-tiba merasa berjarak, asing, dan perlahan mundur menjauh.

​Shisui tidak pernah tahu rahasia ilahi yang disimpan oleh ayahnya—bahwa Benang Merah Takdir (Unmei no Akai Ito) di jari kelingkingnya telah terputus secara tragis sejak lahir, menandakan bahwa Kematian itu sendiri yang menjadi jodoh akhirnya, bukan seorang wanita di bumi.

​Dalam ketahuannya yang terbatas, Shisui mulai menyalahkan dirinya sendiri. Setiap kali malam makin larut di apartemen mewahnya yang luas, rasa kesepian yang menggigit sering kali menghampirinya.

​"Apakah aku memang membawa pengaruh buruk bagi siapa pun yang mencoba mencintaiku?" batin Shisui lirih, menatap langit-langit apartemennya yang sepi.

​Rasa hampa itu membuat Shisui tidak betah berlama-lama sendirian. Untuk mengobati luka halus di dadanya, Shisui selalu mencari tempat di mana hatinya bisa merasa berguna: bermain bersama anak-anak di panti asuhan, mengelus puluhan kucing jalanan di shelter-nya, atau meluncurkan mobilnya ke kediaman utama Uchiha demi mencari keberadaan adik-adiknya.

​Pukul enam sore, raungan mesin Ferrari Purosangue milik Shisui bergema halus memasuki pelataran kediaman utama klan Uchiha.

​Shisui melangkah masuk ke dalam rumah tradisional yang hangat beraroma kayu cendana. Di koridor sayap timur, dia melihat sosok adik perempuannya, Yoona, sedang berdiri berbincang santai dengan Hatake Kakashi.

​Melihat kedatangan Shisui dengan raut wajah yang sedikit redup di balik senyuman paksanya, Kakashi—yang memiliki naluri pengawal yang sangat tajam—seketika peka. Pria itu memberikan anggukan hormat yang sangat sopan pada Shisui.

​"Kak Shisui?" sapa Yoona, menoleh menatap abangnya.

​Shisui tersenyum hangat, melangkah mendekat lalu secara spontan mengusap puncak kepala Yoona dengan lembut. "Nana... kamu ada acara malam ini?"

​Yoona mengerutkan keningnya tipis. "Nggak ada. Kenapa, Kak?"

​"Makan malam bareng Kakak, yuk?" bujuk Shisui dengan suara pelan yang terdengar sedikit haus akan kehangatan keluarga. "Cuma kita berdua. Kakak yang drive, kita cari makan enak di luar."

​Yoona menatap mata Shisui sejenak. Meski Shisui tersenyum manis, Yoona sanggup membaca ada awan kelabu yang sedang menggelayuti hati abang tertuanya itu. Tanpa berpikir dua kali, Yoona mengangguk pelan. "Boleh. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu."

​Yoona menoleh pada Kakashi. Sebelum Yoona sempat bicara, Kakashi sudah lebih dulu menyunggingkan senyum tipis di balik maskernya. Kakashi tahu betul bahwa malam ini Shisui membutuhkan adik kesayangannya tanpa ada gangguan dari siapa pun.

​"Saya akan bersiap di kediaman utama, Nuna," bisik Kakashi lembut, menunduk mengecup pelipis Yoona secara privat sebelum memberi ruang bagi dua bersaudara itu. "Bersenang-senanglah dengan Tuan Shisui."

​Dua puluh menit kemudian, Yoona melangkah keluar dari walk-in closet-nya dengan tampilan casual-chic yang sangat manis, santai, namun tetap memancarkan aura cewek mahal.

​Yoona mengenakan Ink Sweatshirt warna putih longgar dari merek NIIEH dengan cetakan tulisan hitam yang gaya di bagian depan. Atasan santai itu dipadukan dengan Ribbed Midi Skirt dari Acne Studios berwarna abu-abu kebiruan yang membungkus kakinya dengan sangat pas dan anggun. Untuk alas kaki, Yoona memilih sepatu sneakers silver Adidas Astir Shoes yang dipadu dengan kaos kaki putih Yeehaw Crew Socks dari ALTAR'D STATE.

​Gaya cantiknya makin sempurna dengan tas Zebra Shoulder Bag bercorak hitam-putih dari Chrome Hearts yang tersangkut di bahunya, serta tatanan perhiasan emas FOUNDRÆ—termasuk rantai Open Belcher Chain, liontin Diamond Pear Pendant, dan Champleve Initial—yang berkilau lembut di lehernya. Rambut hitam panjangnya diikat gaya pigtails ganda yang sangat imut dan menggemaskan.

REFERENSI OUTFIT by JENNIE BLACKPINK

​Shisui yang sedang bersandar di mobilnya bersiul pelan begitu melihat Yoona mendekat.

​"Wah, adik kecil Kakak imut banget malam ini!" puji Shisui tertawa renyah, rasa sedih di dadanya sedikit terangkat melihat penampilan Yoona.

​Yoona memutar matanya manja, melangkah masuk ke kursi penumpang. "Jangan panggil 'adik kecil', Kak Shisui. Ayo jalan, aku sudah lapar."

​Mobil Ferrari Purosangue milik Shisui meluncur membelah gemerlap lampu malam kota Tokyo menuju sebuah restoran sushi privat berarsitektur kayu tradisional di kawasan Ginza. Restoran itu sangat eksklusif, hanya menyediakan satu ruangan tatami khusus untuk tamu VVIP.

​Begitu mereka berdua duduk bersimpuh di atas bantal tatami yang empuk, hidangan makan malam mewah yang dipesan Shisui mulai dihidangkan di atas meja kayu panjang.

​Pemandangan di atas meja seketika membuat mata Yoona berbinar terang. Sebuah Pesta Sushi (Ultimate Sushi Feast) tersaji dengan sangat memanjakan mata.

​Di atas piring-piring batu hitam besar, teratur rapi puluhan variasi sushi kualitas tertinggi:

​Irisan Nigiri Salmon segar yang dipadu dengan aburi salmon bakaran arang berbalut saus mayones gurih dan lelehan keju.

​Unagi Nigiri dengan potongan belut panggang tebal beroleskan saus manis gurih berkilau.

​Deretan Gunkan Maki yang melimpah dengan isian chuka wakame (rumput laut hijau segar) serta butiran ikura (telur salmon) berwarna oranye terang yang meletup di mulut.

​Gulungan Maki Roll berwarna-warni dengan topping irisan alpukat segar, daging kepiting, katsuobushi, hingga stroberi manis.

​Serta dua kotak bento kayu berisi nasi hangat yang ditutupi belut panggang utuh, udang manis, dan seasoned corn yang menggugah selera.

REFERENSI MAKANAN cr. Pinterest

​"Wah... Kak Shisui benar-benar berniat memanjakanku malam ini," gumam Yoona, mengambil sepasang sumpit kayunya dengan semangat.

​Shisui terkekeh pelan, menuangkan teh hijau hangat ke dalam cangkir porselen Yoona. "Makanlah yang banyak, Nana. Apapun yang kamu mau, Kakak yang bayar."

​Mereka berdua mulai menyantap hidangan sushi mewah tersebut. Yoona mengambil sepotong aburi salmon yang meleleh di mulutnya, menikmati setiap gigitan dengan wajah puas. Shisui memperhatikan adiknya sambil sesekali menyuapkan sushi belut ke mulutnya sendiri.

​Namun, di tengah gelak tawa dan obrolan santai mereka, Yoona yang sangat peka menghentikan gerakan sumpitnya. Gadis berusia 20 tahun itu menatap lurus ke arah mata Shisui.

​"Kak Shisui," panggil Yoona pelan dengan suara manjanya yang lembut.

​"Ya, Nana?" sahut Shisui, menaikkan alisnya.

​"Ada masalah apa lagi dengan cewek di yayasan itu?" tanya Yoona tanpa basa-basi, tatapan mata Antartika-nya menembus langsung ke dasar hati Shisui.

​Shisui tersentak kaget. Pria berusia 28 tahun itu tertawa kecil yang terdengar agak canggung, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ah... kamu selalu bisa menebaknya ya, Nana?"

​Shisui menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu. Matanya menerawang menatap cangkir teh hijau di tangannya.

​"Iya... berakhir lagi seperti biasa," bisik Shisui dengan nada suara yang penuh kejujuran dan rasa lelah. "Dia mengirimkan pesan tadi sore. Katanya... dia tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin, Nana. Tapi sepertinya... aku memang tidak ditakdirkan untuk memiliki seseorang dalam hidupku. Kadang aku berpikir... apa aku ini membawa nasib buruk untuk mereka ya?"

​Keheningan melanda ruangan tatami tersebut.

​Yoona meletakkan sumpitnya perlahan. Melihat abang kandungnya yang selalu bersikap green flag, selalu menolong orang lain, dan menyayangi anak-anak serta hewan terpuruk dalam rasa bersalah yang tidak adil membuat dada Yoona terasa nyeri.

​Yoona berdiri dari duduknya, bergeser berpindah tempat hingga kini dia duduk bersimpuh tepat di sebelah Shisui.

​Dengan gerakan yang sangat lembut, Yoona menjangkau kepala Shisui, menyusupkan jemarinya di antara rambut hitam acak-acakan abangnya, lalu menyandarkan kepala Shisui di bahu mulusnya.

​Shisui terpaku diam dalam sentuhan hangat adiknya.

​"Jangan pernah berbicara bodoh seperti itu lagi, Kak Shisui," semprot Yoona pelan namun begitu sarat akan rasa sayang dan ketegasan. "Kakak itu pria paling baik, paling penyayang, dan paling hebat yang pernah ada di dunia ini. Kalau cewek-cewek itu pergi... itu artinya mereka yang tidak cukup bernilai untuk menerima kebaikan hati Kakak."

​Yoona mengelus rambut Shisui dengan lembut, memberikan kenyamanan yang sangat dibutuhkan oleh sang abang.

​"Kakak tidak pernah membawa nasib buruk untuk siapa pun," lanjut Yoona dengan nada suara serak yang begitu tulus. "Lihat berapa ratus anak-anak terlantar yang tersenyum gembira karena yayasan Kakak. Lihat berapa banyak kucing yang selamat karena shelter Kakak. Dan lihat aku... aku selalu merasa aman setiap kali berada di dekat Kak Shisui."

​Shisui memejamkan matanya rapat-rapat. Sudut matanya terasa hangat menahan emosi haru yang membuncah. Kata-kata dari adik perempuannya yang biasa dingin bagaikan es Antartika itu berhasil meruntuhkan seluruh rasa hampa dan kesepian yang menyiksa dadanya sejak sore tadi.

​Shisui melingkarkan tangannya, memeluk pinggang Yoona erat-erat bagaikan seorang abang yang berlindung pada pelukan adiknya.

​"Terima kasih, Nana..." bisik Shisui lirih, suaranya agak serak oleh haru. "Terima kasih sudah mengingatkan Kakak."

​Yoona menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat manis. Dia menepuk-nepuk punggung Shisui pelan.

​"Lagipula... Kakak tidak akan pernah kesepian," gumam Yoona manja di telinga Shisui. "Kakak punya aku, punya Sasuke yang konyol itu, punya Kak Itachi, dan punya Kakashi. Kalau Kakak merasa sepi di apartemen... pulang saja ke rumah utama. Aku akan menyuruh Kakashi membuatkan sup hangat untuk Kakak."

​Shisui melepaskan pelukannya, menatap Yoona lalu tertawa renyah—sebuah tawa lepas yang kini benar-benar bersih dari bayangan kesedihan.

​"Janji ya? Kakashi harus buatkan sup kalau Kakak pulang?" goda Shisui sambil menyentil hidung mungil Yoona pelan.

​"Iya, janji!" sahut Yoona sambil mengerucutkan bibirnya manja.

​Malam itu, di dalam ruangan tatami yang hangat di tengah gemerlap kota Tokyo, Shisui kembali menemukan kedamaian jiwanya. Meski takdir jodohnya di dunia ini mungkin telah terputus abadi, Shisui sadar bahwa dia tidak pernah benar-benar sendiri—karena kehangatan cinta dari keluarga dan adik perempuannya akan selalu menjadi tempatnya untuk pulang.

...----------------...

FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.

Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!