Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kak Elvar sengaja menjemput Kila sore itu, langsung dari kampus. Macet-macetan di tol antar kota dia terobos, 2 jam perjalanan pulang-pergi jadi 4 jam total hari itu. Baginya tidak masalah, asal untuk adiknya.
Malam itu, rumah besar dekat pantai itu terasa terlalu sepi.
Papa sudah tidak ada. Di dekat pintu masuk masih ada satu koper hitam besar dan dua kardus berisi baju-baju Papa yang belum sempat dibawa ke apartemen. Rak sepatu Papa kosong. Ruang kerja Papa yang biasanya terkunci dan wangi kayu, sekarang terbuka, lampunya mati, lemarinya kosong.
Mama duduk di sofa ruang tamu memeluk bantal sofa. TV menyala tapi tidak ditonton. Matanya bengkak, pucat, jelas belum tidur semalaman memikirkan sidang besok.
Kila pelan-pelan duduk di sebelah Mama, menyandarkan kepalanya di bahu Mama. Tidak ada kata-kata.
Untuk pertama kalinya Kila melihat Mamanya sekecil ini. Bukan sebagai sosok Mama yang sibuk kerja dan selalu terlihat kuat, tapi sebagai perempuan yang juga hancur.
"Mama udah makan, Ma?" tanya Kila pelan, suaranya masih serak habis nangis di koridor kampus tadi.
Mama menggeleng lemah. "Mama nggak lapar, Nak."
Kila berdiri, ke dapur yang masih sama seperti masa kecilnya. Dia ingat dulu Mama sering masak sop ayam kesukaannya kalau dia sedih. Kali ini, giliran Kila yang masak. Dengan blazer Elvano yang masih lecek dia pakai sebagai outer, Kila menghangatkan sop ayam yang Mama buat tadi pagi tapi tidak disentuh.
"Ma, kita makan berdua ya. Kak Elvar juga belum makan dari siang, nyetir 4 jam jemput Kila," kata Kila sambil menata meja makan.
Itu yang terjadi malam itu. Tidak ada drama teriak-teriak. Hanya tiga orang di meja makan besar yang biasanya untuk empat orang. Makan sop ayam yang hangat, tapi rasanya hambar karena air mata. Kak Elvar mencoba mencairkan suasana dengan cerita receh di jalan tol tadi macetnya seperti apa, tapi tidak ada yang tertawa lepas. Hanya anggukan.
Setelah makan, Kila menemani Mama di kamar Mama. Kamar yang dulu adalah kamar Mama dan Papa. Sekarang sisi tempat tidur Papa kosong, hanya ada bantal yang sudah tidak ada orangnya.
Mama menggenggam tangan Kila erat.
"Maafin Mama ya, Kil... Mama sama Papa gagal kasih rumah yang utuh buat kamu sama Kak Elvar..." bisik Mama, air matanya jatuh lagi.
Kila langsung memeluk Mama. "Jangan ngomong gitu, Ma... Kila ngerti... Kila sama Kak Elvar ngerti... Mama udah berusaha... Kila di sini, Ma. Kila temenin Mama."
Malam itu Kila tidur di samping Mama, memeluk Mama seperti waktu kecil.
Sidang perdananya memang baru besok. Dan proses cerai itu masih panjang. Mama butuh support dari anak-anaknya. Dan untuk beberapa hari ke depan, Kila memutuskan tidak akan balik dulu ke kota tempat dia kuliah. Dia akan di sini. Menemani Mama beresin sisa baju Papa, menemani Mama ke pengadilan besok, menemani Mama yang rumahnya mendadak terasa terlalu besar dan terlalu dekat dengan suara ombak.
Di ponselnya yang tergeletak di nakas, ada 2 chat belum dibalas.
Dari Elvano: Kil, Mama gimana? Kamu aman?
Dan dari nomor yang dia save sebagai *Bapak Dosen (JANGAN DI-CHAT SEMBARANGAN!!!)*
Isinya cuma satu baris, dikirim jam 9 malam, centang dua.
*Bapak Dosen (JANGAN DI-CHAT SEMBARANGAN!!!):* Kuesioner kemarin biar saya yang urus. Kamu tidak usah pikirkan.
Kila menatap chat itu lama. Matanya yang sembab berkaca-kaca lagi.
Orang lain mungkin baca itu sebagai chat dosen yang dingin nyuruh mahasiswinya lepas tangan dari tugas.
Tapi Kila tau. Kila ngerti maksudnya.
Maksudnya adalah: Kamu di rumah saja dulu, temani Mama kamu. Urusan kampus, absen, penelitian desa, semua biar saya yang bereskan. Kamu tidak perlu khawatir.
Tidak ada kata "istirahat" atau "jaga diri". Hanya "biar saya yang urus."
Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Kila merasa dijaga, tanpa merasa dikasihani.
Kila membalas pendek: Terima kasih, Pak.
Dibaca. Tidak dibalas lagi. Tapi Kila tau, di kota tempat dia kuliah yang 2 jam dari sini, Pak Rhaegar pasti masih di ruang dosen dengan kuesioner-kuesioner mereka yang berantakan, mengurusnya sendirian.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah rumahnya tidak utuh lagi, Kila tidur agak tenang.
---
ayok ada dibaca🤭