NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Dingin Yang Gaptek

Istri Kontrak CEO Dingin Yang Gaptek

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 demam

Setelah memastikan ibunya benar-benar sehat Safa berpamitan pulang,bukan karna dia tidak betah tinggal lama dengan ibunya,tapi Arga.Dia tidak tega melihat suaminya berlama-lama tinggal dirumah gubuk itu.

Sepulang dari rumah orangtuanya Safa langsung demam.

Mungkin karna kelelahan setelah perjalanan panjang dan berada 7 jam di mobil, mungkin juga karna tertular ibunya atau mungkin karena semalam tidur di lantai kayu tanpa selimut tebal karena selimutnya diberikan ke Arga.

Mereka sampai tepat jam 2 malam dan dipagi harinya Safa tidak bangun seperti biasa.

Jam 5 subuh biasanya dapur sudah dibuat gaduh oleh Safa,entah karna sesuatu yang terjatuh atau suara-suara lainnya.Namun berbeda dengan pagi ini, penthouse terasa hening.

" Safa." triak Arga dari ruang tengah.

Hening,tak ada sahutan dari Safa,Arga masuk kedapur dan ternyata dapur masih rapih dan bersih belum ada tanda-tanda kehadiran Safa disana.

Arga berlarian ke kamar Safa.

" Safa,apa ada sarapan?" teriak Arga dari depan pintu kamar Safa.

Hening sama sekali tak ada jawaban.

Arga mengetuk pintu kamar Safa pelan,tapi tetap saja yang punya kamar tidak menyahut.

Arga mulai panik,dia membuka pintu kamar Safa pelan.

Arga merasa lega karna melihat safa tidur di atas sajadahnya, masih memakai mukena putih baru pemberiannya.

" Dasar tukang tidur! Safa!" panggil Arga lagi namun masih tetap tak ada sahutan.

Arga mendekat berniat membangukan Safa namun justru dia dibuat semakin panik karna melihat wajah Safa yang pucat, berkeringat,nafasnya terdengar begitu cepat.

Arga mendekat dan menyentuh dahi Safa.

" Astaga panas sekali!"

"Safa! Safa bangun!"

Safa membuka mata pelan-pelan. "Mas Arga... aku pusing... dingin mas!"

Suaranya serak, lemah. Tidak seperti Safa yang biasanya cempreng dan ceria .

Arga langsung menggendong Safa dari lantai ke tempat tidurnya. Tubuh Safa panas, tapi tangannya dingin.

"Kenapa tidak bilang dari semalam kalau kamu tidak enak badan?"

"Aku kira cuma masuk angin Mas... tadi malam aku coba kerokan pakai koin... tapi nggak sembuh.

Arga melihat leher Safa yang merah bekas kerokan.

"Ck! Ternyata Gadis desa ini masih memakai cara kampung." gumam Arga lirih.

Arga langsung menelfon dokter pribadinya.

"Dr. Hendra, datang ke penthouse saya sekarang. Istri saya demam tinggi."

15 menit kemudian dokter datang dengan tas medis.

dokter Hendra langsung menuju kamar Safa dan memeriksanya.

"Demamnya 39,5 derajat, Pak Arga. Dia kelelahan dan dehidrasi. Istri bapak butuh istirahat total, jangan lupa banyakin minum air putih.Ini sudah saya resepkan beberapa obat untuk istri bapak tolong diminum 3x sehari Oh ya jangan dikasih kerja berat dulu 2-3 hari."

" Baik dok trimakasih"

" Sama-sama,kalau begitu saya pamit semoga istri bapak lekas sembuh."

Arga hanya mengangguk mengiyakan.

Setelah dokter pergi, penthouse yang biasanya berisik kembali jadi sepi.

Arga membatalkan semua meeting hari itu. Pertama kalinya dalam 5 tahun, CEO Mahendra Group membatalkan meeting hanya karena istrinya demam.

Dia duduk di samping tempat tidur Safa.

Safa menggigil kedinginan padahal AC sudah dimatikan.

"Mas... dingin..."

Arga mengambil selimut tebal 3 lapis dan menyelimutkannya ke badan Safa.

"Masih dingin?"

Safa mengangguk lemah. Matanya berkaca-kaca. "Mas, aku kangen ibu..."

Arga tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak pernah merawat orang sakit. Seumur hidup saat dia sakit dia dirawat suster.

Dia mengambil air hangat dan handuk kecil, mengompres dahi Safa seperti yang pernah dia lihat di film.

"Tahan ya."

Safa menatap Arga yang mengompres dahinya dengan kaku, tapi terlihat begitu tulus. "Mas Arga trimakasih sudah merawatku."

"Diam, jangan banyak bicara!" titah Arga.

Siang harinya, Safa tidak mau makan. Bubur yang dipesan Arga dari restoran bintang 5 tidak disentuh sama sekali.

"Mas, aku nggak mau bubur restoran, pahit..."

"Terus mau apa?"

"Aku mau bubur buatan ibu... yang pakai kunyit..."

Arga diam.Dia tidak bisa membuat bubur kunyit.

Karna bingung akhirnya dia menelfon Nenek. "Nek, Safa demam, tidak mau makan."

Nenek langsung panik. "Apa? Demam? Nenek kesana sekarang!"

30 menit kemudian Nenek datang dengan rantang.

"Nenek bawakan bubur manado kesukaan Nenek, biar Safa mau makan."

Safa mencoba makan satu sendok, lalu menggeleng. "Maaf Nek, pahit..."

Nenek dan Arga saling tatap karna bingung.

Malam harinya demam Safa naik jadi 40 derajat. Safa mulai mengigau.

"Ibu... jangan tinggalin Safa... Bu..."

"Mas Arga... jangan marah sama Safa... Safa udah masak rendang..."

Arga yang duduk di sampingnya sepanjang hari, mendengar igauan itu, dadanya terasa sesak.

Dia memegang tangan Safa yang panas.

"Safa, saya di sini. Jangan ngigau lagi!" bisik Arga.

Safa yang setengah sadar menggenggam tangan Arga erat. "Mas Arga jangan pergi... aku takut..."

"Saya tidak pergi. Saya di sini terus jagain kamu!"

Dan Arga benar-benar di situ terus. Semalaman dia tidak tidur. Dia mengganti kompres setiap 30 menit, dia juga memberikan minum air putih setiap jam,2 jam sekali Agra selalu cek suhu bada Safa.

Jam 3 pagi, demam Safa turun sedikit jadi 38,5. Safa terbangun dan melihat Arga tertidur di kursi di samping tempat tidurnya, masih memegang tangannya.

Tangan Arga yang biasanya memegang pulpen mahal dan tanda tangan kontrak triliunan, kini memegang tangan Safa yang kecil.

Safa menatap Arga lama. Wajah Arga yang biasanya dingin dan kaku, saat tidur terlihat lelah dan ada sedikit kehawatiran terlihat dari wajahnya.

Safa dengan pelan menarik selimut dan menyelimutkan ke tubuh Arga yang tidur di kursi.

Tapi gerakannya membuat Arga terbangun.

"Kamu sudah bangun? Demamnya gimana?"

Safa tersenyum lemah. "Udah mendingan Mas. Mas nggak tidur semalaman ya? Maaf ya sudah ngerepotin."

"Tidak apa-apa. Sudah tugas saya."

"Tugas kontrak ya Mas?"

Arga terdiam. Lalu menjawab pelan. "Bukan tapi Tugas sebagai suami."

Safa melongo mendengar jawaban itu. Matanya langsung berkaca-kaca lagi.

"Mas..."

"Sudah, jangan nangis lagi. Nanti demamnya naik lagi. Mau makan apa? Saya belikan."

Safa berpikir sebentar dengan wajah pucatnya. "Aku mau... indomie rebus pakai telur... yang kuahnya banyak..."

Arga mengerutkan kening. "Indomie? Dokter bilang harus bubur. Mie itu tidak sehat!" jawab Arga.

"Tapi aku pengen indomie Mas... satu aja... janji habis itu aku makan bubur..."

Arga menghela napas, tapi akhirnya berdiri. "Tunggu."

10 menit kemudian, Arga keluar dari dapur dengan mangkok indomie rebus yang... berantakan. Mienya terlalu lembek, telurnya hancur, tapi kuahnya banyak.

"Ini, makan. Jangan komplain." ucapnya.

Safa melihat indomie itu dan langsung tertawa kecil, walau masih lemas. "Mas Arga masak indomie? Ya ampun, mienya jadi bubur Mas."

"Makan saja,jangan berisik!" sungutnya.

Safa memakan indomie buatan Arga dengan lahap. Walau rasanya aneh, keasinan, tapi bagi Safa itu indomie terenak di dunia.

Karena yang masak adalah Arga suaminya yang rela seharian tidak tidur demi menjaganya.

"Mas, enak," kata Safa sambil menangis lagi, tapi kali ini menangis karna terharu.

"Sudah, dimakan!

Setelah makan, Safa tidur lagi. Kali ini tidurnya pulas, demamnya sudah turu.

Arga duduk di sampingnya lagi, menatap Safa yang tidur sambil memeluk guling.

Dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan ke sekretarisnya:

_Rina, cancel semua jadwal saya besok juga. Istri saya masih sakit._

Untuk pertama kalinya, bagi Arga, ada yang lebih penting dari rapat triliunan.

Yaitu gadis desa yang sekarang demam, yang tidur di depannya dengan wajah pucat tapi masih sempat bilang indomie buatannya enak.

Bersambung

1
falea sezi
uda q krim hadiah thor🤭 up banyak ya.. 👍 g sabar nunggu bocil saseettnya
Atha Diyuta: trimakasih ka, ditunggu kemasan sasettnya 🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah👍
Atha Diyuta: mksh kaa ditunggu ya
total 1 replies
falea sezi
Arga kenpa dlu pcrn sama lampir 5 tahun🤣
Dewi kunti
Iki kepiye kok dadi ngulang meneh🤦
Dewi kunti: oalaaaaahhh
total 2 replies
Dewi kunti
typo
Dewi kunti
kenapa sekarang gampang banget ya main tium2 manjaaaa😘😘😘😘😘
Atha Diyuta: udah kecanduan ditium tium
total 1 replies
Dewi kunti
jangan buru2 jetiknya thor, perhatikan tanda bacanya juga
Atha Diyuta: iyaa ka udah keyboard hpku typo tanganku juga typo makanya q lagi revisi dari bab 1 ☺️☺️
total 1 replies
Dewi kunti
emang desanya Arga dimana thor😄😄😄😄
Atha Diyuta: asale aja dia mah,biar Safa diem gak banyak tanya😄😄
total 1 replies
Dewi kunti
Weh kembali berhijab
Dewi kunti
udah gak jilbaban didepan suami,dah dikuncir rambutnya
Dewi kunti
otw belah duren 😄😄😄😄
Dewi kunti: Sprin aj,🤣🤣🤣🤣🤣
total 6 replies
Dewi kunti
tp kmrn masak rendang,ngajarin ngidupin kompor,kata siapa gak pernah msk dapur, author nya blm ngopi ini
Atha Diyuta: 🙈🙈🙈belum sempet direvisi 😅😅😅
total 3 replies
Atha Diyuta
trimakasih siap revisi
Dewi kunti
pergi kepasar dong🤭🤭🤭ini keyboard nya ngeyel kynya
Atha Diyuta: astaghfirullah iya ka baru ngeh🙈🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
witing tresno jalaran Soko kulino
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
Dewi kunti
tangan sangat kalian cocok,maksude piye🤭🤭🤭🤭
Atha Diyuta: kadang" 😅😅
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!