Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 13: pemakaman ibuku
Jam 14.00 siang. Hujan baru reda.
Tanah makam di belakang surau kayu Kuala Pembuang masih becek. Bau tanah merah kecampur bau kayu bakar.
Jenazah ibu sudah dimandiin ibu-ibu. Sekarang dibungkus kain kafan putih bersih. Bukan mukena putih robek yang ada di mimpi ku jam 4 subuh tadi. Kafan baru, dibeliin bapak tadi pagi di pasar.
Aku tidak boleh ikut ke makam. Kata Bu Siti, perempuan tidak boleh ikut ngubur. Jadi aku cuma bisa lihat dari jauh, dari pintu kamar kecil ku.
Aku masih pakai gamis putih setrikaan ibu. Yang ibu setrika jam 3 subuh tadi malam sebelum jatuh di surau pas wudhu subuh jam 4. Kertas kecil tulisan ibu masih di saku gamis ini: Laila, kalau kamu pulang, pakai ini. Ibu kangen sama kamu.
Flashdisk merah masih di saku dalam gamis putih. CCTV kancing masih di kerah dalam, lampu merah kecilnya kedip tiap 5 detik, tapi tidak ada yang lihat karena kerudung putih ku lebar.
Di luar, Bapak ku, Pak Haji, dan 2 bapak-bapak lain gotong keranda kayu. Kerandanya sederhana, papan tipis. Di atas keranda ada payung hitam biar tidak kena panas, padahal tidak ada panas, habis hujan.
Mami Asih berdiri di samping ku di pintu kamar. Mami tidak pakai seragam LC, Mami pakai daster coklat biasa. Mami pegang pundak ku kencang.
"Laila, liat yang bener. Ini terakhir kamu liat ibu kamu sebelum masuk tanah. Jangan jadi Alia dulu. Tapi Jadilah Laila yang dibanggakan ibumu."
Aku angguk. Air mata ku habis dari tadi pagi di L300, tapi sekarang keluar lagi.
Rombongan jalan pelan dari rumah papan ke makam. Jalan becek. Ibu-ibu di belakang baca sholawat pelan. Bapak ku di depan, jalannya pincang karena tanah licin.
Jam 14.20. Sampai di makam.
Liang lahat sudah digali. Dalam. Air becek di dasar liang. Bapak ku dan Pak Haji turun ke bawah, susah-susah ngatur posisi jenazah ibu.
Aku dari jauh lihat kain kafan putih ibu turun pelan ke tanah.
Pas kain kafan putih itu masuk liang, tiba-tiba angin kencang dari arah surau kayu. Angin bawa daun pisang kering masuk ke liang lahat.
Bapak ku di dalam liang, angkat tangan, baca doa. Suaranya pecah.
Aku di pintu kamar, tidak tahan lagi. Aku teriak, bukan bisik. Teriak yang aku tahan sejak diusir dari pondok dibilang gila.
"IBUUU..."
Satu kampung yang ikut pemakaman, semua lihat aku.
Aku lari dari pintu kamar, pakai gamis putih setrikaan ibu, lari di tanah becek, lari ke arah makam.
Mami Asih teriak, "Laila jangan!"
Tapi aku sudah sampai di bibir makam. Bapak ku lihat aku dari dalam liang, kaget.
Aku jongkok di bibir liang lahat. Aku lihat kain kafan putih ibu di bawah, sudah setengah kena tanah merah becek.
"Bu... ibu... Laila pulang, Bu... Laila pakai gamis putih yang ibu siapkan.., Bu... Laila masih santriwati ibu..." aku ngomong ke kain kafan putih itu, suara ku campur hujan kecil yang turun lagi.
Bu Siti lari, peluk aku dari belakang, tarik aku dari bibir liang.
"Laila, sudah, Nak... ibu kamu sudah tenang... sudah..."
Bapak ku di dalam liang, nangis. Baru kali ini aku lihat Bapak nangis keras, bukan diam. Bapak pegang kain kafan ibu, Bapak bisik:
"Bu.. Bu.. maafin Bapak... Bapak percaya omongan pondok... Bapak kira Laila memang bertingkah di sana sampai dia difitnah dan diusir dari sana..,bapak mintak maaf Bu..bapak tidak pernah mau jemput Laila pulang,karna bapak malu..
Tanah merah mulai ditimbun. Pelan. Oleh Pak Haji.
Aku masih di pelukan Bu Siti di tanah becek. Gamis putih setrikaan ibu yang aku pakai, sekarang kena lumpur merah di ujungnya. Kotor.
Flashdisk merah di saku gamis ku ikut kotor kena lumpur. CCTV kancing di kerah ku masih kedip, merekam suara Bapak nangis minta maaf di dalam liang.
Jam 15.00. Pemakaman selesai. Gundukan tanah merah baru. Di atasnya ada nisan kayu yang bertulis nama.
Aku masih duduk di depan gundukan itu. Tidak mau pulang.
Mami Asih datang, bawa payung hitam bekas keranda tadi. Mami payungin aku.
"Laila, pulang. Ibu kamu sudah dikubur. Sekarang giliran kamu kubur Alia."
Mami lihat gamis putih ku yang ujungnya kena lumpur merah.
"Gamis putih ini biar kotor lumpur kuburan ibu kamu. Jangan dicuci. Besok pakai lagi pas tahlilan. Biar semua orang lihat, kamu pulang pakai gamis putih yang ibu kamu setrika terakhir sebelum meninggal, yang sekarang kena tanah kuburan ibu kamu sendiri."
Aku angguk.
Di saku gamis putih ku yang kena lumpur kuburan ibu, flashdisk merah masih ada. Dingin.
Besok tahlilan hari pertama di surau kayu.
Dan malam ini, di dinding kos pink pudar yang jauh di Sampit, tulisan lipstik merah 4 nama masih nunggu. Tapi di tanah merah baru di Kuala Pembuang ini, ada satu nama yang baru dikubur.
Bukan nama kyai.Tapi
Nama ibu ku.