Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog 2 Hidup Baru setelah Luka
Tiga tahun berlalu begitu cepat.
Tiga tahun lalu aku keluar dari rumah kontrakan itu hanya dengan satu koper merah yang resletingnya rusak dan hati yang hancur. Tidak ada yang menyangka, gadis yang menikah muda di usia 19 tahun karena cinta, harus pulang ke Bau-Bau dengan status janda di usia 21 tahun.
Hari ini aku kembali ke Makassar. Bukan untuk rujuk. Hanya untuk mengambil ijazah SMA yang tertinggal di lemari kayu yang dulu kami beli bersama.
Aku berdiri di depan rumah yang dulu kusebut istana kecilku. Cat dinding biru muda yang dulu kami cat sambil tertawa, kini mengelupas. Halaman kecil yang dulu selalu kusapu jam 5 pagi, kini penuh sampah plastik dan daun kering. Jendela yang dulu selalu kubuka agar matahari masuk, kini tertutup rapat dengan gorden kusam berdebu.
Di teras lapuk itu, dia duduk. Mantan suamiku. Aku hampir tidak mengenalinya. Dulu gagah dan wangi, kini kurus sekali. Tulang pipi menonjol, mata cekung hitam, jenggot tidak terawat. Baju koko putih yang kubelikan saat lebaran pertama pernikahan kami, kini menguning dan ada noda kopi.
Dia menatapku, matanya langsung berkaca-kaca.
"Nur..." suaranya serak pelan.
Aku diam di pagar, menjaga jarak.
"Aku dengar novel kamu laris, yang tentang kita itu. Selamat ya, Nur. Banyak yang bilang ceritanya bikin nangis."
Aku mengangguk. Novel "Aku Menikah Muda" itu memang kisah hidupku. Awalnya kutulis hanya untuk melampiaskan sakit hati di kosan sempit yang bocor. Tidak disangka banyak perempuan yang senasib denganku. Dari uang kontrak dari NovelToon itulah aku bisa kirim uang untuk Bapak di Bau-Bau, belikan obat, dan pindah kos yang lebih layak. Luka yang dia berikan justru menjadi rezeki untukku.
"Nur, boleh kita ngobrol di dalam?" pintanya.
Aku menggeleng. "Di sini saja, Mas. Aku cuma sebentar."
Dia tertunduk memegang gelas kopi dingin.
"Nur, aku menyesal. Sungguh menyesal." Suara itu akhirnya keluar. Kalimat yang tiga tahun aku tunggu dalam setiap tahajudku, kini terdengar hambar karena sudah terlalu terlambat.
"Janda itu, Bu Rina, dia tinggalkan aku. Setelah tabunganku habis, setelah aku jual motor Mio kita untuk modal usahanya yang gagal, dia bilang aku tidak berguna. Dia bilang aku hanya berondong miskin yang dia bosan. Dia usir aku jam 2 malam."
Bahunya berguncang. Laki-laki yang dulu dengan sombong berkata "kamu kampungan, lihat Bu Rina berkelas", kini menangis seperti anak kecil.
Aku menatapnya lama.
"Terlambat, Mas," jawabku tenang. "Penyesalanmu terlambat tiga tahun. Saat aku sujud di kakimu jam 1 malam memeluk kakimu minta jangan pergi, kamu bilang apa? Kamu bilang 'lepaskan, aku muak melihat mukamu tiap hari'. Masih ingat?"
"Saat kamu pulang jam 2 malam bau parfum perempuan lain, aku masih bangun dan memasakkan mie goreng untukmu. Saat kamu bonceng janda itu di depan rumah kita dan jadi bahan gosip ibu-ibu arisan, aku masih diam dan mencucikan bajumu sambil menangis di kamar mandi."
"Kamu tahu tidak, saat kamu pergi aku sedang hamil 2 bulan. Aku keguguran sendirian di kosan, darah mengalir deras, tidak ada yang menolong. Harus dikuret sendirian karena tidak ada biaya."
Dia mengangkat wajah, terkejut. "Hamil? Nur, demi Allah aku tidak tahu."
"Ya, kamu tidak akan tahu. Karena kamu sibuk bahagia di rumah mewahnya. Anak kita tidak sempat lahir, Mas. Allah ambil lagi."
Hening. Hanya tangis penyesalannya yang terdengar.
"Allah itu adil, Mas. Dulu kamu injak-injak harga diriku sebagai istri sah. Sekarang kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu. Sakit kan ditinggalkan saat sayang-sayangnya?"
Aku menghapus air mata yang jatuh. Bukan air mata cinta, tapi air mata lega.
"Nur, beri aku kesempatan kedua. Aku akan kerja keras. Aku akan jadi suami yang baik."
Aku menggeleng pelan.
"Kesempatan kedua itu memang ada, Mas. Tapi bukan untuk kita kembali menjadi suami istri. Pintu itu sudah aku tutup, aku gembok, dan aku buang kuncinya."
"Kesempatan kedua itu Allah berikan kepadaku. Untuk bahagia tanpa kamu. Untuk sukses tanpa kamu. Untuk menjadi penulis yang bisa membanggakan Bapak."
Aku membalikkan badan, melangkah mantap menuju ujung gang. Ojek online sudah menunggu.
"Jaga kesehatan ya, Mas. Sholat yang rajin. Jangan ulangi kesalahan yang sama ke perempuan lain. Karena karma itu nyata, dan Allah tidak tidur."
Lalu aku berjalan pergi dengan kepala tegak. Setiap langkah terasa ringan. Beban tiga tahun akhirnya lepas total dari pundakku.
Di belakangku, masih terdengar isak tangisnya yang tertinggal di teras rumah kusam itu. Tangis penyesalan seorang laki-laki yang baru sadar, bahwa berlian tulus yang dulu dia buang dengan sombong, kini telah menjadi mutiara yang tidak akan pernah bisa dia miliki lagi.
Dan aku terus berjalan ke depan. Menuju masa depanku. Menuju kebahagiaan yang aku bangun sendiri dengan tanganku, tanpa menunggu seorang laki-laki datang menyelamatkanku. Karena aku sudah belajar, pahlawan hidup seorang perempuan adalah dirinya sendiri.
(Bersambung ke Epilog 3)