NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Tuntas Pohon Revan Tumbuh

Satu tahun kemudian.

Pagi di Langgur terasa sangat berbeda dari satu tahun lalu. Tidak ada lagi bau anyir peti emas, tidak ada lagi tanah retak, tidak ada lagi pohon menangis air bening. Yang ada hanya bau garam laut dan bau tanah subur.

Di tengah desa, di tempat Pohon Revan yang besar dulu tumbang, sekarang berdiri sebuah pohon mangga kecil, tingginya sudah sekitar dua meter, batangnya sebesar lengan orang dewasa, daunnya hijau segar dan rimbun. Itu adalah Pohon Revan Baru, yang ditanam Dion dari biji terakhir Pohon Revan setahun lalu.

Pohon kecil itu tumbuh sangat cepat, lebih cepat dari pohon mangga biasa. Kata orang tua di Langgur, itu karena disiram air mata penyesalan Dion dan dijaga doa Ara setiap hari.

Batang Pohon Revan yang lama yang tumbang, tidak dibuang, masih tergeletak di samping pohon baru itu, sudah jadi seperti bangku panjang tempat warga duduk sore-sore. Di batang itu, ada ukiran baru yang dibuat Dion sendiri dengan pisau, tulisannya, "Maafkan aku, Revan. Jaga kami dari sana."

Ara sekarang sudah 19 tahun. Dia tidak lagi anak kecil yang menemukan jaket hitam di bawah pohon mangga. Dia sekarang jadi guru SD di Langgur, SD yang dibangun lagi setelah dibakar Dion dulu. Setiap pagi dia mengajar 20 anak-anak Langgur membaca dan menulis di bawah Pohon Revan Baru itu, karena gedung SD masih dibangun setengah.

Jaket hitam Revan yang robek itu tidak lagi dipakai Ara, tapi disimpan rapi di dalam kotak kayu di rumahnya, di samping kalung batu R dan A yang sudah jadi debu emas. Kadang-kadang kalau kangen, Ara buka kotak itu dan cium jaket itu, masih ada sisa wangi bunga mangga setahun lalu.

Dion? Dion sekarang berubah total 180 derajat. Rambutnya sudah tumbuh lagi, tidak plontos lagi, wajahnya tidak pucat lagi, sudah berisi dan cerah. Dia sekarang jadi penjaga Pohon Revan Baru, tugasnya setiap hari menyiram pohon itu pagi dan sore, mencabut rumput liar di sekitarnya, dan mengusir kambing yang mau makan daunnya.

Warga Langgur sudah memaafkan Dion sepenuhnya. Bahkan Mama Ino sering kasih Dion papeda gratis kalau Dion lapar setelah siram pohon. Anak-anak yang dulu takut sama Dion, sekarang panggil dia Kak Dion dan minta diajari cara manjat pohon.

Sore itu, Ara selesai mengajar dan duduk di batang Pohon Revan lama yang jadi bangku, di samping Pohon Revan Baru yang kecil itu. Dion datang membawa dua ember air dari sumur untuk siram pohon.

"Kak Ara, sudah selesai ngajar?" tanya Dion sambil siram pohon kecil itu pelan-pelan.

"Sudah, Dion. Anak-anak pinter-pinter sekarang. Tadi si Unus kecil bisa baca 'Langgur Merdeka' tanpa eja," jawab Ara sambil tersenyum.

Dion ikut tersenyum, senyum yang tulus, bukan senyum licik seperti dulu.

"Kak Ara, aku mau tanya, boleh?" Dion duduk di samping Ara di batang pohon lama itu.

"Boleh."

"Setahun ini, Revan pernah datang lagi gak di mimpi Kak Ara?"

Ara diam sebentar, menatap Pohon Revan Baru yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin laut.

"Tidak pernah lagi, Dion. Sejak pohon besar itu ditebang dan peti ditenggelamkan, Revan tidak pernah datang lagi, bahkan di mimpi. Seperti janjinya, dia bilang kalau pohon ditebang, dia akan hilang selamanya, bahkan di mimpi."

Ara menunduk, matanya berkaca-kaca lagi setelah setahun tidak menangis untuk Revan.

"Kadang aku kangen, Dion. Kangen waktu dia masih jadi hantu yang nakutin kita tapi jaga kita juga."

Dion mengangguk, dia juga kangen, walaupun dia dulu hampir mati karena Revan.

"Aku juga kangen, Kak. Kangen dimarahin Revan di mimpi. Tapi mungkin ini yang terbaik, Kak. Revan sudah tenang di sana, tidak perlu jaga kita lagi. Sekarang kita yang harus jaga Langgur sendiri, sama pohon baru ini."

Tiba-tiba, dari arah laut, angin bertiup kencang ke arah Pohon Revan Baru itu! Angin itu membawa bau bunga mangga! Bau yang sama seperti setahun lalu waktu hujan bunga mangga untuk Ara!

Daun Pohon Revan Baru yang kecil itu bergetar keras dan dari pucuknya yang paling atas, muncul satu kuntum bunga mangga! Bunga mangga putih pertama dari Pohon Revan Baru! Padahal pohon mangga biasa baru berbunga umur 5 tahun, ini baru 1 tahun sudah berbunga!

Ara dan Dion langsung berdiri kaget!

"Bunga! Pohonnya berbunga! Cepat sekali!" teriak Dion senang seperti anak kecil dapat mainan baru.

Ara mendekati bunga putih kecil itu dan menciumnya. Wanginya sama persis dengan wangi jaket Revan setahun lalu! Wangi bunga mangga yang harum!

Saat Ara mencium bunga itu, dari dalam bunga itu jatuh satu tetes air bening, seperti air mata, jatuh ke tangan Ara.

Ara melihat tetes air bening itu, dan di dalam tetes air itu, dia melihat pantulan wajah Revan! Revan tersenyum!

Ara langsung menangis, tapi menangis bahagia.

"Van! Kamu masih ada ya? Kamu di dalam pohon baru ini ya?"

Pohon Revan Baru itu bergoyang pelan, seperti mengangguk, daunnya menyentuh kepala Ara pelan, seperti elusan tangan Revan dulu.

Dion yang melihat itu juga ikut menangis bahagia dan bersujud di depan pohon baru itu.

"Maafkan aku, Revan! Terima kasih sudah kasih bunga pertama buat kami!"

Malam itu, seluruh warga Langgur berkumpul lagi di bawah Pohon Revan Baru yang sudah berbunga pertama itu. Mereka syukuran lagi, potong ayam lagi, bakar ikan lagi, seperti setahun lalu. Tapi kali ini tidak ada rasa takut, hanya rasa syukur.

Pak RT Unus berdiri dan berkata, "Setahun lalu kita tebang Pohon Revan karena harus selamatkan Langgur. Hari ini, Pohon Revan Baru kasih kita bunga pertama! Artinya Revan setuju! Revan masih jaga kita, tapi dengan cara baru! Lewat pohon baru ini!"

Semua warga bersorak, "HIDUP POHON REVAN BARU! HIDUP LANGGUR MERDEKA!"

Ara yang duduk di batang pohon lama sambil memandang bunga putih kecil di pohon baru itu, berbisik pelan, "Terima kasih ya, Van, sudah datang lagi, walaupun cuma lewat bunga."

Di langit malam Langgur, bintang-bintang bersinar sangat terang, lebih terang dari biasanya, dan satu bintang paling terang di atas Pohon Revan Baru itu berkedip-kedip, seperti mata Revan yang mengedip dari jauh.

Langgur sudah benar-benar damai, dan penjaga barunya sudah tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!