Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario Kecil Di Meja Kantin
Suasana kantin belakang SMA Nusa Bangsa pada jam istirahat kedua selalu menjadi tempat paling strategis untuk bertukar cerita, atau dalam kasus beberapa orang, menyusun rencana usil. Asap dari gerobak bakso dan aroma es jeruk yang segar berbaur dengan suara riuh ratusan siswa yang saling bersahutan.
Di meja pojok bawah pohon kersen, Bella dan Rona sedang duduk menikmati es teh manis mereka. Namun, mata Bella sejak tadi tidak lepas dari meja panjang di seberangnya, tempat geng cowok MIPA-1 sedang berkumpul. Di sana, Keenan Abimara tampak tertawa lepas sambil merangkul leher Damar, sementara Raihan sibuk menghabiskan mangkok mie ayam keduanya.
"Lo lihat kan, Ron? Sejak malam mereka makan martabak itu, Keenan jadi sering senyum-senyum sendiri kalau lihat HP," ucap Bella, nada suaranya terdengar sangat masam. Tangannya meremas sedotan plastik di dalam gelasnya hingga bengkok.
Rona melirik ke arah yang sama, lalu mendengus. "Iya, sih. Tadi pas jam Fisika juga gue lihat Keenan sengaja lewat depan kelas MIPA-2 cuma buat nyari eksistensi Kirana. Cewek polos begitu kok bisa ya bikin Keenan yang biasanya cuek jadi secaper itu?"
"Gue gak akan biarin anak rumahan itu ngerasa di atas angin," bisik Bella, matanya menyipit sinis. "Keenan itu gak cocok sama cewek kaku kayak dia. Pasti ada cara buat bikin mereka jauh."
Tepat pada saat itu, keriuhan di meja geng cowok semakin keras. Damar, yang memang terkenal sebagai kompor resmi di kelompok mereka, tiba-tiba menggebrak meja pelan sambil tertawa jail.
"Nan! Jujur sama gue," seru Damar, suaranya yang cempreng sengaja dikeraskan hingga beberapa orang di sekitar mereka menoleh. "Lo deketin Kirana si juara umum itu seriusan, atau cuma gabut karena bosen juara satu lo kesalip terus sama dia?"
Keenan yang sedang memutar-mutar kunci motor sport-nya di telunjuk langsung berhenti. Dia menaikkan sebelah alisnya, memamerkan cengiran bandelnya yang khas. "Menurut lo gimana, Mar?"
"Ah, paling lo cuma tertantang aja kan?" sahut Raihan ikut-ikutan setelah berhasil menelan mie ayamnya. "Gue berani taruhan se porsi sate padang plus es tebu deh, lo gak bakal kuat bertahan dua minggu deketin cewek se-kaku Kirana. Dia kan tipe anak rumahan yang dunianya sunyi banget, beda sama lo yang hobi manjat pagar."
Keenan terkekeh renyah, melempar kotak tisu kosong ke arah Raihan. "Ngaco lo pada. Gue gak pernah jadiin cewek bahan taruhan, ya. Lagian, Kirana itu gak sekaku yang lo semua pikir. Dia punya sisi riuh yang cuma orang-orang tertentu yang bisa lihat."
"Wah, wah! Pembelaan yang sangat emosional dari seorang Keenan Abimara!" kompor Damar lagi, tertawa terbahak-bahak bersama Raihan.
Di ujung meja, Danu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil memakan siomaynya dengan tenang. "Udah, jangan mulai bercanda yang aneh-aneh. Kalau omongan taruhan lo berdua kedengeran anak lain, bisa salah paham." Sementara Romeo tetap fokus membaca komik di ponselnya, mengabaikan keriuhan sahabat-sahabatnya.
Mereka semua tidak menyadari bahwa percakapan acak khas cowok itu didengar dengan sangat jelas oleh Rona yang kebetulan sedang berjalan melewati meja mereka untuk membuang bungkus jajanan. Telinga Rona langsung menangkap kata-kata 'taruhan dua minggu', 'juara umum', dan 'Kirana'.
Rona bergegas kembali ke meja Bella dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan. "Bell! Lo harus denger ini. Gue baru aja dapet amunisi paling mahal!"
"Apaan?" tanya Bella, langsung menegakkan posisi duduknya.
"Gengnya Keenan baru aja ngomongin soal taruhan di mejanya! Damar sama Raihan bilang kalau Keenan deketin Kirana itu cuma karena taruhan dua minggu buat naklukin si juara umum!" ucap Rona, dengan sengaja membumbui cerita agar terdengar jauh lebih buruk dari kenyataannya.
Sebuah senyuman licik langsung terkembang di wajah cantik Bella. Rasa cemburu yang sejak kemarin membakarnya mendadak digantikan oleh rasa puas yang luar biasa. "Taruhan, ya? Bagus banget. Skema ini bakal sempurna."
"Kita sebar langsung sekarang di mading?" tanya Rona bersemangat.
"Jangan sekarang, bodoh. Kalau sekarang, orang-orang bakal langsung tahu kalau kita yang denger," instruksi Bella dengan taktis. "Kita bikin selebaran, ketik yang rapi biar gak ketahuan tulisan tangan siapa. Besok subuh, sebelum gerbang sekolah dibuka buat murid umum, kita dateng pagi-pagi buat nempel tulisan itu di mading utama dan kirim ke akun menfess sekolah."
Bella menyandarkan punggungnya di kursi kantin, menatap ke arah pintu kantin tempat Kirana baru saja lewat bersama Raina dan Windy sambil tertawa riuh.
"Nikmatin tawa lo hari ini, Kirana Putri," gumam Bella dingin dengan tatapan mata yang penuh ancaman. "Karena besok pagi, seluruh sekolah bakal tahu kalau keriuhan yang dibawa Keenan ke hidup lo itu cuma bagian dari permainan murahan."
Malam harinya, di dalam kamarnya yang mewah, Bella mengetik kalimat demi kalimat dengan hati-hati pada laptopnya. Kalimat yang dirancang khusus untuk menghancurkan kepercayaan diri Kirana, dan memaksa gadis itu untuk kembali mengurung diri dalam sudut sunyinya. Skenario di kantin belakang sekolah siang itu telah resmi berubah menjadi badai gosip yang siap menghantam SMA Nusa Bangsa keesokan paginya