NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insting Tempur dan Kenaikan Kelas Latihan

​Halaman Kediaman Murid Luar — Pagi Hari

​Pagi menyelimuti Sekte Pedang Awan dengan sapuan kabut tipis yang mendinginkan udara pegunungan.

​Di halaman belakang kediaman murid luar, Lu Mingseng sudah menyelesaikan serangkaian latihan fisik rutinnya. Keringat membasahi seluruh jubahnya, namun napasnya terjaga tetap stabil. Kedua tangannya menggenggam sebatang pedang kayu yang telah digunakan berulang kali hingga bilahnya mulai retak di beberapa bagian.

​Satu tebasan.

​Dua tebasan.

​Sepuluh tebasan.

​Gerakannya tampak sederhana. Namun setiap ayunannya kini jauh lebih tajam, solid, dan terarah dengan presisi tinggi.

​Tiga hari lalu, ia masih pontang-panting berusaha menahan sirkulasi energi di dalam tubuhnya. Hari ini, ia tidak hanya resmi berada di tahap awal Pengumpulan Qi, tetapi juga mulai menguasai intisari dasar pengendalian energi murni.

​Namun yang paling menakutkan bukanlah peningkatan energinya—melainkan kecepatan otaknya dalam menyerap dan memahami ilmu pedang.

​Setelah melihat satu gerakan peragaan teknik dasar, ia mampu merekam arah rotasi pergelangan, tumpuan kaki, hingga titik keseimbangan lawan dengan sempurna. Kesalahan kecil yang biasanya dilakukan pemula jarang sekali terulang dua kali.

​Di dalam kesadarannya, Kaisar Keabadian mengamati setiap detail gerakan Mingseng.

​'Ulangi gerakan ketujuh,' titah sang Kaisar tenang.

​Mingseng langsung memutar tubuhnya, mengayunkan pedang kayunya membelah udara.

​'Sudut tebasanmu terlalu lebar tiga derajat,' koreksi Kaisar Abadi.

​Mingseng segera menyesuaikan posisi bahunya, lalu mengulanginya tanpa cela.

​'Bagus. Sekarang, bayangkan lawan menusuk dada dari arah kiri.'

​Mingseng melangkah gesit menyerong ke kanan, memiringkan tubuh, lalu membalikkan gagang pedangnya untuk menepis serangan khayalan itu dalam sejengkal mata.

​"Bagaimana, Senior?"

​'Masih terlalu lambat dalam pengambilan keputusan sepersekian detik.'

​Mingseng mendesah pelan. "Senior, jika semua gerakanku masih dibilang lambat, kapan aku akan dianggap cukup kuat?"

​'Ketika kau berhenti membuat lawanmu tersenyum sebelum mereka mati,' balas sang Kaisar dingin.

​Di dimensi batin yang lain, sang penjaga Balai Penempaan Darah mendengus keras. 'Jangan cuma melatih pedang mainan itu! Wadah tulangnya masih butuh digembleng beban berat!'

​'Aku sedang membagi porsinya,' sanggah Kaisar Abadi.

​'Kau mengajarinya cara menghindar. Aku mengajarinya cara bertahan saat tikaman musuh tak bisa dihindari. Itu dua hal mutlak yang berbeda!'

​Sebelum kedua entitas kuno itu kembali berdebat sengit, suara wanita misterius itu melerai dengan lembut: "Dan aku akan mengajarinya kapan harus menyerang, kapan harus bertahan, serta kapan ia harus bijak meninggalkan medan pertempuran."

​Mingseng menghentikan ayunan pedangnya dan memijat pelipisnya. "Kalau kalian bertiga terus mengajariku dengan prinsip yang saling bertentangan, bukankah kepalaku akan meledak duluan sebelum musuh sempat membunuhku?"

​Wanita misterius itu tertawa kecil merdu. "Kalau begitu, belajarlah lebih cepat lagi, Mingseng."

​Mingseng terdiam. Ia menyadari sepenuhnya bahwa sejak ia menarik warisan itu dari dasar reruntuhan, jalan hidupnya telah berubah menjadi arena ujian tiada akhir. Namun di saat yang sama, ia tidak lagi merasa berjalan sendirian di dunia yang kejam ini.

​Gudang Bahan Obat — Tugas Harian

​Usai latihan pagi, Mingseng melangkah menuju Balai Kontribusi untuk mengambil tugas harian demi menyambung kebutuhan kultivasinya.

​Ia membutuhkan pil pemulihan, ramuan dasar, serta manual teknik bertarung tingkat lanjut. Dengan sisa delapan Poin Kontribusi miliknya, pilihannya masih sangat terbatas. Setelah meneliti papan misi, ia mengambil tugas membersihkan pelataran batu dan membantu memindahkan logistik bungkusan ramuan obat di gudang timur.

​Tugas itu melelahkan, namun tidak berbahaya. Bagi Mingseng, memindahkan beban berat juga menjadi cara efektif untuk menguji kemajuan metode Penempaan Darah pada otot dan tulangnya.

​Saat ia tiba di gudang penyimpanan, seorang murid senior berbadan tambun melemparkan dua peti kayu besar tepat di hadapannya dengan kasar.

​"Hei, si muka buruk! Pindahkan semua peti ini ke gudang belakang sekarang!" bentak murid itu angkuh.

​Mingseng menatap peti-peti kayu berukuran besar tersebut, lalu mendongak menatap sang senior. "Apakah kau juga ditugaskan di sini, Senior?"

​Murid bertubuh besar itu melipat tangan di dada sambil tersenyum sinis. "Aku hanya bertugas mengawasi. Kau yang bekerja."

​"Kalau begitu, silakan minta izin pada pengawas tugas untuk mengubah pembagian kerja kita agar adil," jawab Mingseng datar.

​Senyum mengejek di wajah murid itu langsung membeku. Alisnya menukik tajam. "Berani sekali kau membantah perintahku?!"

​"Aku tidak membantah, aku hanya menyarankan."

​Murid bernama Peng Wei itu melangkah maju dengan geram. Ia adalah kultivator Pengumpulan Qi Tahap Awal yang sudah setahun lebih lama masuk sekte ketimbang Mingseng, dan ia terbiasa menindas murid baru yang lemah.

​"Kudengar kau kebetulan beruntung baru masuk ranah Pengumpulan Qi setelah lolos dari reruntuhan," cibir Peng Wei meremehkan. "Jangan besar kepala dan merasa dirimu hebat hanya karena hoki!"

​Mingseng menatapnya lurus tanpa gentar secuil pun. "Jika kau ingin mencari masalah, katakan saja langsung. Tidak perlu membuat alasan bodoh untuk melampiaskan kebosananmu."

​"Sialan! Kau cari mati!"

​Peng Wei yang tersulut amarah langsung melayangkan kepalan tinju telak ke arah wajah Mingseng.

​Namun, tepat saat kepalan itu meluncur, Mingseng bergerak begitu tenang. Ia hanya memiringkan kepala tipis-tipis, menggeser tumpuan kaki ke samping, lalu mencengkeram pergelangan tangan Peng Wei dengan presisi mutlak.

​Gerakan itu begitu efisien dan tanpa tenaga berlebih, membuat Peng Wei bahkan tidak sempat membaca bagaimana serangannya bisa ditangkap.

​Mingseng memutar sedikit pergelangan tangan lawan.

​Krek! Tekanan sendi yang tiba-tiba membuat lutut Peng Wei lemas seketika dan langsung terjerembab berlutut di tanah.

​"A-apa...?!" pekik Peng Wei kaget bukan kepalang.

​Mingseng melepaskan cengkeramannya dan melangkah melewati pemuda itu. "Aku datang untuk bekerja, bukan melayani anak manja yang hobi mencari keributan. Jangan menghalangi jalanku."

​Peng Wei bangkit berdiri dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah yang meluap. "Kau... beraninya kau mempermalukanku di depan umum?!"

​"Kaulah yang menyerang lebih dulu," balas Mingseng tanpa menoleh.

​Beberapa murid lain yang menyaksikan insiden kilat itu saling berpandangan ngeri. Mereka tahu Peng Wei bukan petarung sembarangan, namun Mingseng mampu melumpuhkannya hanya dalam satu sentuhan sederhana!

​Peng Wei menggertakkan gigi rapat-rapat, namun ia urung menyerang kembali karena melihat pengawas gudang mulai berjalan mendekat ke arah mereka.

​Mingseng mengangkat dua peti kayu besar itu dengan mudah di kedua bahunya dan berjalan menuju gudang belakang. Beban yang dulu terasa amat berat kini terasa ringan bagaikan kapas berkat transformasi fisiknya.

​Evaluasi di Arena Latihan

​Menjelang siang, Mingseng kembali ke halaman latihan utama. Instruktur Ma Zhen tengah mengawasi kelompok murid yang berlatih tanding berpasangan.

​Melihat kedatangan Mingseng, Ma Zhen melambaikan tangan memanggilnya. "Mingseng, kemarilah."

​Mingseng meletakkan pedang kayunya dan mendekat. "Instruktur."

​"Aku dengar laporan bahwa kau baru saja melumpuhkan Peng Wei di gudang obat," buka Ma Zhen to the point.

​"Dia menyerang lebih dulu, Instruktur. Saya hanya membela diri."

​Ma Zhen mengamatinya lekat-lekat selama beberapa detik. "Tanpa menggunakan teknik Qi?"

​"Benar."

​Ma Zhen menyipitkan mata. "Bagus. Namun dasar kemampuan bertarungmu masih harus diuji di hadapan yang lain."

​Ma Zhen menunjuk seorang murid tinggi besar di dekatnya. "Namanya Zhang Bo. Dia sudah setahun di tahap awal Pengumpulan Qi. Lawan dia dalam tanding sparing selama lima puluh jurus. Ingat, dilarang menggunakan senjata tajam dan menyerang titik mati!"

​Zhang Bo melangkah maju dengan senyum percaya diri. Ia memiliki postur tegap dan menguasai teknik tinju tangan kosong sekte dengan baik.

​"Tenang saja, Mingseng," seringai Zhang Bo. "Aku akan membiarkanmu bertahan setidaknya sepuluh jurus sebelum aku menjatuhkanmu."

​Mingseng menjawab tenang, "Silakan mulai kapan pun kau siap."

​Ma Zhen mengangkat tangan kanannya. "Mulai!"

​Wus!

​Zhang Bo langsung menerjang agresif, melancarkan rentetan pukulan cepat ke arah dada dan kepala Mingseng.

​Namun di luar dugaan, Mingseng tidak meladeni dengan adu tenaga mentah. Ia bergerak lincah, selalu bergeser ke sisi buta Zhang Bo—memaksa lawan membuang tenaga percuma karena sudut serangannya selalu meleset dari titik efektif.

​Setiap kali Zhang Bo melempar pukulan terlalu jauh, Mingseng membalas dengan hantaman pendek yang tepat sasaran ke arah sendi dan rusuk terbuka.

​Bruk!

​Hanya dalam kurun waktu belasan jurus, sebuah sapuan kaki sederhana dari Mingseng sukses membuat Zhang Bo kehilangan keseimbangan dan terbanting keras ke atas lantai batu!

​Lapangan latihan seketika terkesiap sunyi.

​Mingseng mundur selangkah, lalu mengulurkan tangannya ke bawah. "Bangunlah, Senior."

​Zhang Bo mendongak, menerima uluran tangan itu dengan wajah masih syok luar biasa. "Teknik... teknik apa yang kau pakai tadi? Gerakanmu terasa begitu membaca arah seranganku!"

​"Hanya dasar-dasar biasa," jawab Mingseng pendek.

​Ma Zhen menghentikan pertandingan dengan ekspresi serius. Ia menatap Mingseng lekat-lekat. "Pertandingan selesai! Pemenangnya: Lu Mingseng."

​Instruktur itu menghampiri Mingseng dan berkata, "Kekuatan fisikmu bagus, tapi yang paling menakutkan adalah insting membaca pergerakan lawan. Kau menang bukan karena memukul paling keras, melainkan karena kau membuat lawanmu tak mampu mengeluarkan tenaga maksimalnya."

​Ma Zhen melirik ke sekeliling murid-murid. "Mulai besok, Mingseng diizinkan mengikuti kelas tanding tingkat lanjut untuk murid luar!"

​Gempar! Para murid langsung berbisik-bisik iri dan takjub. Kelas tanding tingkat lanjut biasanya hanya untuk murid elit terpilih.

​Di sudut lapangan, Fang Rui menyaksikan semua itu dengan tatapan mata dipenuhi dendam kesumat. Setiap kali ia melihat Mingseng, pemuda itu seolah tumbuh semakin jauh dari jangkauannya.

​Misteri yang Belum Terpecahkan

​Malam harinya di dalam kamar asrama, ketiga entitas batin kembali berkumpul mengamati grafik kultivasi Mingseng.

​Kaisar Abadi mengecek sirkulasi spiritualnya, penjaga kuno memeriksa kepadatan ototnya, dan wanita misterius mengawasi dalam diam.

​'Perkembangannya semakin tidak rasional,' gumam Kaisar Abadi cemas. 'Jumlah energi yang ia serap dan simpan telah melampaui batas normal peningkatan kultivator manapun di tahap awal.'

​Sang penjaga mendengus. 'Apakah ada kerusakan organ?'

​'Tidak ada! Justru sirkulasinya kian sempurna!'

​Wanita misterius itu membuka pandangan batinnya. "Kalian berdua terlalu terpaku pada angka dan jumlah energi. Yang harus kalian lihat adalah bagaimana insting dan pemahamannya terhadap hukum alam ikut melesat seiring loncatan fisiknya."

​Ketiga entitas agung itu kembali terdiam. Mereka menyadari satu kenyataan mutlak: Mingseng bukan lagi sekadar manusia dengan bakat biasa. Tubuh dan jiwanya tengah bertransformasi menjadi sebuah misteri agung yang bahkan melampaui batas pemahaman dunia kultivasi modern.

​Keputusan Tetua Agung

​Jauh di kedalaman Aula Utama, Tetua Agung Mo Canglan duduk sendirian di bawah temaram lampu giok. Di atas mejanya terbentang laporan lengkap mengenai rekam jejak Mingseng akhir-akhir ini—mulai dari selamat dari Balai Penempaan Darah, menembus Pengumpulan Qi, hingga mendominasi sparring tingkat lanjut dengan mudah.

​Mo Canglan menutup gulungan laporan itu dengan helaan napas panjang.

​"Anak ini... tumbuh terlalu cepat melebihi nalar."

​Meski pemeriksaan awalnya hanya mendeteksi satu meridian terbuka, Mo Canglan tahu pasti ada raksasa yang tengah tidur di dalam diri Lu Mingseng. Namun, selama pemuda itu tidak membawa petaka bagi sekte, Mo Canglan memilih untuk bersikap netral: mengawasi dari jauh tanpa mengganggu jalurnya.

​Sebab ia tahu, menekan seorang monster yang tengah bangkit hanya akan memicu bencana kehancuran bagi siapapun yang menghalangi jalannya.

1
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!