-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
****
Tiga minggu berlalu sejak konfrontasi sengit di ruang kerja Kepala Bedah Saraf. Atmosfer di penthouse lantai tiga puluh masih diselimuti keheningan yang tenang, namun tidak lagi sesak oleh trauma yang mencekat. Ivandra secara konsisten memegang teguh ucapannya: ia memberikan Aini ruang gerak penuh, tidak pernah memaksakan kehendak, dan memilih tidur di sofa ruang tengah atau melakoni jadwal dinas malam di rumah sakit.
Siang itu, Aini baru saja menyelesaikan sif giliran kerjanya di Poli Mata. Saat melangkah keluar menuju lorong taman samping rumah sakit yang sepi, sebuah langkah kaki yang anggun dan ragu-ragu terdengar mendekat dari balik pilar.
Nyonya Rosalia berdiri di sana. Wanita paruh baya yang biasa tampil memikat dan penuh percaya diri itu kini mengenakan gaun polos tanpa riasan berlebih. Wajah cantiknya tampak tirus, dengan binar mata yang redup oleh penyesalan yang amat pekat.
"Aini..." panggil Nyonya Rosalia pelan. Suaranya bergetar halus.
Aini tertegun sejenak. Ia memosisikan jas klinisnya, lalu membungkuk santun. "Mama...? Ada apa Mama ke sini? Apakah Mama butuh bantuan untuk bertemu Dokter Ivan?"
Nyonya Rosalia menggeleng cepat. Wanita itu melangkah mendekat, lalu tanpa diduga-diduga, ia meraih kedua telapak tangan Aini dan menggenggamnya amat erat. Warmnya jemari sang Mama mertua gemetaran kencang.
"Mama ke sini murni untuk menemui kamu, Nak... bukan Ivan," bisik Nyonya Rosalia dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Boleh Mama bicara sebentar sama kamu?"
Aini mengangguk pelan, membimbing Nyonya Rosalia untuk duduk di bangku kayu taman yang dinaungi rindangnya pohon palem.
Begitu mereka duduk berhadapan, air mata yang ditahan Nyonya Rosalia akhirnya luruh membasahi pipinya. Wanita anggun itu meremas jemari Aini penuh penyesalan.
"Aini... Mama minta maaf," tutur Nyonya Rosalia dengan suara yang terputus-putus oleh isak tangis. "Mama sungguh-sungguh minta maaf atas tindakan bodoh, egois, dan manipulatif yang Mama lakukan waktu itu... Mama yang sudah memberi ramuan teh itu pada Ivan."
Aini membeku di tempatnya. Ia menatap wajah ibu mertuanya dengan manik mata yang membelalak tipis.
"Mama terlalu terobsesi ingin melihat kalian bersatu dan segera memberi Mama cucu," lanjut Nyonya Rosalia dengan linangan air mata yang kian deras. "Mama pikir... dengan memberi dorongan seperti itu, kalian bisa saling mencairkan gengsi. Tapi Mama tidak sadar bahwa tindakan Mama justru melukai kamu... membuat kamu sakit, demam tinggi, dan menderita ketakutan hebat. Mama sangat berdosa pada kamu, Aini..."
Aini meresapi setiap penyesalan jujur yang mengalir dari bibir Nyonya Rosalia. Rasa perih akibat ingatan malam itu sempat melintas di benaknya, namun melihat wanita tua di hadapannya menangis tersedu-sedu tanpa sekat keangkuhan, benteng pertahanan di dada Aini perlahan mereda.
"Mama..." tutur Aini lembut, mengusap punggung tangan mertuanya dengan kehangatan alami yang ia miliki. "Aini sudah memaafkan Mama. Aini tahu Mama tidak bermaksud jahat atau berniat menyakiti Aini sampai seperti ini."
Nyonya Rosalia mendongak, menatap Aini dengan pendar mata tak percaya. "Kamu... benar-benar memaafkan Mama, Nak? Setelah apa yang kamu tanggung?"
Aini mengangguk tipis, menyunggingkan senyuman tulus yang amat menenangkan. "Iya, Ma. Aini sudah jauh lebih baik sekarang."
Nyonya Rosalia mengusap air matanya dengan tisu, lalu menarik napas panjang yang sarat akan rasa bersalah yang belum sepenuhnya terkikis.
"Beberapa minggu lalu... Ivan marah besar pada Mama, Aini," bisik Nyonya Rosalia pelan, menatap lurus mata menantunya. "Mama belum pernah melihat Ivan se-emosional dan semarah itu seumur hidupnya. Dia memarahi Mama, membela kamu, dan menegaskan agar Mama tidak pernah lagi mencampuri urusan rumah tangga kalian."
Jantung Aini berdesir halus mendengarnya. "Mas Ivan... memarahi Mama?"
"Iya," angguk Nyonya Rosalia jujur. "Ivan bilang, tindakan Mama hampir menghancurkan hidup kamu. Dia bilang, dia yang menanggung rasa bersalah paling dalam setiap kali melihat kamu ketakutan padanya. Anak itu... Ivan benar-benar merasa hancur karena telah melukai kamu, Aini."
Nyonya Rosalia menggenggam jemari Aini lebih dalam, menyalurkan ketulusan seorang ibu.
"Ivan itu anak yang sangat keras kepala dan punya gengsi setinggi langit gara-gara didikan keluarga kami yang kaku," lanjut Mamanya lirih. "Tapi di balik dinginnya sifat Ivan, Mama tahu pasti satu hal... Ivan sangat menyayangi kamu, Aini. Dia menjaga kamu dengan caranya sendiri, bahkan dia rela memutuskan garis pertahanan keluarganya demi melindungi kamu dari tekanan Mama."
Aini membisu sepenuhnya. Kata-kata sang Mama meresap dalam-dalam ke dasar sanubarinya, membongkar sudut pandang baru yang selama ini tertutup oleh bayang-bayang trauma.
Aini baru menyadari, alasan Ivandra bersikap begitu berjarak, membatalkan seluruh jadwal operasinya saat ia sakit, menyiapkannya obat tanpa sentuhan intimidasi, hingga membentenginya dari campur tangan sang Mama—semua itu bukanlah bentuk acuh tak acuh atau keangkuhan belaka. Itu adalah bentuk penyesalan murni, rasa hormat, dan perlindungan ksatria dari seorang suami yang sedang berjuang menyembuhkan luka istrinya tanpa memaksakan kehendak.
Prasangka buruk dan dinding kecurigaan yang selama ini memagari hati Aini terhadap Ivandra seketika meretak dan mengendur secara perlahan.
Malam harinya, pendar lampu gantung berona keemasan menyinari ruang tengah penthouse yang lengang.
Ivandra baru saja melangkah masuk melalui pintu utama usai menyelesaikan tindakan operasi darurat hingga pukul sembilan malam. Mantel dokter dan jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang tergulung kaku di siku. Wajah tampannya tampak lelah, namun sorot matanya tetap tenang saat berjalan menuju sofa ruang tengah—tempat tidur sementaranya selama beberapa minggu terakhir.
Saat Ivandra hendak meletakkan tas kerjanya di atas meja glass, langkah kakinya terhenti mendadak.
Di atas meja makan marmer hitam yang biasanya kosong, tersaji semangkuk sup ayam hangat yang uap tipisnya masih membumbung harum, sepiring nasi putih, serta segelas air putih. Di samping mangkuk tersebut, terdapat sebuah kertas catatan kecil berbentuk persegi.
Ivandra mendekat dengan dada yang berdegup kencang secara tak teratur. Jemari panjangnya meraih kertas itu dan membaca tulisan tangan yang sangat halus di sana:
Mas Ivan, makan malamnya sudah saya panaskan. Jangan langsung tidur setelah dinas panjang. Terima kasih karena sudah menjaga dan melindungi saya.
Ivandra membeku di tempatnya.
Sebutan "Mas Ivan"—bukan "Dokter Ivandra" yang dingin—terpampang nyata di atas lembaran kertas kecil itu.
Dada bidang Ivandra bergemuruh hebat oleh gelombang kehangatan asing yang meletup-letup. Rasa lelah akibat prosedur operasi berjam-jam seketika menguap tak bersisa, digantikan oleh pendar lega dan getaran haru yang amat pekat. Pria angkuh yang biasa berwajah datar itu kini menyunggingkan senyum tipis yang amat tulus dari bibirnya.
Ivandra menoleh pelan ke arah koridor kamar tidur utama yang pintunya sedikit terbuka, membiarkan pendar lampu temaram mengalir keluar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada dalam cengkeraman dinginnya trauma, pintu maaf di antara mereka akhirnya terkikis pelan, membuka lembaran baru yang lebih hangat di dalam pernikahan rahasia mereka.
Bersambung...
mampir ya ke novel ku