NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 32

Pena emas di jemari Yevone terasa seberat bongkahan timah. Setetes air mata bening jatuh menetes dari pelupuk matanya, mendarat tepat di atas lembar kertas bermaterai bertuliskan Surat Perjanjian Pinjaman Modal Darurat. Garis tanda tangan di bagian bawah dokumen itu seolah-olah berubah menjadi lubang hitam yang siap menelan seluruh masa depan dan kebebasan hidupnya.

Di balik meja kayu jatinya, Zico memperhatikan setiap getaran kecil di tubuh Yevone dengan pandangan penuh kemenangan. Bibirnya mengukir senyuman sinis. Ia tahu betul bahwa Yevone sudah tidak memiliki jalan keluar lagi. Keluarga Mahendra sedang berada di ambang jurang kebangkrutan total, dan hanya dirinya yang memegang tali penyelamat di kota ini.

"Kenapa ragu, Yevone?" panggil Zico dengan suara berat yang menekan, melangkah perlahan mengitari mejanya. "Tanda tangani saja. Bukankah kamu anak yang berbakti? Ini satu-satunya cara supaya ibumu tidak dipenjara dan kakekmu yang tua renta itu tidak diusir ke jalanan besok pagi."

Yevone memejamkan matanya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya hingga memucat. "Kamu jahat banget, Zico... Bunga dua puluh persen seminggu dan batas waktu dua minggu itu sama saja membunuh keluargaku secara perlahan."

"Bisnis memang keras, Sayang," balas Zico tertawa terkekeh-kekeh, berdiri tepat dua langkah di samping Yevone. "Di dunia ini tidak ada makan siang gratis."

Namun, saat Yevone perlahan-lahan menurunkan ujung penanya menuju kertas—bersiap mengorbankan dirinya demi keluarga yang selama ini selalu mencacinya—Zico mendadak melakukan sesuatu yang sangat tidak terduga.

Pria itu mengulurkan tangannya yang kekar, lalu dengan lembut merampas pena emas itu dari jemari Yevone yang gemetar.

Yevone terperanjat kaget, mendongakkan kepalanya dengan mata yang sembab. "Zico... apa-apaan kamu?"

Zico tidak langsung menjawab. Pria itu menghela napas panjang dengan raut wajah yang dibuat-buat prihatin. Ia menarik kembali map kontrak tebal itu dari hadapan Yevone, lalu menutupnya dengan ketukan pelan. Ekspresi wajah Zico yang tadinya dingin, arogan, dan penuh ancaman mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Sorot matanya kini memancarkan kehangatan palsu dan rasa iba yang sangat dalam.

"Sebenarnya... aku tidak tega melihatmu menangis seperti ini, Yev," bisik Zico dengan suara yang mendadak melunak, bernada penuh kelembutan yang sangat manipulatif.

Yevone mengerutkan dahinya bingung. "Maksudmu apa?"

Zico melangkah mendekati Yevone, memasang raut wajah penuh penyesalan seolah-olah ia adalah sosok pria pria paling penyayang di dunia.

"Kontrak berdarah dengan bunga gila dan ancaman penyitaan itu... sebenarnya bukan kemauanku, Yev," cerocos Zico dengan nada bicara penuh kebohongan. "Itu semua draf standar yang dibuat oleh dewan direksi dan tim pengacara Keluarga Z. Mereka yang memaksaku untuk menerapkan aturan ketat itu kepada Mahendra Group karena profil risiko perusahaan kakekmu sedang sangat merah."

Zico memegang dadanya sendiri dengan tangan kiri, menatap Yevone dengan sorot mata yang dipenuhi rasa cinta yang dibuat-buat.

"Tapi secara pribadi... mana mungkin aku tega melihat wanita yang paling aku cintai menderita seperti ini?" panggil Zico lembut, berusaha menyentuh bahu Yevone. "Aku sudah menyukaimu sejak dulu, Yev. Hati kecilku hancur melihatmu kebingungan mencari uang lima puluh miliar rupiah hanya demi menyelamatkan keluarga Mahendra yang selalu memanfaatkanmu."

Yevone menepis pelan tangan Zico dari bahunya, melangkah mundur satu titik dengan raut ragu. "Zico, jangan mengarang cerita. Kamu yang membawa kontrak ini ke hadapanku."

"Aku serius, Yevone!" seru Zico dengan wajah memelas yang tampak sangat meyakinkan. Pria itu menyebarkan tangannya ke udara. "Lihat dirimu! Kamu wanita cantik, cerdas, dan punya masa depan cerah. Tidak seharusnya kamu menanggung beban utang ratusan miliar gara-gara ibumu yang serakah dan kakekmu yang arogan itu! Apalagi... kamu harus hidup sengsara bertahun-tahun mendampingi pria gembel tak berguna seperti ini!"

Zico melirik Theodore yang berdiri diam di belakang Yevone dengan pandangan penuh jijik dan penghinaan, sebelum kembali menatap Yevone dengan senyuman manis.

"Makanya, aku mau memberimu penawaran khusus," panggil Zico dengan nada memikat, seolah-olah ia adalah sang malaikat penolong yang datang dari langit. "Aku bisa membatalkan seluruh kontrak berdarah ini detik ini juga. Aku akan robek kertas-kertas jebakan ini di depan matamu."

Mata Yevone seketika terbelalak lebar. Jantungnya berdebar kencang. "Kamu... kamu mau membatalkan kontrak ini?"

"Bukan cuma membatalkan," jawab Zico dengan senyuman memikat yang dipaksakan. "Aku akan menyuntikkan dana lima puluh miliar rupiah secara cuma-cuma ke rekening Mahendra Group besok pagi. Tanpa bunga satu persen pun, tanpa batas waktu pelunasan dua minggu, dan tanpa menyita satu pun saham atau aset tanah milik kakekmu. Aku akan menanggung seluruh kerugian Mahendra Group pakai kantong pribadiku sendiri!"

Mendengar janji manis yang begitu luar biasa, Yevone terpaku di tempatnya. Untuk sejenak, bayangan penderitaan keluarganya yang akan hancur besok pagi seolah-olah menguap begitu saja. Bantuan lima puluh miliar rupiah tanpa bunga dan tanpa jaminan adalah sebuah keajaiban yang hampir mustahil terjadi di dunia bisnis.

"Kenapa... kenapa kamu mau melakukan semua itu untukku?" tanya Yevone dengan suara bergetar, tatapannya dipenuhi kebingungan yang sangat besar.

Zico tersenyum culas. Ia melangkah satu titik lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Yevone bisa mencium aroma parfum mahal yang menyengat dari tubuh pria itu.

"Tentu saja karena aku ingin menjadi penolongmu, Yev," bisik Zico dengan nada suara yang perlahan-lahan berubah menjadi sangat menjijikkan dan penuh hasrat terselubung. "Tapi dalam dunia bisnis, seorang penolong pun berhak mendapatkan hadiah atas kebaikannya, kan?"

Yevone merasakan bulu kuduk di lehernya mendadak berdiri tegang. Perasaan hangat yang sempat muncul seketika berganti menjadi firasat buruk yang luar biasa pekat. "Hadiah... hadiah apa maksudmu?"

Zico terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang mengumbar keserakahan moralnya. Pria itu memiringkan kepalanya, menatap wajah cantik Yevone dengan mata yang berkilat buas layaknya serigala yang akhirnya menelanjangi niat aslinya.

"Persyaratannya sangat sederhana, Yev," jawab Zico berbisik tepat di depan wajah Yevone, memamerkan senyuman iblisnya. "Kalau kamu tidak mau mengorbankan aset dan rumah kakekmu lewat kontrak berdarah itu, maka kamu cukup mengorbankan dirimu sendiri malam ini."

Tubuh Yevone seketika membeku total. "M-maksudmu apa?!"

"Malam ini, datanglah ke Suite Presidencial di Hotel Grand Palace," ucap Zico tanpa rasa malu sedikit pun, suaranya dipenuhi hasrat bejat yang sudah lama dipendamnya. "Lewati malam ini bersamaku. Jadilah wanitaku hanya untuk satu malam saja. Begitu fajar menyingsing esok hari, lima puluh miliar rupiah akan langsung masuk ke rekening keluargamu, dan Mahendra Group akan selamat selamanya!"

Zico mengulurkan tangan kanannya yang lancang, mencoba membelai pipi mulus Yevone dengan jari-jarinya. "Satu malam dirimu untuk lima puluh miliar rupiah dan keselamatan seluruh keluargamu... Bukankah itu penawaran paling murah hati dari seorang penolong seperti diriku?"

Plak!

Yevone menepis keras tangan Zico hingga terlempar ke udara. Wajah Yevone yang tadinya pucat pasi kini memerah padam oleh amarah dan rasa jijik yang amat sangat. Air mata penghinaan menetes deras membasahi pipinya.

"Kamu... kamu benar-benar iblis menjijikkan, Zico!" jerit Yevone dengan suara melengking bergetar keras. "Kamu pura-pura datang mau menolong keluargaku, tapi ternyata kamu cuma mau merendahkan dan menjual harga diriku?!"

Melihat penolakan keras itu, topeng "penolong manis" di wajah Zico seketika hancur berkeping-keping. Wajah pemuda arogan itu berubah menjadi sangat menyeramkan dan dipenuhi kegilaan.

"Jangan sok suci kamu, Yevone!" bentak Zico dengan suara menggelegar, mencengkeram kedua pergelangan tangan Yevone dengan sangat kuat hingga gadis itu meringis kesakitan. "Kamu pikir kamu punya pilihan lain, hah?! Pilihannya cuma dua malam ini: tidur denganku di hotel dan keluargamu selamat, atau kamu menolak dan besok pagi aku pastikan kakekmu mati mengemis di jalanan!"

Zico menarik tubuh Yevone secara paksa mendekati dadanya, berniat mencium bibir gadis itu secara liar. "Kamu bakal jadi milikku malam ini, Yev!"

"Lepasin aku, bajingan! Lepas!" jerit Yevone histeris, berusaha memberontak dengan seluruh tenaganya namun cengkeraman Zico terlalu kuat.

Di tengah-tengah jeritan histeris Yevone dan tawa gila Zico yang memenuhi ruang kerja eksekutif di lantai tiga puluh itu, sebuah atmosfer yang amat mengerikan mendadak meledak dari sudut ruangan.

Suhu udara di dalam ruangan berpendingin itu merosot tajam hingga menyentuh titik beku. Tekanan udara mendadak menjadi sangat tebal dan pengap, seolah-olah oksigen di dalam ruangan itu baru saja dilahap habis oleh bayangan hitam yang tak kasat mata.

Theodore, yang sejak tadi berdiri diam seperti patung di belakang Yevone, secara perlahan melangkah ke depan.

Mata hitam Theodore yang biasanya selalu redup dan tenang, kini memancarkan kilatan merah darah yang amat pekat. Aura membunuh Sang Dewa Perang yang selama tiga tahun ini terkunci rapat di balik sosok suami penurut, akhirnya pecah dan meluap tanpa bisa dibendung lagi.

Batas kesabaran Theodore telah ditembus secara mutlak.

1
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!