Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sembari menikmati angin pantai dan suara ombak, Disa dan Vina tiduran di tempat bersantai yang disediakan oleh salah satu restoran yang ada di dekat pantai. Mereka memakai kacamata hitam, sesekali bangun untuk meminum jus yang ada di meja sebelahnya.
"Gimana perasaan lo yang sekarang?" tanya Vina, kepalanya ia tolehkan ke arah Disa.
Tanpa bertanya lebih detail, Disa tahu apa maksud dari pertanyaan Vina.
"Ya ... Better lah. Gue udah bisa terima kalau ya emang begini jalan hidup gue, tapi bukan berati gue mau untuk kembali bersikap baik sama Mas Cakra atau Risa. Entahlah ya gue belum ketemu sama Risa lagi sampai sekarang," jawab Disa.
"Lo bakal tetap ngizinin Cakra ketemu sama si kembar?" Vina bertanya lagi, nada suaranya lebih pantas dibilang sedang protes dari pada bertanya.
"Ya ... Iya, mau gimana lagi? Kan dia bapak kandungnya, masa gak gue bolehin ketemu sama anaknya. Dia udah tau juga."
Vina mendesah kasar nan panjang. Rasanya ingin ia geplak kepala Disa Kalau saja tidak ingat sahabatnya sedang hamil, "Kalau gue jadi lo, ogah banget gue ngenalin bapaknya yang brengsek sama anak-anak gue. Mending mereka gak usah kenal sama bapaknya aja sekalian."
Perbedaan opini kedua wanita itu membuat Disa terkekeh. "Lo belum pernah ngerasain jadi calon ibu sih. Coba dulu lo hamil biar tau rasanya."
"Gimana rasanya?" tantang Vina.
"Ya gini ... Gue mah cuma gak mau anak-anak gue nantinya kehilangan kasih sayang bapaknya."
"Halah," Vina mencibir, bibirnya menukik ke bawah. "Kalau lo nikah lagi juga anak lo bakal dapat kasih sayang dari seorang ayah, gak harus Cakra, kan?"
"Gue belum kepikiran ke arah sana ya! Intinya... Yaudah sih, kalau Mas Cakra mau tetap kenal dan dikenal sama anak-anaknya, biarin aja, terus kenapa nggak boleh? Dia bapaknya juga. Hubungan gue sama Mas Cakra emang udah berakhir, tapi gue gak mau anak-anak gue yang jadi korban. Mereka tetap darah dagingnya Mas Cakra, apa pun yang terjadi," tutur Disa, berhasil membungkam Vina.
jika keputusan Disa seperti itu, Vina bisa apa? Sebagai sahabat ia hanya bisa mendukung, tidak bisa memaksa keputusan Disa sesuai dengan kemauannya. Kalau Vina yang ada di posisi Disa, Vina akan membawa anak-anaknya pergi yang jauh dari Cakra. Biarkan Cakra tidak tau menahu tentang anak-anaknya.
Tatapan Disa dan Vina jatuh pada Rayyan yang baru saja keluar dari air laut. Rayyan hanya memakai celana pendek sehingga kulit putihnya nampak basah, kepalanya ia geleng-gelengkan untuk menyingkirkan sisa-sisa air di rambutnya.
Rayyan berjalan santai ke arah Disa dan Vina. Kalau tidak salah dia sambil tersenyum ... Senyum cenderung tengil.
"Kayaknya dia masih fall in love with you, Dis," goda Vina terkikik.
Cepat, Disa langsung menoleh. "Dia siapa?" sentaknya dengan kedua alis yang nyaris menyatu. Mereka baru saja membahas Cakra, lalu sama-sama melihat Rayyan. Jadi, siapa yang Vina maksud?
"Rayyan. Siapa lagi mau lo?"
Disa mendengkus kecil. "Ngarang lo ah."
"Liat aja gimana Rayyan kalau di dekat lo."
"Girls, kalian gak pada nyebur ke laut?" Rayyan bertanya, kemudian meraih gelas jusnya.
Kepala Disa dan Vina kompak menggeleng.
"Enggak ah, entar jadi duyung," jawab Disa.
Di sebelahnya, Vina terbahak. "Hampir aja gue mau jawab gitu, eh lo udah jawab duluan!"
Rayyan memutar bola matanya malas. "Nggak heran kalau lo berdua akhirnya jadi sahabat, emang cocok banget," cibirnya. "Terus kalian ngapain ke pantai kalau gak nyebur?"
"Ya ... Gini-gini aja."
Atas jawaban Vina itu, alis Rayyan terangkat. Tanda bahwa ia meminta penjelasan lebih.
"Yang penting liat airnya, ngerasain anginnya, denger ombaknya. Udah," lanjut Disa.
"Kalau cuma mau gitu, nonton pantai di YouTube sambil nongkrong di teras rumah aja udah bisa, ngapain repot-repot datang si sini, dasar duyung jadi-jadian!" Rayyan sengaja meraup wajah Disa dengan tangannya yang basah sehingga wajah Disa pun ikutan basah ... Hatinya juga.
"Ray!" Disa memprotes tindakan Rayyan itu.
Tapi, cowok itu mana peduli? Rayyan melenggang santai pergi ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya dan mengganti baju.
Vina tertawa. "Gila ya, Rayyan yang dulunya waktu kecil sering ingusan, mana kecil banget dan pendek lagi, eh ternyata sekarang udah ... Gue akui Rayyan secakep dan seganteng itu sih."
"Jangan-jangan ... Lo naksir ya sama Rayyan?" tuduh Disa tertawa.
"Ya enggak lah, gile! Gak ada sejarahnya dalam hidup gue naksir sahabat sendiri. Lagian lo gak lupa, kan? Gue gak minat nikah. I'm single and very happy!"
"Hmmmmm. Gue sumpahin lo punya suami dua!"
"Buset, Dis!" Vina melotot tidak terima.
......................
"Bisa minta waktunya sebentar?"
Entah bagaimana caranya, mantan suami Disa ini menemui Rayyan di bandara. Ia baru saja turun dari taksi, dicegat oleh pria ini. Memang masih ada banyak waktu sebelum Rayyan lepas landas.
"Ada apa?" tanya Rayyan. Jika pria ini menemui Rayyan, pasti ada hubungannya dengan Disa, pikir Rayyan. Tapi, apa?
"Ada yang mau saya tanyakan."
Rayyan mengangguk, hingga satu menit kemudian mereka sudah duduk berhadapan. Rayyan mencoba menebak-nebak apa yang akan Cakra bicarakan, namun ia tak bisa memastikan.
"Saya cuma ada waktu sebentar," kata Rayyan.
Cakra mengangguk paham. "Saya juga gak akan membicarakan banyak hal. Saya cuma mau tanya. Maaf, kalau pertanyaan saya terlalu personal, tapi ini sangat penting buat saya," tutur Cakra.
Rayyan diam menunggu Cakra kembali angkat suara. Hal personal apa yang akan Cakra bicarakan?
"Saya dengar kamu ngasih kalung ke Disa?" Cakra memulai.
Kening Rayyan mengkerut tipis. Tau dari mana pria ini kalau Rayyan memberikan kalung untuk Disa? Lagi pula apa masalahnya jika Rayyan melakukan itu? Rayyan memberikan kalung ke Disa di saat ia sudah tidak menjadi istri dari laki-laki mana pun.
"Iya," Rayyan mengangguk. "Kenapa memangnya?"
"Kalau boleh tau, tapi saya harap kamu mau ngasih tau saya, kamu beli kalung itu di mana? Saya suka, tertarik. Saya mau beli kalung yang sama untuk hadiah ulang tahun mama saya minggu depan," lanjut Cakra. Matanya berkilat tidak sabar, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan ketidaksabarannya.
Oh, ternyata cuma itu? Rayyan pikir hal penting apa. "Oh ... Saya beli kalung itu di teman saya. Teman saya jual kalung karena lagi butuh uang, jadi saya yang bantu beli."
Beli di temannya? Kenapa semakin mutar-mutar? Bagaimana prosesnya kalung Risa bisa menjadi kalung Disa? Selain lewat Rayyan, lewat siapa lagi?
"Oh, teman kamu? Teman yang mana? Boleh saya minta kontak yang bisa dihubungi?"
Tanpa merasa curiga, Rayyan memberikan nomor ponsel Andre kepada Cakra.
...****************...
lanjut g pake lama
pokonya jngn sampe disa celaka
AYO TAKBIR
biarin kebalik ke risa
risa aja tuh ya dibikin keguguran
biar g ba punya anak