"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Jena menatap Budi seolah baru saja salah mendengar.
Menikah.
Bukan pernikahan kontrak seperti yang semula ia tawarkan. Bukan sandiwara untuk memenuhi keinginan keluarganya. Budi justru mengajaknya menikah sungguhan.
Wajah Jena seketika kehilangan warna. Ia menggeleng cepat.
“Aku nggak mau menikah.”
Suaranya terdengar tegas, tetapi kedua matanya menyimpan kepanikan.
“Aku nggak mau nikah, titik.” Jena menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Aku nggak mau berjudi dengan kebahagiaan. Aku tidak mau suatu saat nanti terbangun dan sadar kalau keputusan yang aku ambil ini, menghancurkan hidupku."
Budi terdiam beberapa saat. Ia tidak menyangka ketakutan Jena akan sebesar itu.
“Jena…”
“Tidak!” Jena langsung mengangkat tangan. “Jangan coba meyakinkan aku.”
“Aku cuma mau bicara.”
“Aku sudah tahu apa yang akan kamu bilang.” Jena yang berdiri di samping mobil, menarik handle pintu, tapi lagi-lagi, Budi menahan tangannya.
"Pernikahan gak selalu buruk."
“Aku tahu pernikahan nggak selalu buruk. Aku tahu ada pasangan yang bahagia. Tapi aku juga tahu ada orang yang awalnya saling mencintai, lalu akhirnya saling menyakiti.” Jena menelan ludah. “Aku nggak mau mengambil risiko itu.”
Budi membuang nafas kasar. “Menikah memang punya risiko,” katanya pelan. “Tapi bukan berarti semua pernikahan berakhir buruk. Gak semua laki-laki itu nggak setia,” lanjut Budi. “Dan nggak semua laki-laki akan memperlakukan istrinya seperti yang pernah kamu lihat atau orang terdekat kamu alami.”
Jena terdiam.
Budi menatap mata Jena, memberanikan diri menyentuh kedua bahunya. “Kalau kamu masih ragu sama aku, kita bisa bikin perjanjian pranikah.”
Jena mengernyit. “Prenup?”
“Iya.” Budi mengangguk. “Kita atur semuanya dengan jelas. Harta, tanggung jawab, hak dan kewajiban. Kamu boleh melindungi apa yang menjadi milikmu. Aku nggak keberatan.”
“Tapi itu nggak menjamin kamu nggak akan berubah.”
“Memang.”
Jawaban itu justru membuat Jena terdiam.
Budi menatapnya dengan jujur. “Aku nggak bisa menjamin masa depan. Aku juga nggak bisa bersumpah kalau hidup kita nanti akan selalu mudah.” Ia tersenyum tipis. “Tapi aku bisa menjanjikan satu hal. Kalau kamu mau menikah denganku, aku akan berusaha menjadi suami yang baik.”
Jena menatapnya tanpa berkedip. “Berusaha?”
“Aku manusia, Jen. Aku mungkin akan melakukan kesalahan. Tapi aku nggak akan sengaja menyakitimu.”
Jena menggeleng kecil, ia tetap tak bisa mengambil keputusan besar yang menurutnya sangat beresiko ini.
“Dan soal nafkah…” Budi menarik napas. “Aku juga nggak bisa menjanjikan kamu hidup mewah.” Sudut bibirnya terangkat getir. “Aku bukan orang kaya. Aku nggak punya perusahaan besar. Penghasilanku juga nggak seberapa dibanding kamu. Tapi aku akan mengusahakannya.” Tatapannya mengeras, penuh kesungguhan.
“Aku akan bekerja," lanjut Budi. " Kalau harus kerja lebih keras, aku akan kerja lebih keras. Aku mungkin nggak bisa memberikan semuanya, tapi aku akan berusaha supaya kamu nggak kekurangan.”
Jena menunduk. Untuk sesaat, kata-kata itu membuat dadanya terasa sesak. Namun beberapa saat kemudian ia menggeleng lagi. “Masalahnya bukan uang.”
“Aku tahu.”
“Masalahnya…” Jena mengangkat wajah. “Kita bahkan nggak saling mencintai, Budi. Kamu tiba-tiba mengajakku menikah, berjanji menjadi suami yang baik, lalu menjanjikan kebahagiaan. Jangan menjanjikan apa yang belum pasti. Sekali lagi, kita gak saling cinta."
Budi terdiam.
“Bagaimana mungkin dua orang yang nggak punya rasa cinta menikah? Gak mungkin Budi." Jena menggeleng. "Yang saling cinta saja, bisa tiba-tiba saling menyakiti, lalu cerai. Bagaimana dengan yang tidak ada cinta."
“Memangnya semua orang menikah karena sudah saling mencintai? Kadang cinta datang sebelum pernikahan, tapi ada juga, yang datang setelah pernikahan.”
Jena masih menggeleng.
“Cinta bisa tumbuh seiring waktu, Jen." Budi kembali meyakinkan.
“Aku nggak setuju. Aku nggak mau menikah hanya karena berharap suatu hari nanti aku akan mencintaimu, atau kamu mencintaiku. Aku nggak mau hidup berdasarkan kemungkinan.” Suara Jena bergetar. “Kalau ternyata cinta itu nggak pernah tumbuh, bagaimana? Cerai? Atau akan menyesali keputusan ini seumur hidup?"
Budi menatapnya lama, lalu menggeleng. "Aku gak akan pernah menyesal menikah denganmu."
"Budi please, jangan ajak aku untuk mempertaruhkan hidupku pada sesuatu yang belum pasti. Bukankah menikah 3 bulan, lalu bercerai, itu sesuatu yang lebih pasti. Dan kamu gak perlu mikir harus kerja lebih keras, gak perlu mikir nafkah, aku akan kasih kamu 10 juta sebulan."
Terdengar sangat menggiurkan, tapi Budi menggeleng. "Sekali lagi aku bilang, aku gak mau mempermainkan pernikahan, Jen."
"Budi, pikirkanlah lagi. Seumur hidup itu lama. Dan selama itu, harus menggantungkan kebahagiaan pada pasangan, aku gak mau." Ia menggeleng. "Lebih baik aku mencari kebahagiaanku sendiri, tanpa sibuk khawatir suatu saat pasanganku berubah. Yang kamu bicarakan bukan solusi Budi, tapi akar masalah yang lebih besar. 3 bulan nikah, lalu cerai, semua beres."
Budi menghela nafas berat. "Baiklah kalau itu yang kamu mau."
"Jadi kamu setuju?" Mata Jena berbinar.
"Enggak."
Jena berdecak, merasa di prank sesaat.
"Kita ubah konsepnya. Kita menikah, tapi bukan kontrak, real nikah sesuai syariat," tutur Budi.
"Aku bilang a_"
"Diam dulu, aku belum selesai ngomong!" Potong Budi sedikit galak.
Jena langsung kicep, bibirnya sedikit cemberut.
"Tidak ada surat perjanjian yang kamu buat sendiri, yang ada surat nikah dari KUA. Tidak ada bayaran 10 juta, tapi aku yang menafkahi kamu, semampuku. Tidak ada hubungan suami istri sebelum dua-duanya mengatakan siap melakukan. Tidak ada paksakan dalam hal ini. Dan untuk waktunya..." Budi menjeda kalimatnya.
"6 bulan. Jika sampai 6 bulan kamu tidak bisa mencintaiku dan memilih menyudahi, aku akan mundur, kita cerai. Dan satu lagi, ini pernikahan yang harus dijaga kesuciannya, jadi selama kita terikat pernikahan, wajib saling menghormatinya, tidak boleh ada hubungan dengan orang lain."
Jena terlihat mulai mempertimbangkan. Tapi...ada satu hal yang janggal menurutnya. "Bud, tadi kamu bilang, jika aku tidak bisa mencintai kamu hingga 6 bulan kedepan, kita cerai. Bagaimana jika ternyata, kamu yang gak bisa mencintai aku?"
"Itu gak akan mungkin."
"Kenapa gitu?"
Budi panik hampir keceplosan. Ia ingin jujur, tapi takut nantinya Jena tidak nyaman. Ia membuka pintu mobil Jena. "Pulanglah. Fikirkan tawaranku. Batas waktunya nanti malam jam 7. Kalau setuju, Sabtu malam aku datang melamar."
"Hah, cepet banget batas waktunya?"
"Karena aku gak suka nunggu orang mikir kelamaan. Udah, pergi sana, katanya mau balik kantor. Buruan, jam makan siang sudah habis." Budi buru-buru menutup pintu kembali setelah Jena masuk.
Jena menurunkan kaca jendela. "Bud, apa gak bisa waktunya sampai besok?"
"Gak bisa. Batas waktu jam 7, lebih satu detik, udah expired. Aku udah berubah jadi pangeran, udah gak mau sama kamu."
Jena tertawa cekikikan. "Kirain jam 7 kamu udah berubah jadi katak."
"Dikutuk jadi batu. Udah, sana pergi." Budi balik badan, melangkah menuju motornya di parkir.
"Budi!" teriak Jena. "Sampai jam 12 ya. Jangan buru-buru jadi batu, tungguin aku mikir."
"Males!" Budi langsung memakai helm, nyalain motor, tancap gas.
"Bud!" Jena mengeluarkan kepala dari jendela. "Bud, kok kamu pergi duluan?" Ia tersenyum melihat motor Budi yang sudah menghilangkan. "Kok dia baik banget sih. Dikasih duit gak mau, malah mau nafkahin aku." Ia tertawa cekikikan.
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭