NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN DISEKOLAH INTERNASIONAL

“Siapa pria itu? Apa kamu sudah melihat wajahnya di rekaman CCTV secara jelas?”

Suara berat Hendra mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menekan. Urat-urat di pelipis pria berusia empat puluh tiga tahun itu menegang, sementara mata cokelat gelapnya berkilat memancarkan kemurkaan pekat yang siap membakar siapa saja.

Aura yang berdiri tepat di samping suaminya ikut menegang. Jantungnya berdegup kencang begitu mendengar nama putra tunggal mereka, Rendra, diseret-seret ke dalam permainan kotor Aris. Aura merebut pelan ponsel dari tangan Hendra, mendekatkan speaker ke dekat telinganya dengan raut wajah yang berubah dingin seketika.

“Pak Kepala Keamanan, ini Aura. Coba jelaskan secara rinci. Jam berapa pria itu datang dan memakai kendaraan apa?” tanya Aura tegas, suaranya tetap terkontrol meski ada gelombang emosi keibuan yang menggelegak di dadanya.

Dari seberang telepon, kepala keamanan sekolah internasional itu terdengar menelan ludah dengan suara gemetar.

“Nyonya Aura... Pria itu datang sekitar pukul delapan malam tadi, tepat saat gerbang utama lingkungan sekolah sudah ditutup untuk umum. Dia mengenakan setelan jas abu-abu gelap dan memakai masker hitam, tapi dari postur tubuh dan gaya jalannya, petugas administrasi kami mengenali gestur tersebut. Saat kami cek ulang kamera pengawas di lobi utama, pria itu memaksa mengisi formulir perubahan data penjemputan siswa atas nama Rendra Fahreza.”

Aura mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku lentiknya menancap ke telapak tangannya. Kemarahan yang sedari tadi diredamnya kini meledak dalam diam.

“Aris...” bisik Aura penuh penekanan, menyebut nama mantan kekasihnya dengan nada yang setajam pisau bedah. “Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Berani sekali dia menyeret anak yang tidak tahu apa-apa ke dalam masalah balas dendam ini.”

Hendra tidak mengatakan apa-apa lagi pada kepala keamanan sekolah. Pria matang itu langsung merampas kembali ponselnya, lalu memberikan instruksi mutlak tanpa bantahan.

“Kunci seluruh gedung sekolah sekarang juga. Aktifkan alarm darurat perimeter luar dan jangan biarkan siapa pun masuk atau keluar sampai tim saya tiba di sana dalam waktu sepuluh menit!” bentak Hendra sebelum mematikan sambungan secara sepihak.

Pria matang itu langsung berbalik, menatap istrinya dengan sorot mata penuh proteksi. “Aura, kamu tetap di rumah. Jangan kemana-mana. Saya sendiri yang akan pergi ke sekolah Rendra dan menyeret Aris kembali ke tempat asalnya.”

Aura menggelengkan kepalanya cepat. Rambut hitam panjangnya berayun tegas.

“Nggak, Mas. Rendra itu anakku juga. Aku nggak bakal tinggal diam duduk manis di rumah sementara anak kandung kita diincar sama mantan narapidana gila itu,” sanggah Aura tegas. Ada kilat keberanian dan ketegasan mutlak di mata jernihnya yang membuat Hendra tertegun sejenak. “Kita berangkat bersama-sama.”

Hendra menatap lekat-lekat manik mata istrinya. Ia tahu persis, keras kepala dan keberanian Aura adalah hal yang membuat wanita itu selalu menang di setiap pertempuran. Mengangguk singkat, Hendra merangkul pinggang Aura dengan erat, lalu mereka berdua melangkah cepat keluar dari kamar utama menuju lantai bawah.

Lima belas menit kemudian, iring-iringan dua mobil SUV hitam berkecepatan tinggi membelah jalanan malam ibu kota menuju kompleks sekolah internasional elit di kawasan Pondok Indah.

Di dalam kabin mobil yang senyap dan tegang, Hendra terus memberikan instruksi lewat sambungan radio komunikasi kepada dua puluh pengawal pribadi bersenjata yang mengikuti di mobil belakang. Sementara itu, Aura duduk di samping suaminya dengan tatapan lurus ke depan, jemarinya terus meremas tas kecilnya demi menahan debar di dada.

Sesampainya di gerbang sekolah internasional yang menjulang tinggi, plang nama sekolah tampak megah di bawah pendar lampu pilar. Namun malam ini, suasana di sekitar sekolah tampak mencekam. Lampu koridor utama padam sebagian, dan gerbang besi digembok rapat dari dalam.

Mobil SUV hitam Hendra berhenti tepat melintang di depan gerbang. Sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna, empat pengawal berjas hitam langsung melompat keluar, mengamankan area sekitar dengan sigap.

Hendra membukakan pintu untuk Aura, lalu menggenggam tangan istrinya erat-erat begitu mereka menapakkan kaki di halaman sekolah.

Kepala sekolah bersama kepala keamanan berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka dengan peluh membasahi dahi.

“Pak Hendra... Nyonya Aura... Syukurlah Anda cepat datang,” ucap kepala sekolah gemetar. “Pria tadi sempat meninggalkan sesuatu di meja resepsionis sebelum pengawal kami menyadari kehadirannya lewat kamera.”

“Sesuatu?” ulang Hendra tajam. “Apa itu? Cepat bawa ke sini!”

Kepala sekolah dengan tangan bergetar menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna hitam beludru di atas nampan perak.

Aura melangkah maju, membuka tutup kotak beludru tersebut secara perlahan. Di dalam kotak itu, tidak ada bom atau ancaman fisik—hanya ada sebuah mainan mobil balap kecil milik Rendra yang dibalut secarik kertas bertuliskan tangan rapi:

‘Rendra anak yang sangat manis, Aura. Sayang sekali kalau dia harus merasakan akibat dari kesombongan orang tuanya. Kalau kamu mau anak ini selamat, datanglah sendiri besok pagi jam sembilan ke gudang pelabuhan tua nomor tujuh di pesisir utara. Jangan bawa Hendra, atau kamu tidak akan pernah melihat anakmu lagi.’

Membaca tulisan tangan itu, darah di tubuh Aura seolah mendadak berhenti mengalir. Napasnya tercekat. Rasa takut sebagai seorang ibu menghantam dadanya jauh lebih keras daripada ancaman bisnis apa pun yang pernah ia hadapi seumur hidupnya.

“Aris... bajingan sialan...” geram Hendra dengan suara rendah yang amat menakutkan. Pria matang itu menatap mainan di dalam kotak dengan kilat mata seorang pembunuh. “Dia sudah melewati batas garis kematian.”

Aura menutup kembali kotak beludru itu. Meski dadanya bergemuruh hebat, kecerdasan dan ketenangan mentalnya sebagai komisaris utama perlahan mengambil alih. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap suaminya dengan pandangan penuh keyakinan.

“Mas, jangan terpancing emosi,” kata Aura lembut namun tegas, menyentuh lengan tegap Hendra. “Ini yang dia mau. Aris mau kita panik, terpecah, dan datang menyerang tanpa perhitungan. Dia sengaja menculik Rendra buat memancing kita.”

Hendra menoleh, menatap istrinya dengan napas memburu. “Terus kamu mau kita diam saja menunggu ancamannya, Aura? Dia menyandera darah daging kita!”

“Siapa bilang kita akan diam saja?” Aura menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin—senyuman yang sama persis saat ia menjebak Clara dan Paman Danu di kantor beberapa bulan lalu. “Aris pikir dia memegang kendali penuh karena berhasil menculik Rendra dari sekolah. Tapi dia lupa... sekolah internasional ini berada di bawah yayasan penyandang dana utama dari Fahreza Group.”

Aura berbalik menghadap kepala sekolah yang berdiri ketakutan di samping mereka.

“Buka seluruh akses server CCTV sekolah sekarang juga,” perintah Aura mutlak. “Dan panggil petugas kebersihan atau staf shift malam yang bertugas di area asrama barat.”

Hanya butuh waktu lima menit bagi tim IT sekolah untuk menarik seluruh rekaman data keluar-masuk area kampus. Di ruang kontrol keamanan yang ber-AC dingin, Aura dan Hendra berdiri di depan layar monitor besar, mengamati setiap detik pergerakan manusia di lingkungan sekolah.

Dalam rekaman beresolusi tinggi itu, tampak jelas sosok berjas abu-abu dengan masker hitam menyusup lewat pintu darurat belakang yang sengaja dibiarkan tidak terkunci oleh seorang oknum petugas kebersihan paruh baya yang terlihat menerima amplop tebal berisi uang tunai dari tangan Aris.

“Petugas kebersihan itu bernama Slamet, Nyonya,” lapor kepala sekolah pucat pasi. “Dia baru bekerja selama tiga bulan di sini.”

Hendra menyipitkan matanya, menatap tajam sosok Slamet di layar monitor yang tampak gemetar ketakutan di ruang istirahat staf.

“Pak Biantoro,” panggil Hendra dingin lewat radionya. “Bawa masuk satpam dan oknum petugas kebersihan bernama Slamet itu ke ruang kontrol sekarang juga. Jangan sampai ada yang kabur.”

Kurang dari dua menit, dua pengawal pribadi menyeret Slamet masuk ke dalam ruang kontrol. Petugas kebersihan paruh baya itu langsung bersimpuh di lantai marmer, menangis histeris sambil memohon ampun begitu melihat sosok Hendra Fahreza berdiri di hadapannya bagaikan malaikat pencabut nyawa.

“Ampun, Pak Hendra! Ampun! Saya nggak tahu apa-apa!” teriak Slamet histeris, mencium ujung sepatu kulit Hendra.

Aura melangkah anggun mendekati pria paruh baya itu. Ia berjongkok sedikit, menatap lurus ke mata Slamet dengan senyuman tipis yang amat mengerikan.

“Pak Slamet... Uang suap dari Aris itu tidak sebanding dengan nyawa dan masa depan keluarga yang akan kamu hancurkan,” bisik Aura halus namun menusuk tulang. “Kalau kamu tidak mau dipenjara seumur hidup sebagai kaki tangan penculikan anak di bawah umur, katakan pada kami... Kemana Aris membawa Rendra setelah meninggalkan sekolah ini?”

Slamet menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Di bawah tekanan aura intimidasi mutlak dari Aura dan Hendra, pertahanan mental pria paruh baya itu runtuh seketika.

“S-saya mengaku, Nyonya...!” Isak Slamet pecah. “Aris... Aris tidak membawa Den Rendra jauh. Dia menyewa sebuah rumah peristirahatan tua milik keluarga Wijaya di kawasan bukit sentul... Dia bilang dia hanya ingin menitipkan anak itu sebentar sebelum menukarnya dengan tebusan dari Anda!”

Hendra mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya bergemeretak nyaring. Pria matang itu langsung berdiri tegak, memberikan perintah kepada seluruh pasukan pengawalnya.

“Kunci seluruh akses keluar Sentul sekarang juga. Kerahkan tiga puluh personel bersenjata lengkap. Kita ratakan rumah peristirahatan itu malam ini juga!” bentak Hendra penuh amarah.

Aura berdiri perlahan, merapikan gaunnya. Meskipun hatinya sebagai seorang ibu menjerit cemas memikirkan keselamatan putranya, raut wajahnya tetap dingin dan terkontrol dengan sempurna.

“Mas, biarkan aku ikut,” ucap Aura mutlak. “Aris menantangku secara langsung di surat itu. Aku sendiri yang akan memastikan pria itu menyesal karena sudah berani menyentuh anakku.”

Hendra menatap lekat-lekat manik mata istrinya, lalu mengangguk mantap. “Baiklah, Ratu saya. Kita pergi bersama-sama untuk menjemput putra kita.”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!