NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 TEROR YANG SEMAKIN KUAT
Jeritan ketakutan Harumi tertahan di tenggorokan, berubah menjadi rintihan tertahan saat udara di dalam sel itu terasa semakin berat dan mencekik.
Siluet wanita bergaun kuno yang berdiri di sudut ruangan itu tak lagi sekadar bayangan semu. Sosok itu kini berwujud teramat nyata, memancarkan aura kegelapan yang membuat suhu ruangan terasa semakin anjlok ke titik beku.
Rambutnya yang hitam kelam, kusut, dan berbau anyir darah terus meneteskan air keruh yang menodai lantai semen. Kemben dan kain batik yang membalut tubuhnya tampak kusam, robek di beberapa bagian, dan diselimuti oleh debu yang seolah telah berabad-abad lamanya tak tersentuh cahaya matahari.
Sring... sring... sring...
Suara gemerincing gelang kaki dari perunggu itu kembali berbunyi.
Makhluk itu melangkah maju.
Sangat pelan, namun setiap langkahnya seakan menginjak-injak sisa kewarasan Harumi.
Selendang merah darah yang melingkar di bahunya melayang-layang menentang hukum gravitasi, bergerak seperti ular kobra yang sedang mencari mangsa di udara hampa.
Harumi merapatkan tubuhnya ke dinding beton hingga punggungnya terasa sakit. Ia ingin memejamkan mata, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk atau halusinasi akibat trauma pasca-kejadian di atas panggung Candi Prambanan.
Namun, bau bunga layu yang bercampur dengan bau kemenyan yang terbakar dan aroma daging busuk itu terlalu nyata untuk sebuah ilusi.
"P-pergi... kumohon... pergi..." rintih Harumi.
Bibirnya bergetar hebat. Air mata ketakutan mengalir deras membasahi pipinya yang sepucat batu pualam.
Makhluk itu kini berada tepat di hadapan Harumi, jarak mereka tak lebih dari satu jengkal.
Wajahnya yang tertutup juntaian rambut basah itu perlahan menunduk. Dan dari sela-sela rambut tersebut, sepasang bola mata yang seluruhnya berwarna hitam pekat menatap langsung ke dalam manik mata Harumi.
Tidak ada kilau kehidupan di mata itu. Yang ada hanyalah lubang hitam keputusasaan, kemarahan yang membakar, dan dendam kesumat yang tak lekang oleh waktu.
Lalu, bibir pucat yang mengelupas di wajah makhluk itu mulai bergerak.
Bukan suara manusia yang keluar dari sana. Melainkan sebuah bisikan parau, bergaung, dan bergetar yang langsung menggema di dalam batok kepala Harumi, seolah-olah makhluk itu berbicara langsung kepada jiwanya, mengabaikan indera pendengarannya.
"Ratusan tahun..." suara itu mendesis, membaurkan bahasa Jawa kuno dengan bahasa yang bisa dipahami oleh alam bawah sadar Harumi.
"Ratusan tahun aku terbelenggu... Terjebak dalam dinginnya batu... Dikutuk oleh cinta... Dihancurkan oleh keangkuhan seorang manusia..."
Harumi menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku tidak tahu apa-apa! Pergi! Jangan ganggu aku!"
Namun suara itu tidak bisa dihentikan. Suara itu terus merayap, merasuk, dan mencengkeram akal sehatnya.
"Mereka memujanya... Mereka mengutukku... Mereka membuatku menjadi arca yang bisu, membeku dalam gelap malam abadi, sementara darahku terus menangis menuntut balas!" Nada suara makhluk itu kini meninggi, berubah menjadi geraman marah yang membuat lampu pijar kuning di lorong luar sel berkedip-kedip liar hingga nyaris padam.
Makhluk itu mengangkat tangan kanannya yang pucat pasi, dipenuhi urat-urat menonjol berwarna hitam kehijauan. Jari-jarinya yang panjang dengan kuku-kuku hitam yang melengkung tajam menunjuk tepat ke arah dada Harumi.
"Namun kini... waktu itu telah tiba. Garis darah yang sama dengan manusia itu telah membangunkan tidurku di pelataran suciku. Dan kau lah... anak manusia yang terlahir dengan darah sewangi kembang setaman..."
Makhluk itu mencondongkan wajahnya, hidungnya yang hancur nyaris bersentuhan dengan hidung Harumi. Hawa dingin yang keluar dari mulut makhluk itu setiap kali ia berbicara terasa seperti es yang membakar kulit wajah gadis itu.
"Darah tulang wangimu adalah wadah yang sempurna. Melalui dirimu, tanganku akan bergerak. Melalui dirimu, pisau itu akan menembus jantung mereka. Aku akan membalaskan dendamku... Aku akan mengambil nyawa demi nyawa, hingga hutang darah di masa lalu lunas sepenuhnya!"
"TIDAK! BUKAN AKU! AKU BUKAN PEMBUNUH!" jerit Harumi dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Ia menendang-nendang lantai dengan kakinya yang telanjang, mencoba mendorong udara kosong di depannya.
"Kau sudah memulainya, Anak Manusia," seringai di wajah makhluk itu melebar hingga ujung bibirnya nyaris menyentuh telinga.
"Darah di tanganmu... itu adalah darah saudaramu sendiri. Kau telah mencicipi rasanya... Dan kau akan memberikan darah pemuda itu kepadaku!"
Mendengar makhluk itu menyinggung soal Haruma dan Yuda, pertahanan mental Harumi hancur berkeping-keping.
Memori saat tangannya sendiri menancapkan pisau pusaka ke perut kakaknya kembali berkelebat di depan matanya dengan sangat brutal dan jelas.
Rasa bersalah yang tak tertahankan berpadu dengan teror gaib yang sedang menyiksanya, menciptakan tekanan psikologis yang tak sanggup lagi ditanggung oleh otak manusianya.
Makhluk itu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Harumi dengan jari-jarinya yang sedingin es. Cengkeraman itu begitu kuat, menyalurkan rasa sakit yang luar biasa seolah-olah tulang tangan Harumi sedang diremukkan secara perlahan.
"Jadilah tanganku... atau kau akan melihat semua orang yang kau cintai mati di hadapanmu... satu... per... satu..."
"AAAAAAAAAAAKKKKHHHHHHH!!! PERGIIII!!! PERGIIIII DARI SINIIIII!!!"
Jeritan Harumi meledak dengan frekuensi yang memekakkan telinga.
Ia berteriak sejadi-jadinya, melolong seperti orang gila, meronta-ronta melepaskan tangannya dari cengkeraman tak kasatmata itu. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri, mencoba mengusir suara bisikan iblis yang terus bergaung di dalam tengkoraknya.
"TOLONG! TOLOOONGGG!!! DIA DI SINI! DIA MAU MEMBUNUHKU! AAAAAKKKHHH!"
Di luar sel, kesunyian malam di markas kepolisian itu pecah berantakan. Suara jeritan Harumi yang sangat melengking dan penuh keputusasaan terdengar hingga ke ruang piket penjagaan utama.
Terdengar suara kursi yang digeser dengan kasar, disusul oleh derap langkah sepatu bot yang berlari dengan tergesa-gesa menyusuri lorong beton.
"Cepat! Sel nomor tiga! Cek sel nomor tiga!" teriak seorang petugas pria.
Brak! Brak! Brak!
Tiga orang petugas kepolisian—dua pria dan satu polisi wanita bernama Bripka Sari—berhamburan tiba di depan sel Harumi. Cahaya dari senter besar yang dibawa oleh salah satu petugas pria menembus jeruji besi, menyorot langsung ke sudut ruangan tempat Harumi meringkuk.
"Dek! Dek Harumi! Tenang, Dek!" teriak Bripka Sari sambil meraih kunci sel dari pinggangnya. Tangannya bergerak cepat membuka gembok besi yang mengunci pintu jeruji.
Tepat saat cahaya senter itu menerangi seisi ruangan, sosok wanita bergaun merah kuno itu menghilang layaknya asap yang tertiup angin kencang.
Aura dingin dan bau kemenyan yang sedari tadi mencekik ruangan menguap begitu saja, digantikan kembali oleh bau pesing dan karbol murahan yang khas dari ruang tahanan.
Pintu sel terbuka dengan suara decitan engsel yang nyaring. Bripka Sari langsung menghambur masuk, berlutut di hadapan Harumi yang kini sedang memeluk dirinya sendiri sambil gemetar sehebat orang yang terkena serangan hipotermia.
"Dek Harumi, Tenang! Tenang! Ada apa?!" Bripka Sari mencoba meraih pundak gadis itu, namun Harumi langsung menepisnya dengan kasar.
"DIA DI SANA! DIA DI SANA!" Harumi berteriak histeris, menunjuk dengan jarinya yang gemetar ke arah udara kosong tepat di depan Bripka Sari. Matanya terbelalak liar, air matanya membanjiri wajahnya yang berantakan.
"Kalian tidak lihat?! Dia perempuan dari candi itu! Dia mau mengambil tubuhku! Dia menyuruhku membunuh Kak Haruma! Bukan aku yang mau melakukannya! Tolong aku, Bu! Tolong aku!"
Bripka Sari menoleh ke arah yang ditunjuk Harumi, namun tidak melihat apa-apa selain dinding beton yang kusam. Dua polisi pria yang berjaga di ambang pintu sel saling bertukar pandang dengan kening berkerut.
Di mata mereka, ini adalah pemandangan yang sangat tipikal. Pelaku kejahatan berat, apalagi yang melukai keluarganya sendiri, sering kali mengalami breakdown psikologis atau pura-pura gila untuk menghindari tekanan hukum.
"Ambilkan air putih, cepat!" perintah Bripka Sari kepada salah satu rekannya. Polisi wanita itu kemudian kembali fokus pada Harumi, memegang kedua lengan gadis itu dengan erat namun tidak menyakiti.
"Dengar Ibu, Dek Harumi. Tatap mata Ibu!" kata Bripka Sari dengan nada tegas dan keibuan. "Tarik napas panjang. Tidak ada siapa-siapa di sini selain petugas polisi. Sel ini dijaga ketat. Tidak ada yang bisa masuk, apalagi perempuan dari candi."
Harumi menggeleng dengan kuat.
Napasnya masih tersengal-sengal.
"Dia ada, Bu... Dia mencengkeram tanganku. Sakit... Sakit sekali..."
Harumi mengangkat pergelangan tangannya untuk ditunjukkan kepada Bripka Sari. Dan tepat pada saat itulah, mata polisi wanita itu sedikit melebar.
Di bawah sorotan cahaya senter dari rekannya, Bripka Sari bisa melihat dengan sangat jelas ada ruam merah kebiruan yang membentuk cetakan lima jari berukuran besar di pergelangan tangan Harumi. Sebuah bekas cengkeraman tangan yang baru saja terjadi.
Bripka Sari tertegun. Ia ingat betul saat pengambilan sidik jari beberapa jam yang lalu, tangan gadis ini bersih tanpa luka lebam sedikit pun. Dan tidak mungkin Harumi mencengkeram tangannya sendiri dengan sudut dan kekuatan sebesar itu.
Namun, logika kepolisian Bripka Sari dengan cepat menekan pemikiran irasionalnya. Ia memilih untuk mengabaikan kejanggalan itu.
"Itu pasti lebam akibat berontak saat diamankan di lokasi tadi," ucap Bripka Sari, lebih meyakinkan dirinya sendiri daripada meyakinkan Harumi.
"Ayo, Dek. Pindah ke kursi. Minum dulu."
Petugas pria datang membawa segelas air mineral. Bripka Sari membimbing Harumi untuk duduk tegak, lalu perlahan meminumkan air tersebut ke mulut gadis yang masih bergetar hebat itu.
Harumi meneguk air itu dengan susah payah. Sensasi dingin air yang melewati tenggorokannya sedikit banyak mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata. Ia menatap wajah Bripka Sari dan kedua polisi pria yang memandangnya dengan raut wajah antara iba dan curiga.
Harumi sadar sekarang.
Seberapa keras pun ia berteriak, seberapa detail pun ia menjelaskan sosok bergaun kuno yang menuntut balas dendam itu, orang-orang berseragam ini tidak akan pernah percaya. Bagi dunia yang berjalan di atas hukum dan logika, Harumi hanyalah seorang penjahat yang sedang berhalusinasi.
Namun di dalam hatinya yang paling hancur, Harumi tahu kebenaran yang sesungguhnya. Ia tidak sedang gila.
Saat petugas polisi sibuk membereskan kekacauan di sel tersebut, mata Harumi tak sengaja melirik ke arah sudut atas ruangan, tepat di dekat ventilasi besi yang mengarah keluar.
Di sana, sekelebat ujung selendang merah darah tampak menghilang menembus beton tebal, meninggalkan sisa tawa halus yang sangat tipis, terdengar bagai bisikan angin malam yang mematikan.
"Kita belum selesai, Anak Manusia..."
Harumi memejamkan matanya rapat-rapat.
Air mata kembali jatuh tanpa suara.
Teror gaib ini baru saja dimulai, dan ia menyadari dengan sangat menyakitkan bahwa ia harus menghadapi iblis ini sendirian di balik dinginnya jeruji besi.
Sementara...
Haruma... Kakaknya itu...
Sedang meregang nyawa hampir di ambang pintu kematian...
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda