Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan di Layar Kaca
### Bab 18: Pesan di Layar Kaca
Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga yang memantul di dinding-dinding putih rumah Nenek Surti yang baru saja dicat ulang. Ratna duduk di kursi goyang kayu jati di teras depan, menikmati segelas teh manis hangat buatan Lily. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari pot-pot tanaman di halaman. Ini adalah momen kedamaian yang jarang ia rasakan dua tahun lalu, saat hidupnya masih diselimuti kabut ketegangan rumah tangga yang retak.
Ponselnya bergetar di atas meja kecil di sampingnya. Layar menyala, menampilkan notifikasi pesan WhatsApp dari nomor yang baru saja ia simpan siang tadi: *Budi Santoso*.
Ratna tersenyum tipis. Ia belum menyangka Budi akan segera menghubunginya. Dengan rasa penasaran yang wajar, ia membuka pesan tersebut.
*"Halo, Bu Ratna. Maaf mengganggu waktu istirahatnya. Saya Budi, teman sekolah dulu yang ketemu di pasar tadi pagi."*
Ratna mengetik balasan dengan cepat, jari-jarinya menari lincah di layar. *"Halo, Pak Budi. Tidak mengganggu sama sekali. Ada apa ya? Semoga sehat selalu."*
Balasan datang hampir instan. *"Alhamdulillah sehat. Saya cuma ingin memastikan Ibu sudah sampai rumah dengan selamat setelah belanja tadi. Pasar kan ramai dan jalannya licin, agak khawatir kalau Ibu sendirian membawa barang banyak."*
Ratna merasa tersentuh oleh perhatian sederhana itu. *"Saya sudah sampai dengan selamat, Pak. Terima kasih sudah关心 (perhatian). Barang-barangnya memang agak berat, tapi Alhamdulillah bisa dibawa pulang."*
*"Syukurlah,"* balas Budi. Jeda sejenak terjadi, tanda *typing...* muncul dan hilang beberapa kali, seolah Budi sedang memilih kata-kata yang tepat. Ratna menunggu dengan sabar, menyeruput tehnya perlahan.
Akhirnya, pesan berikutnya masuk, dan nada bicaranya berubah menjadi lebih personal, menyentuh ranah yang selama ini jarang dibahas Ratna dengan orang luar selain keluarga dekat.
*"Bu Ratna, kalau boleh saya bertanya sesuatu yang mungkin agak pribadi... Bagaimana kabar Ibu sekarang? Maksud saya, bagaimana perasaan Ibu menjalani hari-hari setelah kembali dari Arab Saudi? Apakah Ibu merasa tenang?"*
Pertanyaan itu menghantam Ratna dengan lembut namun dalam. Ia meletakkan gelasnya, menatap layar ponsel dengan serius. Ini bukan sekadar basa-basi kosong. Budi tampak tulus ingin mengetahui kondisi emosionalnya, bukan hanya fisik. Ratna menghela napas, lalu mulai mengetik jawaban yang jujur namun tetap menjaga batas kesopanan.
*"Jujur, Pak Budi, awalnya berat. Ada masa-masa di mana saya merasa canggung kembali ke lingkungan sini. Tapi sekarang, alhamdulillah, saya merasa jauh lebih tenang. Rumah ini, kehadiran Mama dan Lily, serta kesibukan mengurus rumah baru membuat hati saya damai. Saya belajar bahwa kebahagiaan itu sederhana."*
Budi membalas dengan cepat. *"Itu bagus sekali mendengar kata 'damai' dari Ibu. Dulu, saat kita sekolah, saya sering melihat Ibu terlihat sedih meski berusaha menutupinya. Saya hanya teman sebangku biasa waktu itu, jadi tidak berani bertanya. Tapi saya selalu berharap suatu hari Ibu menemukan ketenangan itu."*
Ratna terdiam membaca kalimat itu. Ingatan masa sekolah SMP kembali mengalir. Ia ingat Budi sebagai anak laki-laki yang pendiam, sering membantunya mengambil buku dari rak tinggi, atau meminjamkan penggaris saat miliknya patah. Ia tidak pernah menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan kesedihannya diam-diam.
*"Terima kasih, Pak Budi,"* ketik Ratna, matanya sedikit berkaca-kaca. *"Saya tidak tahu kalau ada yang memperhatikan saya waktu itu. Maaf jika dulu saya terlalu tertutup."*
*"Tidak perlu minta maaf, Bu. Setiap orang punya cara sendiri untuk bertahan. Yang penting sekarang Ibu baik-baik saja. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan mantan suami Ibu? Apakah dia masih mencoba menghubungi atau menimbulkan masalah?"*
Pertanyaan itu membuat dada Ratna sesak sejenak. Nama Bambang masih menyisakan luka lama, meski kini lukanya sudah mengering menjadi bekas yang tidak lagi perih. Ratna memutuskan untuk menjawab dengan kepala dingin. Ia tidak ingin terlihat lemah, tetapi juga tidak ingin berpura-pura bahwa masa lalunya tidak ada.
*"Dia pernah menghubungi Lily, anak saya, beberapa bulan lalu. Menawarkan kemewahan dan mengajak Lily tinggal bersamanya karena dia sudah menikah lagi. Tapi Lily menolak. Dia memilih tinggal bersama saya dan Nenek. Sejak itu, tidak ada kontak lagi. Saya bersyukur Lily sangat pengertian dan kuat."*
Ada jeda panjang sebelum Budi membalas. Ratna bisa membayangkan ekspresi wajah Budi di seberang sana. Mungkin kagum, mungkin juga sedih mendengarnya.
*"Lily anak yang hebat. Dan Ibu juga hebat telah mendidiknya menjadi perempuan berprinsip seperti itu. Banyak wanita yang mungkin tergoda oleh tawaran materi, tapi Lily memilih integritas. Itu cerminan dari didikan Ibunya."*
Pujian itu membuat pipi Ratna memanas. Ia mengetik balasan dengan tangan yang sedikit gemetar. *"Terima kasih, Pak. Itu pujian terbesar bagi saya. Memang, uang tidak bisa membeli harga diri. Saya mengajarkan Lily bahwa cinta dan kehadiran lebih berharga daripada barang mewah."*
*"Sangat benar,"* balas Budi. *"Saya senang mendengarnya. Oh iya, Bu Ratna, apakah Ibu berencana untuk bekerja lagi di sini? Atau mungkin membuka usaha kecil? Saya lihat Ibu sangat cekatan dan teliti."*
Ratna tersenyum. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Budi tidak hanya peduli pada masa lalu, tapi juga tertarik pada masa depannya. *"Saya masih berpikir, Pak. Mungkin saya akan membantu Nenek berjualan kue dulu, atau menerima jahitan. Saya belum mau terburu-buru. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Lily sebelum dia semakin besar."*
*"Ide yang bagus. Kalau Ibu butuh bantuan memasarkan kue atau jahitan, saya bisa bantu informasikan ke pelanggan toko kelontong saya. Banyak ibu-ibu di kompleks perumahan sebelah yang mencari penjahit terpercaya."*
Ratna merasa terbantu. Tawaran itu tulus dan tidak mengandung maksud terselubung yang menjijikkan. *"Wah, itu sangat membantu, Pak Budi. Terima kasih banyak. Saya akan pertimbangkan. Siapa tahu nanti saya butuh bantuan promosi."*
*"Sama-sama, Bu. Jangan sungkan. Oh, sudah sore. Saya tidak ingin menahan waktu istirahat Ibu. Silakan lanjutkan menikmati tehnya. Sampai jumpa lain waktu."*
*"Sampai jumpa, Pak Budi. Hati-hati di jalan jika masih di luar."*
Percakapan berakhir di situ. Ratna meletakkan ponselnya kembali di meja. Hatinya terasa ringan, seolah beban berat yang ia pikul selama bertahun-tahun sedikit terangkat. Bukan karena Budi menawarkan solusi ajaib, tapi karena adanya validasi bahwa ia dilihat, dihargai, dan didukung sebagai individu, bukan sekadar "istri yang diceraikan" atau "mantan TKW".
Lily keluar dari kamar, melihat ibunya termenung sambil tersenyum. "Siapa yang chat Mama? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Lily iseng.
Ratna menggeleng, mengusap kepala putrinya. "Teman lama Mama, Nak. Orang baik. Dia menawari bantuan untuk promosi kalau nanti Mama buka usaha jahit atau kue."
"Wah, asyik! Artinya Mama bakal punya penghasilan sendiri lagi dong?" mata Lily berbinar.
"Mungkin, Sayang. Pelan-pelan saja. Yang penting Mama bahagia dulu," jawab Ratna lembut.
Ia menatap langit yang kini berwarna ungu tua. Pertemuan dengan Budi hari ini, baik secara langsung maupun melalui pesan, memberinya angin segar. Ia menyadari bahwa dunia di luar rumahnya tidak sekejam yang ia bayangkan. Masih ada orang-orang baik yang peduli tanpa mengharapkan imbalan. Dan siapa tahu, dari percakapan sederhana ini, babak baru dalam hidupnya—babak persahabatan, atau mungkin lebih dari itu—akan mulai terbuka. Namun untuk saat ini, Ratna cukup puas dengan rasa damai yang ia miliki. Ia tidak terburu-buru. Ia memiliki waktu, ia memiliki kekuatan, dan yang paling penting, ia memiliki kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.