Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mamat Beli Kamfer Buat Aroma "Ghaib"
Gedoran di pintu depan makin gencar, diiringi kasak-kusuk emak-emak yang sudah tidak sabar meminta petunjuk ghaib. Mamat yang berdiri di balik jendela berdebu mengusap dadanya yang berdebar kencang. Ia menyadari satu hal penting: lima orang pasien di halaman rumahnya bukan lagi sasaran empuk seperti Pak RT yang panik atau Mbak Wiwin yang polos. Ini adalah ujian ketahanan untuk panggung sandiwaranya.
"Jancuk... kalau cuma mengandalkan asap obat nyamuk bakar sama dupa cina murah, hidung emak-emak ini pasti bisa membedakannya," bisik Mamat panik.
Ia butuh aroma baru. Aroma yang tidak sekadar menusuk hidung, tetapi sanggup membuat kepala orang langsung pusing, memicu sensasi mistis seketika, dan melapisi seluruh ruangan dengan aura "dunia lain" yang pekat.
Mamat menyelipkan Keris Bengkok Brajamukti di balik sarungnya, lalu merangkak lewat jendela samping dapur yang tembus ke gang kecil belakang. Tanpa terlihat oleh rombongan pasien di halaman depan, Mamat berlari kecil memutari gang menuju Toko Kelontong Bu Siami.
"Lho, Ki Mamat?!" jerit Bu Siami kaget saat Mamat mendadak muncul dari balik pintu toko dengan napas terengah-engah dan rambut mencuat acak-acakan. "Itu di rumah sampeyan sudah banyak orang antre! Kok malah keluyuran di sini?"
"Diam dulu, Bu Siami..." potong Mamat dengan nada dibikin berat dan berbisik, memasang raut muka misterius. "Saya sedang dipanggil oleh utusan alam sebelah untuk mengambil 'bumbu penyucian'. Ada kapur barus? Kamfer warna putih yang baunya paling tajam?"
Bu Siami mengerutkan dahi, tetapi rasa takjubnya akibat cerita Mbak Wiwin tadi pagi membuat wanita itu tidak banyak tanya. "Ada, Ki. Ini kamfer putih kemasan besar buat lemari pakaian. Mau berapa bungkus?"
"Beli dua bungkus besar!" Mamat merogoh sakunya dan melempar pecahan uang lima puluh ribuan sisa sajen Pak RT ke meja kasir. "Sama minyak kayu putih dua botol kecil!"
"Buat apa minyak kayu putih, Ki?" tanya Bu Siami penasaran.
"Buat mengolesi dahi pasien yang kena serangan angin astral!" sahut Mamat ngawur sambil menyambar kantong plastik berisi kamfer dan minyak kayu putih, lalu melesat kembali menembus gang belakang menuju rumahnya.
Begitu berhasil menyelinap kembali ke kamar belakang, Mamat langsung bekerja gila-gilaan. Ia mengambil tumpukan kapur barus putih, lalu menumbuknya menggunakan batu kali hingga menjadi serbuk halus. Serbuk kamfer itu ia campurkan dengan pecahan obat nyamuk bakar, sisa bubuk magnesium, dan beberapa tetes minyak kayu putih di dalam wadah kuningan peninggalan kakeknya.
Mamat menyalakan api korek dan membakar racikan kimia buatan tersebut.
Czzzz... SRRRRHHHH!
Kepulan asap tebal berwarna abu-abu keputihan langsung mengepul dahsyat dari dalam wadah kuningan! Aroma tajam kapur barus yang menyengat bercampur dengan bau obat nyamuk bakar dan semerbak panas minyak kayu putih seketika memenuhi seluruh ruangan tiga kali tiga meter itu. Asapnya begitu pekat hingga jarak pandang di dalam kamar menyusut menjadi hanya setengah meter.
Mamat sendiri langsung terbatuk-batuk hebat. Matanya berair kencang dan hidungnya serasa terbakar. "UHUK! UHUK! Jancuk... baunya benar-benar seperti kuburan tua dicampur rumah sakit!" Mamat menyapu air matanya, lalu memasang raut muka dingin. "Tapi ini sempurna! Orang masuk sini pasti langsung pusing dan mikir kalau ini energi sakti!"
Mamat berjalan menuju pintu depan rumahnya, lalu membukanya sedikit.
Di luar, Bu Tejo, Pak Sastro tukang jamu, dan tiga warga lainnya langsung menengok. Wajah mereka dipenuhi campuran rasa takut dan penasaran saat melihat Mamat berdiri di ambang pintu berselimutkan jubah sarung hitam kusam dan ikat kepala perca.
"Masuklah secara berurutan..." panggil Mamat dengan suara bernada dalam dan bergema dari balik tenggorokannya. "Satu per satu! Ruangan ritual Brajamukti telah siap diselimuti kabut penyucian!"
Bu Tejo yang berdiri paling depan mendorong Pak Sastro ke samping. "Saya dulu, Ki! Saya yang datang paling awal!"
Dengan memegang erat kantong plastik berisi kembang setaman dan amplop putih, Bu Tejo melangkah masuk mengekor di belakang Mamat. Pintu depan ditutup kembali, meninggalkan warga lain yang makin penasaran di pekarangan.
Saat Mamat membuka pintu kamar belakang, Bu Tejo langsung tersentak mundur satu langkah. Tembok asap putih pekat yang menebarkan aroma kamfer menusuk hidung dan panasnya minyak kayu putih menyambar wajah Bu Tejo.
"UHUK! UHUK! Ya Allah... Ki Mamat, ini bau apa toh?! Pusing kepala saya!" seru Bu Tejo sambil menutupi hidungnya dengan kerudung kuningnya. Matanya seketika berair kencang.
"Jangan banyak mengeluh, Nyai Tejo!" bentak Mamat dengan suara menggelegar, membuat Bu Tejo terperanjat. Mamat duduk bersila di atas tikar pandan, tangannya mendekap gagang keris bengkoknya. "Bau yang menusuk hidungmu itu adalah Aroma Kemenyan Sewu Jagad! Bau itu sedang melunakkan ketegangan auramu dan mengusir jin-jin jahat yang menempel di pundakmu!"
Bu Tejo yang panik dan kepalanya mulai pusing akibat menghirup uap kapur barus bercampur obat nyamuk bakar, langsung percaya bulat-bulat. Penglihatannya yang kabur akibat air mata membuat sosok Mamat yang duduk di balik kepulan asap terlihat samar-samar dan sangat magis.
"I-Iya, Ki... Maafkan saya..." bisik Bu Tejo gemetar. Ia duduk bersimpuh di atas tikar, merapatkan tubuhnya karena takut. "Tolong saya, Ki... Suami saya belakangan ini suka pulang malam dan pendiam sekali. Saya takut dia kena pelet janda dari desa sebelah!"
Mamat memejamkan matanya rapat-rapat, merapalkan mantra ngawur favoritnya: "Niat ingsun matra mantra, kamfer putih obat nyamuk, suaminya Bu Tejo manut nurut, ampon digebuki emak-emak..."
Mamat lalu menyambar botol minyak kayu putih, menumpahkannya agak banyak ke telapak tangannya, lalu tanpa peringatan mendadak menempelkan telapak tangannya tepat ke dahi Bu Tejo!
PLAK!
"Aduh! Panas, Ki!" jerit Bu Tejo kaget. Sensasi panas membakar dari minyak kayu putih murni yang menempel di kulit dahinya membuat Bu Tejo makin yakin bahwa Mamat baru saja menyalurkan ilmu kesaktian energi dalam!
"Itu adalah proses penguncian rasa cinta suamimu!" seru Mamat dramatis. Tangannya lalu menyambar Keris Bengkok Brajamukti, mengacungkannya ke udara tepat di atas kepulan asap kamfer. "Pusaka ini telah menyedot aura jahat yang mencoba memisahkan keluargamu! Sekarang, serahkan sarana penyucianmu!"
Dengan tangan gemetar dan mata yang masih perih bercucuran air mata, Bu Tejo menyodorkan amplop putih berisi uang sajen beserta kantong kembangnya. "Ini, Ki Mamat... Tolong pastikan suami saya kembali lengket sama saya!"
Mamat menerima amplop itu, meraba ketebalannya dari luar—terasa ada tiga lembar uang kertas yang lumayan tebal. "Pulanglah, Nyai Tejo! Siramkan air remasan kembang ini di depan pintu rumahmu nanti malam, dan buatkan suamimu teh manis hangat. Aura Brajamukti akan bekerja!"
"Baik, Ki! Terima kasih banyak, Ki Sastrogati!" Bu Tejo bangkit berdiri dengan wibawa yang hilang sama sekali, berjalan sempoyongan keluar dari kamar karena kepalanya masih teler menghirup asap kapur barus.
Begitu Bu Tejo keluar dari pintu depan rumah dengan wajah berair mata dan dahi merah kepanasan akibat minyak kayu putih, warga yang menunggu di luar langsung mengerumuninya.
"Bu Tejo! Gimana di dalam?! Kok dahi sampeyan merah begitu dan matanya nangis?!" tanya Pak Sastro penasaran.
Bu Tejo mengusap dahinya sambil memegangi dadanya yang masih berdebar. "Luar biasa... Ki Mamat beneran sakti! Ruangannya penuh kabut ghaib baunya seperti pemakaman kuno! Dahi saya diusap pakai ilmu energi dalam, rasanya panas membakar! Kepala saya sampai teler kena aura sakti beliau!"
Mendengar pengakuan Bu Tejo, Pak Sastro dan warga lainnya makin histeris. Kepulan asap racun kamfer dan rasa terbakar minyak kayu putih murah di dahi Bu Tejo telah berubah menjadi bukti sah tentang ilmu kebal dan kesaktian Mamat di mata masyarakat Kalisari.
Di dalam kamar belakang, Mamat yang baru saja membuka amplop Bu Tejo tersenyum lebar melihat tiga lembar uang lima puluh ribuan bertengger manis. Seratus lima puluh ribu rupiah tambahan dalam hitungan sepuluh menit!
Mamat menyelipkan uang itu ke dalam saku sarungnya, mengusap Keris Bengkok Brajamukti yang tergeletak di sampingnya, lalu menghirup sisa asap kamfer sambil terbatuk-batuk kecil.
"Ternyata jadi dukun itu mudah," gumam Mamat penuh kemenangan. "Cukup modal kamfer dua bungkus, minyak kayu putih, sama muka tembok! Pasien berikutnya, silakan masuk ke dalam perangkap Ki Mamat!"