Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Jawaban di Depan Mata.
Zinnia berhenti beberapa langkah dari lift. Pintu itu sudah tertutup sepenuhnya.
"Gak apa-apa," pikir Zinnia. "Yang penting, aku udah tahu dia ada di sini. Nanti aku bakal cari waktu yang tepat buat ketemu dia."
Sementara itu, di dalam lift, Arvid hampir melangkah keluar untuk memastikan siapa perempuan yang baru saja dilihatnya. Namun, pintu lift telanjur tertutup.
“Bos?”
Panggilan Juki membuat Arvid menoleh.
“Anda baik-baik aja? Wajah Anda makin pucet. Waktu di Kalimantan kemarin, kondisi Anda juga makin buruk.”
Arvid tidak menjawab. Ia mundur, lalu menyandarkan punggung ke dinding lift. Tangannya kembali menekan dada, berusaha menenangkan detak jantungnya yang belum juga normal.
Sejak meninggalkan Zinnia di rumah sakit, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Ia ingin segera menemui perempuan itu dan memastikan apakah Zinnia memang perempuan yang bersamanya malam itu.
Namun urusan perusahaan selalu menyita waktunya. Bahkan selama di Kalimantan, beberapa kali ia merasa melihat sosok Zinnia di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Setiap kali diperhatikan, perempuan itu ternyata orang lain.
"Apa aku udah segila ini sampai lihat dia di mana-mana?" gumam Arvid dalam hati.
Arvid memejamkan mata, mengembuskan napas panjang.
Siang ini ia harus pergi ke restoran itu. Ia tidak bisa terus menunda pencarian tersebut.
“Bos,” panggil Juki lagi, kali ini lebih khawatir. “Anda yakin baik-baik aja?”
“Aku gak apa-apa.”
“Gak apa-apa gimana? Kondisi Bos makin parah. Kalo sampai tumbang, gimana sama perusahaan?”
Arvid membuka mata dan menatap asistennya.
“Aku cuma kurang istirahat.”
“Kalo memang cuma kurang istirahat, kenapa makan aja susah? Kemarin di Kalimantan, Bos bahkan hampir gak nyentuh makanan yang disiapin.”
Arvid terdiam. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Tubuhnya terasa semakin lemah, sementara pikirannya terus kembali kepada perempuan yang belum berhasil ditemukannya.
Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya daripada kondisi tubuhnya sendiri.
Bagaimana jika Zinnia memang perempuan yang dicarinya, tetapi ia terlambat menemukannya?
Arvid meremas jemarinya.
Siang ini, ia harus mendapatkan jawaban.
***
Pagi itu, Zinnia sedang memeriksa beberapa contoh desain di mejanya ketika Nita menghampirinya.
“Zinnia, kamu sudah siapin desain yang kemarin kita bicarakan?”
Zinnia mengangguk. Ia menunjukkan map berisi beberapa lembar sketsa dan foto purwarupa yang telah disiapkannya.
“Bagus. Bawa semuanya ke ruang rapat pukul sepuluh.” Nita melirik map itu sebelum melanjutkan, “Kamu juga perlu nyiapin presentasi. Jelasin konsep tiap desain, target konsumennya, material yang dipakai, dan kemungkinan pengembangannya untuk koleksi perusahaan. Jangan cuma jelasin keindahannya. Kita perlu tau apa desain itu layak diproduksi.”
Zinnia segera mengetik di ponselnya.
Baik, Bu. Apa ada koleksi tertentu yang jadi fokus rapat hari ini?
“Pengembangan koleksi berikutnya. Pak Arvid mau lihat beberapa alternatif sebelum keputusan dibuat. Jadi, pastikan kamu paham alasan di balik tiap pilihan desainmu.”
Nama itu membuat jari Zinnia terhenti sejenak.
Pak Arvid.
Sejak melihat seorang pria memasuki lobby tadi, nama tersebut terus mengganggu pikirannya. Ia belum mengetahui apakah pria itu benar-benar orang yang dicarinya. Sekarang, ia justru diminta menghadiri rapat yang melibatkan CEO perusahaan.
Zinnia menelan ludah, lalu kembali mengetik.
Baik, Bu. Akan saya siapkan.
“Kalo begitu, jangan telat.” Nita beranjak pergi.
Zinnia menatap map di hadapannya. Ia sudah berusaha meyakinkan diri bahwa pertemuan tadi mungkin hanya kebetulan. Namun, semakin banyak petunjuk yang muncul, semakin sulit baginya untuk mengabaikan kemungkinan tersebut.
Ia mengembuskan napas perlahan, merapikan seluruh berkas, kemudian kembali memeriksa materi presentasinya.
Apa pun yang terjadi nanti, ia tidak boleh kehilangan kesempatan hanya karena persoalan pribadi.
Pukul sepuluh kurang lima menit, Zinnia sudah berada di ruang rapat bersama Pak Damar, Laras, Nita, dan seorang staf pengembangan produk bernama Bima.
Ia meletakkan map desain di hadapannya, lalu menyiapkan ponsel untuk berkomunikasi jika diperlukan. Beberapa lembar sketsa dan contoh material tersusun rapi di atas meja.
“Untuk presentasi kali ini, kita akan menilai desain dari sisi konsep, karakter koleksi, dan kelayakan produksinya,” jelas Pak Damar. “Zinnia, nanti kamu bisa jelasin beberapa desain yang menurutmu paling siap dikembangin.”
Zinnia mengangguk.
“Pak Arvid dan Juki sedang menuju kemari,” tambah Laras sambil melihat jam tangannya.
Nama itu kembali membuat perut Zinnia terasa tidak nyaman. Belum sempat ia menenangkan diri, pintu ruang rapat terbuka.
“Selamat pagi,” ujar Juki.
Arvid melangkah masuk lebih dulu, Juki menyusul di belakangnya.
Zinnia mengangkat wajah. Dunia seolah berhenti sesaat. Pria itu.
Postur tegap, langkah tenang, dan garis bahu yang sejak tadi pagi terus terbayang di benaknya. Kali ini jaraknya jauh lebih dekat. Ia bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, meskipun ingatannya tentang malam di pantai masih terlalu kabur untuk memberikan kepastian. Jantungnya berdegup keras.
Arvid Danendra. Pria yang namanya baru saja disebut semua orang.
Apakah dia orang yang selama ini dicarinya?
Zinnia spontan meremas ujung map di pangkuannya. Ia ingin berdiri, ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah mengenali sosok itu, tetapi kakinya terasa sulit digerakkan.
Sementara itu, Arvid baru saja melewati ambang pintu ketika pandangannya menangkap seorang perempuan yang duduk di sisi meja. Langkahnya nyaris terhenti.
Perempuan itu kembali. Perempuan yang terus muncul dalam pikirannya beberapa hari terakhir.
Arvid mengangkat tangan, memijat batang hidungnya, lalu memejamkan mata sejenak.
"Sial," umpatnya dalam hati.
Belakangan ini, ia terlalu sering teringat pada perempuan dari pantai itu. Bahkan saat bekerja, wajah yang tak mampu diingatnya dengan utuh selalu muncul dalam benaknya. Sekarang, ia merasa melihat sosok yang sama lagi.
Apa sebenarnya yang salah dengannya?
“Pak Arvid?”
Suara Nita membuatnya membuka mata.
Perempuan itu segera mendekat setelah melihat wajah Arvid yang pucat. Ia mengamati wajah pria itu dengan cemas.
“Bapak baik-baik aja? Wajah Bapak pucet banget.”
“Aku gak apa-apa.”
Namun, ketika Nita memegang lengannya, Arvid refleks menepis tangan itu.
“Jangan.”
Nada suaranya terdengar lebih keras daripada yang ia maksudkan.
Nita tertegun.
Arvid sendiri tampak tidak menyadari betapa tajam reaksinya. Aroma parfum Nita yang cukup kuat membuat rasa mualnya semakin menjadi. Ia segera melangkah menuju kursinya tanpa memberikan penjelasan.
Beberapa orang di ruangan itu saling melirik.
Nita menurunkan tangannya perlahan. Rasa khawatir di wajahnya berubah menjadi keterkejutan, disusul rasa malu ketika ia menyadari semua orang melihat kejadian tersebut.
Ia sudah mengenal Arvid sejak kecil. Selama ini, pria itu memang tidak suka menunjukkan kelemahan di depan banyak orang. Namun, menepis tangannya seperti itu tetap terasa menyakitkan.
“Maaf,” ucap Arvid singkat setelah duduk. “Aku sedang kurang sehat.”
Nita memaksakan senyum tipis. “Nggak apa-apa. Kalo Bapak merasa gak nyaman, sebaiknya istirahat dulu.”
“Aku bisa ngikutin rapat.” Arvid membuka berkas di hadapannya, berusaha mengabaikan rasa mual dan keberadaan perempuan yang duduk beberapa kursi di seberangnya.
Namun, beberapa detik kemudian, pandangan Arvid kembali tertuju pada Zinnia.
Perempuan itu sedang menunduk, merapikan berkas di hadapannya. Jemarinya bergerak sedikit kaku, seolah berusaha menyembunyikan kegugupan.
Arvid mengernyit. Kali ini, ia tidak mungkin salah melihat. Perempuan itu adalah Zinnia, wanita yang beberapa waktu lalu ia bawa ke rumah sakit setelah terjatuh di restoran Aurelle.
Namun, mengapa setiap kali melihatnya, ingatannya selalu kembali pada perempuan di pantai malam itu?
Ada sesuatu pada Zinnia yang terasa begitu familiar. Bukan sekadar postur tubuh atau gerak-geriknya, melainkan perasaan ganjil yang terus mengusiknya sejak pertemuan pertama mereka di restoran.
Arvid menatapnya lebih saksama. Jadi, ini bukan halusinasi. Zinnia benar-benar ada di hadapannya.
Dan entah mengapa, semakin lama ia memperhatikan perempuan itu, semakin kuat keyakinannya bahwa Zinnia memiliki kaitan dengan kejadian malam yang selama ini berusaha ia ungkap.
“Pak, kita mulai?” tanya Pak Damar.
Arvid mengalihkan pandangan.
“Silakan.”
...🔸🔸🔸...
...“Jangan biarkan kesibukan membuat kita mengabaikan hal yang paling penting. Sebab, waktu yang hilang mungkin bisa diganti, tetapi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan belum tentu datang dua kali.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar