Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 (KASUS 1) SERANGAN GAIB KEPADA HARUMA
Keheningan di dalam ruang rapat utama lantai 2 gedung Satuan Reserse Kriminal terasa bagaikan jerat yang mencekik leher.
Darah kental berwarna kehitaman yang merembes dari rongga hidung, sudut mata, dan mulut Frida Valery membeku di atas keramik putih, menyebarkan bau amis yang menyengat berbaur dengan uap es yang perlahan-lahan menguap.
Kombes Supriyadi memegang pinggiran meja kayu jati dengan kedua tangannya yang gemetar tipis. Matanya yang biasa memancarkan wibawa kepolisian kini membelalak kaku, menatap jasad sekretaris pribadi yang baru saja tewas mengenaskan secara tak masuk akal sehat di hadapan mereka semua.
"A-apa yang baru saja terjadi ini...?!" gumam Kasat Reskrim dengan suara tercekat di tenggorokan. Wajah perwira menengah itu pucat pasi, matanya melirik ke arah plafon, seolah takut ada bahaya tak kasat mata yang akan menyambar kepalanya.
Di sudut lain ruangan, Budiarto—pengacara berjas mahal yang semula begitu angkuh—terduduk kaku di kursinya. Kacamata berbingkai emasnya melenceng ke bawah batang hidungnya, sementara kedua tangannya cemas meremas ujung jas wool-nya.
Sang Direktur Utama PT. Cipta Buana Investco di sebelahnya bahkan sudah bersandar lemas pada sandaran kursi, memegangi dadanya yang naik turun tak teratur oleh serangan panik yang luar biasa.
Mereka berdua menyaksikan sendiri bagaimana saksi kunci yang hendak menyebut nama sang Penguasa mendadak tewas tersiksa oleh kekuatan gaib yang tak tersentuh oleh akal sehat logis manusia.
Ipda Harumi melangkah tegap melangkahi genangan darah di lantai, berdiri tepat di hadapan Kombes Supriyadi dan Kasat Reskrim.
"Komandan," panggil Harumi dengan suara tegas, memecah kepanikan yang melumpuhkan ruangan. "Kejadian ini tidak boleh bocor satu patah kata pun keluar dari gedung ini."
Kombes Supriyadi menarik napas panjang, mencoba menguasai kembali kontrol emosinya sebagai perwira senior. "Maksudmu, Harumi...?"
"Kematian Frida Valery adalah serangan tindak kejahatan luar biasa—sebuah pembunuhan terencana menggunakan kekuatan rahasia untuk membungkam saksi kunci kepolisian," ujar Harumi dengan analisis hukum dan taktis yang amat tajam. "Jika berita bahwa seorang saksi tewas mengenaskan di dalam markas Polres sampai tercium oleh media massa atau publik, dampak kepanikan sosial akan sangat masif. Pihak musuh juga akan memanfaatkan celah itu untuk memutarbalikkan fakta dan menyerang kredibilitas kepolisian."
Kasat Reskrim mengangguk cepat, menyetujui ucapan Kanit Jatanras-nya. "Harumi benar, Komandan. Ini sudah masuk kategori krisis tingkat tinggi."
Kombes Supriyadi menatap jasad Frida di lantai, lalu mengedarkan pandangan matanya yang tajam kepada Budiarto dan para direksi perusahaan yang tampak ketakutan.
"Dengarkan saya baik-baik!" tegur Kombes Supriyadi dengan suara berat dan menggelegar, menunjuk Budiarto dan jajaran direksi. "Mulai detik ini, kejadian di dalam ruangan ini saya tetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa dengan Klasifikasi Rahasia Negara! Jika siapa pun di antara kalian yang berani membocorkan kejadian ini ke pihak luar, media, atau keluarga korban sebelum penyidikan resmi selesai, akan saya seret langsung menggunakan pasal pengkhianatan dan perintangan penyidikan tindak pidana berat!"
Budiarto menelan ludah dengan susah payah, mengangguk cepat dengan wajah pias. "S-siap, Komandan... Kami akan bungkam! Kami tidak tahu apa-apa!"
Harumi berbalik menatap Aipda Rudi yang berdiri siaga di dekat pintu. "Rudi! Sterilkan seluruh koridor lantai dua. Sita sementara semua ponsel pintar milik siapa pun yang berada di sekitar ruangan ini, termasuk rekaman CCTV koridor 30 menit terakhir. Amankan Budiarto dan para direksi ke ruang tahanan isolasi khusus di lantai bawah dengan pengawalan sangat ketat!"
"Siap, Bu Kanit! Segera dilaksanakan!" sahut Rudi penuh kedisiplinan, langsung mengawal Budiarto dan para direksi yang kini pasrah dituntun keluar ruangan tanpa berani memprotes sedikit pun.
Setelah seluruh pihak luar dikosongkan dari ruang rapat, Harumi memutar tubuhnya menghadap kakak sulungnya.
dr. Haruma sedang berlutut di samping jasad Frida, perlahan-lahan menutupi wajah jenazah wanita muda itu menggunakan kain serbet bersih.
Harumi mendekat, berlutut di samping kakaknya. Wajah polwan muda itu memancarkan keprihatinan yang mendalam.
"Kak Haruma..." panggil Harumi pelan.
Haruma menoleh, menatap mata adiknya. Walaupun matanya masih menyisakan duka atas kematian saksi kunci tersebut, raut wajah sang dokter forensik tampak sangat tegar dan tenang.
"Iya, Dek?" sahut Haruma lembut.
"Tolong amankan jasad Frida ke kamar mayat Dokpol Bhayangkara sekarang juga," pinta Harumi dengan intonasi penuh kepastian. "Jasad ini adalah bukti materiil terpenting kita saat ini. Kita butuh sampel jaringan otak dan pembuluh darahnya untuk melengkapi Visum kedua. Jangan sampai ada pihak luar yang menyentuh jasad ini ya, Kak."
Haruma mengusap bahu adiknya hangat. "Kamu nggak usah khawatir, Rumi. Kakak sendiri yang akan mengawal evakuasi dan melakukan pemulasaraan serta pengawetan jenazah Frida di laboratorium forensik."
"Makasih banyak ya, Kak," ujar Harumi tulus. "Rumi mau lanjut membongkar berkas digital di laptop Frida bareng tim siber. Nanti kalau prosedur pengawetan jenazah Kakak sudah selesai, langsung kabari Rumi ya."
"Siap, Adikku yang cantik. Kamu juga hati-hati di sini," pesan Haruma tersenyum lembut.
.....
.....
30 menit kemudian...
Sebuah ambulans khusus Dokpol Bhayangkara bergerak pelan menembus gerbang samping markas Polres menuju pekarangan belakang laboratorium forensik.
Bripda Bowo bersama dua petugas fasilitas medis dengan cekatan mendorong ranjang dorong berisi kantong jenazah hitam ke dalam koridor pemulasaraan.
dr. Haruma melangkah di samping ranjang dorong tersebut, tangannya memegang erat berkas rekam medis darurat.
"Bowo, tempatkan jenazah Frida Valery di Ruang Pemulasaraan Utama nomor 2," instruksi Haruma profesional saat mereka memasuki area laboratorium yang dingin dan hening.
"Siap, Dokter Haruma," sahut Bowo sigap. "Apakah tim asisten perlu menyiapkan instrumen bedah utuh untuk otopsi kedua siang ini, Dok?"
Haruma menggelengkan kepalanya perlahan saat mereka tiba di depan pintu kaca Ruang Pemulasaraan 2. "Belum, Bowo. Untuk tahap awal ini, saya hanya akan melakukan pembersihan luar, pengambilan sampel spesimen cairan cerebro-spinal, dan prosedur pengawetan (embalming) jaringan menggunakan larutan formalin khusus agar kondisi fisiologis jasad tidak membusuk."
Haruma menatap asisten mudanya itu dengan ramah. "Kamu tolong cetak ulang draf formulir permintaan visum lanjutan di ruang komputer depan, lalu siapkan tabung-tabung sampel mikrobiologi. Biar proses pengawetan jasad ini saya kerjakan sendiri dulu di dalam."
Bowo sempat ragu sejenak, menatap pintu ruangan yang agak temaram. "Dokter yakin mau sendirian di dalam? Suasana di kamar mayat siang ini rasanya agak lebih dingin dari biasanya, Dok."
Haruma tersenyum menenangkan, menepuk bahu Bowo. "Saya tidak sendiri, Bowo. Ada tugas profesional dan doa yang menyertai. Kamu fokus saja pada pencetakan berkasnya di depan ya."
"Baik, Dokter Haruma. Kalau butuh bantuan, panggil saya lewat intercom," pamit Bowo penuh hormat sebelum berbalik melangkah menuju lorong administrasi depan.
Sreeet... klak!
dr. Haruma mendorong pintu Ruang Pemulasaraan 2, membawa ranjang dorong masuk ke dalam ruangan berlantai keramik hijau steril tersebut.
Suara deru halus pendingin udara berpusar konstan di sudut plafon. Ruangan bernuansa serba hijau pupus itu dilengkapi oleh sebuah meja pemulasaraan stainless steel berdrainase khusus, lampu op-lamp gantung, serta deretan lemari kaca berisi cairan pengawet dan perlengkapan antiseptik.
Haruma membuka resleting kantong jenazah hitam itu perlahan-lahan. Wajah Frida Valery yang pucat kaku kembali terekspos di bawah pendaran cahaya lampu. Bekas noda darah kehitaman di sekitar hidung dan mulut wanita muda itu sudah mengering.
Haruma menarik napas dalam-dalam, merapikan apron hijau tebal dan memasang dua lapis sarung tangan karet steril di kedua tangannya.
"Kasihan sekali kamu, Frida..." bisik Haruma lembut seraya mengambil kain kassa yang dibasahi larutan antiseptik untuk membasuh bekas darah di wajah jenazah tersebut. "Di usia yang masih sangat muda, kamu harus menjadi korban dari ketakutan dan ketamakan orang-orang penyembah iblis itu."
Haruma memindahkan jasad Frida dari ranjang dorong ke atas meja pemulasaraan stainless steel dengan sangat hati-hati dan penuh rasa hormat. Ia mulai merapikan posisi tubuh jenazah, menyambungkan selang kanula steril untuk persiapan memasukkan larutan pengawet (embalming fluid) ke dalam pembuluh darah utama.
Namun...
Tepat di saat jemari Haruma baru saja hendak menjangkau botol cairan pengawet formalin di atas meja instrumen...
Dengan tiba-tiba...
Bzzzzt... tek!
Lampu op-lamp gantung yang menerangi meja pemulasaraan mendadak mati total!
Cahaya terang ruangan seketika padam, menyisakan pendaran remang-remang dari lampu pijar darurat di sudut plafon.
Srekkk...
Secara yang teramat sangat mendadak, suhu udara di dalam Ruang Pemulasaraan 2 itu anjlok drastis melebihi titik beku alami!
Lapisan kristal es tipis tampak merebak cepat di permukaan cermin dinding, meja stainless steel, dan ubin keramik lantai.
Hawa dingin yang menyergap kali ini sama sekali bukan dingin biasa—hawa es itu terasa amat sangat berat, memikul aroma busuk yang teramat pekat. Percampuran antara uap belerang, bangkai, dan minyak mayat hitam yang membakar hidung!
"Astagfirullahal'adzim...!" gumam Haruma terperanjat, napasnya membumbung menjadi uap putih tebal di udara.
Haruma memutar tubuhnya dengan sigap. Kedua tangannya menyilang di depan dada, memasang kuda-kuda perlindungan batin.
Dari arah rongga mulut dan hidung jasad Frida Valery yang terbaring kaku di atas meja...
Merembes keluar gumpalan kabut asap hitam pekat!
Gumpalan asap hitam itu tidak membumbung naik ke plafon, melainkan memusar liar di atas tubuh jenazah, membentuk wujud gurita gaib berserat-serat merah darah dengan puluhan cakar tajam di ujungnya.
Hawa kejahatan yang memancar dari entitas gaib itu begitu dahsyat hingga membuat piringan instrumen stainless steel di atas meja bergetar hebat menghasilkan suara "klang... klang... klang..." yang nyaring!
"Sihir perusak jasad...!" bisik Haruma, matanya berkilat tajam.
Sekte "THE ONE" rupanya tidak hanya mengirimkan sihir pembungkam untuk membunuh Frida di ruang rapat, tetapi juga telah menanamkan kutukan balasan (counter-curse) di dalam darah jenazah Frida!
Kutukan itu dirancang khusus untuk meledak dan memusnahkan siapa pun yang mencoba menyentuh atau memeriksa jasad sang saksi kunci!
Wuuuttt!
Gumpalan kabut hitam berserat merah itu meluncur deras dari atas meja pemulasaraan, menukik tajam langsung ke arah dada dan wajah dr. Haruma!
Ujung-ujung cakar gaibnya membentang lebar, siap merobek dan menyedot energi kehidupan sang dokter forensik!
Hawa dingin yang membekukan sempat melumpuhkan pergerakan fisik Haruma untuk sepersekian detik.
Dada Haruma terasa terhimpit batu raksasa, napasnya tercekat.
Namun, tepat sebelum cakar hitam berbau belerang itu menyentuh kulit wajah Haruma...
"HAAAAAH!!!~~~"
Sebuah raungan gaib yang teramat sangat megah dan berwibawa meledak dahsyat dari dalam tubuh dr. Haruma!
Wuuussssshhhhhh!
Selubung cahaya kuning keemasan meledak hebat dari dada Haruma, membentuk kubah perlindungan gaib yang memancarkan pendaran cahaya suci menyilaukan!
Benturan antara cakar hitam dengan kubah cahaya keemasan itu memicu dentuman gaib yang membuat dinding-dinding kaca kamar mayat bergetar keras!
Brakkk!
Gumpalan asap hitam itu terpental mundur tiga meter, meraung kesakitan saat serat-serat merahnya hangus tersambar cahaya keemasan.
Dari dalam pendaran cahaya keemasan di hadapan Haruma, wujud gaib Sekar Arum memancar utuh sempurna!
Bidadari bermahkotakan ronce melati putih itu berdiri melayang anggun di udara. Sepasang mata keemasannya memancarkan kemurkaan sakral yang teramat sangat luar biasa. Kemben sutra hitam yang dikenakannya berkilat-kilat oleh pendaran ayat-ayat perlindungan tauhid.
"Aku tidak akan membiarkan iblis mana pun menyentuh dan menyakiti Tuanku!!!~~~" gema suara Sekar Arum membelah keheningan ruangan, terdengar bagaikan dentuman genta perunggu keraton yang sangat megah.
"Sekar Arum...!" seru Haruma dengan napas lega, bersandar pada meja instrumen di belakangnya.
"Tetap di belakangku, Haruma!~~~" perintah Sekar Arum mantap.
Entitas iblis berbentuk gurita asap hitam itu kembali merapat, meraung-raung dengan suara melengking yang memecahkan telinga. Serat-serat merah darah di tubuhnya memanjang, berubah menjadi puluhan tombak hitam berduri yang meluncur bersamaan menyerang Sekar Arum dari berbagai penjuru ruangan!
Sssshhh... Wussshhh!
Sekar Arum tidak bergeming sedikit pun. Dengan gerakan tangan yang teramat sangat lincah, anggun, dan berkecepatan tinggi, Sekar Arum mengibaskan selendang sutra kuningnya ke udara.
Tebasan gelombang cahaya keemasan terpancar dari ujung selendang tersebut!
Pyar! Pyar! Pyar!
Setiap kali tebasan cahaya Sekar Arum menghantam tombak-tombak hitam berduri tersebut, senjata gaib milik sekte iblis itu seketika hancur lebur menjadi abu kelabu yang beterbangan di udara!
"Iblis suruhan yang hina!~" seru Sekar Arum seraya melayang maju menerjang ke tengah ruangan. "Kamu telah merusak raga manusia dan mencoba mencemari tempat ini!~"
Sekar Arum merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu menghentakkannya ke depan. Dari telapak tangannya, melesat aura keemasan bersisik emas yang menderum kencang, menggulung dan mengikat erat entitas gurita asap hitam itu di tengah udara!
Gerrrr... Hsssshh!
Entitas iblis itu menjerit histeris saat ikatan aura keemasan Sekar Arum meremukkan serat-serat kejahatannya. Hawa busuk belerang yang menyelimuti ruangan perlahan-lahan netral tersapu oleh semerbak keharuman wangi bunga melati dan cempaka suci yang memancar dari tubuh Sekar Arum.
"Hancurlah kembali ke kegelapan!~~~" tegas Sekar Arum dengan mata berkilat cahaya keemasan.
Bummm!!!
Dengan satu remasan gaib dari tangan Sekar Arum, entitas gurita asap hitam itu meledak total, musnah tak bersisa menjadi pendaran asap putih tipis yang lenyap di udara dingin ruangan!
Seketika itu juga, hawa es membekukan yang melingkupi Ruang Pemulasaraan 2 runtuh penuh. Lapisan es di dinding dan meja mencair seketika.
Bzzzzt... klak!
Lampu op-lamp gantung di atas meja kembali menyala terang benderang.
Deru halus pendingin udara ruangan kembali terdengar normal, dan suhu udara merambat naik menjadi sejuk dan nyaman.
Sekar Arum memutar tubuhnya yang melayang anggun, menundukkan kepalanya penuh takzim di hadapan Haruma.
"Iblis penanam kutukan itu telah hancur sepenuhnya, Haruma,~" ujar Sekar Arum dengan suara lembutnya yang merdu. "Jasad wanita muda ini kini sudah aman dari segala bentuk pencemaran sihir.~"
Haruma menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk menetralkan detak jantungnya yang sempat berdebar kencang. Ia mengusap keringat dingin di dahinya, menatap perewangan setianya dengan kedalaman rasa terima kasih dan kasih sayang.
"Terima kasih banyak, Sekar Arum..." ucap Haruma tulus, menyunggingkan senyuman bahagianya. "Kalau tidak ada bantuan dan perlindunganmu tadi, aku mungkin sudah terkena racun kutukan itu."
"Sudah menjadi kewajiban dan kehormatan bagiku untuk selalu menjaga keselamatan jiwa dan ragamu, Haruma,~" balas Sekar Arum lembut. "Sekte penyembah iblis itu sangat murka karena kejahatan mereka mulai kau dan Harumi bongkar. Berhati-hatilah selalu, Haruma.~"
"Iya, Sekar Arum. Aku dan Harumi akan selalu waspada," janji Haruma mantap.
Wujud gaib Sekar Arum perlahan-lahan melarut menjadi pendaran cahaya keemasan yang hangat, kembali masuk dan bersatu dengan lembut ke dalam kedalaman jiwa dr. Haruma.
Haruma berdiri tegap kembali di samping meja pemulasaraan stainless steel.
Ia menatap jasad Frida Valery yang kini terbaring tenang di bawah pendaran lampu op-lamp.
Kutukan hitam yang semula merayap di bawah kulit jenazah tersebut kini telah bersih total berkat pembersihan gaib dari Sekar Arum.
Haruma merapikan kembali apron hijaunya dan memasang sarung tangan steril yang baru.
Dengan ketelitian tingkat tinggi dan jemari tangan yang sangat stabil, dr. Haruma melanjutkan proses pengawetan jenazah (embalming) serta pengambilan sampel spesimen cairan otak Frida tanpa ada gangguan lagi.
.....
.....
Satu jam kemudian...
Proses pemulasaraan dan pengawetan jenazah Frida Valery telah selesai dikerjakan dengan sangat sempurna.
Jasad wanita muda itu telah dimasukkan ke dalam lemari pendingin (cold-storage) khusus bernomor registrasi rahasia di bawah pengawasan ketat Dokpol Bhayangkara.
Haruma melangkah keluar dari Ruang Pemulasaraan 2 menuju ke meja kerjanya di lorong depan. Bripda Bowo yang sedang mengetik berkas di meja komputer segera menoleh.
"Dokter Haruma!" panggil Bowo sigap. "Proses pengawetan jenazah Saudari Frida sudah selesai, Dok?"
"Sudah selesai sepenuhnya, Bowo," jawab Haruma dengan senyuman hangat dan profesional. "Jasad sudah dipindahkan ke lemar pendingin khusus. Tolong kunci akses ruangan itu dan pegang kunci fisiknya di brankas medis."
"Siap, Dokter!" jawab Bowo seraya menyerahkan lembaran kertas Visum lanjutan yang baru dicetak. "Ini draf laporannya, Dok."
Haruma menerima lembaran berkas tersebut, membubuhkan tanda tangan resmi beserta stempel basah dinas kepolisian.
Setelah menyelesaikan administrasi laboratorium, Haruma merogoh ponsel pintarnya dari saku jas laboratorium. Jemarinya yang lincah langsung mendial nomor Ipda Harumi.
Hanya dalam dua kali nada dering, suara Harumi menyahut antusias dari balik telepon.
"Halo, Kak Haruma?! Gimana di kamar mayat?! Kakak nggak apa-apa kan?!" panggil Harumi dengan nada suara yang sarat akan kecemasan.
Haruma terkekeh pelan, menyandarkan bahunya di dinding lorong yang sejuk. "Alhamdulillah Kakak aman total, Dek. Jasad Frida sudah selesai Kakak awetkan dan sudah terkunci aman di cold-storage khusus."
Di seberang sana, Harumi mendesah lega. "Alhamdulillah... Ya Allah, Rumi sempat cemas banget tadi, Kak. Firasat Rumi bilang pihak sekte itu pasti coba ngirim sihir balasan ke jasad Frida."
"Firasatmu seratus persen tepat, Rumi," cerita Haruma dengan nada suara santai namun penuh makna. "Tadi pas Kakak baru mau masukin cairan formalin, ada kutukan perusak jasad yang meledak dari darah Frida. Tapi tenang aja... Sekar Arum sudah memusnahkan iblis suruhan itu sampai tak bersisa."
"Masya Allah! Sekar Arum memang top banget!" puji Harumi gembira dari balik telepon. "Pinter banget Kakakku sama Sekar Arum!"
"Iya, Dek. Sekarang jasad Frida sudah bersih total dari pencemaran sihir dan sampel spesimen cairannya sudah Kakak amankan di botol steril," terang Haruma. "Kamu gimana di kantor? Ada temuan baru dari laptop Frida?"
"Banyak banget temuan gila, Kak!" sahut Harumi dengan intonasi misterius dan penuh semangat. "Tim siber baru aja berhasil membobol folder terenkripsi di laptop Frida. Di sana ada dokumen manifest dan rekaman percakapan suara yang menghubungkan aliran dana 50 miliar itu ke sebuah lokasi rahasia di pinggir kota!"
Haruma membelalakkan matanya pelan, antusias. "Lokasi rahasia di pinggir kota?!"
"Iya, Kak! Sebuah rumah makan tradisional elit dan tempat peristirahatan khusus para taipan!" terang Harumi mantap. "Besok pagi Rumi sama tim Jatanras bakal bergerak menyisir lokasi itu!"
"Mantap, Adikku!" puji Haruma tertawa senang. "Ya sudah, Kakak mau bersihkan diri dulu di ruang dokter, terus mau nyusul kamu ke kantor Satreskrim."
"Sip! Hati-hati di jalan ya, Kak Haruma sayang!"
"Siap, Rumi. Dahhh!"
"Dahhh Kakak!"
Klik.
Haruma mematikan sambungan teleponnya, menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling anggun.
Serangan gaib di ruang jenazah tadi tidak sedikit pun menggentarkan jiwanya.
Justru dengan musnahnya kutukan iblis tersebut dan teramankannya bukti fisik Frida, langkah Haruma dan Harumi semakin mantap dan tak terhentikan.
Esok hari, perburuan Ipda Harumi akan bergerak menembus sarang rahasia para taipan, membongkar tirai kegelapan berikutnya dari gurita kejahatan sekte iblis "THE ONE" di Tanah Jawa.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu