Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin mengganggu
"Ko bisa siluman itu tinggal disana?" Tanya Kaivalya
"Karena siluman itu awalnya manusia yang memakai pusaka, jadi siluman itu bisa bebas bersembunyi disana, dan di anggap sebagai manusia oleh kakek itu" jawab Altair
"Pantas saja setiap mandi disana Selalu merasa seperti sedang di awasi" ucap Lucas
"Memangnya auranya tidak terlihat?" Tanya Aariz
"Tidak, auranya netral, seperti manusia, jin itu pasti usianya sudah ribuan tahun" jawab Kaivalya
"Tapi dia baik" celetuk Lucas
"Berarti Om juga tahu tentang dia" ucap Kaivalya
"Iya, dia melindungi kawasan ini dari jin jahat" jawab Lucas
"Tapi semalam ada mahkluk jahat kesini, dia hanya keluar pas Maghrib dan berhenti pas adzan isya" ucap Kaivalya
"Itu sebabnya orang orang di kampung ini tidak keluar pas waktu suruf, atau menjelang Maghrib, karena bisa di culik makhluk itu" jawab Lucas
"Jadi orang orang di kampung ini sudah pada tahu semua?" Tanya Arthayasa
"Iya, kalau mau keluar malam, sehabis isya itu baru boleh, makanya Maghrib disini, para laki laki akan nunggu sampai isya di masjid, baru mereka pulang setelah shalat isya" jawab Lucas
"Hantu yang tubuhnya penuh luka cambukan ya?" Tanya Kaivalya
"Kamu pernah lihat juga?" Tanya Lucas
"Iya, tapi dia tidak masuk area villa, hanya di sekitar area pemandian ini dan kampung" jawab Kaivalya
Selesai makan mereka berjalan jalan di sekitar tempat pemandian yang cukup tersembunyi itu, Diandra memilih untuk menikmati air hangat itu di pinggiran pemandian di temani Nayana, Aariz dan Arthayasa memilih untuk turun dan mandi bersama Kaivalya, Altair dan Lucas.
••••••••••••
Tiga hari Kaivalya menginap di tempat itu, kejadian ketukan di pintu dan jendela rumah terus terjadi, dari menjelang Maghrib sampai isya. Aariz juga yang tadinya tidak percaya jadi merasa was was Karena tidak mau para wanita ketakutan.
"Apa perlu hantu itu di singkirkan? Sepertinya hanya buat teror saja untuk warga kampung ini" tanya Arthayasa yang sudah merasa geram karena Diandra mulai ketakutan.
"Gue juga nggak tahu, gue takut salah langkah dan malah membahayakan banyak orang" jawab Kaivalya
"Besok kita bicarakan ini dengan yang lain, kita minta Om Icang bicara baik baik pada sosok itu agar tidak menggangu warga kampung" ucap Aariz karena dia bisa memanggil Icang.
"Iya, kita coba baik baik dulu, mungkin sosok itu punya dendam dengan para warga kampung, siapa yang tahu" ucap Kaivalya
"Sekarang ngetuk pintunya ada suara tangisan juga, aku takut mas" keluh Nayana
"Apa perlu besok kita pindah ke villa saja?" Tanya Altair karena kamar lain di villa juga sudah selesai di renovasi.
"Kita harus tuntaskan masalah ini sebelum pulang bang, kalau di biarkan nanti dia malah menguasai lahan Om Lucas ini" jawab Kaivalya
"Bukankah ada sosok pelindung hutan yang ada di dalam batu itu, Lo nggak bisa ngomong sama dia Kai?" Tanya Aariz
"Iya Kai, coba bicara sama dia" ucap Arthayasa
"Masalahnya adalah, sosok itu sedang bertapa, tidak bisa di panggil, kalau di panggil mungkin dia juga akan marah" jawab Altair
"Ya sudah kalau begitu besok kita minta Om Icang atau Baharuddin urus sosok itu, apa maunya dia" ucap Kaivalya
Mereka memutuskan untuk tidur lebih cepat, karena tidak mau membuat para perempuan semakin cemas
Tepat pukul dua belas malam
Brak. Pletak. Pletak.
Suara gebrakan kembali terdengar, sekarang bahkan di iringi dengan suara lemparan seperti batu yang di lemparkan ke arah jendela dan pintu rumah itu.
"Astagfirullah.. kenapa sekarang malah di ganggu saat tengah malam juga" gumam Kaivalya terbangun.
Para perempuan masih terlelap tidur meski suara di luar cukup berisik, Aariz, Arthayasa dan Altair juga keluar ke ruang tengah untuk memastikan kalau suara itu dari arah luar.
"Sepertinya terornya semakin parah, sekarang tengah malam juga dia ganggu" ucap Aariz
"Kalian jaga para perempuan, gue akan keluar" ucap Kaivalya
"Gue ikut" ucap semuanya
"Kalau semuanya ikut siapa yang jaga mereka? Minta mereka tidur di satu kamar, supaya kita tidak kesulitan melindungi mereka" sahut Kaivalya
Dan jadilah mereka memilih untuk menempatkan para wanita di kamar Aariz yang terletak di ruang tengah, dan kamarnya tidak memiliki jendela
"Bismillahirrahmanirrahim"
Ceklek.
Kaivalya mulai membuka pintu rumah itu dengan perlahan, tapi sebuah tangan putih keriput menahan tangannya yang akan membuka pintu itu lebih lebar
Deg.
"Jangan dibuka, tutup lagi pintunya nak, dan shalatlah, dia hanya tidak suka ada yang melakukan ibadah di rumah ini, besok, carikan pakaian layak untuknya dan sumbangkan atas nama Laila Farhana Syahlan binti Muhammad Farhan, carilah gundukan tanah yang ada di ujung hutan dekat pohon jati berjajar tiga, itu makamnya dan do'akan dia disana" ucapnya dengan suara pelan dan sedikit serak
Kiavalya lalu menutup kembali pintu itu dengan jantung yang berdegup kencang, sosok yang dia lihat mengintip dari balik pintu adalah sosok Kakek yang ada di dalam batu besar di tengah kolam pemandian.
"Kenapa di tutup lagi?" Tanyakan Aariz
"Besok kita ke pasar kampung ini" jawab Kaivalya duduk di kursi ruang tamu dan mulai memikirkan apa yang di katakan sosok itu.
"Ngaji Yasin atas nama Laila Farhana Syahlan binti Muhammad Farhan" pinta Kaivalya segera ke kamar mandi untuk kembali wudhu
"Maksudnya apa sih?" Tanya Arthayasa
"Sudah turuti saja, Kaivalya pasti tahu sesuatu" bujuk Altair.
Akhirnya, dini hari itu Kaivalya lewati dengan mengaji dan shalat saja, sampai ketika dia dan teman temannya selesai membaca yasin, ketukan itu berhenti menjadikan suasana berisik yang sejak tengah malam terdengar, jadi sunyi kembali
"Alhamdulillah" ungkap semuanya karena para perempuan juga di bangunkan untuk ikut mengaji.
"Tidurlah, masih pukul dua pagi, nanti subuh aku bangunkan" ucap Kaivalya pada Diandra, begitupun Nayana juga mulai masuk ke kamar mereka masing masing.
"Kita begadang?" Tanya Aariz
"Iya, sampai besok gue kasih apa yang dia mau, gue akan tidur sampai sore sama Diandra" jawab Kaivalya
"Mau memangnya?" Tanya Altair
"Bercanda bang" jawab Kaivalya terkekeh
"Ke pasar mau apa?" tanya Arthayasa
"Beli pakaian" jawab Kaivalya
"Sepele tapi itu berharga untuk menutup auratnya" Gumam Altair
"Sepertinya dia juga meneror warga karena ingin di perhatikan, di urus makamnya dan di hadiahkan bacaan Al Qur'an" ungkap Aariz
"Mungkin iya, tapi para warga disini sudah keburu takut karena teror itu, apalagi tempat disini masih terlihat mistis, para penduduknya masih percaya dukun juga" jawab Kaivalya