Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Kesabaran
"Tuan, ini tidak profesional sekali! Anda memukul saya hanya karena anak cacat itu!" teriak Hendra histeris, meski tubuhnya masih tergantung di cengkeraman tangan Gabriel yang bagaikan besi panas.
Mendengar kata-kata kasar yang merendahkan itu terlontar lagi dari mulut ayah kandung Amara, Gabriel sama sekali tidak melunak. Sebaliknya, cengkeramannya justru semakin mengerat hingga napas Hendra tersengal-sengal.
Di belakang punggung Gabriel, Amara tersentak hebat. Tubuhnya bergetar semakin kencang, dan air mata menetes deras. Kata 'cacat' itu menusuk ulu hatinya, mengorek kembali luka batin yang selama belasan tahun dipelihara oleh keluarganya sendiri.
Gabriel melirik sekilas ke arah bahu belakangnya, melihat bagaimana Amara mencengkeram erat pakaiannya dengan pandangan kosong penuh luka. Hati Gabriel semakin terbakar oleh amarah yang sudah mencapai puncaknya.
"Cacat... kau bilang?" desis Gabriel dengan suara rendah yang menggetarkan seluruh ruangan.
Pria itu tidak lagi menahan diri. Dengan satu gerakan kasar, Gabriel melemparkan tubuh Hendra begitu saja hingga tersungkur keras membentur lantai marmer putih.
Brugh!
Hendra terbatuk-batuk, memegang dadanya yang sesak. Belum sempat ia mendongak, sepatu pantofel mewah Gabriel sudah menginjak dada pria paruh baya itu dengan kuat, menahannya agar tidak bisa bergerak.
"Asal kau tahu, bajingan tua," ucap Gabriel dingin seraya merendahkan tubuhnya, menatap lurus mata Hendra yang kini dipenuhi ketakutan luar biasa. "Di matamu dia mungkin tidak berharga. Tapi di mataku, setiap luka yang kau berikan padanya akan kubayar lunas dengan kehancuran seluruh garis keturunanmu."
Hendra menggeleng panik, rasa angkuhnya seketika menguap digantikan teror yang nyata.
"T-Tuan... kumohon... jangan hancurkan perusahaan saya..."
"Terlambat," potong Gabriel tanpa ampun.
Gabriel menegakkan kembali tubuhnya, lalu melambaikan tangan ke arah dua pengawal yang berdiri siaga di dekat pintu utama.
"Seret dia keluar dari penthouse-ku. Pastikan dia tidak pernah bisa menginjakkan kaki di kawasan ini lagi," perintah Gabriel tegas.
"Baik, Tuan!" sergap kedua pengawal itu langsung, menarik paksa tubuh Hendra yang meronta dan berteriak-teriak meminta ampun. Suara rintihan Hendra perlahan memudar seiring terseretnya pria itu keluar melewati koridor panjang.
Setelah keheningan kembali menguasai ruang tengah, Gabriel perlahan membalikkan tubuhnya. Tatapan tajam dan dingin di matanya seketika melunak saat melihat Amara yang berdiri mematung dengan isak tangis tertahan dan napas yang memburu.
"Maaf," ucap Amara dengan bahasa isyaratnya yang kaku, gerak jemarinya bergetar hebat penuh rasa bersalah dan ketakutan.
Gabriel yang tadinya berniat melangkah mendekat langsung menghentikan gerakan kakinya. Ia menatap tangan gadis itu, lalu menghela napas pelan dengan raut wajah menyesal.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," ucap Gabriel lembut, memberi tahu keterbatasannya dalam membaca bahasa isyarat secara fasih tanpa membuat Amara merasa kecil hati.
Mendengar itu, mata Amara semakin basah. Dengan cepat ia meraih buku catatan kecil yang selalu menggantung di genggamannya, menyambar pulpen, dan mencatat dengan goresan terburu-buru.
‘Maaf... karena aku, kau jadi repot dan marah.’
Amara menyodorkan buku itu dengan kepala tertunduk dalam, bersiap menerima amarah atau helaan napas kasar seperti yang selalu ia terima dari keluarganya setiap kali ia dianggap menjadi beban.
Namun, yang ia rasakan justru sepasang tangan hangat yang mendarat di kedua sisi bahunya, menariknya perlahan ke dalam dekapannya yang kokoh.
Amara terpaku. Napasnya tertahan.
"Kau tidak perlu meminta maaf untuk hal yang sama sekali bukan salahmu, Amara," bisik Gabriel tepat di dekat telinganya, menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang begitu kontras dengan kekejaman dunia luar.
Isak tangis Amara semakin menjadi saat mendengar bisikan itu. Pertahanan yang telah ia bangun rapat-rapat selama bertahun-tahun runtuh seketika dalam dekapannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang tidak menyalahkannya atas kekacauan yang terjadi. Tidak ada bentakan, tidak ada cacian, yang ada hanyalah kehangatan dan perlindungan nyata dari pria yang kini merengkuhnya erat.
Amara membenamkan wajahnya di dada bidang Gabriel, meremas kemeja pria itu dengan kedua tangan kecilnya yang gemetar hebat. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa sakit, trauma, dan ketakutan yang selama ini tertahan di dalam dadanya.
Gabriel tidak mengatakan apa-apa lagi. Pria itu membiarkan Amara meluapkan air matanya, sebelah tangannya mengusap punggung gadis itu dengan lembut dan penuh kesabaran, sementara tangan lainnya mendekap erat seolah ingin melindungi Amara dari seluruh dunia yang kejam.
"Menangislah sepuasmu," bisik Gabriel pelan di puncak kepala Amara. "Aku di sini. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti."