DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: JEJAK DI TEPI AMBANG
Sinar lampu gantung porselen di ruang tengah membias temaram di atas ubin semen koridor samping.
Dini dan Ranti berdiri berdampingan di belakangku, memandangi sebutir biji tanaman liar berlapis tanah merah basah.
Biji cokelat tua sebesar kelereng itu tergeletak segar tepat di sebelah ganjal kayu jati pintu samping rumah kami.
Aroma tanah basah yang agak amis kusam merembes tipis di sekitar ambang pintu kayu yang tertutup rapat.
"Bu... biji tanaman liar itu baunya persis sama dengan gumpalan tanah kemarin nggih?" bisik Dini menahan napasnya.
"Inggih, Din. Aromanya tanah merah basah yang pekat dan agak amis," sahutku berbisik pelan di depannya.
"Ranti takut kalau biji itu jatuh dari celah kawat besi ventilasi atas, Bu," cicit Ranti memegangi mukenanya.
"Mboten usah cemas, Ran. Terali kawat besi di ventilasi atas sudah dipaku rapat sama polisi," balasku menenangkan.
"Ibu mau mengamankan biji tanaman liar ini ke dalam wadah porselen mboten?" usul Dini menyodorkan cangkir.
"Iya, Din. Tolong ambilkan selembar kertas karton bersih dan cangkir porselen kecil lagi," perintahku pelan.
Dini bergegas ke dapur kecil, mengambil selembar kertas karton tebal dan cangkir porselen putih dari lemari.
Aku berjongkok perlahan di atas ubin semen tanpa menggeser selot besi atau ganjal kayu jati pintu samping.
Menggunakan ujung kertas karton tebal, kuambil biji tanaman liar berlapis tanah merah basah itu secara cermat.
Lapisan tanah merah pada permukaan biji cokelat itu terasa basah dan agak lengket di atas kertas karton.
"Tanah merah ini teksturnya pekat dan lembap, persis seperti tanah di pekarangan belakang sebelah," bisikku.
"Masukkan ke dalam cangkir porselen saja, Bu, supaya mboten tersenggol," ujar Dini memegang cangkir.
"Iya, Din. Kita simpan cangkir porselen ini di meja teras untuk diserahkan ke polisi," balasku setuju.
"Mba Dini tolong pegang cangkir porselennya baik-baik nggih," tambah Ranti mengingatkan kakaknya.
"Iya, Ran. Cangkir ini mboten bakal tersenggol atau jatuh kok," sahut Dini tersenyum mengusap bahu adiknya.
Kumasukkan biji tanaman liar berlapis tanah merah basah itu ke dalam cangkir porselen, lalu menutupnya rapat.
Ganjal kayu jati tebal di bawah pintu samping kupastikan kembali tertancap presisi dua putaran penuh dari dalam.
Pukul delapan malam lewat seperempat, deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar berhenti di teras.
Suara langkah kaki teratur melangkah menyusuri halaman teras depan rumah kami yang temaram.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan tangan di daun pintu kayu depan mengejutkan kami bertiga yang sedang duduk tenang di sofa.
Aku segera berdiri dari sofa kayu, melangkah menuju pintu depan tanpa menggeser kunci selot besi bagian atas.
"Sinten teng luar?" tanyaku penuh kewaspadaan dari balik daun pintu kayu yang tertutup rapat.
"Kulo, Bu Sari... Pak RT bersama Bripka Haryono," sahut suara Pak RT dengan nada tenang dari luar teras.
Aku menghela napas lega, segera memutar anak kunci kuningan dan menggeser selot besi dua kali.
Kreeek...
Daun pintu kayu terbuka perlahan, memperlihatkan Pak RT dan Bripka Haryono yang berdiri rapi di teras depan.
Bripka Haryono mengenakan seragam dinas cokelat, memegang koper besi tempat peralatan sampel di tangan kirinya.
"Selamat malam, Bu Sari," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan di ambang teras.
"Selamat malam, Pak Bripka, Pak RT. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku mengarahkan ke kursi rotan.
"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Kami mau menyampaikan perkembangan terbaru dari lapangan," ujar Bripka Haryono.
Pak RT dan Bripka Haryono duduk di kursi rotan teras, sementara Dini keluar membawa dua gelas air hangat.
Gelas porselen berisi air teh manis hangat itu diletakkan Dini secara perlahan di atas meja kayu teras.
"Matur nuwun sanget, Mbak Dini," ucap Pak RT tersenyum tipis menerima cangkir porselen dari Dini.
"Oh inggih, Pak Bripka... sore tadi kami menemukan sebutir biji tanaman liar berlapis tanah merah," terangku.
Kuserahkan cangkir porselen putih yang berisi biji tanaman liar berlapis tanah merah basah itu ke meja teras.
Bripka Haryono menerima cangkir porselen tersebut, lalu membuka penutup kertas karton memakai pinset besi.
Petugas kepolisian itu meneliti bentuk biji cokelat tua berlapis tanah merah basah di dalam cangkir porselen.
"Biji tanaman liar niki jenis biji pohon jarak liar yang banyak tumbuh di area perkebunan tua," terang Bripka Haryono.
"Tanah merah yang melekat pada permukaan biji niki teksturnya masih basah dan segar," tambah Bripka Haryono.
"Apakah biji tanaman jarak liar niki ada hubungannya sama lokasi penyisiran di hutan jati, Pak?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Di area perkebunan tua tengah hutan jati, pohon jarak liar memang tumbuh lebat," jawab Bripka Haryono.
"Bercak tanah merah pada biji niki bakal kami bawa ke laboratorium Polsek untuk diperiksa," sambung Bripka Haryono.
"Apakah proses pemeriksaan laboratorium itu butuh waktu lama, Pak Bripka?" tanya Dini menyimak.
"Mboten dangu, Mbak Dini. Hasil analisisnya bakal segera kami cocokkan sama sampel kain goni," jawab Bripka Haryono.
"Lalu pripun hasil penyisiran tim Polsek di area perkebunan tua itu, Pak Bripka?" tanyaku mengejar kepastian.
"Tim gabungan Polsek dan Polres tadi sore berhasil menemukan sebuah gubuk tua yang sempat ditempati," ungkap Bripka Haryono.
Dini dan Ranti yang berdiri di dekat ambang pintu depan seketika menahan napas mendengar penjelasan resmi itu.
"Gubuk tua di tengah kawasan perkebunan hutan jati nggih, Pak Bripka?" tanya Pak RT menatap penyidik.
"Inggih, Pak RT. Di dalam gubuk tua itu petugas menemukan bekas pijakan kaki berkerak tanah merah," terang Bripka Haryono.
"Petugas juga menemukan sisa pembungkus makanan kusam dan bekas ikatan tali karung goni di ubin tanah," tambah Bripka Haryono.
"Apakah Rian atau Bu Maya ditemukan di dalam gubuk tua itu, Pak Bripka?" tanya Dini memberanikan diri.
"Mboten ada, Mbak Dini. Gubuk tua itu sudah kosong saat tim penyisiran tiba di lokasi," jawab Bripka Haryono.
"Dari kondisi jejak tanah merah dan bekas ikatan itu, petugas memperkirakan gubuk tersebut baru saja ditinggalkan beberapa jam lalu," lanjut Bripka Haryono.
"Tim penyisiran sekarang meluas ke area lereng bukit di balik perkebunan tua itu," tambah Bripka Haryono menegaskan.
"Apakah area lereng bukit itu tempatnya sangat curam dan rimbun, Pak Bripka?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Medannya cukup berat, tapi tim penyisiran bergerak bersama warga setempat yang paham jalur," terang Bripka Haryono.
Aku mengelus dada perlahan, mencerna fakta resmi terbaru yang disampaikan Bripka Haryono di teras depan.
Penemuan gubuk tua di tengah hutan jati membuat dugaan tentang pergerakan Rian di kawasan perbatasan selatan terasa semakin kuat.
"Langkah Polsek dalam menyisir kawasan hutan jati itu sudah sangat terarah nggih, Pak," sahutku mengangguk mantap.
"Inggih, Bu Sari. Kami minta warga gang tetap tenang dan mboten perlu cemas berlebihan," pesan Bripka Haryono.
"Pasti, Pak Bripka. Kami warga gang terus mendukung prosedur resmi kepolisian," timpal Pak RT setuju.
Bripka Haryono merapikan pinset dan cangkir porselen ke dalam koper besi, lalu berdiri dari kursi rotan teras.
Pak RT dan Bripka Haryono berpamitan, melangkah keluar menyusuri jalan gang yang temaram di bawah hawa malam.
Aku dan Dini segera masuk ke dalam ruang tengah, memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh.
Pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit, hawa dingin lereng gunung makin pekat menembus ventilasi.
Aku, Dini, dan Ranti bersiap untuk tidur di kamar tidur utama seperti malam-malam sebelumnya demi keselamatan.
Lampu ruang tengah dan koridor samping tetap dibiarkan menyala terang untuk menerangi seluruh sudut rumah.
Ganjal kursi kayu jati dipasang kencang di belakang pintu kamar utama setelah kunci kuningan diputar dua kali.
Di atas tempat tidur, Dini dan Ranti berbaring merapat di bawah selimut tebal sembari mendengarkan keheningan luar.
"Bu... kalau gubuk tua di hutan jati itu baru ditinggalkan, berarti Rian masih ada di bukit nggih?" bisik Ranti.
"Polisi sedang menyisir area bukit itu bersama warga setempat, Ran. Biarkan polisi yang bekerja," jawabku pelan.
"Tapi biji pohon jarak liar tadi kok bisa jatuh tepat di sebelah ganjal pintu kita ya, Bu?" tanya Dini.
"Mungkin terseret angin senja dari arah pekarangan belakang rumah sebelah, Din," sahutku berusaha rasional.
"Ranti berdoa moga-moga mboten ada suara aneh lagi malam ini di lorong samping, Bu," bisik Ranti gemetar.
"Inggih, Ran. Mari kita baca doa bersama-sama sebelum tidur," balasku memegang jemari kedua anakku.
Kami bertiga membaca doa dalam bisikan pelan, merapatkan diri di atas kasur di tengah kegelapan kamar yang redup.
Pukul sebelas malam lewat lima belas menit, hembusan angin dingin bertiup kencang menampar dinding semen luar.
Aroma tanah basah yang agak amis kusam merembes tipis melalui celah jendela kayu kamar tidur utama.
Keheningan malam mendadak terasa makin kaku saat hawa dingin mengendap di sekitar ubin kamar kami.
Pukul sebelas malam lewat empat puluh menit, sebuah suara ketukan kaku terdengar dari luar lorong samping.
Tuk... srok...
Suara benturan kayu kaku yang disusul gesekan lambat itu terdengar jelas di balik dinding semen kamar.
Dini dan Ranti terbangun seketika, duduk tegak di atas kasur dengan mata terbuka lebar dalam kegelapan.
"Bu... Ibu dengar suara ketukan di balik dinding koridor samping itu mboten?" bisik Dini menahan napasnya.
"Dengar, Din. Tetap diam di tempat tidur dan jangan bergerak atau bersuara sama sekali," bisikku memegang bahunya.
"Suaranya persis dari arah luar jendela kayu koridor samping ya, Bu?" tanya Ranti gemetar ketakutan.
"Iya, Ran. Tetap tenang dan jangan ada yang mendekati pintu kamar," perintahku berbisik sangat pelan.
Suara gesekan tipis di luar jendela kayu koridor samping itu terulang dua kali di balik dinding semen.
Srok... srok...
Bunyi gesekan itu terdengar kaku, seperti benda keras bersalut tanah basah yang menggesek kusen kayu luar.
Aroma tanah merah basah yang menyengat mendadak menguat, merayap masuk memenuhi celah ventilasi atas kamar.
Hawa dingin yang menusuk tulang membuat bulu kudukku berdiri kaku di balik selimut kain tebal.
Namun, tidak ada suara langkah kaki atau ketukan tangan di daun pintu samping rumah kami.
Suara gesekan di luar jendela itu berhenti perlahan setelah berlangsung selama dua menit di balik tembok.
Keheningan malam kembali menyelimuti koridor samping, menyatukan hawa dingin lereng gunung yang pekat.
Aku mengembuskan napas perlahan, mengusap punggung Dini dan Ranti yang gemetar di sampingku.
"Suaranya sampun hilang kan, Bu?" bisik Ranti menatap wajahku dalam remang lampu tidur.
"Sampun, Ran. Suaranya sudah mboten ada lagi di luar," jawabku menenangkan jiwa anak bungsu saya.
"Ganjal kursi kayu di pintu kamar masih terpasang kencang kok, Mbak," bisik Dini menguatkan adiknya.
"Inggih, Din. Pintu kamar kita tetap kokoh terkunci rapat dari dalam," balasku mengangguk mantap.
Kami bertiga bertahan di atas tempat tidur kamar utama tanpa berani membuka pintu hingga fajar datang.
Cahaya fajar hari Jumat tanggal tiga belas membias perlahan menembus celah jendela kayu kamar tidur utama.
Burung gereja berkicau nyaring di dahan pohon mangga tua, menandai bergantinya malam menuju fajar hangat.
Pukul enam pagi, aku memutar anak kunci kuningan kamar utama dan melangkah keluar menuju dapur kecil.
Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, memandangi pintu samping yang masih tertutup ganjal kayu jati.
Ganjal kayu jati dan selot besi pintu samping masih terpasang kokoh dua putaran penuh dari dalam.
Aku mendekati jendela kayu koridor samping, mengintip melalui celah kaca kusam ke arah kusen kayu luar.
Di atas ambang bawah kusen kayu jendela luar, segores tanah merah basah menempel tebal.
Noda tanah merah basah itu bercampur serpihan sabut biji tanaman liar yang mengering kaku di permukaan kayu.
Coretan tanah merah berkerak sabut biji itu membentang sepanjang tiga jari di atas ambalan jendela luar.
"Bu... lihat di ambang bawah jendela luar itu! Ada noda tanah merah berkerak sabut biji!" bisik Dini pucat.
"Mbak Dini benar! Noda tanah merahnya membentang tebal di kayu jendela luar!" tambah Ranti gemetar.
Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, menatap noda tanah merah basah di ambalan jendela.
Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.
---