NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Hujan, Debu, dan Darah

Udara di lorong lantai tiga SMA Bina Bangsa selalu terasa pengap menjelang jam istirahat kedua. Bau semen tua, sisa cairan pembersih lantai yang murahan, dan aroma asam dari keringat bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada. Namun, bagi Rian, bukan bau itu yang membuatnya ingin berhenti bernapas. Melainkan tatapan mata dari tiga orang yang berdiri tepat di hadapannya, menghalangi satu-satunya jalan keluar dari koridor sempit tersebut.

"Hei, tong sampah berjalan. Telingamu budek, atau sengaja tidak mau dengar?"

Suara itu datang dari Bara. Posturnya tinggi besar, seragam putih abu-abunya sengaja dikeluarkan untuk memamerkan kaus hitam di dalamnya, lengkap dengan lencana geng motor lokal yang disematkan di kerah. Tangannya memegang sebuah botol mineral kosong yang sudah diremas setengah kusut.

Rian tidak mendongak. Pandangannya tetap terkunci pada ujung sepatunya yang sudah mengelupas di bagian sol—sepatu murah bermerek tiruan yang ia beli dari hasil mencuci piring di warung bakso pinggir jalan selama tiga minggu liburan semester lalu. Seragamnya sendiri tampak kebesaran, kusut, dan sedikit basah oleh keringat dingin di punggungnya. Sebagai seorang yatim piatu yang tinggal di sebuah kamar kos ukuran tiga kali tiga meter di kawasan kumuh pasar induk, Rian terbiasa menjadi titik terendah dari rantai makanan di sekolah elite ini.

Di SMA Bina Bangsa, anak-anak pejabat, pengusaha batubara, dan direktur bank berkumpul. Sementara Rian? Ia hanya siswa jalur beasiswa miskin yang masuk atas kuota amal sosial sekolah—sebuah status yang membuatnya menjadi target empuk perundungan tanpa ada guru yang peduli.

"Aku... aku tidak dengar, Bara," jawab Rian dengan suara serak, hampir seperti bisikan. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada pasir yang mengganjal di sana.

"Bagus. Berarti otakmu memang lambat merespons, pantas saja nilai ujian kemarin tetap saja pas-pasan meskipun kamu belajar sampai mati," cibir Kevin, anak wakil kepala sekolah yang selalu mengekor di belakang Bara, tertawa kecil sambil menyikut lengan temannya yang lain, Doni.

Doni maju dua langkah. Tanpa peringatan, tangannya melayang, mendorong bahu Rian dengan kuat hingga punggung pemuda itu membentur dinding beton koridor dengan bunyi brugh yang cukup keras.

"Uang iuran keamanan minggu ini mana?" desis Doni tepat di depan wajah Rian, aroma rokok mentol tercium kuat dari mulutnya. "Jangan bilang kamu mau mangkir lagi seperti bulan lalu. Mentang-mentang kamu yatim piatu, kamu pikir kami tidak bisa membuat hidupmu lebih menderita dari sekarang?"

Rian merasakan nyeri yang tajam menjalar di tulang belakangnya akibat benturan tadi. Ia menggigit bibirnya hingga terasa amis di dalam mulut. Rasa sakit ini bukan yang pertama. Setiap minggu, selalu ada saja alasan bagi mereka untuk memalak uang saku sementaranya—uang yang seharusnya ia pakai untuk membeli sebungkus nasi bungkus dan obat asma untuk malam hari.

"Aku... uangku sudah habis untuk bayar sewa kamar kos, Doni. Sumpah, aku tidak punya apa-apa lagi," rintih Rian, sengaja melemahkan suaranya agar mereka merasa di atas angin. Di dunia ini, jika kamu melawan dengan kata-kata, pukulan yang akan datang. Jika kamu melawan dengan fisik, cacat permanen atau DO dari sekolah yang menanti. Rian sudah belajar hukum rimba ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di gerbang sekolah ini.

"Alasan klasik! Anak miskin tukang bohong!" Bara mendengus jijik. Ia mengangkat botol plastik di tangannya, lalu menyiramkan sisa air liur dan air mineral hangat tepat ke atas kepala Rian.

Air itu mengalir membasahi rambut hitam Rian yang sudah agak panjang, menetes melewati kening, dan jatuh ke ujung hidungnya. Dingin, basah, dan sangat menghinakan. Beberapa siswa yang lewat di kejauhan langsung memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat. Ada yang berbisik-bisik sambil menunjuk, namun tidak satupun dari mereka yang berniat mendekat, apalagi menolong. Di mata mereka, Rian adalah parasit sosial yang memang layak diperlakukan seperti itu.

"Bersihkan sepatuku sekarang pakai tanganmu, atau aku pastikan besok kamu tidak bisa berjalan pulang ke kosanmu," perintah Bara dengan nada dingin, menunjuk ujung sepatu kulit mahalnya yang terkena sedikit debu lantai.

Rian perlahan-lahan menurunkan pandangannya. Di balik helai rambutnya yang basah dan menutupi mata, sepasang mata hitam pekat menatap lantai beton yang kotor. Tidak ada kilatan amarah yang meledak-ledak di permukaan. Tidak ada isak tangis keputusasaan yang biasa mereka harapkan dari drama murahan ini. Yang ada hanya kehampaan yang sangat dalam—sebuah titik didih emosi yang ditekan begitu kuat hingga berubah menjadi dingin yang membeku.

Sudah cukup, batin Rian dalam hati. Kalimat itu melintas begitu saja, sangat tenang, namun memiliki beban yang berat.

Sebelum Rian sempat berlutut pura-pura patuh seperti biasanya, sebuah suara mekanik yang sangat asing tiba-tiba berdering nyaring di dalam rongga kepalanya. Suara itu bukan suara manusia; rasanya seperti gema lonceng perunggu kuno yang berpadu dengan dengungan listrik bertegangan tinggi.

[ Ding! Deteksi emosi ekstrem dan ambang batas kesabaran maksimum tercapai. ]

[ Syarat mutlak terpenuhi. Sistem Kultivator Tunggal Universal mulai mengikat jiwa inang... ]

Rian tertegun sejenak di tempatnya. Tubuhnya mendadak kaku. Bisik-bisik suara Bara dan Doni di hadapannya tiba-tiba terdengar melambat, seolah ditarik ke dalam dimensi waktu yang berbeda.

"Hei! Kenapa malah melongo? Cepat bersihkan!" Bara, yang merasa diabaikan, mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan keras ke pipi kiri Rian.

Namun, sebelum telapak tangan itu menyentuh kulit Rian, dunia di sekeliling pemuda itu mendadak berhenti.

[ Sinkronisasi jiwa: 10%... 50%... 100%. ] [ Selamat, Rian. Anda telah dipilih sebagai satu-satunya makhluk di muka bumi modern ini yang mewarisi jalur Kultivasi Purba. ] [ Misi Pemula diaktifkan: Bertahan hidup dari penghinaan pertama dan mulailah proses Pembersihan Sumsum (Body Tempering). ]

Sebuah panel transparan berwarna biru keemasan melayang tipis tepat di depan mata Rian, memuat deretan teks yang hanya bisa dilihat oleh kesadarannya sendiri. Jantung Rian berdegup kencang, bukan karena ketakutan pada Bara lagi, melainkan karena kejutanyang luar biasa besar. Pikirannya yang tadinya kalut seketika menjadi sangat jernih, setajam silet.

Kultivasi? Sistem? Apakah aku sudah gila karena terlalu sering dipukul? batin Rian bertanya-tanya.

"Rian! Kau benar-benar mencari mati, ya!" bentak Bara yang kebingungan karena tangan kanannya yang diayunkan mendadak terasa berat, seolah tertahan oleh dinding tak kasat mata tepat sedepa di depan wajah Rian. Bara mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa ada keanehan yang tidak masuk akal. Udara di sekitar Rian mendadak terasa jauh lebih berat dan dingin secara drastis.

"Bara, ada apa dengan tanganmu?" tanya Kevin dengan nada heran, mendekat dan mencoba menarik lengan Bara. "Kenapa mukamu pucat begitu?"

Bara menelan ludah dengan susah payah. Ia menarik tangannya ke belakang dengan sekuat tenaga, dan benar saja, saat ia menariknya, ia merasa baru saja menerobos lapisan air yang sangat pekat. Napasnya mulai memburu. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menekan dadanya setiap kali ia mencoba menatap langsung ke arah mata Rian.

Rian perlahan menegakkan punggungnya yang tadinya membungkuk. Gerakannya tidak lagi terlihat rapuh. Ada sebuah keanggunan yang kaku dan tenang, terpancar dari caranya mengangkat dagu. Air yang menetes dari rambutnya tidak lagi terlihat menyedihkan; sebaliknya, pantulan cahaya lampu koridor di butiran air itu membuatnya tampak bagaikan bayangan gelap yang berbahaya.

"Kalian..." Suara Rian keluar, pelan, tetapi jauh lebih jelas dan bergema dibandingkan sebelumnya. Tidak ada lagi nada gemetar di sana. Yang ada hanyalah kejernihan mutlak yang membuat bulu kuduk Doni meremang seketika.

"Kalian sudah selesai?" lanjut Rian, menatap satu per satu wajah ketiga pemuda di depannya.

Doni mundur setengah langkah tanpa sadar. "Anak sialan ini... Kenapa gayanya jadi aneh? Bara, hajar saja langsung sampai babak belur!" teriak Doni untuk menutupi rasa takut yang tiba-tiba mencengkeram hatinya tanpa alasan yang jelas.

Bara, yang merasa harga dirinya sebagai penguasa lorong sekolah terinjak-injak oleh tatapan seorang budak, menggeram marah. Ia mengepalkan tangan kirinya, mengerahkan seluruh tenaga ototnya untuk melayangkan pukulan lurus ke arah hidung Rian. Pukulan khas anak berandalan yang sering memenangkan perkelahian jalanan.

Bagi Rian, gerakan pukulan itu kini terlihat sangat lambat. Di dalam retinanya, lintasan tangan Bara terdekomposisi menjadi garis-garis vektor yang mudah dibaca. Setiap kedipan otot bisep, pergeseran berat badan di kaki kanan, hingga arah angin yang terdorong oleh kepalan tangan itu, semuanya tertangkap dengan presisi tingkat dewa oleh pikirannya yang telah disinkronkan dengan sistem.

Terlalu banyak celah, pikir Rian dingin.

Tanpa perlu berpikir panjang menggunakan jurus rumit—karena ia memang belum tahu apa-apa tentang seni bertarung—Rian hanya menggerakkan tubuhnya secara naluriah, didorong oleh arus energi tipis yang mendadak mengalir dari perut bagian bawahnya (dikenal dalam sistem sebagai Titik Dantian).

Whush!

Kepalan tangan Bara melayang sia-sia, meninju angin kosong karena Rian melangkah sedikit ke samping dengan gerakan yang begitu mulus, seolah bayangannya baru saja bergeser.

"Apa?!" seru Bara kaget setengah mati. Pukulan sekuat itu biasanya langsung mendarat telak di wajah Rian.

Belum sempat Bara menarik kembali tangannya, Rian mengangkat tangan kanannya yang mengepal longgar, lalu mengetukkan ujung jari telunjuknya secara perlahan ke arah siku tangan Bara yang terulur.

Gerakan itu terlihat sangat sepele, seperti seorang guru yang sedang menegur murid yang salah menulis di papan tulis.

Namun, begitu ujung jari Rian menyentuh titik saraf di siku Bara, sebuah getaran energi kejut yang tak terlihat—manifestasi dari Qi tahap paling dasar—meledak keluar dari jari Rian.

Krrack!

Sebuah suara retakan kecil terdengar samar di antara tulang siku Bara. Seketika itu juga, seluruh lengan kanan Bara mati rasa, lemas tak bertulang, dan terkulai ke bawah dengan sudut yang tidak wajar.

"Arghhhhh—!"

Jeritan kesakitan yang memekakkan telinga meledak dari mulut Bara. Wajahnya langsung pucat pasi seketika, butiran keringat sebesar biji jagung bercucuran membasahi dahinya. Ia jatuh berlutut di lantai semen koridor, memegang lengan kanannya yang tergantung lunglai dengan tangan kirinya yang lain.

Kevin dan Doni terbelalak lebar, mata mereka hampir keluar dari soketnya. Jantung mereka seakan berhenti berdetak. Mereka sama sekali tidak melihat Rian memukul, menendang, atau melakukan perlawanan kasar. Rian hanya... menyentuh siku Bara dengan ringan.

"Bara! Kau... apa yang kau lakukan pada tangan Bara, bajingan?!" maki Doni dengan suara bergetar ketakutan, mundur hingga punggungnya menabrak dinding seberang.

Rian tidak menjawab. Ia perlahan menurunkan tangannya, lalu menarik napas panjang. Sensasi hangat menyebar dari dadanya ke seluruh anggota tubuhnya. Rasa lelah, nyeri bekas pukulan tadi pagi, dan rasa lapar di perutnya seolah lenyap dalam sekejap, digantikan oleh aliran tenaga yang membuat tubuhnya terasa sangat ringan.

[ Misi Pemula Selesai! ] [ Mendapatkan hadiah: Pembersihan Sumsum Tahap Pertama (Body Tempering - Level 1). ] [ Kekuatan fisik inang meningkat 3x lipat dari manusia normal. ]

Arus informasi itu berkelebat di dalam benaknya. Rian menatap kedua tangannya sendiri. Kulitnya yang tadinya kusam kini tampak sedikit lebih cerah, dan otot-otot di lengannya, meskipun tidak terlalu besar, memadat dengan serat otot yang sangat padat dan efisien.

Ia melangkah maju satu langkah ke arah Doni dan Kevin. Langkah kakinya terdengar sangat pelan di lantai, namun setiap ketukan sepatu itu beresonansi langsung di dalam dada kedua pemuda di depannya, membuat lutut mereka terasa lemas seketika.

"Kalian..." Rian berbisik pelan, namun suaranya terdengar begitu berat di telinga mereka. "Mulai hari ini, waktu istirahat di koridor ini adalah milikku. Jangan pernah berdiri di jalanku lagi."

Kevin menelan ludah dengan susah payah, air matanya nyaris tewas karena teror psikologis yang luar biasa kuat. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas, Kevin langsung membungkuk, merangkul tubuh Bara yang masih mengerang kesakitan di lantai, lalu menyeret temannya itu kabur terbirit-birit menuruni tangga darurat dengan langkah yang kacau balau.

Koridor lantai tiga seketika menjadi sunyi senyap. Angin sisa hujan sore hari berhembus pelan dari jendela ujung koridor, membawa aroma petrikor yang menyegarkan.

Rian berdiri sendirian di tengah lorong yang sepi. Ia mendongak menatap langit sore melalui jendela kaca besar di ujung lorong. Langit tampak kelabu berarak, tetapi di balik awan tebal itu, bias sinar matahari terakhir mulai menembus keluar dengan gagahnya.

Di dunia modern yang kejam, penuh dengan uang, kekuasaan, dan orang-orang yang menginjak yang lemah, Rian tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ini baru hari pertama. Dan ia, seorang yatim piatu pendiam dari sudut kota yang kotor, baru saja melangkah keluar dari bayang-bayang.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!