Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJUAL JIWA DEMI RUPIAH
# PELET LAKNAT 2
## Bab 8: Menjual Jiwa Demi Rupiah
Langkah kaki Jaka terasa amat berat, seolah-olah terbelenggu oleh rantai besi tak kasat mata yang melilit kakinya saat ia menyusuri keheningan lorong kamarnya. Jarum jam dinding tua di sudut ruangan terasa berdetak jauh lebih kencang dari biasanya, berpacu sengit dengan detak jantungnya yang bergemuruh gelisah.
Dengan napas memburu, Jaka langsung meraih dompet kusam dari saku celananya. Tanpa ragu, ia menumpahkan seluruh isinya ke atas seprei tempat tidur: hanya ada empat lembar uang lima puluh ribuan kusam dan beberapa keping koin yang bergemerincing samar. Setelah dihitung berulang kali dengan jemari yang gemetar, nominalnya hanya genap mencapai dua ratus lima ribu rupiah.
"Hah... cuma segini?! Mana cukup!" seru Jaka frustrasi sembari meremas rambutnya kuat-kuat.
Rasa panik mulai menguasai benaknya. Ia mendadak bangkit dari tepi ranjang, melangkah terburu-buru menghampiri lemari pakaian kayunya. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di kepalanya: ia masih memiliki celengan rahasia yang sudah lama tak tersentuh. Harapan kecil menyala di dadanya. Ia sangat berharap tabungan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit itu bisa menutupi kekurangan uang yang diminta Kiki.
Dengan jemari yang gemetar, Jaka menggeledah tumpukan pakaian di dalam lemarinya, membongkar lipatan baju hingga ke sudut paling dalam. Sampai akhirnya, jemarinya menyentuh benda plastik keras.
Ia menarik keluar sebuah celengan plastik berbentuk ayam jago berwarna merah menyala.
"Ini dia! Semoga... semoga isinya cukup buat memenuhi syarat dari Kiki!" seru Jaka seraya tersenyum lebar, menatap celengan itu seolah-olah memegang kunci penyelamat harga dirinya.
Tanpa basa-basi lagi, Jaka berlari kecil menuju dapur untuk mengambil sebilah pisau dapur tajam. Pisau itu akan ia gunakan untuk membelah celengan plastiknya. Dengan langkah terburu-buru, ia kembali lagi ke kamar dan langsung merobek bagian perut celengan ayam jago tersebut tanpa ampun.
CRAK!
Wadah plastik itu terbelah dua. Deretan uang kertas yang terlipat rapi serta tumpukan koin langsung berhamburan memenuhi lantai kamarnya. Dengan napas memburu dan mata berbinar penuh harapan, Jaka berlutut. Lembar demi lembar uang kertas ia ratakan, dikelompokkan sesuai nominal, lalu dihitungnya satu per satu dengan amat teliti.
Jaka sempat kaget dan terbelalak menatap tumpukan uang di lantai. Setelah dijumlahkan dengan sisa uang di dompetnya, total tabungan yang terkumpul hanya sebesar satu juta delapan puluh ribu rupiah.
Nominal itu masih jauh dari kata cukup. Hal itu membuat pikiran Jaka semakin kalut dan tidak tenang, sementara dorongan obsesi gila di dadanya kian membesar menguasai akal sehatnya.
"Hah! Masih belum cukup juga?!" seru Jaka panik. Ia bangkit berdiri dari duduknya, meremas rambutnya yang berantakan, lalu berjalan bolak-balik mengelilingi kamarnya yang sempit.
"Aku butuh satu juta lagi... dari mana aku harus cari kekurangannya?! Kalau aku jual motor, nanti gimana aku berangkat kerja?" seru Jaka gusar, napasnya memburu kian tak beraturan.
Ia menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan, memegangi kepalanya yang makin berdenyut kencang.
"Tidak... tidak! Aku harus cari jalan lain!" gumam Jaka tegas pada dirinya sendiri, sementara matanya bergerak liar menatap keluar pintu kamar—menerobos kegelapan lorong rumahnya yang sepi.
"Ini nggak bisa! Aku tidak mungkin minta sama Ibu, Ibu pasti bertanya padaku untuk apa! Dan kalau dia tahu uangnya aku pakai buat pergi ke dukun, Ibu pasti marah besar!" gerutunya seraya duduk di tepian ranjang, meratapi dirinya yang tak mampu mengembalikan harga dirinya.
"Aku tidak mungkin mencuri uang Ibu!" Jaka menjeda kalimatnya, mencoba menepis pikiran gilanya.
Namun, bayangan penghinaan Dea, rasa tebal di pipinya pasca-ditampar, dan gelak tawa ledekan teman-temannya kembali meracuni pikirannya. Rasa malu itu membakar habis sisa rasa bersalah di dadanya.
Karena sudah dibutakan oleh obsesi gila dan egonya yang membara, Jaka benar-benar gelap mata. Akal sehatnya lenyap, digantikan oleh kelicikan yang muncul tiba-tiba demi memuaskan egonya. Tanpa rasa bersalah, ia memberanikan diri untuk menggeledah isi kamar ibunya—seorang wanita tua yang selama ini membanting tulang mencari nafkah hanya sebagai penjual sayuran keliling.
Dengan melangkah mengendap-ngendap dan mengontrol tarikan napasnya, Jaka perlahan mendorong pintu kamar sang ibu yang tidak terkunci. Lantai keramik itu berdecit pelan di bawah pijakan kakinya yang gemetar.
Di dalam remang-remang lampu kamar, ia menatap sosok ibunya yang terlelap pulas. Tanpa membuang waktu, Jaka melangkah perlahan menuju lemari kayu tua di sudut ruangan. Jemarinya yang dingin mulai menarik pintu lemari pelan-pelan, mencari tabungan atau perhiasan apa saja milik sang ibu demi memenuhi dahaga obsesinya.
Dan pada akhirnya, jemari Jaka menemukan sebuah kotak beludru merah kusam di balik tumpukan kain. Begitu dibuka, berkilat samar sebuah cincin emas—satu-satunya peninggalan almarhum sang ayah yang masih disimpan rapat oleh ibunya hingga saat ini.
"Nah... ini dia! Bisa aku jual!" gumam Jaka dalam hati, matanya berbinar licik seraya bergegas mengantongi cincin tersebut ke dalam saku jaketnya.
Sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, langkah Jaka sempat tertahan. Ia mematung sejenak, menatap lekat raut wajah ibunya yang tampak makin renta dalam lelapnya.
"Maafin Jaka, Bu... Jaka melakukan ini demi urusan harga diri Jaka. Nanti kalau urusan Jaka sudah selesai, Jaka berjanji akan mengembalikan cincin Ibu," gumamnya sangat lirih, berbisik pada keheningan.
Ia memutar tubuhnya, melangkah keluar pelan-pelan, lalu kembali menutup pintu kamar sang ibu tanpa menimbulkan suara sedikit pun.