Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 30
Brak!
Aidil menggebrak meja makan dengan sisa tenaganya, berdiri membusungkan dada di hadapan Stela.
"Stop menyalahkan Zivana!" bentak Aidil, suaranya melengking sarat penyesalan yang membakar jiwa.
"Khaisar dan Amora ingat semuanya, Stela! Mereka ingat bagaimana kamu meninggalkan mereka saat Amora masih menyusu! Kamu pergi mengejar mimpi mu yang tidak jelas itu, tidak pernah menanyakan kabar mereka, bahkan tidak peduli saat mereka sakit!"
Stela mendengus sinis, mengibaskan tangannya meremehkan. "Itu kan masa lalu! Aku masih muda saat itu, aku butuh aktualisasi diri! Lagipula sekarang aku sudah kembali, kan? Aku mau memperbaiki semuanya! Tapi Zivana sudah terlanjur mencuci otak mereka!"
Aidil tertawa sumbang, sebuah tawa pahit yang terasa sangat miris. Ia menatap Stela dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan rasa jijik yang luar biasa.
"Zivana tidak pernah mencuci otak siapa pun," desis Aidil, melangkah mendekati Stela hingga wanita itu terdesak ke tepi meja.
"Zivana tidak pernah mengajari mereka membencimu. Zivana justru yang memeluk mereka saat mereka menangis merindukanmu. Dia yang menempelkan plester saat lutut Khaisar berdarah, dia yang menunggui Amora semalaman saat demam tinggi! Kamu ke mana saat itu, Stela? Kamu ke mana?!"
Stela tertegun sejenak oleh gertakan Aidil, namun rasa gengsi dan sifat manipulatifnya dengan cepat mengambil alih. Ia membusungkan dadanya, menunjuk perutnya sendiri yang masih rata.
"Aku di sini sekarang! Dan di dalam perutku ini ada darah dagingmu yang baru!" seru Stela dengan suara melengking menantang.
"Kalau anak-anakmu yang dulu tidak bisa diatur karena sudah diracuni Zivana, biarkan saja! Nanti kalau anak ini lahir, aku akan tunjukkan bagaimana cara membesarkan anak yang benar!"
"Kamu benar-benar tidak punya hati..." bisik Aidil geleng-geleng kepala. Air mata keputusasaan menetes di pipinya yang tirus.
"Anak-anakku membenciku, orang tuaku membuangku, Zivana pergi membawa seluruh kebahagiaanku... Dan aku harus terjebak dengan wanita iblis sepertimu..."
Stela menyunggingkan senyum kemenangan yang amat dingin. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Aidil, berbisik lembut namun menusuk hingga ke tulang.
"Kamu yang memilih jalan ini, Aidil. Ingat, minggu depan kita menikah. Didik kembali anak-anakmu itu untuk menghormatiku sebagai calon istrimu. Jika tidak... foto dan video kita malam itu akan sampai ke tangan seluruh relasi bisnismu besok pagi."
Stela membalikkan badan, melangkah dengan santai menuju kamar utama lantai atas, meninggalkan Aidil yang tersungkur berlutut di atas marmer dingin. Di keheningan malam itu, bayangan senyum tulus Zivana berkelebat di benak Aidil, sebuah kehangatan yang telah ia hancurkan sendiri demi neraka yang kini membelenggu hidupnya.
Dua minggu berlalu bagaikan mimpi buruk yang lambat bagi Aidil, namun menjadi awal kebebasan yang hakiki bagi Zivana.
Hari itu, Pengadilan Agama Jakarta Selatan menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah ikatan yang dibangun di atas kebohongan. Papa Bagas benar-benar membuktikan ucapannya, beliau mengerahkan tim pengacara terbaik keluarga untuk mengawal proses perceraian ini agar selesai secepat mungkin, tanpa perlu menghadirkan Zivana sama sekali ke persidangan. Kehadiran Zivana diwakilkan sepenuhnya oleh kuasa hukumnya demi menjaga ketenangan batin wanita itu di Yogyakarta.
Di dalam ruang sidang yang dingin dan terasa mencekam, Aidil duduk di meja tergugat. Tubuhnya tampak menyusut drastis dalam dua minggu terakhir. Wajahnya pucat, lingkaran hitam menempel tebal di bawah matanya, dan kemeja jasnya tampak melonggar.
Di sebelah Aidil, Stela duduk mendampingi dengan gaun ketat dan riasan tebal. Wanita itu terus memegangi lengan Aidil dengan erat, bukan untuk memberikan ketenangan, melainkan untuk memastikan pria itu tidak kabur dari cengkeramannya. Matanya memancarkan rasa puas dan kemenangan yang tak lagi disembunyikan.
Aidil terus menoleh ke pintu masuk dengan tatapan liar dan berharap keajaiban datang, membayangkan sosik Zivana melangkah masuk. Namun, hingga sidang dimulai, pintu itu tetap tertutup rapat.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan palu hakim ketua menggema keras, memecah keheningan ruangan.
"Memutuskan, mengabulkan gugatan cerai dari Pihak Penggugat, Zivana Putri, terhadap Tergugat, Aidil Bagas secara in absentia. Dengan ini, perkawinan antara Penggugat dan Tergugat dinyatakan putus karena perceraian," ucap Hakim Ketua dengan suara berat yang mantap.
Suara palu yang menghantam meja persidangan terasa seperti godam besi yang memukul dada Aidil hingga hancur berkeping-keping.
Napas Aidil tertahan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak, menetes melintasi pipinya yang tirus. Sah. Zivana resmi bukan lagi istrinya, bahkan tanpa memberi kesempatan padanya untuk melihat wajah wanita itu untuk yang terakhir kali.
"Sidang dinyatakan selesai dan ditutup."
Para hakim bangkit meninggalkan ruangan. Berbeda dengan Aidil yang hancur, Stela justru menghela napas lega dan menyunggingkan senyum lebar.
"Akhirnya..." bisik Stela manja di telinga Aidil, mengelus bahu pria itu.
"Kamu sudah resmi duda, Sayang. Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi pernikahan kita. Kita harus segera menikah setelah ini, Aidil."
Aidil menepis tangan Stela dengan kasar, melompat dari kursinya dan berlari kecil menghampiri pengacara Zivana yang sedang merapikan berkas di meja penggugat. Stela yang terkejut langsung menyusul dengan langkah sergap, menetak tumit sepatunya di lantai marmer.
"Pak! Tolong, Pak!" cegat Aidil dengan suara serak bercampur isak tangis yang pecah. Pria itu gemetar hebat, menahan lengan baju pengacara mantan istrinya.
"Dimana Zivana, Pak?! Kenapa dia tidak datang sama sekali?! Tolong beri tahu saya dia ada di mana sekarang!"
Pengacara Zivana menarik tangannya pelan namun tegas, menatap Aidil lalu melirik Stela yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah datar tanpa simpati.
"Klien kami tidak perlu hadir, Pak Aidil. Semua proses sidang sudah diwakilkan penuh kepada kami," jawab sang pengacara dingin.
"Dan sesuai amanat Ibu Zivana, kami tidak akan pernah memberi tahu keberadaan beliau kepada Anda."
"Saya mohon, Pak! Saya butuh bicara sama Zivana!" raung Aidil histeris, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Saya mau minta maaf! Saya mau jelaskan semuanya! Rumah saya seperti neraka, anak-anak membenci saya... Saya tidak bisa hidup tanpa Zivana, Pak!"
"Aidil! Apa-apaan sih kamu ini?!" bentak Stela emosi, menarik paksa lengan Aidil agar berdiri tegak. Wajah cantiknya memerah dipenuhi angkara murka.
"Ingat statusmu! Kamu itu calon suamiku! Jangan bikin malu merengek-rengek mengejar perempuan miskin itu di depan umum!"
Pengacara Zivana hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran menatap pasangan di hadapannya.
"Semua sudah terlambat, Pak Aidil," potong pengacara Zivana tegas.
"Anda sendiri yang memilih melangkah ke neraka itu bersama wanita di sebelah Anda. Ibu Zivana sudah menutup buku tentang Anda seutuhnya. Tolong hormati keputusan hukum ini dan jangan pernah cari beliau lagi."
Tanpa menunggu balasan, pengacara itu melangkah pergi meninggalkan ruang sidang.
Aidil runtuh seketika. Ia jatuh berlutut di atas lantai marmer pengadilan yang dingin, mengabaikan Stela yang terus mengomel dan mencengkeram bahunya. Pria itu meremas rambutnya sendiri seraya meraung sejadi-jadinya.
"ZIVAAA! ZIVAA, MAAFKAN AKU!" teriak Aidil histeris, suaranya menggema memilukan di ruangan kosong itu.
"TOLONG KEMBALI, ZIVA... AKU MOHON..."
"Diam, Aidil! Berdiri!" bentak Stela seraya menyeret lengan Aidil tanpa rasa iba.
"Ayo pulang dan siapkan berkas pernikahan kita!"
Tidak ada balasan dari keheningan gedung pengadilan. Di belahan kota lain, Zivana sudah melangkah jauh menatap masa depan yang cerah, sementara Aidil menyeret kakinya yang lemas resmi terikat dalam sangkar neraka bersama Stela.
jdi laki kok banci amat😅😅😅
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu