Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Anindya merasakan sesuatu yang aneh begitu melangkah masuk dapur.
Bukan hal besar. Tidak ada yang berubah secara kasatmata. Teh Lilis tetap mengaduk sambal, Mbak Sari tetap memotong bawang, Jaka tetap menyalakan kompor dengan wajah mengantuk. Tapi udaranya lain, seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan orang-orang yang sedang membicarakan sesuatu, lalu mendadak diam begitu pintu terbuka.
Ia mengenal rasa itu. Dulu, di toko roti, rasa yang sama datang menjelang hari ia dipecat: tatapan yang buru-buru berpindah, tawa yang berhenti di tengah, dan keheningan yang terlalu sopan.
Dadanya mengencang sebelum ia sempat menyuruhnya tenang.
"Pagi, Teh," sapanya.
"Eh, pagi, Nin!" Teh Lilis menoleh terlalu cepat, tersenyum terlalu lebar. "Udah sarapan?"
"Udah."
"Bagus, bagus."
Anindya mengenakan apronnya sambil menatap punggung Teh Lilis yang tiba-tiba sangat sibuk dengan sambal. Mungkin ia hanya kurang tidur. Ia menggeleng pelan, meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi Dimas, yang biasanya sudah melontarkan satu lelucon sebelum Anindya sempat menaruh tas, pagi itu hanya mengangguk singkat dari balik penggorengan. Matanya tidak bertemu mata Anindya. Dan Rafi, yang biasanya nyerocos tentang apa pun, mendadak berjalan sangat hati-hati di dapur, seperti seseorang yang membawa nampan penuh gelas di lantai yang licin.
"Mas Rafi, kenapa?" tanya Anindya, ketika Rafi lewat di belakangnya untuk ketiga kalinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Eh? Nggak apa-apa! Beneran nggak apa-apa!" Rafi menjawab terlalu cepat, lalu kabur ke ruang depan seperti dikejar sesuatu.
Anindya menatap pintu yang masih bergoyang itu, dan perasaan tidak enaknya bertambah.
---
Sebenarnya semuanya dimulai dari hal sepele.
Rafi tidak pernah berniat menyebarkan apa pun. Ia hanya terlalu penasaran, terlalu ember, dan terlalu sering merasa bahwa menyimpan rahasia sendirian adalah beban yang tidak adil. Jadi hari Minggu, ketika ia bertemu Yoga untuk makan bakso, ia bercerita. Hanya sedikit, kata Rafi dalam hati. Cuma fakta: *Mas Reyhan sama Anin makan berdua di dapur.*
Yoga, yang polos dan tidak pernah bisa menyimpan apa pun, bercerita pada Bayu. Bayu hanya mengangguk dan tidak berkomentar. Tapi Yoga juga bercerita pada Jaka, karena Jaka kebetulan menanyakan kenapa Yoga kelihatan gelisah. Jaka menggeleng dan bilang, "Jangan dibahas."
Sayangnya, Teh Lilis kebetulan sedang berada di warung kelontong sebelah, membeli minyak goreng, ketika Rafi dan Yoga lewat sambil berbisik. Dan Teh Lilis, yang memiliki telinga seperti antena parabola, tidak pernah melewatkan kata-kata seperti *Mas Reyhan* dan *Anin* dan *berdua* dalam satu kalimat.
Begitulah kerikil itu menggelinding.
---
Jam sebelas siang, ketika piring-piring Senin menumpuk, Yoga datang membawa nampan ke bak cuci dengan ekspresi seseorang yang sedang memikirkan sesuatu sangat keras.
"Mbak Anin."
"Iya, Mas Yoga?"
"Mbak... bener ya Mas Reyhan suka sama Mbak?"
Anindya membeku. Sarung tangan kuningnya masih penuh busa, dan sendok yang ia pegang jatuh kembali ke bak dengan bunyi nyaring.
"Apa?"
"Kata Rafi..."
"Yoga."
Suara itu datang dari belakang, rendah dan tegas. Mbak Sari berdiri di ambang dapur dengan pisau di tangan dan tatapan yang membuat Yoga langsung mengecil dua ukuran.
"Eh, Mbak Sari..."
"Bawa nampannya ke depan. Sekarang."
"Iya, Mbak!"
Yoga kabur. Dapur mendadak sepi. Teh Lilis berpura-pura sangat sibuk dengan panci. Dimas menatap wajan seolah isinya adalah sesuatu yang sangat menarik. Mbak Sari meletakkan pisaunya perlahan, melepas penutup kepalanya, dan menatap seluruh dapur satu per satu.
"Dengar semua." Suaranya tidak keras, tapi setiap kata menancap. "Ini dapur, bukan pos ronda. Siapa yang mulai ngomongin orang, hentikan. Siapa yang denger, jangan nyebarin. Kalau ada yang mau cari bahan obrolan, silakan cari di luar jam kerja."
Tidak ada yang menjawab.
"Paham?"
"Paham, Mbak," jawab semua orang hampir bersamaan, dengan nada anak sekolah yang baru ditegur guru.
Mbak Sari mengangguk, memakai lagi penutup kepalanya, dan kembali ke talenan. Tapi sebelum ia melangkah pergi, ia berhenti di dekat Anindya dan berkata sangat pelan, nyaris tanpa menggerakkan bibir.
"Nin. Istirahat nanti, ke belakang. Saya mau bicara."
---
Bangku plastik di belakang dapur itu sekarang terasa jauh lebih sempit dari biasanya.
Mbak Sari duduk dengan lutut sedikit terbuka, kedua tangan di paha, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat hal-hal seperti ini terjadi. Anindya duduk di seberangnya, jari-jarinya saling meremas.
"Mbak, saya nggak..."
"Saya tahu." Mbak Sari memotong tanpa kasar. "Saya nggak nuduh kamu apa-apa. Saya cuma mau kamu denger satu hal."
"Iya, Mbak."
"Di dapur, omongan itu lebih cepat dari api. Dan lebih susah dipadamkan." Mbak Sari menatap lurus, matanya tajam tapi tidak galak. "Saya udah enam tahun di sini. Saya liat orang masuk, orang keluar. Dan tiap kali ada omongan kayak begini, yang kena duluan itu selalu yang paling lemah. Bukan yang paling salah. Yang paling lemah."
Anindya menelan ludah. Ia tidak bisa menyembunyikan getaran di ujung jarinya.
"Saya nggak tau apa yang terjadi antara kamu sama Mas Reyhan," lanjut Mbak Sari. "Mungkin nggak ada apa-apa. Mungkin ada. Saya nggak mau tahu. Tapi kamu harus hati-hati. Jangan kasih orang alasan buat ngomong."
"Saya nggak ngapa-ngapain, Mbak." Suaranya pecah di ujung, dan ia membenci itu. "Saya cuma kerja. Saya cuma... makan. Itu aja."
"Justru itu." Mbak Sari menghela napas, dan untuk sesaat wajahnya melunak, seperti seseorang yang sedang melihat dirinya sendiri di masa lalu. "Orang nggak butuh alasan buat ngomongin kamu. Mereka cuma butuh celah."
Anindya menunduk. Ia ingin membantah, ingin berkata bahwa ia hanya bekerja, hanya mencuci piring, hanya makan telur dadar gosong dengan seseorang yang kebetulan sedang lapar. Tapi ia tahu penjelasan semacam itu hanya akan terdengar seperti pembelaan. Dan ia sudah pernah menjelaskan dirinya pada orang yang tidak ingin mendengar. Hasilnya selalu sama.
"Iya, Mbak. Saya ngerti."
"Bagus." Mbak Sari berdiri. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar tanpa menoleh. "Dan Nin. Kamu nggak salah apa-apa. Saya pegang kata-kata saya soal itu."
Ia pergi.
Anindya menatap telapak tangannya yang masih berbalut sarung tangan kuning, dan untuk pertama kalinya, benda sederhana itu terasa agak berat. Ia tidak tahu apakah itu karena sarung tangan itu mengingatkannya pada seseorang, atau karena ia mulai sadar bahwa kebaikan kecil pun bisa jadi bahan bakar sebuah gosip.
---
Sore itu, ketika jam empat tiba dan hujan tidak turun, Reyhan berdiri di pintu belakang dengan kunci mobil di tangan, seperti kemarin lusa.
"Anin."
"Iya, Mas?"
"Mau saya antar?"
Anindya berhenti. Di balik bahu Reyhan, ia bisa melihat Rafi mengintip dari pintu dapur dan langsung menarik kepalanya kembali. Dari kejauhan, terdengar bisikan samar yang bisa jadi hanya imajinasinya.
*Jangan kasih orang alasan buat ngomong.*
"Nggak usah, Mas. Terima kasih. Saya naik angkot aja."
"Angkotnya jauh."
"Nggak apa-apa, Mas. Saya udah biasa."
Reyhan menatapnya sebentar. Ada sesuatu di wajahnya, bukan kecewa, bukan marah, tapi sesuatu yang lebih sulit dibaca, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa pintu yang biasanya terbuka kini tertutup tanpa alasan yang jelas.
"Oh." Hanya itu. "Hati-hati di jalan."
"Iya, Mas. Terima kasih."
Anindya melangkah pergi. Di belakangnya, Reyhan berdiri diam cukup lama, kunci mobil terkepal di tangannya. Ia tidak mengerti kenapa penolakan sepelan itu terasa seperti sesuatu yang lebih besar. Ia hanya tahu, dengan kejelasan yang tidak ia inginkan, bahwa baru dua hari lalu seseorang tertawa di dalam mobilnya, dan sekarang mobil itu terasa sangat luas.
Di dalam dapur, Teh Lilis berbisik pada Rafi dengan suara yang tidak seharusnya bisa terdengar sampai pintu belakang.
"Tuh, kan, pilih kasih. Masa cuma Anin yang ditawarin tumpangan?"
Dan Anindya, yang belum cukup jauh, mendengar setiap kata.
---
Angkot sore itu penuh, bau hujan dan keringat dan gorengan dari plastik yang dipegang seorang ibu di sebelahnya.
Anindya duduk di pojok dekat jendela dengan tas dipeluk di dada, menatap jalanan yang bergerak mundur. Ia sudah menahan diri sejak dari warung. Menahan di bak cuci, menahan di lorong, menahan ketika mendengar kata *pilih kasih* dari seseorang yang beberapa hari lalu menyodorkan teh hangat untuknya. Tapi di tikungan kedua, saat angkot melambat di lampu merah dan seorang anak kecil di seberangnya melambai padanya sambil tertawa tanpa alasan, sesuatu di dadanya patah.
Air matanya jatuh begitu saja, diam-diam, tanpa suara.
Ia buru-buru menunduk, berpura-pura mencari sesuatu di tas. Tapi bahunya bergetar, dan ibu di sebelahnya, yang membawa kantong gorengan, menatapnya sebentar tanpa bertanya apa-apa. Lalu ibu itu merogoh kantongnya, mengambil sepotong pisang goreng yang masih hangat dengan tisu, dan menyodorkannya pelan tanpa berkata sepatah pun.
"Makan, Neng. Biar nggak lemes."
Anindya menatap pisang goreng itu, lalu ibu itu. Matanya makin basah, tapi kali ini ia tersenyum, kecil dan gemetar. "Terima kasih, Bu."
"Sama-sama."
Hanya itu. Tidak ada pertanyaan, tidak ada penghiburan berlebihan. Hanya pisang goreng hangat di dalam tisu, dari seorang perempuan asing yang mengerti bahwa kadang orang tidak butuh jawaban, hanya sesuatu yang bisa digenggam.
Anindya menggigitnya pelan, dan di antara manis pisang dan asin air matanya, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa lebih ringan sekaligus lebih berat.
Ia tidak sedang sendirian di dunia ini. Dan itu justru yang paling menakutkan, karena kalau ia mulai berharap, ia akan punya sesuatu untuk hilang lagi.
Bersambung ke Bab 7..