NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Plak!

Arini memukul lengan Adrian dengan cukup keras.

"Jangan bicara sembarangan di depan anak kecil!" omel Arini kepada putranya.

Adrian mengusap lengannya yang sakit sambil menatap ibunya dengan bingung.

"Lalu anak siapa ini Ma? Kenapa dia makan di meja keluarga kita?" tanya Adrian masih tidak paham.

Arini menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.

"Ini Lula, dia bukan anak haram papamu, dia adalah anak yang menyelamatkan nyawa Mama kemarin."

Adrian mengerutkan keningnya.

"Menyelamatkan nyawa Mama? Dari apa?"

"Mama kemarin kena serangan jantung di depan kantor, dan Lula yang menolong Mama."

Adrian menatap Lula dengan tatapan yang sangat meremehkan.

"Ma, anak kecil ini bahkan tingginya tidak sampai sepinggangku, bagaimana dia menolong Mama?"

"Mama tidak peduli kamu percaya atau tidak, yang jelas mulai hari ini Lula akan tinggal di sini."

Adrian menghela nafas kasar.

Dia adalah orang yang sangat logis dan tidak suka hal-hal yang tidak masuk akal.

Baginya anak kecil ini pasti cuma alat dari seseorang yang ingin memanfaatkan kebaikan ibunya.

"Ma, kita tidak tahu asal-usulnya, bisa saja dia mata-mata dari pesaing bisnis Papa," tuduh Adrian lagi.

Baskoro yang dari tadi diam akhirnya ikut bicara.

"Sudahlah Adrian, biarkan saja anak itu di sini, ibumu sangat menyukainya."

"Tapi Pa, perusahaan kita sedang di ambang kehancuran, kita tidak punya waktu mengurus anak pungut," bantah Adrian keras kepala.

Kata-kata anak pungut itu membuat gerakan tangan Lula terhenti.

Dia menunduk dan meletakkan sendoknya perlahan.

Lula sudah sering mendengar kata itu dari orang-orang panti asuhan dulu.

"Maaf Paman galak, Lula memang cuma anak pungut," ucap Lula dengan suara bergetar.

Lula menatap Adrian dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca.

"Tapi Lula janji tidak akan merepotkan, kalau Lula disuruh pergi Lula akan pergi."

Hati Arini seakan diiris mendengar ucapan sedih anak itu.

"Lula sayang, kamu tidak akan pergi ke mana-mana, ini rumahmu sekarang," ucap Arini sambil memeluk Lula.

Arini lalu menatap Adrian dengan tatapan membunuh.

"Minta maaf pada Lula sekarang juga, Adrian!" perintah Arini tegas.

Adrian membuang muka.

"Aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya bicara fakta," elaknya gengsi.

Meski begitu Adrian sebenarnya merasa sedikit bersalah melihat mata anak itu berkaca-kaca.

Dia tidak benci pada anak-anak, dia hanya sedang stres berat memikirkan masalah perusahaan.

Di tengah ketegangan itu tiba-tiba hidung Lula mengendus udara.

Mata Lula terpaku pada tas kerja berwarna hitam yang dibawa oleh Adrian.

Lula melihat ada asap abu-abu tipis yang keluar dari dalam tas kerja itu.

Asap abu-abu itu tidak sepekat kabut kematian, tapi itu adalah tanda nasib buruk yang akan segera datang.

"Paman galak," panggil Lula pelan.

Adrian menoleh dengan wajah masih kesal.

"Namaku Adrian, bukan paman galak."

"Paman Adrian, di dalam tas itu ada kertas jahat," ucap Lula sambil menunjuk tas kerja Adrian.

Adrian dan Baskoro saling berpandangan dengan bingung.

"Kertas jahat apa maksudmu?" tanya Adrian tidak sabar.

"Asapnya warna abu-abu bau gosong, kalau kertas itu ditandatangani Paman dan Kakek akan menangis besar," jelas Lula polos.

Wajah Baskoro tiba-tiba berubah tegang.

"Adrian, apa yang ada di dalam tasmu itu?" tanya Baskoro menuntut.

Adrian membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map merah.

"Ini dokumen kontrak dari investor yang bersedia menyelamatkan proyek Sudirman kita," jawab Adrian.

"Mereka baru saja mengirimkannya pagi ini untuk segera Papa tanda tangani."

Baskoro mengulurkan tangannya mengambil map merah itu.

Ini adalah satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan.

"Tunggu Pa, jangan bilang Papa percaya omongan anak kecil ini?" tanya Adrian tidak percaya.

"Dia bahkan tidak bisa membaca dokumen bisnis," tambah Adrian lagi.

Baskoro menatap map itu dengan ragu.

Insting bisnisnya yang sudah terasah puluhan tahun tiba-tiba merasa ada yang janggal.

Terlalu aneh ada investor yang tiba-tiba datang menolong di saat mereka sedang sangat terdesak.

Baskoro membuka map itu dan mulai membaca halaman demi halaman dengan teliti.

Ruang makan itu seketika menjadi sunyi senyap.

Hanya terdengar suara kertas yang dibalik oleh Baskoro.

Adrian menunggu dengan tidak sabar sambil sesekali melirik sinis ke arah Lula.

Lula mengabaikan tatapan itu dan kembali memakan ayam panggangnya dengan tenang.

Lima menit berlalu.

Wajah Baskoro yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah padam karena marah.

Tangan Baskoro bergetar memegang lembar terakhir dari dokumen itu.

"Sialan!" umpat Baskoro dengan keras memecah keheningan.

Adrian terkejut melihat reaksi ayahnya.

"Ada apa Pa? Apa syaratnya terlalu berat?" tanya Adrian panik.

Baskoro melempar dokumen itu ke meja tepat di depan Adrian.

"Baca pasal delapan belas di halaman terakhir itu, baca dengan teliti!" perintah Baskoro dengan suara bergetar.

Adrian segera mengambil dokumen itu dan membaca bagian yang ditunjuk ayahnya.

Mata Adrian membelalak lebar.

"Jika proyek gagal dalam tiga bulan, seluruh aset Grup Lentera akan disita sebagai jaminan mutlak."

Adrian membaca kalimat kecil yang disembunyikan di antara paragraf panjang itu.

Jantung Adrian berdetak sangat cepat.

Ini bukan kontrak investasi melainkan jebakan untuk merampas seluruh perusahaan keluarganya.

Jika tadi ayahnya langsung menandatangani dokumen ini karena terdesak waktu maka tamatlah riwayat Grup Lentera.

Adrian perlahan menurunkan dokumen itu dan menatap ayahnya.

"Mereka sengaja menjebak kita," bisik Adrian dengan suara gemetar.

"Ya, dan kita hampir saja masuk ke dalam kandang singa," balas Baskoro sambil mengusap wajahnya kasar.

Baskoro dan Adrian kemudian secara bersamaan menoleh ke arah gadis kecil yang sedang duduk di kursi makan.

Lula sedang menjilat sisa bumbu ayam di jarinya dengan santai.

Gadis kecil ini baru saja menyelamatkan aset triliunan rupiah milik keluarga Ayodhya.

Dan dia melakukannya hanya dengan melihat tas kerja.

Arini tersenyum bangga melihat reaksi suami dan anak sulungnya.

"Sekarang kalian percaya kan kalau Lula ini anak yang spesial?" sindir Arini telak.

Adrian menelan ludah dengan susah payah.

Ego dan logikanya hancur berantakan di hadapan anak berumur lima tahun ini.

Baskoro menatap Lula dengan pandangan yang kini penuh rasa hormat.

Pria paruh baya itu berjalan mendekati Lula dan berjongkok di samping kursi makannya.

"Lula, terima kasih," ucap Baskoro dengan tulus.

"Kamu baru saja menyelamatkan masa depan keluarga kami."

Lula tersenyum cerah menampilkan deretan giginya yang kecil.

"Sama-sama Kakek," jawab Lula polos.

Wajah Baskoro langsung berubah masam mendadak dipanggil kakek.

"Panggil aku Papa, aku belum setua itu," protes Baskoro.

Lula memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Papa? Berarti Lula sekarang punya Papa dan Mama?" tanya Lula dengan mata berbinar.

Arini mengangguk cepat dan ikut memeluk Lula.

"Iya, mulai hari ini namamu adalah Lula Ayodhya, putri bungsu keluarga ini."

Adrian yang masih berdiri mematung hanya bisa menghela nafas pasrah.

Dia harus mengakui bahwa keberadaan anak ini mungkin bukan sesuatu yang buruk.

"Adrian, kamu tidak mau menyapa adik perempuanmu?" goda Arini.

Adrian memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.

"Aku masih belum sepenuhnya percaya pada hal mistis semacam itu," elak Adrian gengsi.

Adrian berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan.

Namun sebelum benar-benar keluar dari pintu, Adrian menoleh ke belakang sekilas.

"Pastikan dia dihabiskan susunya, anak seusia dia butuh banyak kalsium," ucap Adrian dingin lalu menghilang di balik pintu.

Arini dan Baskoro tertawa kecil mendengar ucapan putra sulung mereka.

Mereka tahu Adrian sangat keras kepala tapi tidak pernah bisa jahat pada keluarga.

Lula tertawa ikut bahagia karena dia kini punya keluarga yang hangat dan makanan yang enak.

Nasibnya telah berubah sepenuhnya hari ini.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!