Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pintu itu berderit pelan saat terbuka.
Bau antiseptik yang tadi menusuk di koridor, di ruangan ini bercampur dengan bau bunga yang sudah agak layu di vas meja. Tirai jendela setengah terbuka, cahaya sore masuk menyelinap, jatuh tepat di atas ranjang.
Dan di sanalah Anya.
Arhan hampir tidak mengenali istrinya untuk sepersekian detik.
Wanita yang dulu pipinya selalu merona itu kini pucat, hampir seputih seprai yang menutupinya. Rambut hitam panjangnya yang dulu berkilau, kini lepek dan sebagian rontok di bantal karena efek kemoterapi.
Matanya yang dulu berbinar, kini cekung dengan lingkar hitam di bawahnya. Selang infus menempel di punggung tangannya yang kurus, dan pergelangan tangannya terlihat begitu kecil, seperti bisa patah jika digenggam terlalu erat.
Namun ketika melihat Arhan masuk, bibir kering itu tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang selalu membuat Arhan jatuh cinta setiap hari.
"Han," suaranya serak, pelan. "Lama banget."
Senyum yang dipaksakan Arhan di depan pintu tadi hampir runtuh seketika. Ia buru-buru mengunci rapat-rapat air matanya di dalam dada. Ia tidak boleh hancur sekarang.
Arhan melangkah mendekat, meletakkan map berisi surat-surat dari dokter di atas meja kecil.
"Maaf ya, sayang. Tadi ngobrol agak lama sama Dokter Rendra," kata Arhan, suaranya ia buat seringan mungkin.
Ia menarik kursi dan duduk tepat di samping ranjang. Tanpa ragu, ia meraih tangan Anya. Tangan itu dingin. Sangat dingin.
"An, kamu udah enakan hari ini?"
Anya mengangguk pelan. "Mendingan. Pusingnya udah enggak terlalu. Cuma... capek aja. Kayak habis lari jauh."
"Iya, istirahat aja. Jangan banyak mikir."
Arhan mengusap punggung tangan Anya dengan ibu jarinya. Berulang-ulang. Seolah dengan begitu ia bisa menyalurkan kembali kehangatan ke tubuh istrinya.
Anya menatap suaminya lekat-lekat. "Kata dokter apa, Han?"
Arhan menarik napas. Inilah bagian yang paling sulit.
"Kata dokter... kamu boleh pulang hari ini, An."
Mata Anya membulat sedikit. Ada binar kaget di sana.
"Pulang? Hari ini? Beneran?"
"Beneran," Arhan mengangguk, berusaha membuat suaranya terdengar gembira. "Dokter bilang perawatan di rumah sakit udah cukup. Selebihnya bisa lanjut rawat jalan di rumah. Jadi kamu bisa tidur di kamar kita lagi. Bisa lihat taman kamu lagi."
"Ya Tuhan..." Anya tersenyum lebar, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. Senyum itu membuat wajah pucatnya kembali sedikit hidup. "Aku kangen rumah, Han. Kangen kasur kita. Kangen bau dapur. Di sini aku bosen, bau obat terus."
Arhan ikut tersenyum. Senyum yang kali ini sedikit lebih tulus.
"Makanya. Kita pulang ya. Nanti aku masakin sup kesukaan kamu."
Anya tertawa kecil, lalu batuk pelan. Arhan sigap menuangkan air putih dan membantu Anya minum.
Setelah napasnya kembali teratur, Anya kembali menatap Arhan. Binar bahagianya tadi perlahan berganti menjadi tatapan menyelidik.
"Han... tapi kondisi aku gimana? Kata dokter kankernya udah mengecil? Kemarin kan kemo terakhir katanya lumayan berhasil?"
Pertanyaan itu datang juga.
Jantung Arhan berdegup begitu kencang hingga ia yakin Anya bisa mendengarnya. Ia tertegun. Lidahnya kelu. Selama beberapa detik yang terasa seperti menit, ia hanya menatap mata istrinya yang penuh harap itu.
Bagaimana ia harus menjawab? Bagaimana ia harus mengatakan bahwa waktu istrinya hanya tinggal tiga puluh hari lagi? Bahwa tidak ada lagi kemo, tidak ada lagi harapan mengecil, yang ada hanya menunggu?
Ia tidak sanggup. Belum sekarang. Tidak saat Anya baru saja sebahagia ini karena akan pulang.
"Han?" Anya menggenggam tangan Arhan balik, sedikit lebih erat. "Kok diem?"
Arhan mengerjap dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Ia meraih tas jinjing besar yang ada di sudut ruangan, tas yang ia bawa selama beberapa hari terakhir menunggu Anya.
"Eh... dokter belum jelasin detailnya, An. Tadi beliau cuma bilang, kondisi kamu stabil, jadi lebih baik dirawat di rumah aja. Biar kamu lebih nyaman. Nanti hasil lengkapnya mungkin secepatnya akan keluar, katanya mau dijelasin sekalian waktu kontrol perawat ke rumah."
Kebohongan itu keluar begitu saja, pahit di lidahnya sendiri.
"Oh gitu," Anya mengangguk-angguk pelan, tampak menerima. "Bagus deh kalau gitu. Aku emang lebih tenang di rumah. Ada kamu."
"Iya. Ada aku terus," bisik Arhan.
Ia mulai membereskan perlengkapan mereka. Memasukkan sikat gigi, sabun, beberapa baju ganti Anya yang sudah dilipat, dan termos kosong ke dalam tas. Gerakannya sengaja ia buat sibuk, agar ia tidak perlu menatap mata Anya terlalu lama. Karena setiap kali menatapnya, ia merasa seperti penjahat yang menyembunyikan sesuatu.
Saat sedang melipat selimut tipis rumah sakit, suara Anya terdengar lagi, lebih pelan.
"Han."
"Iya, sayang?"
"Kenapa wajah kamu murung gitu?"
Tangan Arhan berhenti.
"Kelihatan banget loh. Dari tadi senyum kamu dipaksain."
Arhan berbalik. Anya menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam, tatapan seorang istri yang hafal setiap lekuk kelelahan di wajah suaminya.
Arhan mencoba tertawa kecil.
"Murung gimana? Enggak kok."
"Bohong. Matamu merah. Kamu nangis ya?"
Arhan menggeleng cepat, lalu mengusap tengkuknya.
"Enggak, An. Sumpah enggak. Kepala aku pusing aja dari tadi. Kurang tidur. Kamu tau kan kursi tunggu di sini kerasnya kayak batu. Semalem aku hampir enggak tidur sama sekali."
Itu setengah benar. Ia memang tidak tidur.
Anya menatapnya masih dengan ragu, tapi akhirnya mengangguk. Ia terlalu lelah untuk berdebat.
"Ya udah, nanti di rumah kamu tidur yang bener ya. Jangan mikirin aku terus."
"Iya, sayang. Nanti kita tidur siang bareng."
Arhan kembali melanjutkan beres-beres. Ia memasukkan vas bunga, karena Anya tidak akan membiarkan vas miliknya itu ketinggalan di rumah sakit. Tas hampir penuh. Surat-surat dokter sudah ia selipkan di bagian paling bawah, jauh dari jangkauan Anya.
Hampir selesai.
Tinggal mengurus administrasi pulang dan memanggil taksi.
Saat Arhan hendak menutup resleting tas, pintu ruangan tiba-tiba diketuk dua kali, lalu terbuka tanpa menunggu jawaban.
Seorang wanita paruh baya berdiri di sana, dengan mantel cokelat muda dan wajah yang tegang. Napasnya sedikit terengah, seperti baru berlari kecil dari parkiran. Di tangannya ada kantong berisi buah.
Ibu Soraya. Ibu kandung Anya.
"Mama!" seru Anya, suaranya langsung ceria.
Soraya tersenyum pada putrinya, lalu matanya beralih pada Arhan yang berdiri mematung di samping tas.
Arhan menatap mertuanya itu. Wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Dan di detik itu, semua kesedihan, semua beban, semua kebohongan yang ia tahan sejak dari ruang dokter tadi, seakan naik kembali ke tenggorokannya. Matanya kembali memanas.
Soraya menangkap tatapan itu. Tatapan seorang menantu yang sedang menahan tangis.
Senyum Soraya perlahan pudar. Ia melangkah mendekat, suaranya pelan dan penuh kecemasan, ditujukan hanya untuk Arhan.
"Han... gimana kondisi Anya kata dokter?"