Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Ulang Tahun (2)
**
Dulu, saat SMP ada satu teman Ayana yang dari keluarga terpandang di desa merayakan ulang tahun. Mereka tidak terlalu dekat, hanya sekedar teman sekelas. Tebak apa yang terjadi? Ayana dan dua orang lainnya di kelas tidak diundang karena alasannya hanya membuat malu. Ayana adalah anak yang tidak mempunyai orangtua, satu temannya berwajah tidak cantik katanya dan satunya lagi sangat miskin.
Hal seperti itu, selalu dia dapatkan setelah orangtuanya pergi. Entah disengaja atau tidak, dia selalu berada dari orang-orang yang tidak terpilih atau menjadi cadangan.
Saat itu waktu dia SMA, keluarga paman akan pergi makan malam keluar untuk merayakan hasil panen yang berlimpah. Saat itu, Ayana akan bersiap-siap karena akan ikut pergi karena tadi pamannya mengajaknya. Saat melewati dapur karena akan minum, dia tidak sengaja mendengarkan obrolan bibi dan pamannya.
"Kang, tadi anak-anak minta Ayana tidak usah ikut."
"Loh, kenapa? Ayana kan keluarga kita juga."
"Iya, Ibu tahu Kang. Ibu juga sudah jelaskan hal ini ke mereka tapi katanya, mereka mau pergi kita saja karena Ayana bukan keluarga inti kita. Sudah lama katanya, kita tidak pernah pergi berempat, sekarang kemana-mana kita selalu berlima."
"Memangnya kenapa kalau berlima, tidak ada bedanya karena Ayana sama saja keluarga kita."
"Iya, Ibu juga sudah jelaskan seperti itu."
"Jangan aneh-aneh bilang ke mereka. Kita berangkat berlima pokoknya."
"Iya Kang, Ibu nanti kasih tahu."
Setelah itu, Ayana sadar diri untuk tidak jadi pergi. Dia mencari alasan yaitu sakit perut kepada pamannya, sampai akhirnya mereka pergi tanpa Ayana. Sering dia menjadi orang asing di tempat yang salah. Perasaan seperti itu selalu membuatnya tersiksa. Tadi juga, saat orang-orang datang merayakan ulang tahun Reyhan, sedang dia adalah orang yang selalu bersama Reyhan adalah orang yang bahkan tidak tahu apa-apa, tidak tahu jika Reyhan sedang berulang tahun.
Bagi sebagian orang, perasaan ini mungkin perasaan remeh yang terlalu dilebih-lebihkan. Tapi bagi Ayana yang sudah sering berada diposisi seperti ini rasanya melelahkan dan menyakitkan. Kapan dia menjadi prioritas seseorang? Kapan dia menjadi orang pertama yang tahu apapun tentang orang itu? Kapan dia tidak selalu dijadikan pilihan terakhir?
"Lagi sendirian aja, Neng?"
Ayana yang sedang mengaduk kuah bakso mendongak untuk melihat siapa yang sedang menyapanya. Iya, setelah Reyhan pergi, Ayana memilih keluar untuk sekedar mencari udara segar sampai akhirnya dia berakhir di tukang bakso. Dia tidak mau ikut, setelah perdebatan kecil mereka sekalipun.
"Loh, Kak Bagas? Ngapain di sini?"
Bagas lelaki yang sudah duduk di kursi samping Ayana tersenyum. "Yah, mau makan bakso. Kamu pikir aku duduk di sini mau makan rendang?"
Ayana menggeleng. "Bukan begitu. Tukang bakso ini deket area kos ku yang artinya jauh dari arena tempat tinggal Kakak. Katanya, kita beda arah, tapi kok bisa-bisanya Kakak bisa nyangkutnya di bakso sini?"
Bagas malah tertawa, tangannya kembali mengacak rambut Ayana. "Lucu amat."
Ayana menepis tangan Bagas. "Berantakan, kan? Serius, jawab?"
"Dari kosan teman ada urusan. Pas lewat, ada kamu ya udah aku berhenti, mau ikutan makan bakso juga. Puas?"
Ayana terkekeh. "Dasar. Ya udah, cobain bakso uratnya enak tahu. Bang , bakso urat satu yah, campurkan? Campur, bang! Makasih!"
"Mau traktir yah, dipesenin?"
Ayana menatap horor Bagas. "Sesama kaum duafa, gak usah teraktir-teraktiran, bayar masing-masing aja. Aku bawa uangnya hampir pas soalnya."
Bagas tertawa. "Ok. Lucu banget ekspresi galak kamu itu."
"Gak jelas."
Setelah bakso Bagas datang, mereka sibuk makan sambil sesekali melempar obrolan ringan. Entah kenapa, Ayana seperti menemukan sosok seorang kakak dalam diri Bagas yang membuat dia merasa nyaman berinteraksi dengan lelaki itu.
"Sekarang, mau langsung pulang?" tanya Bagas setelah melihat Ayana menyelesaikan satu suapan terakhirnya.
Ayana melirik jam di pergelangan tangannya. "Masih jam 8."
"Terus?"
"Malas balik," jawab Ayana dengan awan mendung di wajahnya.
Bagas yang melihat itu sadar, jika gadis di depannya ini sedang tidak baik-baik saja. Ayana itu adalah gadis ekspresif, wajahnya tidak pernah bisa berbohong dan selalu menunjukkan apa yang sedang dia rasakan.
"Mau ikut pergi gak?"
"Kemana?"
"Dua puluh menit dari sini ada pasar malam yang baru buka. Mau ke sana , gak?"
"Aku gak ada uang, sisa 10 rebu."
"Aku traktir."
"Tapi--"
"Aku maksa, Na!"
Tidak ada salahnya menolak tawaran Bagas walaupun tetap merasa tidak enak, tapi di kosan juga tidak ada siapa-siapa. Dia sudah yakin, cowok itu tidak akan pulang cepat, malah bisa jadi mungkin akan menginap di sana. Membayangkan Reyhan sedang tertawa ria dengan gadis itu, membuat Ayana menjadi kesal.
Bagas menyentil kening Ayana. "Gak usah mikir keras sampai mengkerut begini. Kalau mau pergi, ayo pergi. Kalau enggak, ya udah enggak usah tapi harus pergi. Tapi sebelum pergi, izin dulu sama cowok kamu soalnya nanti takut ada salah paham."
Ayana mendengus. "Gak usah. Dia aja pergi gak mikirin aku."
Bagas mengangguk paham, seolah sedikit tahu permasalahan apa yang membuat Ayana terlihat kesal saat ini. Dia bukan tipe orang yang akan ikut campur masalah orang lain, beda cerita kalau orang itu ingin bercerita dia akan mendengarkan atau jika meminta bantuannya dia akan senang hati membantunya.
Biasanya, dia hanya akan mengabaikan jika orang yang dia kenal terlihat murung seperti ini. Tapi beda Ayana, sejak pertama bertemu gadis itu, sangat mengingatkannya dengan seseorang. Wajahnya terlihat sama persis, seperti pinang dibelah dua. Dia penasaran, siapa Ayana sebenarnya? Bagaimana bisa dia terlihat mirip dengan seseorang yang sangat dia kenal?
"Kak ... oi ... Kak! Ayo jalan. Melamun mulu!"
Bagas tersentak mendengar teriakan Ayana. "Sorry ... tiba-tiba kepikiran sesuatu. Pegangan, takut jatuh."
"Ok!" Ayana memegang pinggang Bagas, tidak benar-benar seperti memeluk, hanya berpegangan.
Ayana menikmati setiap angin yang menyentuh wajahnya. Dia menyukai suasana berkendara dengan angin malam seperti ini. Biasanya, jika bersama Reyhan, dia akan memeluk erat lelaki itu dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.
Ayana menggeleng, mengusir bayang-bayang Reyhan di kepalanya. Ternyata benar kata orang, lama-lama kita akan terbiasa dengan orang yang selalu ada bersama kita. Dari kita terbiasa, mulai merasa nyaman kemudian ....
Ayana menghela nafas berat.
Tidak mungkin kan, dia mulai jatuh cinta pada lelaki itu? Masa depan apa yang akan dia hadapi setelah ini?
"Aku mau naik itu!" tunjuk Ayana ke wahana lainnya, padahal baru saja dia turun dari wahana lain.
"Bentar ... bentar ..." Bagas memegang perutnya yang terasa bergejolak, rasanya perutnya terasa diaduk-aduk. "Santai bentar, baru saja turun. Lagian, wahana kamu ekstrim- ekstrim."
Ayana tertawa. "Lemah banget sih, gitu aja udah keok."
Bagas menatap Ayana melas. "Setiap orang ada kekurangan dan kelebihan masing-masing, jika ada orang yang gak bisa satu hal, bukan berarti dia lemah, Na."
Ayana cemberut. "Iya-iya serius amat, ayo duduk dulu!"
"Makasih yah, udah ajak ke sini. Rasanya, bikin lega." Ayana menatap Bagas senang. "Makasih juga udah maksa mau traktir, padahal aku gak mau makin repotin Kakak."
Bagas tersenyum tulus. "Its ok
... Na, aku sih malah seneng ada yang nemenin ke sini, soalnya datang sendiri gak seru."
"Eh, apa jangan-jangan Kakak emang beneran orang kaya yang gabut?"
"Kata siapa?"
"Gosip itu udah tersebar tahu di tempat kerja, kalau Kakak itu sebenernya kaya tapi emang lagi gabut aja. Biasa, gabut orang kaya emang random."
Bagas terkekeh. "Menurut kamu gimana? Aku kaya apa miskin?"
Ayana memperhatikan Bagas lebih lekat, seolah memang sedang menilai. "Gak tahu, soalnya aku gak bisa bedain barang branded atau enggak. Orang-orang bilang, barang-barang yang Kakak pakai itu branded, gak bisa dipakai orang miskin."
Bagas malah tertawa. "Kalau gitu, aku serahkan semua penilaiannya ke kamu."
"Kok gitu?" Ayana kesal. "Eh, perutnya masih gak enak? Kalau gitu, aku beli minum dulu yang hangat. Kali ini aku yang traktir, soalnya dari tadi Kakak yang traktir terus."
Bagas mengangguk pasrah, sambil memegangi perutnya yang masih mual. "Ok."
Ayana pergi mencari minuman, tak lama dia sudah kembali dengan satu gelas teh hangat dan satu gelas lagi jus jeruk untuknya.
"Kak, ayo minum! Biar perutnya jadi lebih enak."
Ayana kembali mendudukkan dirinya di samping Bagas lagi, setelah minumannya tadi sudah diambil Bagas.
"Makasih Na--"
"Ayana, ngapain kamu di sini?"
Ayana mendongak, terkejut saat melihat Reyhan ada di depannya bersama kedua temannya dan gadis itu.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Ayana balik, setelah berhasil menguasai diri.
"Jawab pertanyaan aku? Kenapa kamu pergi sama dia? Kalian pergi berdua?" tanya Reyhan dengan nada dingin.
Ayana bahkan menghela nafas berat, entah kenapa dia malah merasa mulai takut melihat raut wajah Reyhan yang datar itu.
Ayana berdehem. "Kamu sendiri pergi sama mereka, kenapa aku harus pergi sendiri."
Reyhan mendengus kasar. "Ay!"
Ayana merasa aneh, kenapa Reyhan harus terlihat se-emosi itu. Padahal yang harusnya marah dia, bukan cowok itu.
"Sorry ... gue bisa jelasin kesalahan ini. Tadi, kita gak sengaja ketemu di sini, daripada sama-sama jalan sendiri, jadi kita putuskan untuk bareng. Lagipula, kita udah kenal dan teman kerja."
Ayana mendengus, kenapa juga Bagas harus mengarang cerita seolah kita berdua seperti terpergok selingkuh. Memang hubungannya apa dengan Reyhan?
"Ok, makasih sebelumnya udah temenin Ayana yang jalan sendiri. Setelah ini, biar dia sama gue." Reyhan melihat ketiga orang di belakangnya yang sedari tadi diam. "Kalian pergi bertiga aja. Gue mau jalan berdua sama Ayana."
"Rey, gak bisa gitu. Masa kamu--"
"Ok pergi aja, have fun Bro." Bima buru-buru memotong ucapan Ara.
"Sono kalau mau pacaran!" Dion berseru heboh.
"Siapa bilang aku mau pergi sama kamu?" tanya Ayana masih kesal. Entah kenapa, melihat wajah Reyhan malah makin kesal saja.
"Sana pergi!"
"Kak, kok ngusir? Kok dorong-dorong?" Ayana kesal lagi karena Bagas malah mendorongnya.
"Lama!" Reyhan menarik tangan Ayana sehingga terpaksa gadis itu berdiri.
"Rey, apaan sih?" Ayana masih berusaha melepas cekalan tangan Reyhan.
"Pelan-pelan, Bro," tegur Bagas.
Reyhan hanya mengangguk, kemudian memelankan pegangannya. "Ayo ikut aku, Ay!"
Ayana melihat situasi lagi, mereka hampir menjadi tontonan orang-orang. Akhirnya, dia mengangguk. "Ya udah, ayo!"
"Kita pamit."
Setelah mengatakan itu, Reyhan pergi membawa Ayana ditelan kerumunan meninggalkan teman-temannya.
"Mereka cocok, yah?" tanya Bagas ke arah teman-teman Reyhan.
"Enggak!" jawab Ara tegas.
"Iya cocok, lucu mereka."
"Jadi baper gue terus pengen boker jadinya. Bim, cari WC yuk!"
"Sialan!"
##