Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pak Haris merangkul pundak Amir dengan sangat akrab melewati kerumunan orang.
"Mari kita selesaikan urusan pembayaran ini di dalam kantorku saja agar lebih aman."
"Tentu saja, Pak Haris, saya ikut dengan Anda."
Amir membalas dengan sopan sambil berjalan beriringan dengan pemilik kolam tersebut.
Para pemancing lain menatap kepergian Amir dengan tatapan penuh rasa iri dan kagum yang bercampur aduk.
Bagas hanya bisa tertunduk lesu di kursinya meratapi kekalahannya yang sangat memalukan.
Kriet.
Pintu ruang kantor berpendingin ruangan itu terbuka menyambut kedatangan mereka berdua.
"Silakan duduk, anak muda, minum teh dingin ini dulu agar nafasmu lega."
"Terima kasih, kebetulan saya memang sangat haus setelah bertarung menarik ikan-ikan tadi."
Glek glek glek.
Amir meminum es teh manis itu hingga tandas setengah gelas.
Pak Haris duduk di kursi kebesarannya dan menyalakan layar komputernya.
"Uang lima puluh juta untuk hadiah sayembara dan seratus juta untuk pembelian ikan Maskot akan langsung aku transfer."
"Tapi bagaimana dengan puluhan ekor ikan monster di kerambamu itu, apakah kau mau membawanya pulang?"
Pak Haris menatap Amir dengan senyum tulus ala seorang pebisnis.
"Saya tidak punya tempat untuk menyimpannya, jadi saya ingin menjual semuanya pada Bapak juga."
"Berapa harga yang Bapak tawarkan untuk semua ikan di dalam keramba itu?"
Amir bertanya sambil meletakkan gelasnya di atas meja kaca.
"Aku sudah menyuruh pegawaiku menimbangnya, total beratnya mencapai dua ratus kilogram."
"Aku akan membelinya dengan harga lima puluh ribu per kilogram, jadi totalnya sepuluh juta rupiah."
"Bagaimana, apakah kau setuju dengan harga borongan itu?"
Pak Haris memberikan penawaran yang sangat masuk akal dan adil.
"Saya setuju Pak, tolong transfer semuanya ke rekening saya sekarang."
Amir menyebutkan nomor rekeningnya dengan suara yang tenang.
Ting!
Hanya dalam waktu lima menit, ponsel butut Amir berbunyi nyaring.
Sebuah notifikasi masuk menunjukkan transfer uang sebesar seratus enam puluh juta rupiah telah berhasil.
"Terima kasih banyak atas kerja samanya hari ini, Pak Haris."
"Sama-sama anak muda, pintu kolam pemancinganku selalu terbuka lebar untukmu kapan saja."
Amir menjabat tangan Pak Haris sekali lagi lalu berjalan keluar dari area Galatama Tirta Emas.
Matahari sudah mulai turun di ufuk barat menyisakan semburat jingga di langit sore.
Amir kembali memesan ojek online untuk pergi dari sana.
Tujuannya saat ini bukanlah kembali ke kamar kos murahan berdinding asbes.
Ia akan pergi ke sebuah kawasan apartemen elite di pusat kota untuk menyewa tempat tinggal yang layak.
Sementara Amir sedang dalam perjalanan menuju kehidupan barunya, pemandangan kontras terjadi di rumah keluarga Siska.
Pet!
Lampu di seluruh penjuru rumah mewah bercat putih itu mendadak mati total.
"Astaga, kenapa gelap gulita begini!"
Bu Rina berteriak kaget dari ruang keluarga sambil meraba-raba meja mencari ponselnya.
"Rendy, cepat periksa meteran listrik di depan rumah!"
Rendy yang sedang asyik bermain game di kamarnya terpaksa turun dengan wajah bersungut-sungut.
"Aduh Ibu, ini pasti pulsa token listriknya sudah habis lagi."
Rendy berjalan ke luar rumah dan melihat layar meteran listrik yang berkedip merah dengan tulisan periksa.
Ia kembali masuk ke dalam rumah sambil menyalakan senter dari ponselnya.
"Bukan pulsanya habis Bu, tapi listrik kita disegel karena menunggak bayar tagihan bulanan."
Brak!
Bu Rina menggebrak meja ruang tamu dengan sangat keras.
"Kurang ajar sekali si gembel Amir itu!"
"Ternyata dia berani kabur dari rumah tanpa melunasi tagihan listrik bulan ini dulu!"
"Padahal biasanya dia yang selalu mengurus semua pembayaran kotor seperti ini."
Bu Rina mengomel panjang pendek menyalahkan Amir yang sudah tidak ada di rumah itu.
Suara keributan itu membuat Siska turun dari lantai dua dengan wajah kesal.
"Ada apa sih Bu ribut-ribut sore begini, aku sedang sibuk memilih gaun pengantin secara online."
Siska bertanya sambil menuruni tangga pelan-pelan.
Wajahnya cantik dan terawat, sangat kontras dengan penampilan Amir yang menderita selama ini.
"Ini soal mantan suamimu yang tidak berguna itu, Siska!"
"Dia sengaja meninggalkan tagihan listrik dan air rumah kita menunggak sebelum pergi."
"Sekarang listrik kita diputus dan ibu tidak bisa menonton sinetron kesayangan ibu."
Bu Rina mengadu pada anak perempuan kesayangannya itu dengan nada memelas yang dibuat-buat.
Siska hanya memutar bola matanya malas mendengar nama Amir disebut lagi.
"Ya ampun Bu, jangan sebut nama gembel itu lagi di depanku, telingaku gatal mendengarnya."
"Lalu kita harus bagaimana sekarang, Kak, aku kan butuh wifi untuk main game online."
Rendy menyahut dari sudut sofa sambil terus menatap layar ponselnya yang kini tidak berguna.
"Kakak minta uang saja pada Kevin untuk membayar semua tagihan rumah kita."
"Calon suamimu itu kan anak konglomerat, masa uang receh begini saja tidak bisa bantu."
Siska langsung melotot tajam ke arah adiknya yang asal bicara itu.
"Kau ini bodoh atau apa Rendy, aku dan Kevin belum resmi menikah."
"Kevin sedang sibuk mengurus proyek perumahan besar milik ayahnya di luar kota."
"Aku tidak mau terlihat seperti pengemis murahan yang terus meminta uang padanya sebelum pernikahan kita sah."
Siska membela calon suaminya itu dan menolak mentah-mentah ide Rendy.
"Lalu siapa yang akan membayar listriknya, uang pensiunan almarhum ayah sudah habis ibu pakai arisan kemarin."
Bu Rina mulai panik menyadari bahwa tidak ada lagi mesin ATM berjalan di rumah mereka.
Mereka bertiga saling bertatapan di dalam kegelapan ruang tamu tanpa ada yang bisa memberikan solusi.
Selama ini mereka terlalu bergantung pada gaji Amir untuk biaya operasional rumah yang membosankan.
Uang Siska dari hasil butiknya selalu ia habiskan sendiri untuk membeli tas bermerk dan perawatan ke salon mahal.
"Ya sudah, ibu pakai saja sisa uang belanjaku bulan ini untuk membayar listriknya besok pagi."
"Tapi ingat, bulan depan kalian berdua harus mulai berhemat sampai aku resmi menikah dengan Kevin dan mendapatkan uang bulanannya."
Siska akhirnya mengalah dan melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke atas meja.
Bu Rina dan Rendy segera mengambil uang itu dengan wajah semringah seolah baru mendapat durian runtuh.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa kepergian Amir adalah awal dari kehancuran gaya hidup parasit mereka.
Di sisi lain kota, Amir baru saja turun dari ojek online di depan lobi Apartemen Grand Surya.
Bangunan itu menjulang tinggi membelah langit malam dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan dari dalam lobi.
Amir merapikan kerah kemeja kargo barunya dan melangkah masuk dengan penuh percaya diri.
Hembusan udara dingin dari AC sentral langsung menyambut wajahnya.
"Selamat malam Bapak, ada yang bisa saya bantu?"
Seorang resepsionis wanita berpakaian seragam jas merah menyapanya dengan senyum profesional.
"Malam Mbak, saya mau mencari unit apartemen yang disewakan tahunan."
"Apakah masih ada unit yang fully furnished dan siap huni malam ini juga?"
Amir bertanya dengan gaya bicara yang tenang dan berwibawa layaknya pria mapan.
Resepsionis itu mengetikkan sesuatu di keyboard komputernya dengan cepat.
"Masih ada satu unit tersisa di lantai lima belas, Kak."
"Unit ini memiliki satu kamar tidur, satu kamar mandi dalam, balkon menghadap kota, dan sudah dilengkapi semua perabot mewah."
"Untuk harga sewanya adalah lima puluh juta rupiah per tahun, belum termasuk biaya kebersihan bulanan."
Mbak resepsionis itu menjelaskan detailnya dengan sangat rinci.
"Bagus sekali, saya ambil unit itu untuk durasi satu tahun penuh."
"Ini KTP saya untuk keperluan data, dan tolong berikan nomor rekening apartemen ini agar saya bisa transfer sekarang."
Amir mengeluarkan dompetnya tanpa ragu sedikit pun.