NovelToon NovelToon
Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.

"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."

​Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tato Naga dan Sebuah Rahasia

Pertarungan sengit pecah di jalanan sepi yang dikelilingi rindangnya pepohonan di Bogor. Pria bertato naga kecil di pergelangan tangannya itu bergerak sangat cepat dan terlatih. Bersama tiga orang berbadan tegap dari van hitam, mereka membanting tongkat-tongkat besi milik anak buah Pak Broto ke tanah. Suara dentangan logam beradu dengan erangan kesakitan para penjahat yang dengan cepat dilumpuhkan hanya dalam hitungan menit.

Arka berdiri bergeming di tengah jalan, membenahi lengan kemeja putihnya yang sedikit terlipat dengan sikap tenang luar biasa. Matanya menatap tajam ke arah pria bertato naga yang kini melangkah mendekat dan membungkuk hormat padanya, serta ke arah mobil tempat Pak Hendra dan Elara berada.

"Selamat pagi, Pak Arka. Saya Bagas, mantan anggota tim keamanan khusus almarhum Pak Herman dan Pak Hendra," ujar pria bertato naga itu dengan suara berat berwibawa. "Maaf kami agak terlambat. Kami mendeteksi pergerakan sisa faksi Pak Broto yang bermaksud menyergap kalian, sebelum sampai ke rumah perlindungan Ibu Hastuti."

Di dalam mobil, Elara sudah menghembuskan napas lega yang luar biasa panjang. Dia buru-buru membuka pintu mobil dan keluar, mengabaikan seruan peringatan Pak Hendra.

"Mas Arka! Mas nggak apa-apa? Nggak ada yang lecet, kan? Hidung mancungnya masih simetris?" cerocos Elara heboh seraya memutari tubuh suaminya, meneliti dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofel Arka.

Arka tak bisa menahan senyum tipisnya. Dia meraih kedua tangan Elara yang bergerak liar di bahunya, menggenggamnya erat. "Saya tidak apa-apa, Elara. Sudah saya bilang, kan? Suami kamu ini bisa menjaga diri."

Elara lalu menoleh ke arah Bagas dengan mata berbinar-binar. "Bang Bagas, kan? Yang di surat almarhum Ayah Herman katanya suka ketahuan ngumpetin gorengan pas tugas ronda? Ya ampun, tato naganya keren banget, asli!"

Bagas yang semula beraut wajah garang seketika salah tingkah, terkekeh geli sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aduh, Mbak Elara bisa aja. Itu kenangan masa lalu sama almarhum Pak Herman. Mari, Pak Arka, Pak Hendra, Mbak Elara. Area ini sudah bersih. Ibu Hastuti sudah sangat tidak sabar menunggu di dalam."

Rumah perlindungan itu tersembunyi manis di balik pagar kayu bercat putih dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman hias. Begitu langkah kaki Elara menapak di teras rumah, pintu kayu depan mendadak terbuka lebar.

Seorang wanita paruh baya dengan balutan gamis sederhana dan kerudung warna lembut berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang tampak lelah, namun teduh itu seketika dibasahi air mata saat melihat sosok gadis muda di hadapannya.

"Ara, anak Ibu," bisik Ibu Hastuti dengan suara gemetar.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Elara berlari kecil dan langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang ibu. Dekapan hangat yang sangat dia rindukan selama dia menikah, kini akhirnya menyelimuti tubuhnya kembali. Tangis haru pun tak lagi bisa dibendung oleh keduanya.

"Ibu jahat! Ibu tega banget pura-pura jadi orang matre dan galak!" omel Elara di balik bahu ibunya. Suaranya sengau karena air mata dan ingus yang menumpuk. "Ara sampai nangis sesenggukan di kamar mandi mikirin kenapa Ibu berubah. Tau-taunya, Ibu sok-sokan jadi agen rahasia."

Ibu Hastuti terkekeh pelan di sela tangisnya, sambil mengusap punggung putri semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu terpaksa. Broto itu iblis. Dia mengancam akan mencelakakan kamu, kalau Ibu tidak menuruti permainannya yang mau menjadikan kamu istri kedua."

Ibu Hastuti kemudian mendongak, menatap sosok Pak Hendra yang berdiri beberapa langkah di belakang Elara. Kedua mata orang tua yang telah terpisah oleh takdir dan ancaman selama puluhan tahun itu saling bertatapan. Tidak ada dendam, yang ada hanyalah rasa haru dan rasa syukur karena anak mereka telah tumbuh menjadi gadis yang kuat.

"Hendra, terima kasih sudah menjaga keselamatan anak kita dari jauh," tutur Ibu Hastuti tulus.

"Seharusnya saya yang meminta maaf, Hastuti. Karena saya, kamu dan Herman harus menanggung beban sedemikian berat," sahut Pak Hendra seraya membungkuk dalam.

Momen haru itu sedikit terpecah ketika Elara melepaskan pelukannya, mengusap air matanya kasar, lalu menunjuk ibunya dengan gaya mengintimidasi yang kocak. "Dah, ah! Air matanya dipending dulu. Sesuai perjanjian di telepon semalam, sekarang waktunya interogasi sambil makan bakso beranak."

"Mas Arka, tolong pesanin bakso jumbo empat porsi di aplikasi, dong," pintanya manja.

Arka yang berdiri di samping pintu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan senyuman hangat. Pemilik senyum memikat itu segera menuruti keinginan istrinya, tanpa bantahan sedikit pun.

Satu jam berlalu dalam kehangatan. Di meja makan sederhana, mangkuk-mangkuk bakso beranak berkuah kaldu gurih telah tandas setengahnya. Ibu Hastuti menceritakan seluruh kronologi bagaimana almarhum Ayah Herman dan Pak Hendra menyusun rencana penyelamatan, hingga akhirnya Pak Broto terjebak dalam keserakahannya sendiri.

Elara mendengarkan sambil mengunyah bakso dengan khidmat. Sesekali dia menyuapkan potongan bakso kecil ke mulut Arka yang duduk di sebelahnya. Arka yang biasanya sangat menjaga wibawa sebagai pimpinan tertinggi korporasi, kini dengan pasrah menerima suapan demi suapan dari istri cantiknya itu. Membuat Ibu Hastuti dan Pak Hendra tersenyum lega melihat keharmonisan mereka.

"Jadi, intinya semua bukti kejahatan Pak Broto dan Mbak Clarissa sudah di tangan polisi, kan?" tanya Elara memastikan.

"Sudah, Elara," jawab Pak Hendra mantap. "Map dokumen yang dibawa Arka adalah bukti otentik. Broto dan kroninya tidak lagi punya celah di mata hukum."

"Tepatnya, ini memulihkan lima puluh persen saham pendiri atas nama keluarga kamu, Elara," tambah Arka dengan nada profesionalnya. "Saya memang menjabat sebagai CEO yang mengelola operasional perusahaan, tapi dengan bukti ini, faksi gelap Papa di dewan komisaris akan sepenuhnya dibersihkan dan kamu resmi menjadi pemegang saham terbesar."

Namun, tepat saat suasana di dalam rumah terasa begitu damai dan terkendali, suara dering telepon genggam rahasia milik Pak Hendra, mendadak memecah keheningan.

Pak Hendra mengernyitkan dahi, mengangkat telepon tersebut dan menekan tombol pengeras suara.

"Halo, Hendra. Atau, haruskah kupanggil sahabat lama?" suara dingin beraksen berat dan penuh intonasi intimidasi terdengar dari seberang sana. Suara yang sangat familiar bagi Arka, yaitu suara Komisaris Utama Valora Group, Tuan Mahendra.

Raut wajah Arka dan Pak Hendra seketika berubah sangat tegang.

"Jangan kira dengan menjebloskan Broto ke penjara, kalian bisa merebut Valora begitu saja," lanjut Tuan Mahendra dengan tawa terkekeh yang mengerikan. "Broto cuma pion operasional saya. Dan kamu, Arka. Kamu memang CEO yang hebat, tapi pamanmu, Kusuma, wali keluargamu yang memegang hak veto dewan direksi, saat ini ada di tangan saya."

Sambungan telepon terputus seketika.

Suasana di dalam ruangan mendadak membeku. Mangkuk bakso di tangan Elara hampir saja terlepas. Paman Kusuma, sosok pelindung Arka yang memegang hak veto keputusan keluarga Valora, kini disandera oleh Komisaris Utama yang ingin membatalkan pengesahan saham Elara.

Arka perlahan berdiri dari kursinya. Rahangnya mengetat keras, dan aura kegelapan seorang pimpinan tertinggi Valora Group terpancar sepenuhnya dari matanya.

1
Adinda
🤣🤣🤣🤣🤣
gadis bucin: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Rian Moontero
lanjooott👍😍
gadis bucin: pantengin terus updatenya, ya, kak. 🤗❤️
total 1 replies
Putry Chan
untung dia masih waras ya walaupun kaya raya tapi dia udh tua punya bini lagi , ogah lah 🤣
gadis bucin: iyaa bener 🤣🤣🤣
total 1 replies
Putry Chan
buset pria kaya tua bangka pengen nikah
gadis bucin: nikah lagi tepatnya, kak 🤭
total 1 replies
gadis bucin
Kalau suka jangan lupa like dan komen, ya. Terima kasih untuk dukungannya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!