Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : Saat Takdir Memilihku
Vivi memperhatikan Devan, tanpa sadar sudah banyak pembeli menunggu pembayaran selesai.
"Mbak Vivi! Malah ngelamun" ucap Seorang ibu.
Vivi mengerjapkan matanya, setelah tersadar sudah banyak sekali yang mengantri untuk membayar dagangan nya. "Hehe, maaf bu ngelamun saya" sambung Vivi.
"Merhatiin nak Devan ya mbak Vivi?" goda ibu² itu.
Vivi pun hanya mengulum senyum nya, karena dia sudah terbiasa dengan hal itu, disini karena sering kali, Vivi di goda oleh para pelanggan tetap toko milik Devan itu. Tak berselang lama, Devan datang menghampiri Vivi, dan duduk di sebelah meja kasir, membawa segelas kopi nya serta roko di tangan nya.
"Yus, sini santai dulu lah kamu ini" panggil Devan saat yusa lewat hendak menuju gudang, karena jam sudah menunjukan waktu nya pulang, dan menutup toko.
Yusa pun menghampiri Devan, dan duduk di sebelah nya. Sementara Vivi hanya memperhatikan mereka dan melayani sisa pembeli disana.
"Kenapa nih Van?" tanya Devan.
"Yus, kamu mending ngawasin pabrik aja, biar gak capek amat, lagian produksi di pabrik nambah, kamu bantu ngawasin disana aja" ucap Devan.
Yusa sedikit memundurkan kepala nya, mata nya menyipit seakan mencari pembenaran dari ucapan sahabat nya itu "Apa kau yakin Van? Apakah keputusan mu sudah tepat?" tanya Yusa.
"Yaa, itu sudah keputusan ku, sebaik nya kau membantu orang disana, kita kekurangan orang, mungkin beberapa hari lagi akan menambah pekerja" ucap Devan.
"Baiklah, mulai besok aku akan ada disana" jawab Yusa.
"Dan kau, temui lah pak Amar, dia manager produksi disana, bilang saja kau kusuruh mengawasi produksi, dan awasi orang-orang disana, aku merasakan keganjilan ketika aku berkunjung kesana" jelas Devan.
Yusa pun mengangguk sebagai isyarat.
Devan menyesap rokok nya dan menghembuskan nya dengan perlahan.
Sssssppp! Wuuushhhh!
Di temani segelas kopi, di sore hari menjelang malam. Memang sangat menyenangkan terlebih, di kelilingi puluhan wanita cantik, yang hanya bisa di lihat dan di sentuh oleh nya.
Singkat Cerita Devan, sudah berada di alam moana, dirinya bersama Manjo berkeliling, karena ingin mengenal Alam moana yang luas itu. Ketika Devan lewat, semua mahluk menyapanya seraya memberi hormat.
"Salam baginda raja!"
"Salam baginda raja!"
Dan begitu lah setiap dia berpapasan dengan beberapa mahluk.
"Manjo itu apa?" tunjuk Devan saat melihat sebuah bukit yang berkilau seperti emas.
"Itu adalah sebuah gunung emas baginda" jawab Manjo.
Mata Devan berbinar, ketika melihat sebuah gunung di hadapan nya. Yang ternyata itu adalah emas. "Apakah asli?" tanya Devan.
"Tentu itu asli baginda, bahkan baginda bisa membawa nya pulang lalu menjual nya" Jawab Manjo.
Setelah berbincang beberapa saat, Devan kembali ke dalam istana, disana dia sudah di sambut dengan puluhan dayang nya.
"Selamat datang kembali baginda!" sambut para dayang.
Suara yang menggema di aula tersebut, karena mereka serempak menyambut raja nya. Devan duduk di kursi kebesaran nya, dia menatap ke arah pintu, dimana istana itu di jaga oleh ratusan prajurit.
"Kapan baginda akan mencari Eyang Suro" tanya Malea..
"Mungkin nanti, beberapa hari lagi" jawab Devan.
"Sebaiknya baginda mempersiapkan diri" ucap Malea.
"Tentu saja"
Sementara itu di tempat lain..
Vivi sedang berjalan menuju ke rumah nya, setelah lama dia meninggalkan rumah, disana sudah ada Hasna ibu nya yang terlihat melamun. Namun begitu melihat ke arah pintu, Hasna segera berdiri dan memeluk anak nya. nya. "Maaf kan ibu nak!" ucap Hasna dengan isak tangis penyesalan
"Sudah bu, seharusnya aku yang meminta maaf" jawab Vivi.
Setelah dirasa cukup, mereka duduk dan banyak sekali membicarakan sesuatu. "Ternyata, Devan emang orang yang baik, ibu menyesal sudah pernah tidak merestui hubungan mu dengan nya dulu" ucap Hasna setelah mendengar cerita dari anak nya itu.
"Tentu saja dia baik bu, bahkan dia di sayangi banyak orang" sambung Vivi.
"Iyaa, tentu saja dia akan disayangi banyak orang, karena perangai nya" jawab Hasna ibu nya.
Kembali ke Devan..
Dirinya sedang bercumbu mesra dengan Syafir, dengan suasana yang semakin panas di antara mereka, nafas yang memburu seakan menandakan, permainan akan berakhir.
Arrrgghh!
Kini kedua nya berbaring di atas ranjang, singkat cerita. Devan sudah berada di balkon kamar nya. Dirinya menatap ke arah langit, bergelut dengan segala pikiran nya.
"Ayah, jika saja kau masih ada" gumam Devan.
Namun suara derap langkah di belakang nya, membuat dia menoleh.
Tap!!
Tap!!
Tap!!
"Malea!" sapa Devan.
"Baginda, ada tamu yang menunggu mu" ucap Malea.
"Siapa itu?" tanya Devan.
"Raja Bon-teng baginda" jawab Malea.
"Baiklah, mari kita hampiri mereka" sambung Devan.
Mereka pun menuju ke arah ruangan dimana, raja Bon-teng sedang menunggu. "Salam baginda raja!" sapa raja Bon-teng.
"Salam raja Bon-teng" balas Devan. "Duduklah" sambung Devan.
"Ternyata, pelaku nya guru ku sendiri, entah apa maksud dia, namun tiga hari yang lalu, dia membuat keributan di istana ku, sehingga empat prajurit istana ku tewas" jelas raja Bon-teng
"Kurang ajar!, kita harus segera menemukan nya!" uca Devan geram.
Devan, dengan raja Bon-teng membicarakan strategy mereka, untuk memancing kemunculan Eyang Suro, guru dari raja Bon-teng.
Singkat cerita, Devan pun sedang berada di taman bersama para dayang nya, setelah raja Bon-teng pergi.
"Eyang Suro harus kita lenyapkan, Sayang sekali Ki Amar dan empat sesepuh lain nya, sedang berada di persemayaman nya, kita tak bisa mengganggu mereka" ucap Devan.
"Betul baginda, kita harus bersiap, kemungkinan Eyang Suro sudah lebih bersiap jika saja kembali bertemu dengan mu" jawab Malea.
"Tentu saja kita akan menyiapkan segalanya" sambung Devan.
Setelah cukup lama berada di taman, Devan kembali ke kamar nya di istana, dirinya tenggelam di dalam tapaan nya menuju alam spiritual. Devan kini berada di tengah hutan, dengan kabut tipis yang menyelimuti nya. Disana berdiri sosok yang dia cari.
Ki Amar!
"Hahahaha, apakah dia membuat ulah lagi pada mu anak ku?" ucap pria tua yang tak lain adalah ki Amar.
"Yaa, dia membuat kekacauan di alam jin, sehingga enam siluman buaya putih meminta perlindungan ku, apakah harus aku melenyapkan nya ki?" ucap Devan.
"Penjarakan roh dia! Maka itu cukup untuk menghukum nya" jawab Ki Amar.
"Baiklah ki!" ucap Devan.
Tak berselang lama, Devan mulai sadar, Devan lantas berdiri, mengeluarkan sebatang roko dan menyalakan korek api, untuk menyalakan rokok nya.
Sssseepp! Wusssshh!
"Aku harus segera menemukan nya" batin Devan.
"Baginda, ini makanan mu" ucap Malea dan syafir membawa buah, dan beberapa makanan lain, untuk raja nya.
"Terimakasih" jawab Devan.