NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Retakan yang menganga

Sejak malam di mana Bram menggumamkan nama "Vera" dalam tidurnya, atmosfer di dalam rumah itu berubah menjadi begitu dingin dan asing, seolah ada dinding tak kasat mata tebal yang sengaja dibangun Bram untuk menjauhkan Larissa dari hidupnya.

Larissa berdiri di depan meja makan, menata sarapan berupa roti panggang dan telur mata sapi yang masih mengepul. Tak lama langkah kaki yang tergesa terdengar menuruni tangga.

Bram muncul dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang rapi, namun raut wajahnya tampak kusut, tipikal pria yang kurang tidur dan didera stres.

"Mas, sarapan dulu, aku sudah buatkan kopi kesukaanmu," kata Larissa lembut, mencoba bersikap senormal mungkin meski hatinya masih digerogoti rasa curiga.

Bram bahkan tidak melirik ke arah meja makan, pria itu sibuk merapikan jam tangan rolex-nya sembari menyambar tas kerja di atas sofa. "Aku tidak sempat, pagi ini ada rapat mendadak dengan investor dari Singapura. Jadwalku padat sampai malam."

"Sampai malam lagi?" Larissa menahan napas sejenak. "Ini sudah seminggu penuh kamu selalu pulang lewat tengah malam. Apakah urusan proyek konstruksi baru itu benar-benar menyita seluruh waktumu?"

Mendengar pertanyaan itu, gerakan Bram mendadak terhenti. Pria itu berbalik, menatap istrinya dengan pandangan yang sarat akan kekesalan.

"Rissa, sudah berapa kali kubilang? Perusahaan sedang berada di fase krusial. Posisiku sebagai penerus tunggal dipertaruhkan di sini, bisa tidak kamu berhenti bersikap seperti detektif dan menjadi istri yang pengertian?"

Tepat saat itu, ponsel Bram yang tergeletak di atas meja counter bergetar pendek, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk. Larissa secara refleks mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel tersebut, berniat memberikannya pada Bram.

"Biar aku ambilkan—"

"Jangan sentuh!"

Bentakan Bram yang tiba-tiba dan kasar menggema di ruang makan, membuat tangan Larissa tersentak di udara. Dengan gerakan cepat yang hampir terlihat panik, Bram menyambar ponselnya dari atas meja.

Larissa terpaku, menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Mas... aku hanya ingin mengambilkannya untukmu. Kenapa kamu harus membentakku seperti itu?"

"Aku tidak suka barang pribadiku disentuh-sentuh. Itu saja," jawab Bram ketus, nadanya berangsur datar namun tetap dingin.

Bram mengetuk layar ponselnya sekilas, Larissa sempat menangkap gerakan jemari Bram yang memasukkan kombinasi kata sandi baru yang jauh lebih panjang dari biasanya. Pria itu telah mengganti kata sandi ponselnya, sebuah tindakan yang belum pernah dia lakukan selama lima tahun pernikahan mereka.

Tanpa mengucapkan kata pamit atau kecupan di kening seperti tahun-tahun pertama pernikahan mereka, Bram berbalik dan melangkah lebar meninggalkan rumah.

Suara pintu depan yang tertutup rapat menyisakan keheningan yang mencekam bagi Larissa, menyisakan keraguan yang kian menganga di dalam dadanya.

Menjelang siang, ketenangannya kembali terusik. Suara deru mobil mewah yang sangat dia kenali berhenti di halaman depan, diikuti oleh ketukan pintu yang tergesa-gesa dan tidak sabaran.

Ketika Larissa membuka pintu, sosok Ibu Maya berdiri di sana dengan dagu terangkat, mengenakan kacamata hitam besar dan tas bermerek yang disampirkan di lengan. Di belakangnya, seorang sopir pribadi membawa sebuah kardus besar yang tampak berat.

"Ibu? Kenapa tidak memberi tahu dulu kalau mau datang?" tanya Larissa, segera meraih tangan mertuanya untuk menciumnya.

Ibu Maya melepaskan kacamatanya dengan gerakan dramatis, langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu dipersilakan.

"Kalau Ibu memberi tahu kamu, kamu pasti akan cari-cari alasan untuk pergi," ujar Ibu Maya sinis. Beliau menunjuk kardus yang diletakkan sopirnya di atas meja ruang tamu.

"Buka itu."

Larissa mendekat perlahan dan membuka tutup kardus tersebut. Seketika itu juga, bau menyengat yang pekat perpaduan antara aroma jamu tradisional yang pahit, akar-akaran kering, dan obat herbal langsung menusuk indra penciumannya, membuat perutnya mendadak mual.

"Itu semua Ibu pesankan khusus dari tabib terkenal, dan sebagian lagi obat herbal langsung dari Tiongkok," kata Ibu Maya dengan nada memerintah tak terbantah.

"Ibu sudah berkonsultasi tentang kondisi rahimmu yang bermasalah itu. Tabib bilang, tubuhmu terlalu dingin, makanya benih dari Bram yang subur tidak bisa tumbuh. Semua ramuan ini harus kamu minum setiap hari, tanpa absen."

Larissa menatap tumpukan botol-botol kaca berisi cairan keruh kecokelatan itu dengan dada yang sesak. "Tapi, Bu... obat-obatan ini tidak ada label medisnya. Apakah aman jika dikonsumsi tanpa resep dokter?"

"Aman?!" Suara Ibu Maya langsung meninggi.

"Kamu meragukan usaha Ibu? Ris, kamu itu sudah lima tahun tidak kunjung mengandung! Harusnya kamu sujud syukur karena Ibu masih peduli dan mau membiayai pengobatan alternatif ini, bukannya malah banyak alasan! Kamu mau membuat anak tunggal Ibu kehilangan garis keturunannya?!"

Di tengah perdebatan sepihak itu, pintu depan kembali terbuka. Bram melangkah masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti saat melihat ibunya berada di ruang tamu dengan kardus besar di atas meja.

"Ibu? Ada apa ini?" tanya Bram.

"Bram, lihat istrimu ini!" adu Ibu Maya seketika, wajahnya berubah menjadi dramatis seolah dirinya adalah korban.

"Ibu sudah bersusah payah membawakan ramuan herbal terbaik agar dia bisa cepat hamil, tapi dia malah menolak dan menceramahi Ibu soal izin medis! Benar-benar tidak tahu diuntung!"

Larissa menatap Bram dengan mata yang menyiratkan permohonan. Dia berharap suaminya akan maju dan membelanya dari paksaan ibunya ini.

"Mas... ramuan ini baunya sangat menyengat dan aku takut ada efek samping..." bisik Larissa lirih.

Namun Bram justru membuang muka. Pria itu menghela napas kasar, lalu menatap Larissa dengan pandangan dingin yang menghujam batinnya.

"Larissa, minum saja apa susahnya? Ibu melakukan ini demi kebaikan kita, demi keturunan kita. Jangan egois dan keras kepala. Kondisi fisikmu itu yang bermasalah, jadi wajar kalau kamu yang harus berusaha lebih keras."

Kata-kata Bram seperti belati yang berkarat, menusuk dan merobek sisa-sisa kebanggaan Larissa sebagai seorang istri. Pria itu berdiri di sana, sehat, gagah, dan dihormati sebagai pria subur, sementara ia membiarkan istrinya dihina dan dicekoki obat-obatan tak jelas demi menutupi cacat tubuhnya sendiri.

"Dengar itu? Suamimu saja setuju!" Ibu Maya mengambil satu botol kaca berukuran besar, membuka tutupnya, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah menantunya.

"Minum sekarang. Ibu ingin melihatnya sendiri."

Dengan air mata yang mengalir di sudut matanya, Larissa menerima botol itu. Baunya yang busuk dan pahit membuat kerongkongannya bergolak hebat. Sambil menahan mual yang luar biasa, Larissa meneguk cairan pekat itu di bawah tatapan mata puas mertuanya dan tatapan acuh tak acuh dari Bram.

Setiap tegukan terasa seperti racun yang membakar tenggorokan dan hatinya, mempertegas betapa hinanya posisinya di dalam keluarga ini.

Setelah Ibu Maya pulang dengan perasaan menang dan Bram kembali pergi keluar setelah mengambil dokumen yang tertinggal, rumah itu kembali jatuh dalam kesunyian yang mencekam.

Larissa berjalan ke ruang cuci baju di bagian belakang rumah untuk mengalihkan pikirannya yang kacau. Dia mulai memilah pakaian kotor milik Bram yang dipakai beberapa hari terakhir.

Ketika dia mengambil kemeja kerja putih milik Bram yang dikenakan dua hari lalu, hari di mana Bram pamit pergi ke luar kota untuk rapat proyek, dia mencium sesuatu.

Ada aroma parfum wanita yang manis dan pekat yang tertinggal samar di bagian kerah kemeja itu. Itu bukan aroma parfum melati atau lavender yang biasa dia gunakan.

Jantung Larissa mulai berdegup kencang. Dengan tangan yang gemetar, dia memeriksa saku kemeja putih tersebut, mencari apakah ada sesuatu yang tertinggal. Jemarinya menyentuh selembar kertas kecil yang terlipat rapi di bagian dalam saku terkecil.

Larissa menarik kertas itu keluar. Itu adalah sebuah struk dari sebuah toko perhiasan mewah ternama di pusat perbelanjaan elit ibu kota.

Dia membuka lipatan kertas itu, dan matanya langsung tertuju pada detail item yang tertera di atas struk cetak tersebut:

> 1x Solitaire Diamond Necklace - 18K White Gold

> Total: Rp 85.000.000,-

> Status: Paid via Credit Card (Bram Baskoro)

> Tanggal: 05 Juni 2026, 14:30 WIB

Larissa menatap tanggal dan jam yang tertera pada struk itu dengan tatapan kosong. Tubuhnya mendadak lemas hingga dia harus berpegangan pada pinggiran mesin cuci agar tidak terjatuh.

Tanggal lima Juni. Jam dua siang lewat tiga puluh menit.

Itu adalah hari di mana Bram menjawab teleponnya dengan suara tergesa-gesa, mengaku bahwa dirinya sedang berada di dalam ruang rapat tertutup di kota seberang, memohon agar dia tidak mengganggunya karena dia sedang berjuang demi masa depan bisnis mereka.

Namun struk ini membuktikan hal yang sebaliknya, Bram berada di sebuah butik perhiasan mewah di Jakarta, membeli sebuah kalung berlian seharga puluhan juta rupiah.

Dada Larissa bergolak hebat, rasa mual dari ramuan herbal tadi kembali naik ke kerongkongannya, bercampur dengan rasa sakit yang teramat sangat.

Selama dua tahun terakhir, Bram tidak pernah lagi membelikannya perhiasan atau hadiah ulang tahun dengan alasan penghematan aset perusahaan.

Kalung berlian ini jelas bukan untuknya.

Larissa meremas struk perhiasan itu di dalam genggamannya hingga kusut masai, sementara air matanya luruh tanpa suara, jatuh membasahi kemeja putih suaminya yang penuh kebohongan.

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!