NovelToon NovelToon
Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Malam harinya, suasana di area tempat tinggal para pelayan di sayap timur istana tampak gempar namun berbisik-bisik. Di koridor remang-remang depan kamar pelayan, Eliana berjalan santai sambil merangkulkan tangannya pada seorang pria asing bertubuh agak membongkok yang berdiri di sebelahnya.

Pria itu mengenakan pakaian kusam milik pekerja kasar istana, memiliki kacamata tebal berbingkai bulat yang melorot di hidungnya, serta rambut palsu wig berwarna cokelat kusam yang berantakan dan menutupi dahinya. Penampilannya benar-benar tampak seperti pria udik dan sangat cupu.

Dua orang pelayan senior yang sedang melipat kain di lorong seketika menghentikan pekerjaan mereka, menatap Eliana dan 'pria' di sebelahnya dengan mata terbelalak melongo.

"Eliana! Apa-apaan ini?!" seru salah satu pelayan senior dengan wajah tak percaya. "Siapa pria kumal di sebelahmu ini?"

Eliana menyunggingkan senyenyum manja yang dibuat-buat, menepuk-nepuk lengan pria di sebelahnya. "Kenalin, Mbak... Ini suamiku. Kami baru aja nikah siri di desa minggu lalu, terus aku bawa dia ke sini biar bisa dapat tumpangan tempat tinggal sebentar."

"APA?!" pelayan senior satunya lagi memekik tertahan, menatap Eliana dari atas ke bawah. "Sejak kapan gadis pemalas dan ceroboh sepertimu punya suami?! Lagipula... pria sial mana yang mau menikahi gadis sepertimu? Bentukannya kusam dan cupu begini lagi!"

Eliana memutar bola matanya malas, menahan keinginan untuk mendengkus keras. "Heh, kalau lo tahu dibalik wig kusam ini adalah Pangeran Mahkota yang super ganteng, bisa pingsan kejang-kejang lo pada di sini!" batin Eliana, yang tentu saja langsung bergema mulus di kepala pria di sebelahnya.

"Ah, biarin aja Mbak, yang penting dia setia dan sayang sama aku," balas Eliana luar dengan senyum manis yang sopan. "Kami masuk ke kamar dulu ya, udah malam."

Dengan tergesa-gesa, Eliana menarik tangan 'suaminya' masuk ke dalam kamar pelayan yang sempit dan mengunci pintunya rapat-rapat.

KLEK.

Begitu selot pintu terkunci, aura di dalam kamar mendadak berubah menjadi sangat dingin dan membekukan.

Pria itu melepaskan kacamata tebalnya secara kasar, lalu menyapu wig cokelat kusam dari kepalanya hingga terlepas. Rambut perak khas bangsawan milik Lucien terurai indah di bawah remang cahaya lilin, dipadukan dengan kilatan iris mata birunya yang kini menatap Eliana dengan aura membunuh yang sangat pekat.

SRET!

Tanpa memberi peringatan, tangan kekar Lucien bergerak cepat mencengkeram leher Eliana, mendorong tubuh gadis itu hingga punggungnya menghantam pintu kayu.

"P-Pangeran..." cicit Eliana panik, matanya membelalak lebar saat cengkeraman dingin itu menahan pernapasan di tenggorokannya.

"Kenapa harus kata suami?" desis Lucien dengan suara berat yang amat dingin dan tajam, menatap Eliana dari jarak beberapa sentimeter. Rahangnya mengetat menahan kekesalan. "Dari sekian banyak alibi di dunia ini... kenapa kau tidak memperkenalkan pria ini sebagai pelayan baru atau kerabatmu? Kenapa harus menyebutku suamimu?"

Sensasi sesak membuat Eliana mencengkeram pergelangan tangan Lucien, meraup napas dengan kesusahan. Wajah cantiknya memerah saat ia mencoba berbicara di tengah cengkeraman sang Pangeran.

"P-Pangeran... le-lepas dulu..." bisik Eliana terbata-bata.

Lucien mengendurkan cengkeramannya sedikit, namun tetap menahan Eliana di pintu, menuntut penjelasan mutlak.

UHUK!

Eliana terbatuk pelan, meraup udara sebelum akhirnya berbicara dengan suara bergetar namun tegas.

"Dengarkan saya dulu, Pangeran!" protes Eliana penuh ketakutan bercampur kesal. "Kalau saya bilang Pangeran itu pelayan baru atau kerabat yang mau kerja di istana, Pangeran bakal langsung diseret oleh Kepala Pelayan dan staf Perdana Menteri Oberon buat menjalani seleksi ketat dan pengecekan identitas latar belakang!"

Eliana menatap mata biru Lucien lurus-lurus.

"Staf Oberon itu sangat teliti! Kalau Pangeran dimasukkan sebagai pekerja resmi istana, sidik jari, struktur wajah, dan asal-usul Pangeran bakal diperiksa sampai akar-akarnya. Dalam hitungan jam, penyamaran Pangeran yang berpura-pura mati pasti langsung terbongkar!" lanjut Eliana menjelaskan dengan kepanikan jujur dari dalam hatinya. "Satu-satunya status yang nggak bakal diselidiki sama Kepala Pelayan adalah status 'suami menumpang' dari pelayan tingkat bawah seperti saya! Mereka cuma bakal menganggap Pangeran pria benalu tak berguna dan nggak bakal sudi membuang waktu buat memeriksa identitas Pangeran!"

Lucien mematung mendengarkan penjelasan rasional tersebut. Di dalam kepala sang Pangeran, suara batin Eliana terus berlanjut heboh.

"Lagian nih Pangeran kaku banget sih! Mana ada yang mau ngaku-ngaku punya suami cupu begitu kalau bukan demi nyelamatin nyawa dia yang lagi nyamar! Untung otak cerdik gue langsung main, coba kalau enggak, udah dieksekusi kita berdua sama Oberon!"

Lucien perlahan melepaskan tangannya sepenuhnya dari leher Eliana. Pangeran Mahkota itu berdehem pelan, mengalihkan pandangannya dari Eliana dengan sedikit rasa canggung yang tersembunyi di balik raut wajahnya yang tetap dingin dan datar.

Eliana merapikan bagian depan gaun pelayannya yang sedikit kusut sambil mengelus lehernya yang sempat terasa agak hangat akibat cengkeraman Lucien. Meskipun baru saja diancam dan dicekik pelan, sudut bibirnya malah mengembang membentuk ukiran senyum jahil yang amat tipis.

"Lagipula... tidur sekamar sama orang ganteng kek dia gini juga nggak bakal rugi-rugi amat sih buat gue," bisik Eliana dalam hatinya, terkekeh dan cekikikan sendiri membayangkan betapa lucunya penyamaran sang Pangeran Mahkota. "Ganteng iya, kaya iya, cuma kelakuannya aja yang kaku kek kanebo kering."

Lucien yang baru saja hendak membalikkan badan seketika membeku. Suara batin gadis itu yang sedang melantunkan pujian berbalut ejekan terdengar begitu jernih dan mendadak di kepalanya. Lucien berbalik pelan, melayangkan tatapan mata yang amat tajam dan dingin, seolah siap melempar Eliana keluar jendela saat itu juga.

Sensasi dingin dari tatapan itu membuat Eliana buru-burung berdehem keras dan memasang raut wajah serapi mungkin.

"Ekhem! Pangeran, karena kamarnya sempit dan cuma ada satu kasur..." Eliana menunjuk kasur busa tipis di sudut ruangan dengan ibu jarinya, lalu menunjuk ke arah lantai batu yang beralaskan kain tirai kusam. "Pangeran tidur di atas kasur aja. Saya tidur di bawah pakai kain ini."

Lucien menaikkan sebelah alisnya. "Kau menyuruhku tidur di atas kasurmu, sementara kau di lantai?"

"Ya iyalah, Pangeran. Masa saya tega nyuruh Pangeran Mahkota Kerajaan Valdoria tidur di lantai yang dingin?" sahut Eliana sopan namun santai. Ia mengambil kain tebal melipatnya di lantai, lalu merebahkan tubuhnya tanpa mengeluh sedikit pun.

Lampu lilin di atas meja kecil dipadamkan, menyisakan kegelapan malam yang hanya diterangi oleh pendar rembulan dari celah ventilasi udara yang sempit. Suasana kamar pelayan itu mendadak menjadi begitu hening.

Di atas kasur, Lucien terbaring kaku dengan kedua tangan berada di atas dada. Pikirannya melayang liar. Bayangan tentang pengkhianatan Ayah kandungnya, kekejaman Ibu Suri, kepalsuan Rosalie, hingga jasad palsunya sendiri yang tadi pagi diratapi banyak orang terus memutar kemelut dahsyat di dalam kepalanya. Rasa kaget, marah, dan hampa bercampur menjadi satu, membuatnya sama sekali tidak bisa memejamkan mata.

Di bawah, Eliana memiringkan tubuhnya, menatap ke arah tempat tidur Lucien. Ia bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari pria di atasnya tersebut.

"Pangeran..." bisik Eliana pelan dengan suara yang amat lembut, memecah kesunyian malam. "Tidurlah... Lupakan sejenak kejadian berat hari ini. Masih ada hari esok yang harus kita jalani bersama."

Ucapan sederhana itu bergaung pelan di udara dingin. Tak ada lagi nada ejekan dalam suara Eliana, hanya ada ketulusan murni yang mencoba memberikan rasa tenang pada jiwa yang sedang porak-poranda.

Hanya butuh beberapa menit setelah mengucapkan kalimat tersebut, napas Eliana mendadak terdengar makin teratur dan halus. Gadis itu sudah tertidur pulas akibat rasa lelah yang luar biasa setelah seharian berpacu dengan waktu demi menyelamatkan Lucien.

Dari atas kasur, Lucien perlahan memiringkan posisinya. Manik mata birunya menembus remang kegelapan, terkunci sepenuhnya pada sosok Eliana yang tertidur lelap di atas lantai batu.

Lucien menatap wajah polos gadis itu dalam diam untuk waktu yang agak lama. Di balik kehebohan pikiran Eliana yang selalu ramai dan jahil, ada kehangatan aneh yang belum pernah Lucien rasakan dari orang-orang di lingkar kekuasaannya. Pangeran Mahkota itu menghembuskan napas panjang secara perlahan, menyusupkan sebelah tangannya di bawah bantal, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun... Lucien membiarkan matanya terpejam dengan perasaan yang jauh lebih tenang.

1
Uthie
Lanjut menyimak 👍😁
Uthie
Pas.. lagi seneng cerita yg soal bisa membaca Pikiran 😁👍👍👍
Noveni Lawasti Munte
kurang jeli nih si pangeran mahkota masa ga da pengawal bayangan untuk eliana🙄
Inez Putri
gmn nasibnya alianaa... smga slmat
JasmineA
mereka keluar istana terus adik nya Lucien si Althea gi mana? masa ditinggal sm predator sih...kasian pasti dia depresi gara2 kakak nya meninggoy
Nyai mardianti
ka aku Suka bangat sama novel kaka yg satu ini apakah ini masih on going
Retno Isma
ini kerjaan modern kan. kenapa ga pake lampu aja. masih pake obor Kya jaman purba.
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus, menarik untuk dibaca.
Anita Rahayu
Yg banyak dan panjang thor buat cerita👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wahyuningsih
q mampir thor dpt bonus ruang dimensi gk thor biar makin sru n buat eliana badaz abiz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!