Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 — Kali Ini Aku yang Memilih Pergi
Maya sedang mengganti sarung bantal sofa ketika Adrian tiba.
Ia menoleh, tersenyum sebentar, lalu berdiri. Rambutnya masih agak lembap. Di meja ada makanan yang sudah dipindahkan ke mangkuk, bukan lagi dibiarkan dalam wadah kiriman.
“Aku pikir kita bisa makan di rumah malam ini,” katanya. “Besok baru keluar.”
Adrian meletakkan tas dekat kursi.
“May, duduk dulu.”
Senyum Maya menghilang perlahan.
Ia tidak duduk. Tangannya masih memegang sarung bantal yang baru dilepas.
“Kamu ketemu dia lagi?”
“Hari ini aku ketemu Dimas di kantor.”
Maya memandangnya lebih tajam.
“Dia bilang apa?”
“Dia ingin aku berhenti menemui Nara supaya Nara pulang.”
Maya menunggu, tetapi Adrian tidak melanjutkan. Ia melihat harapan yang hampir muncul pada wajah istrinya dan tahu ia harus bicara sebelum membiarkannya tumbuh lagi.
“Aku ingin berpisah, May.”
Sarung bantal itu terlepas dari tangan Maya.
“May.” Adrian maju selangkah. Maya langsung mundur, membiarkan sarung bantal itu di lantai.
“Jadi makan malam besok?” tanya Maya.
“Aku seharusnya nggak mengiyakan kalau itu membuatmu berpikir aku siap memulai lagi.”
Maya menatapnya. Lalu ia tertawa sekali, pendek dan tidak percaya.
“Kalau itu membuatku berpikir? Kamu tahu persis aku meminta apa kemarin. Aku minta kesempatan. Kamu makan di depanku, dengar aku minta kesempatan, lalu bilang akan datang.”
“Iya. Aku tahu.”
“Jangan sekarang pura-pura aku salah mengartikan makan malam.”
Adrian menunduk. Ia ingin menyangkal kata pura-pura, tetapi ia memang telah berlindung di balik penjelasan bahwa belum ada janji semuanya kembali baik.
Ia membiarkan Maya berharap karena tidak tahan melihatnya menangis.
“Aku salah mengiyakan. Aku minta maaf.”
“Aku sudah bosan dengar itu.”
Maya berjalan ke meja makan dan mengambil ponsel. Ia membuka sesuatu, lalu meletakkannya dengan keras di depan Adrian.
Konfirmasi reservasi untuk dua orang.
“Batalkan sendiri.”
Adrian mengangkat ponsel. Maya menyebut nama yang dipakai untuk reservasi, dengan suara datar yang jauh lebih sulit didengar daripada bentakan.
Ia menelepon restoran di depan istrinya. Menyebut hari, jam, nama. Meminta maaf kepada orang yang menerima panggilan.
Maya tertawa lagi ketika ia mengucapkan terima kasih.
“Rapi sekali. Orang sana pasti mengira ada urusan kantor.”
Adrian meletakkan ponsel kembali. Ia tidak ingin membayangkan betapa mudahnya membatalkan rencana itu di telinga Maya.
“Aku akan tetap di hotel sementara.”
“Sementara sampai kapan?”
“Sampai aku mendapat tempat sendiri.”
Maya memegang sandaran kursi.
“Kamu bicara seperti cuma pindah kamar. Katakan yang sebenarnya.”
Adrian mengangkat wajah.
“Aku ingin mengakhiri pernikahan kita.”
Maya menatapnya begitu lama sampai Adrian bisa mendengar suara kulkas dari dapur.
“Kamu cinta dia?”
“Iya.”
Air mata Maya langsung turun. Ia mengangguk berulang-ulang, seperti sedang berusaha menerima jawaban yang selama ini sudah ditakutinya.
“Akhirnya bisa jawab.”
Adrian tetap di tempatnya. Ia ingin mendekat, tetapi ia tahu istrinya tidak akan merasa lebih baik karena dipeluk setelah mendengar ia mencintai perempuan lain.
Maya menekan dada. Jarinya menyentuh liontin yang masih dipakainya.
“Kemarin kamu lihat aku pakai ini. Kamu ingat semuanya.”
“Aku ingat.”
“Lalu hari ini kamu tetap datang untuk pergi.”
“Aku menikahi kamu karena dulu aku ingin hidup dengan kamu. Bukan karena merasa harus membayar sesuatu.”
Maya menggeleng, marah.
“Jangan bikin kedengarannya lebih indah. Kamu mengkhianati aku, lalu sekarang menjelaskan bahwa dulu kamu mencintaiku. Aku harus berterima kasih?”
“Nggak.”
Adrian merasakan matanya panas. Ia tidak menangis, tetapi untuk pertama kalinya sore itu ia harus berhenti sebelum bisa melanjutkan.
“Aku nggak menyesal pernah menikah dengan kamu, May. Tapi kalau aku tetap tinggal sambil mencari kesempatan menelepon dia, aku akan menyakiti kamu lagi.”
“Kamu masih bisa berhenti mencari dia!”
Suara Maya memenuhi ruang makan. Ia menunggu Adrian menyambut kemungkinan itu, memanfaatkannya, mengatakan akan mencoba apa pun.
Adrian menggeleng perlahan.
Maya menyeka pipinya begitu kasar sampai kulitnya memerah.
“Berarti kamu nggak mau.”
“Iya.”
Jawaban itu membuatnya tampak kehilangan tenaga. Ia menarik kursi dan duduk, tidak lagi memandang Adrian.
“Aku nggak akan bilang aku setuju. Jangan pergi dari sini lalu cerita kita sudah sepakat.”
“Aku nggak akan mengatakan itu.”
“Dan jangan suruh Nara meneleponku lagi. Untuk minta maaf, untuk menjelaskan, untuk apa pun.”
Adrian mengangguk, lalu menyadari Maya tidak melihatnya.
“Aku dengar.”
* * *
Di kamar, Adrian mengambil koper kecil yang biasa dipakai untuk perjalanan kerja.
Ia memasukkan pakaian untuk beberapa hari, alat cukur, dan pengisi daya. Lemarinya belum kosong ketika ia berhenti. Masih ada terlalu banyak barang bersama yang tidak bisa dibereskan malam itu.
Maya menunggu di bawah saat ia turun.
Matanya berhenti pada koper.
“Kemarin aku yang menyuruhmu keluar.”
Adrian meletakkan koper di dekat pintu.
“Malam ini aku yang memilih pergi.”
Maya memejamkan mata. Ketika membukanya lagi, ia menunjuk kunci di tangan Adrian.
“Kunci rumahnya tinggal. Kalau mau ambil barang, kabari aku. Aku nggak mau pulang dan menemukanmu sudah masuk seenaknya.”
Adrian memisahkan kunci rumah dari gantungan mobil, lalu meletakkannya di meja.
“Aku akan kabari dulu.”
Maya tidak menjawab.
Adrian ingin mengucapkan sesuatu sebelum keluar. Selamat malam terasa menghina. Maaf sudah terlalu sering diucapkan. Akhirnya ia menarik koper dan membuka pintu.
Maya menutupnya sebelum ia sampai ke mobil.
* * *
Nara sedang memegang kuas ketika ponselnya berdering.
Nama Maya muncul di layar.
Ia meletakkan kuas dengan cepat, mengusap jari yang terkena cat pada kain, lalu mengangkat. Ia tidak tahu percakapan seperti apa yang masih bisa terjadi di antara mereka setelah kemarin pagi.
“May?”
Di seberang terdengar napas tersengal. Nara langsung berdiri.
“Lo kenapa?”
Maya tertawa, diikuti isakan yang berusaha ditelannya.
“Adrian baru ambil koper. Dia bilang mau mengakhiri pernikahan kami.”
Nara mencengkeram ponsel. Ia tidak segera mampu berkata apa-apa.
“Lo menang, Na.”
“Maya…”
“Besok ulang tahun pernikahan gue. Gue cuma mau lo tahu itu sebelum kalian merayakannya.”
Panggilan berakhir sebelum Nara sempat menjawab.
kayaknya ada yg GK jujur nih di masa lalu
kenapa gue yg deg" an yaaaa😄
bahayaa