NovelToon NovelToon
Terlarang, dengan Sengaja

Terlarang, dengan Sengaja

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Terlarang / Dark Romance / Tamat
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ophelia Blaire

Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.

Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.

Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.

Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.

Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.

Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter-003

Bab 3: Tersedak Rasa Bersalah

Kirana menekan dan menahan foto itu. Pilihan untuk menarik pesan sudah lenyap.

Ia menggulir ke atas. Di atas foto tadi ada pesan-pesan Rosalia soal gelang yang hilang, disusul balasan Kirana. Kakaknya sore itu meminjam ponsel Krisna. Pertukaran pesan itulah yang membuat percakapan Krisna naik ke paling atas—setelah Kirana, yang jengkel pada Bram sore itu, melepas sematan pada kontak kekasihnya.

Ia membaca lagi pesan-pesan kakaknya. Apakah Rosalia sudah mengembalikan ponsel itu sebelum foto tadi masuk?

Sampai pagi, Krisna belum juga membalas. Kirana nyaris tak tidur semalaman.

Ia sedang mempertimbangkan berpura-pura sakit ketika ibunya mengetuk.

"Turun sarapan," seru Wanda. "Dan pakai yang bagus. Bram ada di sini."

Kirana mengangkat kepala. Bram memilih pagi yang sungguh tepat untuk memberinya kejutan.

Ia mandi, menekankan kain dingin di bawah matanya, lalu mengancingkan blus krem sampai ke leher. Ia mencoba tersenyum di cermin.

Untuk Bram, itu sudah cukup. Untuk Krisna, ia akan berusaha tidak menatapnya.

Ruang makan sudah penuh saat ia masuk.

Ayahnya, Gunawan, duduk di kepala meja dengan koran ekonomi terbuka di samping kopinya. Wanda menempati tempat biasanya, di dekat suaminya. Tante Yohana, yang tak lagi tinggal di kediaman itu tapi selalu muncul setiap keluarga berkumpul, sedang memotong jeruk bali menjadi juring-juring sempurna.

Rosalia tampak segar. Krisna tampak persis seperti semalam, dan entah kenapa itu terasa seperti penghinaan pribadi.

Dan Bram—Bram yang cerah, tampan, dan menyebalkan itu—langsung bangkit dari kursinya begitu melihat Kirana.

"Nah, itu dia."

Bram memutari meja dan mencium pipinya. Kirana hampir menahannya, lalu menyadari ibunya memperhatikan dan memilih tertawa.

"Kamu lebay, padahal belum ngopi."

"Kamu menelantarkanku di hari ulang tahunku. Aku datang menagih ganti rugi."

Bram menarik kursi di sampingnya. Di seberang meja, Krisna mengangkat cangkir kopinya. Pandangan mereka bertemu di atas bibir cangkir.

Tak ada apa pun di wajah pria itu yang berkata Aku sudah melihatmu telanjang. Tapi tak ada pula yang menenangkannya.

"Bram datang menemui kakekmu," kata Gunawan tanpa mengangkat wajah. "Sikap yang tahu diri."

"Kebetulan lewat," ujar Bram.

Kebetulan lewat. Padahal ia menyetir dua jam.

Kirana duduk dan membiarkan Bram menggenggam tangannya di bawah meja. Bram mengusap buku-buku jarinya dengan ibu jari. Kirana berharap Bram tak datang; lalu merasa keji karena berharap begitu.

"Rosa," kata Wanda, "gelangmu sudah ketemu?"

Jari Kirana mengunci di sekeliling gelas jusnya.

"Ternyata ada di tas pestaku." Rosalia mengoles mentega pada sepotong roti panggang. "Sia-sia aku pinjam ponsel Krisna."

Jus jeruk salah masuk ke tenggorokan.

Kirana terbatuk cukup keras sampai matanya berair.

Bram menepuk punggungnya. "Pelan-pelan, sayang."

Sayang.

Tante Yohana meletakkan sendoknya. Kirana mencengkeram pergelangan Bram di bawah meja dan meremasnya, berharap Bram menutup mulut.

"Sejak kapan kalian berdua sedekat itu?" tanya Tante Yohana.

Nadanya tetap ramah. Selalu begitu.

Bram membuka mulut.

"Sejak dia yakin Kakek menyukainya," sela Kirana. Ia menyeka mulut dengan serbet dan tersenyum. "Sekarang dia menyogok seisi keluarga dengan pesonanya. Sungguh tak tahu malu."

Kakek terkekeh di ujung meja sana. Kirana tersenyum ke arahnya, bersyukur atas selingan itu.

"Pesona itu murahan," kata Tante Yohana. "Rosa tak pernah membutuhkannya. Keandalan berbicara sendiri."

Kirana mempertahankan senyumnya. "Kalau begitu untung aku punya bakat lain."

Cangkir Krisna terhenti di tengah jalan menuju lepeknya.

Panas menjalar naik ke leher Kirana.

Apakah karena foto itu? Masa iya pria itu terhenti hanya karena ia berkata bakat.

Rosalia mulai bicara soal pembukaan resor di Bali. Lalu laporan kuartal, disusul jamuan yayasan yang ia ingin Krisna hadiri.

Kirana mengamati kakaknya sambil pura-pura mendengarkan. Mustahil Rosalia bisa membahas tata tempat duduk setenang ini seandainya sudah melihat foto itu. Krisna bahkan tak menyentuh ponselnya sama sekali.

Ketika piring-piring diangkat, Kirana nyaris yakin Rosalia belum melihatnya. Nyaris saja tidak cukup.

Ia pun tak bisa meminta Bram mencari tahu. Bram sedang berusaha keras memenangkan hati keluarganya. Bagaimana mungkin ia memulai percakapan semacam itu?

Bram ditarik Kakek ke perpustakaan. Rosalia pamit menerima telepon. Krisna bangkit dari meja dan mengancingkan jasnya.

Kirana memperhatikannya berjalan menuju pintu taman.

Ia menunggu sampai pria itu lenyap dari pandangan sebelum meletakkan serbetnya.

Ia harus bicara berdua saja dengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!