Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Auri dan beberapa rekan guru lainnya keluar dari ruang guru karena mendengar kebisingan di depan. Jalan raya yang ada di depan sekolah terlihat sangat macet. Jam pulang sekolah baru saja selesai sekitar beberapa menit yang lalu. Masih banyak anak-anak yang menunggu untuk di jemput. Tapi beruntungnya anak-anak yang ada di kelas Auri sudah di jemput. Hanya tersisa beberapa siswa yang berada di kelas lain.
Terlhat debu yang bertebaran di depan sana. Bahkan mungkin karena terbawa angin, debu itu sampai ke pelataran kelas.
"Ngga bisa di diamkan ini pak Awan!'' Auri berkacak pinggang dengan nada emosi.
"Betul bu Auri, ini sangat mengganggu kenyamanan warga sekolah.''
"Warga sekitar juga bu!'' sahut yang lain.
"Masalahnya kepsek sudah tanda tangan setuju atas gangguan ini.''
"Gangguan kok di setujui!''
Mereka berani bicara seperti itu karena kepala sekolah sedang rapat di kantor dinas sejak pagi. Sayangnya tidak ada yang berani protes secara langsung pada beliau.
"Tapi kalau begini setiap hari, kasihan anak-anak! Proyek begini ngga mungkin kan selesai seminggu dua minggu? Pagar seng nya aja sampai ke ujung perempatan sana!'' celetuk Auri.
Pak Awan menggeleng pelan mendengarkan perempuan-perempuan yang sedang mengungkapkan unekuneknya.
Setelah beberapa truk berhasil masuk ke proyek menyusul beberapa mobil pribadi yang mengekor di belakangnya. Auri mengamati plat nomor mobil-mobil tersebut.
"Plat B? Pasti mereka bos-bos proyek itu!'' Auri menggulung lengan seragamnya. Awan tampak mengernyitakn alisnya.
"Mau apa bu Auri?'' tanya Awan. Auri menoleh sekilas pada rekannya itu.
"Mau kasih pelajaran buat orang-orang kaya itu! Minimal mah ya, bikin pintu gerbangnya jangan tepat di depan gerbang sekolah kita! Ganggu banget!'' jawabnya.
"Bu Auri, tolong sabar dulu! Mereka pasti sudah melewati banyak pertimbangan dan perencanaan. Tidak mungkin tiba-tiba bu Auri melabrak mereke, terus---''
Awan menganga tak percaya! Nyatanya, Auri sudah beranjak meninggalkannya dengan kaki yang masih agak pincang.
"Bu...Bu Auri!'' panggil Awan dan rekan lainnya. Mereka mengejar Auri yang sudah menyeberang jalan. Saat akan di susul, mereka kesulitan karena banyaknya kendaraan yang baru berhasil lewat pasca macet oleh mobil-mobil besar itu.
Auri menutup hidungnya dengan hijabnya. Debu yang tebal itu sangat mengganggu pernapasan. Bagaimana bisa ia membiarkan anak-anak didiknya menikmati debu kotor begitu???
Badan kecil dengan seragam khas membuat beberapa orang yang berdiri di depan sebuah gedung yang mungkin di jadikan kantor--menatap Auri.
"Siapa?'' tanya salah satu atasan di sana pada anak buahnya.
"Kurang paham saya pak'' jawabnya.
Candra sedang mengobrol dengan salah seorang investor yang memegang hampir lima puluh persen perumahan ini.
"Saya rasa pak Mahesa tidak kesulitan untuk mencari penerus perusahaannya, benar bukan?''
"Pak Estu terlalu memuji. Saya juga masih belajar. Makanya papa saya melempar saya ke sini'' jawab Candra.
"Panggil Om saja biar lebih akrab!'' kata Estu. Candra mengangguk dan tersenyum tipis.
"Papa kamu cuma pengen anaknya semakin maju, Ndra! Kamu penerus satu-satunya karena saudara-saudara kamu sudah memilki perusahaan sendiri.''
Candra tersenyum tipis. Lagi! Bahkan orang lain pun menganggap demikian. Ia tak lain hanya di jadikan robot penerus perusahaan keluarga saja. Ia tak pernah di tanya akan bagaimana, apa keinginannya, cita-citanya....
Namun obrolan itu terhenti saat keduanya mendengar keributan di depan. Yang membuat mereka penasaran, ada suara perempuan di depan sana.
"Pokoknya saya ingin bertemu dengan penanggung jawab proyek ini, atau kalau perlu pemilik proyeknya sekalian!'' kata Auri. Meski tak berteriak keras, kesan tegas dan nyali yang tak ada takut-takutnya cukup membuat par alelali di sana menegang.
"Teteh siapa, dan ada keperluan apa?'' tanya salah seorang yang ada di sana.
"Bapak penanggungjawab proyek ini?'' tanya Auri. Awan dan kawan-kawan menghampiri Auri. Auri menoleh ke belakang di mana wajah-wajah panik itu seolah memohon padanya untuk diam.
"Auri, sudah ya kita--''
Auri mengangkat tangannya meminta Awan diam! Tidak ada sapaan 'bu' seperti sebelumnya mengingat kondisi yang cukup berbeda ini.
"Anda penanggungjawabnya?'' ulang Auri.
"Bukan, tapi kami hanya pekerja saja teh. Maaf teteh ada keperluan apa ya? Nanti kami akan sampaikan kepada beliau.''
"Memangnya beliau tidak di sini?'' tanya Auri.
"Beliau...''
"Saya hanya ingin bicara dengan beliau! Tolong panggil beliau kalau memang ada di dalam, atau anda hubungi beliau via telepon. Sekarang!'' ujar Auri.
Para pekerja itu saling melempar pandangan. Bagaimana bisa perempuan sekecil itu meminta bicara dengan atasan mereka??
Di dalam ruangan, Candra cukup terganggu. Mau tak mau ia memilih untuk keluar dari ruangan iitu.
"Om, saya lihat ke luar dulu sebentar ya!''
Estu mengangguk dengan pelan. Ia pun memilih untuk membuka beberapa aplikasi di ponsel pintarnya.
Candra menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Asisten pribadinya sedang keluar untuk menyiapkan makan siang. Mungkin ia membeli makanan itu di tengah kota. Maklum saja, di sana tidak ada kafe apalagi resto.
Pemuda itu langsung bersuara cukup keras.
"Ada apa ini?'' tanya Candra. Auri spontan menoleh. Dan dua pasang mata itu saling mengunci.
"Kamu...!''
Kata keduanya bersamaan. Auri berjalan mendekat dengan kaki yang agak pincang. Candra melihat hal itu.
"Kenapa kamu membuat keributan di sini? Mau minta tanggungjawab?'' tanya Candra yang terdengar ambigu bagi telinga yang ada di sana.
Auri melebarkan matanya. Dan Candra baru menyadari ucapannya tadi mengandung berbagai spekulasi. Tanggungjawab!!!
"Ehem...maksud saya, kamu ke sini mau minta ganti rugi karena kecelakaan kemarin? Oh...saya tahu, kamu pasti mata-matain saya kan? Ngaku deh!'' Candra sedikit mendorong bahu kecil Auri dengan telunjuknya.
Awan merasa tak terima gadis pujaan serta rekan kerjanya di perlakukan seperti itu. Tapi...Awan tahu, Auri bukan perempuan sepasrah itu.
"Dia penanggungjawab proyek ini pak?'' tanya Auri pada anak buah Candra. Ia mengabaikan Candra lebih dulu, untuk sementara. Candra turut menatap anak buahnya. Anak buah Candra tak ada yang buka suara karena merasa serba salah. Namun diamnya mereka cukup menjadi jawaban bagi Auri.
Auri kembali menatap Candra.
Candra yang merasa tertantang, turut menatap balik pada gadis yang tingginya hanya sedagunya saja.
Plakkk!
Semua terkejut saat melihat Auri menampar Candra. Candra sendiri menganga tak percaya. Dua kali ia di tampar oleh gadis yang sama. Kenapa ada wanita sekasar itu? Pikir Candra.
"Kamu....!!!'' Candra menunding wajah Auri dengan telunjuknya. Gigi Candra tampak bergemeletuk. Namun Auri menangkap telunjuk lelaki itu dengan jemari mungilnya.
"Kenapa? Mau membalasnya?'' tantang Auri. Awan meminta rekannya untuk melerai dan menghentikan Auri. Mereka hanya takut apa yang Auri lakukan akan mencoreng instansi mereka hingga berakibat fatal.
Tapi rekan Auri sepertinya pun sama tak enaknya seperti Awan.
"Sepertinya, pendidikan tinggi bahkan harta berlimpah tidak bisa mendidik dan membentuk pola pikir anda agar lebih santun dan beradab!'' ujar Auri.
Para pekerja Candra ingin membantu melerai bosnya, tapi mereka pun segan!
"Oh...jadi begini mental pendidik?'' sindir Candra melihat seragam Auri dan rekan-rekannya.
"Anda yang tidak sopan, tidak beradab! Jadi tidak perlu membawa-bawa profesi saya!''
Candra melipat kedua tangannya di dada.
"Kalau begitu, seharusnya anda meminta maaf pada saya karena sudah dua kali menampar saya di pipi yang sama!''
Semua yang ada di sana tampak terkejut mendengar pengakuan Candra yang sudah dua kali di tampar Auri.
"Bukankah seharusnya anda yang meminta maaf? Karena kecerobohan anda dan rekan anda, sudah mencelakai saya! Dan satu lagi, ucapan anda yang sangat merendahkan kami --warga kabuten--yang katanya hanya modus untuk mendapatkan uang dari orang kota seperti anda. So...siapa yang seharusnya meminta maaf? Saya?'' sindir Auri.
Candra mencoba untuk bersikap tenang. Ia sudah cukup di permalukan di depan mereka semua oleh gadis yang kemarin menamparnya.
"Dan mungkin kesalahan anda bukan hanya itu!''
"Apa maksud anda? Sengaja ingin membuat keributan di sini? Caper?'' tanya Candra. Auri memejamkan mata dan membuang muka. Sepertinya pemuda itu memang di ciptakan sangat menyebalkan!
"Sebagai warga sekolah SLB Bahagia Selalu, kami keberatan dengan adanya aktivitas kendaraan kalian yang sangat mengganggu kami! Tidak bisa kah kalian membuat gerbang di ujung sana agar tak mengganggu kami terutama anak-anak didik kami?'' tanya Auri.
Candra melipat kedua tangannya di depan perut.
"Hanya anda yang protes, tidak dengan warga sekitar apalagi kepala sekolah kalian. Anda pikir, suara anda cukup untuk menghentikan kami?'' tanya Candra mendekat dan menunduk menatap Auri. Kedua pasang mata itu saling menatap tajam penuh permusuhan.
Ya, tentu semua yang sudah berjalan merupakan bagian dari perencanaan atas persetujuan orang-orang yang 'berkuasa' di sana. Memangnya siapa Auri????
********
Terimakasih