Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Kaisar Lucian tidak berbicara selama satu menit penuh. Ia menatap roti-roti di atas meja, lalu menatap peta provinsi selatan, dan akhirnya menatap Elara.
“Kau..” suara Kaisar terdengar sedikit parau. “Kau baru saja merombak total sistem perpajakan Aethelgard yang sudah berlaku selama dua ratus tahun, hanya dengan menggunakan tiga potong roti dan sarapan pagimu.”
Elara langsung mundur, ketakutan. “Saya tidak merombak apa-apa! Saya hanya berbagi cerita rakyat! Itu fiksi! Dongeng!”
“Dongeng yang brilian,” Kaisar Lucian tiba-tiba tertawa. Ia mengambil roti ketiga, melemparnya ke udara, dan menangkapnya kembali. “Menteri Keuanganku akan menangis mendengar ini. Atau mungkin dia akan pensiun dini karena malu.”
Kaisar berdiri, mengumpulkan gulungan perkamennya. Ia menatap Elara dengan tatapan yang membuat Elara ingin segera bersembunyi di dalam lemari.
“Mulai hari ini, kau tidak akan lagi tidur sampai siang,” putus Kaisar.
“Tapi Yang Mulia..”
“Kau akan menemaniku di Ruang Kerja setiap pagi. Kita akan merancang sistem pajak baru ini. Dan sebagai imbalannya..” Kaisar tersenyum, sebuah senyum yang tulus dan sangat berbahaya. “Aku akan memerintahkan koki istana untuk membuatkan bubur ayam dengan topping jamur truffle setiap pagi. Dan aku akan memastikan tidak ada satu pun selir atau menteri yang mengganggumu saat kau sedang.. ‘berhalusinasi’.”
Elara menatap Kaisar yang berbalik dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu!” panggil Elara putus asa. “Bagaimana kalau saya menolak? Bagaimana kalau saya tetap ingin menjadi ikan asin?”
Kaisar berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit.
“Seekor ikan asin tidak bisa berenang melawan arus, Elara,” ucap Kaisar pelan, matanya berkilat jenaka. “Dan sayangnya, kau sudah terlanjur masuk ke dalam jaringku. Sampai jumpa di Ruang Kerja satu jam lagi. Pakai pakaian yang nyaman, tapi tetap sopan.”
Pintu tertutup.
Elara jatuh terduduk di kursinya, menatap sisa buburnya yang kini terasa hambar.
“Nira..” rintih Elara.
“Ya, Yang Mulia?”
“Tolong ambilkan pena dan kertas. Aku harus menulis surat wasiat. Tampaknya aku baru saja ditunjuk sebagai Menteri Keuangan bayangan, dan gajinya tidak sebanding dengan stres yang akan aku dapatkan.”
Nira tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang sekali ia tunjukkan. “Hamba akan menyiapkan tinta terbaik, Yang Mulia. Dan hamba akan meminta koki untuk menambahkan jamur truffle pada bubur Anda.”
Elara menatap Nira ngeri. “Kau sudah tergila-gila pada Kaisar, ya? Kau sudah dicuci otak oleh sistem feodal ini!”
“Hamba hanya berpikir, Yang Mulia,” jawab Nira polos. “Jika Yang Mulia menjadi Menteri, mungkin hamba bisa naik pangkat menjadi Kepala Pelayan Paviliun. Gajinya lebih besar, dan hamba bisa membeli sepatu baru.”
Elara menatap langit-langit, menghela napas panjang.
*Astaga. Bahkan pelayanku pun punya ambisi. Aku benar-benar sendirian dalam kemalasanku.*
***
Elara menatap lembaran perkamen raksasa yang terbentang di atas meja kayu cendana itu.
Di dunia sebelumnya, ia bisa menyelesaikan pekerjaan ini dalam waktu lima menit menggunakan spreadsheet di laptopnya. Tinggal ketik rumus, tarik ujung sel, dan selesai. Tapi di sini? Di dunia tanpa listrik, tanpa komputer, dan tanpa Excel?
Ia harus menggambar garis pakai penggaris kayu, dan menulis angka satu per satu dengan kuas tinta yang tintanya malah sering nge-blur.
“Kau menggambar kotak-kotak itu untuk apa?”
Suara Kaisar Lucian memecah konsentrasi Elara. Pria itu sedang duduk di sisi lain meja, menumpuk laporan intelijen, namun matanya sesekali melirik ke arah Elara yang tampak sangat menderita.
“Ini namanya Tabel Kejujuran,” jawab Elara tanpa mendongak, lidahnya menjulur sedikit keluar karena fokus menarik garis lurus. “Di desa kuno saya, kami menyebutnya Pembukuan Berpasangan.”
“Pembukuan berpasangan?” ulang Lucian, alisnya terangkat. “Maksudmu seperti yin dan yang?”
“Bukan, Yang Mulia. Maksudnya, setiap transaksi keuangan pasti punya dua sisi. Kalau ada uang keluar, harus ada catatan ke mana perginya. Kalau ada uang masuk, harus ada catatan dari mana asalnya.” Elara meletakkan kuasnya, memijat pergelangan tangannya yang kram. “Prinsipnya sederhana: Debit harus sama dengan Kredit. Kalau angkanya nggak seimbang, berarti ada yang korupsi atau ada yang bodoh.”
Lucian menatap tabel raksasa yang baru saja dibuat Elara. Ia adalah seorang jenaka dalam strategi perang dan politik, tapi angka-angka yang disusun rapi dalam kolom kiri dan kanan ini adalah bahasa asing baginya. Namun, instingnya mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang revolusioner.