Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Atmosfer ruang makan di lantai dasar pagi ini tak ubahnya seperti medan perang yang dibalut dinginnya pendingin udara. Cahaya matahari diterobos masuk lewat tirai kaca besar, membiaskan pendar terang yang seolah sengaja menelanjangi kepalsuan di dalam rumah ini.
Aku duduk di ujung meja dengan pakaian berpergian yang sangat rapi dan berkelas sebuah kemeja sutra putih gading berpotongan oversized yang dipadukan dengan celana kulot bermotif geometris, serta hijab sifon hitam yang terikat sempurna. Di sudut ruang tamu, dua koper besar keluaran rumah mode Italia sudah berdiri anggun. Hari ini, aku dijadwalkan terbang ke Singapura selama empat hari untuk mengurus investasi properti dan menghadiri pameran perhiasan internasional bersama kelompok sosialitaku.
Kayla dan Evan duduk bersisian, mengunyah roti panggang mereka dengan malas. Gibran, seperti biasa, duduk di sisi lain meja dengan kemeja kerjanya, berpura-pura sibuk membolak-balik dokumen di tabletnya.
Namun, keheningan yang biasa menyelimuti sarapan kami mendadak pecah ketika suara ketukan sepatu hak tinggi bergema keras dari arah lorong depan. Suara itu melangkah tanpa keraguan, diikuti aroma parfum manis menyengat yang langsung menusuk hidung.
"Selamat pagi, Mas Gibran..."
Sesosok wanita melangkah masuk ke ruang makan keluarga kami tanpa sedikit pun canggung. Melani.
Wanita yang digadang-gadang media dan digosipkan menjadi selingkuhan suamiku itu berdiri tegak di samping meja makan. Pampilannya benar-benar kontras dengan etika bertamu di pagi hari. Ia mengenakan gaun ketat tanpa lengan berwarna merah menyala dengan potongan dada yang terlalu rendah untuk ukuran acara sarapan keluarga, memperlihatkan lekuk tubuhnya secara terang-terangan. Di tangannya, ia membawa sebuah rantang makanan berbahan stanles yang dihiasi pita merah.
"Maaf kalau aku mengganggu sarapan kalian," ucap Melani dengan nada suara dimanja-manjakan, memamerkan senyuman manis yang dipaksakan. "Aku tadi sengaja mampir sebelum ke kantor, Mas. Aku buatkan sup ayam ginseng kesukaanmu buat sarapan. Aku takut kamu kecapekan karena belakangan ini banyak pikiran di kantor."
Gibran seketika tersentak. Wajahnya berubah pucat pasi, melirikku dan anak-anak dengan cemas yang mendalam. Ia jelas tidak menyangka wanita simpanannya itu bakal seberani ini menginjakkan kaki di atas marmer rumah utamanya.
"Melani? Kamu... kenapa ke sini?" bisik Gibran gagap, berusaha menguasai raut wajahnya.
Belum sempat Melani menjawab, suara dentingan garpu yang dilemparkan kasar ke atas porselen membuat suasana seketika membeku. Kayla menatap Melani dari atas ke bawah dengan tatapan jijik yang tak ditutup-tutupi.
"Pagi-pagi rumah ini kedatangan sampah dari mana, sih?" cetus Kayla dingin, memiringkan kepalanya dengan raut wajah penuh cemoohan. "Mami, sejak kapan rumah kita boleh dimasuki perempuan yang bajunya kurang bahan begini? Mau jualan baju apa mau jualan diri?"
"Kayla! Cukup!" bentak Gibran spontan, dadanya naik turun karena kaget dengan ucapan pedas putrinya.
Evan tak tinggal diam. Putra laki-lakiku itu terkeh sinis, menyandarkan punggungnya ke kursi seraya bersedekah tangan. "Kenapa Papi membentak Kak Kayla? Yang dibilang Kakak itu benar, kok. Perhatiin deh, Pi. Ini kan rumah tinggal, bukan kelab malam atau tempat mangkal. Baju kurang bahan kayak begitu kok dipakai sarapan di depan anak-anak sekolah? Nggak punya urat malu ya?"
"Evan! Kayla! Jaga mulut kalian!" bentak Gibran semakin keras, matanya membelalak marah. "Dia ini tamu Papi! Dia rekan kerja penting di NexTech Group! Sopan santun kalian ditaruh di mana?!"
Melani berpura-pura mengusap sudut matanya, memasang raut wajah terzalimi yang memprihatinkan. "Mas... sudah, Mas. Jangan marahi anak-anak. Mungkin aku yang salah karena datang tiba-tiba... Aku cuma perhatian sama kesehatanmu..."
Aku yang sejak tadi diam menyesap teh hangatku, perlahan meletakkan cangkir porselen itu ke atas tatakannya tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. Aku bangkit berdiri. Keanggunan dan tingginya gestur tubuhku seketika membuat kehadiran Melani di ruangan itu terasa amat kerdil dan murahan.
Aku melangkah mendekati Melani, berhenti tepat satu jengkal di hadapannya. Mataku menatap lurus ke dalam manik matanya yang mendadak gelisah di balik lapisan riasan tebalnya.
"Selesai dramanya, Perempuan Gatal?" tanyaku dengan suara yang sangat halus, namun setiap katanya memotong udara seperti bilah pisau yang tajam.
Melani tersentak, wajahnya mengeras. "Maksud Ibu apa ya bicara seperti itu? Saya ke sini cuma mau antarkan"
PLAK!
Suara tebasan kata-kataku memotong kalimatnya sebelum sempat selesai. Aku tidak mengotori tanganku untuk menampar fisiknya, namun tatapan mata dan intimidasi verbalku jauh lebih mematikan.
"Tutup mulut murahanmu itu!" gertakku, kali ini dengan intonasi rendah yang sarat ancaman mematikan. "Kau pikir kau siapa, Melani? Kau cuma betina simpanan yang dibeli suamiku dengan uang sisa operasional kantor. Berani-beraninya kau melangkah masuk ke dalam istanaku, memakai baju haram bertelanjang dada di depan anak-anakku, dan berpura-pura menjadi wanita perhatian?."
Melani membelalak tak percaya, tubuhnya bergetar oleh rasa malu yang hebat. "Ibu Kirana! Berani sekali Anda menghina saya"
"Aku bukan cuma berani menghinamu, aku bisa menghancurkan sisa harga dirimu detik ini juga!" potongku tegas, melangkah satu tapak lagi hingga Melani refleks mundur ke belakang. "Lihat dirimu di cermin! Pakai baju kurang bahan, berdandan tebal pagi-pagi, datang membawa tempat makanan ke rumah orang... kau tak lebih dari sekadar pelacur kelas tinggi yang tidak punya etika dan tidak tahu malu."
"Kirana! Cukup!" Gibran berdiri dari kursinya, melangkah cepat dan pasang badan berdiri di depan Melani, melindungi wanita itu dari cecarku. "Jangan keterlaluan kau! Melani ini wanita berpendidikan! Jangan samakan dia dengan sebutan murahanmu itu!"
Aku tertawa terkekeh sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan mendalam untuk pasangan di hadapanku ini.
"Oh, kau membelanya, Gibran?" tanyaku seraya menyilangkan tangan di dada. "Kau membela betina yang tidak punya tata krama ini di hadapan istri sahmu dan anak-anak kandungmu sendiri? Lihat betapa menyedihkannya dirimu! Seorang CEO NexTech Group yang berlutut melindungi wanita pajangannya hanya karena tergiur molek tubuh yang dijajakan gratis di pagi hari."
"Kirana!" suara Gibran menggelegar, matanya memerah padam oleh amarah dan kekalahan mental.
Kayla dan Evan ikut berdiri dari meja makan. Mereka melangkah mendekat, berdiri tegap tepat di samping kiri dan kananku.
"Papi benar-benar bikin malu!" cetus Kayla dengan tatapan jijik yang menusuk jantung Gibran. "Demi perempuan gatal yang penampilannya kayak begini, Papi tega bentak Mami dan membela dia di rumah kita sendiri? Papi busuk."
"Mami, nggak usah buang waktu melayani dua orang tak berotak ini," timpal Evan seraya menarik koper besarku dari sudut ruangan. "Mobil jemputan Mami ke bandara sudah sampai di depan. Supir sudah nungguin."
Aku menatap Gibran dan Melani yang berdiri kaku di tengah ruang makan. Melani tampak memegang erat lengan kemeja Gibran, wajahnya pucat pasi memikul kejelakan penampilannya dan hinaan pedas dari satu keluarga ini.
Aku merapikan posisi kemeja sutraku, menatap Melani dengan pendar mata yang dingin dan mematikan.
"Nikmati waktumu pagi ini, Melani," bisikku pelan, namun sanggup membuat wanita itu merinding ketakutan. "Kau boleh membawa makanan murahanmu itu untuk suamiku hari ini. Tapi ingat... saat aku kembali dari Singapura empat hari lagi, aku pastikan kau dan suamiku akan membayar mahal setiap inci rasa malu yang kau bawa ke dalam rumah ini."
Aku memutar tubuhku, memeluk dan mencium kening Kayla serta Evan dengan kehangatan yang penuh kebanggaan.
"Kalian berdua berangkat sekolah sekarang. Jangan biarkan sampah pagi ini merusak fokus kalian," pesan lembutku pada anak-anak.
"Iya, Mami. Mami hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai di Singapura," sahut Kayla seraya memelukku erat.
"Mami tenang saja, Evan bakal jaga rumah dan Kak Kayla selama Mami nggak ada," tambah Evan mantap.
Aku menyunggingkan senyuman paling anggun, membiarkan supir pribadi membawakan koper-koper besarku keluar menuju mobil yang telah bersiap. Sebelum melangkah keluar dari pintu utama, aku melirik sekilas ke arah Gibran yang masih berdiri mematung bersama wanita simpanannya.
"Selamat menikmati sarapan sup ginsengmu, CEO NexTech Group," ucapku lantang seraya menyunggingkan senyum kemenangan. "Mari kita lihat, seberapa lama wanita bertelanjang dada itu bisa menyelamatkan kariermu yang mulai runtuh."
Tanpa menunggu sepatah kata pun dari mulut mereka, aku melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan rumah mewah itu dalam kekacauan hebat yang sengaja kutinggalkan sebagai kenang-kenangan sebelum penerbanganku ke luar negeri.
yx seperti Gibran ni ,, dg ikhlas lahir batin dy mengakui semua kebusukan ny bersama nyai lampir ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
slmt buat kirana,krna udh brhsil bkin mreka malu plus kismin....mngkn abs ni mreka bkln jd rakyat jelata....😛😛😛
nanti kalo jatuh bukan cuma sakit ,, tp malu ny tu looo ,, gx bisa d tampung dmna2🤭🤭🤭🤣🤣🤣
gmna ga stia,duitnya msh bnyak trs pnya jbatan jg...cba kl nnti udh ga pnya apa2,plingn jg bkln kabur.....🙄🙄🙄
🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣