Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Tanpa menunggu lama, malam harinya Zoey langsung memutuskan untuk mempraktikkan teori gila dari internet.
Di depan cermin wastafel kamar mandi, ia berdiri mematung menatap pantulan dirinya yang hanya dibalut gaun tidur satin merah menyala dengan belahan dada rendah dan tali spageti tipis.
“Astaga, kenapa aku jadi segugup ini? Tarik napas, hembuskan, Zoey. Anggap saja ini presentasi tender milyaran dolar,” bisik Zoey menyemangati dirinya sendiri, meski lututnya terasa lemas seperti jelly.
Zoey melangkah keluar dari kamar mandi dengan langkah yang canggung. Ia mengedarkan pandangan ke seisi kamar, namun tak mendapati sosok Damian di mana pun.
“Apa dia masih di ruang kerja? Padahal ini sudah hampir tengah malam,” gumamnya heran.
Tak ingin ada pelayan yang memergoki penampilan memalukan ini, Zoey buru-buru menyambar kardigan rajut dan mengancingkan nya rapat-rapat sampai leher.
Sialnya, baru beberapa langkah menyusuri lorong temaram lantai dua, ia berpapasan dengan Victoria yang baru keluar dari dapur membawa segelas susu.
“Victoria? Apa kau melihat papamu?" tanya Zoey berusaha tersenyum ramah.
Gadis remaja itu mendelik sinis, memindai Zoey dari ujung rambut ke ujung kaki dengan tatapan menghakimi.
“Bukankah kau istrinya? Kenapa malah bertanya padaku? Aneh sekali,” sahut Victoria ketus, lalu melenggang pergi begitu saja menyenggol bahu Zoey tanpa rasa bersalah.
Zoey mengelus dada sambil menggertak kan giginya pelan.
“Sabar Zoey, sabar. Menghadapi ABG labil memang butuh stok sabar tak terbatas. Awas saja nanti, setelah aku meluluhkan papamu dan menjinakkan Victor, giliranmu yang ku buat tunduk,”
”Nyonya? Anda belum istirahat?”
Suara berat Lukas yang mendadak muncul dari balik belokan nyaris membuat Zoey melompat kaget.
“Eh, Lukas! Belum." Zoey buru-buru membetulkan kerah rajutnya, salah tingkah. “Apa suamiku ada di dalam?”
“Ya, Tuan sedang menyelesaikan berkas yang tertunda karena urusan sekolah Den Victor tadi pagi. Silakan masuk, Nyonya.”
“Terima kasih, Lukas.”
Begitu Lukas menghilang di balik tangga, Zoey berdiri di depan pintu kayu jati ruang kerja suaminya. Ia mengetuk dua kali, lalu tanpa menunggu sahutan, ia langsung memutar knop dan menyelinap masuk.
Damian yang duduk di balik meja besarnya hanya melirik sekilas tanpa mengubah raut wajah datarnya yang kaku, lalu kembali menekuni lembaran kertas di tangannya.
“Ada apa?” tanya Damian dingin, bahkan tanpa sudi menoleh lagi.
Zoey menggigit bibir bawahnya. Sekarang atau tidak sama sekali!
Dengan gerakan cepat bagai kilat, ia melepas kardigan rajutnya dan melemparnya sembarangan ke sofa kulit. Sambil memasang senyum semanis mungkin untuk menutupi rasa gugup yang membuat perutnya mulas, Zoey melangkah mantap mendekati meja.
Tanpa aba-aba dan tanpa izin, Zoey langsung mendudukkan dirinya tepat di atas pangkuan Damian, lalu melingkarkan kedua tangannya dengan luwes di leher pria itu.
Damian sontak terperanjat. Pulpen di tangannya nyaris terlepas. Matanya melotot lebar mendapati tubuh ramping Zoey kini menempel lekat padanya.
Karena jarak yang begitu intim, pandangan mata Damian otomatis terseret jatuh tepat pada belahan dada Zoey yang terbuka indah di depan wajahnya.
Ini pertama kalinya Damian melihat istrinya berpenampilan seberani ini. Harum manis aroma vanila dan bunga mawar langsung menyerbu indra penciumannya.
Damian menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak tercekat kering. Sebagai pria dewasa yang normal, darahnya langsung berdesir panas, memicu reaksi sesak yang luar biasa di balik celananya.
“Tu—turun dari pangkuanku sekarang, Zoey!" desis Damian dengan napas yang mulai tertahan dan kaku.
“Tidak mau!" tolak Zoey sok berani, padahal jantungnya sudah berdegup seperti genderang perang.
Sesuai instruksi internet, Zoey meraih dagu Damian yang kokoh, memaksanya untuk bertatapan langsung. Zoey mulai menghitung dalam hati, satu... dua... tiga... empat... lima!
“Sudah puas menatapku?” tanya Damian datar, alisnya terangkat sebelah.
Zoey berkedip bingung. “Lho? Kok tidak ada efeknya sama sekali? Di artikel dibilang pria bakal langsung luluh dan tersipu. Kenapa dia malah menatapku seperti memeriksa dokumen pajak begini?” batin Zoey panik bukan main.
Melihat Zoey yang justru melamun menatapnya, Damian kehilangan kesabarannya. Gejolak panas yang ia tahan sedari tadi akhirnya runtuh juga.
Kedua tangan kekar Damian mencengkeram pinggang ramping Zoey, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah, lalu mendudukkannya kasar ke atas meja kerja hingga beberapa lembar kertas berhamburan ke lantai.
“Eh! Damian, kau mau apa?!” jerit Zoey tertahan, refleks memundurkan badannya karena panik mendadak.
“Menurutmu?” Damian menyeringai tipis, sebuah seringai berbahaya yang belum pernah Zoey lihat sebelumnya.
Pria itu melangkah maju, membuka kedua paha Zoey dengan kedua tangannya, lalu mengikis jarak hingga tubuh tegapnya mengurung Zoey sepenuhnya di tepi meja.
Jantung Zoey seolah merosot ke lambung.
Suasana yang tadinya ia rancang untuk merayu kini berbalik menjadi kepungan yang mengintimidasi dirinya.
Damian mencondongkan wajahnya, menghembuskan napas hangatnya tepat di samping daun telinga Zoey.
“Apa kau sengaja menggodaku malam-malam begini, hmm?” bisik Damian dengan suara berat yang serak, sontak membuat bulu kuduk Zoey meremang hebat.
“Habislah aku! Apa ini yang dinamakan senjata makan tuan?” batin Zoey menjerit.